Sabtu, 05 Desember 2020

Efektivitas Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Duduk Perkara Dalam Meningkatkan Prestasi Dan Penguasaan Bahan Pelajaran Ipa

Berikut ini kami bagikan File Penelitian Tindakan kelas PENERAPAN CARA BELAJAR AKTIF MODEL PENCOCOKAN KARTU INDEKS DALAM MEMBANTU PENGUASAAN MATERI PELAJARAN SAINS PADA SISWA KELAS ……………………. ………………………………………………….. TAHUN 2003/2004 KARYA ILMIAH OLEH ……………………………….. NIP: …………………………… DINAS PENDIDIKAN ………………………………. …………………………………………………… HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Setelah membaca dan mencermati karya ilmiah yang merupakan ulasan hasil observasi yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan ………..…………………………………………… hasil karya dari: Nama : ……………………. NIP : …………………… Unit Kerja : ……………………………………………. Judul : Penerapan Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks dalam Membantu Penguasaaan Materi Pelajaran Sains Pada Siswa Kelas ……………………………………..Tahun Pelajaran 2003/2004. Menyetujui dan mengesahkan untuk diajukan mendapatkan Penetapan Angka Kredit Kenaikan Pangkat dalam jabatan fungsional guru. Mengetahui Ketua PD PGRI II ……………………………. …………………….. ……………………………. ………………………………. ……………………….. NPA: ……………… NIP: …………………. HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Karya Ilmiah ini diajukan sebagai syarat untuk menyanggupi penetapan angka kredit peningkatan pangkat dalam jabatan fungsional guru. Karya ilmiah ini tidak dipublikasikan tetapi sudah disetujui dan disahkan untuk didokumentasikan di perpustakaan ………………………………………. Pada Hari : …………………… Tanggal : …………………… Perpustakawan Kepala ………………………….. …………………………… ………………. …………………. ……………………. ………………… NIP:…………….. NIP: ………………. KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan karya ilmiah dengan judul "Penerapan Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks dalam Membantu Penguasaaan Materi Pelajaran Sains Pada Siswa Kelas …………………………………. Tahun Pelajaran 2003/2004", penulisan karya ilmiah ini kami susun untuk dipakai dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan dapat dipakai selaku perbandingan dalam pembuatan karya ilmiah bagi teman sejawat juga anak ajar pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka training karya ilmiah dewasa. Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak menerima perlindungan dari berbagai pihak. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan nrimo dan sedalam-dalamnya kepada: 1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan ……………………………….. 2. Yth. Ketua PD II PGRI ………………………………….. 3. Yth. Rekan-rekan Guru …………………………………………… 4. Semua pihak yang sudah banyak menolong sehingga penulisan ini tamat. Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari tepat untuk itu segala kritik dan nasehat yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis harapkan. Penulis ABSTRAK ………………. 2003. Penerapan Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks dalam Membantu Penguasaaan Materi Pelajaran Sains Pada Siswa ………………………………….. Pelajaran 2003/2004 Kata Kunci: belajar aktif, pencocokan kartu indeks Untuk mampu mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar,menyaksikan, bertanya tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu "mengerjakannya", adalah menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, memperlihatkan misalnya, menjajal mempraktekkan keahlian dan melaksanakan tugas yang menuntut pengetahuan yang sudah mereka peroleh. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setian putaran berisikan empat tahap yakni: rancangan, acara dan observasi, refleksi, dan refisi. Sasaran observasi ini adalh siswa kelas ………………….. ……………………………... Data yang diperoleh berbentukhasil tes formatif, lembar pengamatan acara berguru mengajar. Dari hasil analis ditemukan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I hingga siklus III yakni, siklus I (62,50%), siklus II (75,00%), siklus III (87,50%). Simpulan dari observasi ini adalah tata cara mencar ilmu aktif model pencocokan kartu indeks dapat kuat aktual terhadap motivasi berguru Siswa ……………………………., serta model pembelajaran ini dapat dipakai sebagai salah satu alternative pembelajaran sains. DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul Halaman Pengesahan Kata Pengantar Abstrak Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Kegunaan Penelitian E. Penjelasan Istilah ………………………………………… F. Batasan Masalah…………………………………………. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Prestasi Belajar B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar C. Hakikat IPA atau Sains D. Proses Belajar Mengajar IPA atau Sains E. Prestasi Belajar IPA atau Sains F. Gaya Belajar G. Sisi Sosial Proses Belajar H. Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat, Waktu, dan Subyek Penelitian B. Rancangan Penelitian C. Instrumen Penelitian D. Metode Pengumpulan Data E. Teknik Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis Item Butir Soal B. Analisi Data Penelitian Persiklus C. Pembahasan BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA Efektivitas Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Prestasi dan Penguasaan Materi Pelajaran IPA Contents BAB I PENDAHULUAN BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB III METODE PENELITIAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V PENUTUP DAFTAR PUSTAKA DOWNLOAD FILE BAB I PENDAHULUAN Pembangunan Nasional di bidang pengembangan sumberdaya manusia Indonesia yang bermutu melalui pendidikan ialah upaya yang sungguh-sungguh dan terus-menerus dilakukan untuk mewujudkan insan Indonesia seutuhnya. Sumberdaya yang berkualitas akan menentukan mutu kehidupan langsung, penduduk , dan bangsa dalam rangka mengantisipasi, menangani problem-dilema, dan tantangan-tantangan yang terjadi dalam penduduk pada sekarang dan kurun depan. Pekerjaan mewujudkan maksud di atas bukan hal yang mudah dan sederhana. Tidak pula mampu diraih dalam waktu singkat. Hal itu memerlukan derma seluruh komponen bangsa dan usaha yang direncanakan secara matang, berkelanjutan, serta berjalan seumur hidup. Ini mempunyai arti bahwa untuk membuat insan Indonesia yang utuh dan berkualitas melalui pendidikan dibutuhkan seperangkat prasarana dan sarana penunjang yang memadai. Dalam metode pendidikan, kurikulum ialah unsur esensial dan utama yang perlu menerima perhatian dari berbagai pihak, seperti pemerintah, pengembangan kurikulum, dan para guru sebagai ujung tombak pelaksanaan kurikulum dimaksud. Salah satu problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha sudah dilaksanakan untuk menigkatkan kualitas pendidikan nasional, antara lain lewat berbagai pelatihan dan kenaikan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan fasilitas dan prasarana pendidikan lain, dan peningkatan mutu manajemen sekolah, namun demikian, banyak sekali indikator mutu pendidikan belum memperlihatkan kenaikan yang memadai. Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dikerjakan oleh pemerintah lewat Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, kenaikan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan bahan bimbing, erta pengembangan paradigma gres dengan metodologi pengajaran. Mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan berita ke dalam pikiran siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil mencar ilmu yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil berguru yang langgeng hanyalah acara belajar aktif. Apa yang menimbulkan berguru aktif? Agar belajar menjadi aktif siswa mesti mengerjakan berbagai peran. Mereka mesti menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan persoalan, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar akif mesti gesit, menggembirakan, bergairahdan sarat gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan daerah duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud) Untuk mampu mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, menyaksikan, bertanya tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu "mengerjakannya", adalah menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, memperlihatkan contohnya, menjajal mempraktekkan keterampilan, dan mengerjakan peran yang menuntut pengetahuan yang telah atau mesti mereka dapatkan. Dengan menyadari gejala-tanda-tanda atau kenyataan tersebut diatas, maka dalam observasi ini penulis penulis mengambil judul "Efektivitas Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Prestasi dan Penguasaan Materi Pelajaran IPA Pada Siswa ………………………………….. Tahun Pelajaran 2002/2003." B. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahnnya sebagi berikut: 1. Bagaimanakah peningkatan prestasi dan penguasaan bahan pelajaran IPA dengan diterapkannya sistem pembelajaran kontektual versi pembelajarn berbasis dilema pada siswa Kelas ……………………………………. Tahun Pelajaran 2002/2003? 2. Bagaimanakah efek pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis dilema dalam menolong siswa memajukan pemahaman dan motivasi berguru IPA pada siswa Kelas ……………………………………. Tahun Pelajaran 2002/2003? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan problem di atas, penelitian ini bermaksud untuk: 1. Ingin mengenali bagaimana prestasi, pemahaman dan penguasaan mata pelajaran IPA sehabis diterapkannya pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis dilema pada siswa Kelas …………………………………. Tahun Pelajaran 2002/2003. 2. Mengetahui pengaruhnya metode pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis persoalan dalam meningkatkan prestasi dan pemahaman siswa kepada bahan pelajaran IPA setelah diterapkan pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis problem pada siswa Kelas ………………………………………… Tahun Pelajaran 2002/2003. D. Manfaat Penelitian Adapun maksud penulis menyelenggarakan penelitian ini dibutuhkan dapat berguna sebagai: 1. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru dalam meningkatkan pengertian siswa mencar ilmu IPA 2. Sumbangan fatwa bagi guru dalam proses mencar ilmu-mengajar dan mengembangkan pemahaman siswa belajar IPA di ………………………………… Tahun Pelajaran 2002/2003. 3. Menerapkan metode yang tepat sesuai dengan materi pelajaran IPA. E. Definisi Operasional Variabel Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul observasi ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut: 1. Metode pembelajaran konstesktual berbasis problem: Pengajaran berbasis persoalan (Problem-Based Learning) ialah sebuah pandekatan pengajaran yang memakai masalah dunia kasatmata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk berguru ihwal cara berpikir kritis dan kemampuan pemecahan dilema, serta untuk mendapatkan wawasan dan konsep yang esensial dari bahan pelajaran 2. Motivasi mencar ilmu yakni: Merupakan daya aktivis psikis dari dalam diri seseorang untuk mampu melakukan acara mencar ilmu dan memperbesar keterampilan, pengalaman. Motivasi mendorong dan mengarah minat mencar ilmu untuk tercapai sebuah tujuan. 3. Prestasi mencar ilmu yaitu: Hasil mencar ilmu yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, setelah siswa mengikuti pelajaran ……………... F. Batasan Masalah Karena kekurangan waktu, maka dibutuhkan pembatasan masalah yang mencakup: 1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas ……………………………………………. Tahun Pelajaran 2002/2003. 2. Penelitian ini dijalankan pada bulan Oktober tahun pelajaran 2002/2003. 3. Materi yang disampaikan yaitu pokok bahasan ……………….. Back to Content ? BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Prestrasi Belajar 1. Pengertian Belajar Pengertian mencar ilmu sudah banyak dikemukakan dalam kepustakaan. Yang dimaksud berguru adalah tindakan murid dalam bidang material, formal serta fungsional pada umumnya dan bidang intelektual pada khususnya. Kaprikornus mencar ilmu ialah hal yang pokok. Belajar ialah sebuah perubahan pada sikap dan tingkah laris yang lebih baik, namun kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk. Untuk dapat disebut berguru, maka pergantian harus ialah simpulan dari pada abad yang cukup panjang. Berapa lama waktu itu berlangsung susah ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaklah merupakan final dari sebuah kala yang mungkin berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Belajar ialah suatu proses yang tideak mampu dilihat dengan positif proses itu terjadi dalam diri seserorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud dengan berguru bukan tingkah laris yang nampak, tetapi prosesnya terjadi secara internal di dalam diri individu dalam mengusahakan menemukan hubungan-korelasi gres. 2. Pengertian Prestasi Belajar Sebelum diterangkan pemahaman tentang prestasi berguru, apalagi dahulu akan dikemukakan tentang pemahaman prestasi. Prestasi yaitu hasil yang sudah dicapai. Dengan demikian bahwa prestasi merupakan hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan sesuatu pekerjaan/kegiatan tertentu. Makara prestasi ialah hasil yang sudah dicapai oleh karena itu semua individu dengan adanya berguru jadinya mampu dicapai. Setiap individu belajar menginginkan hasil yang yang sebaik mungkin. Oleh alasannya adalah itu setiap individu mesti berguru dengan sebaik mungkin biar prestasinya sukses dengan baik. Sedang pemahaman prestasi juga ada yang mengatakan prestasi yaitu kemampuan. Kemampuan di sini mempunyai arti yan dimampui individu dalam melaksanakan sesuatu. 3. Pedoman Cara Belajar Untuk menemukan prestasi/hasil berguru yang bagus mesti dilaksanakan dengan baik dan pedoman cara yang tapat. Setiap orang memiliki cara atau pemikiran sendiri-sendiri dalam berguru. Pedoman/cara yang satu cocok digunakan oleh seorang siswa, namun mungkin kurang sesuai untuk anak/siswa lainnya. Hal ini disebabkan karena memiliki perbedaan individu dalam hal kemampuan, kecepatan dan kepekaan dalam mendapatkan materi pelajaran. Oleh alasannya itu tidaklah ada sebuah isyarat yang niscaya yang mesti dikerjakan oleh seorang siswa dalam melaksanakan kegiatan mencar ilmu. Tetapi aspek yang paling memilih kesuksesan berguru adalah para siswa itu sendiri. Untuk mampu mencapai hasil mencar ilmu yang sebaik mungkin mesti mempunyai kebiasaan belajar yang bagus. B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar 1. Faktor-aspek Yang Mempengaruhi Belajar Adapun faktor-faktor itu, mampu dibedakan menjadi dua golongan yakni: a. Faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang kita sebut aspek individu. Yang tergolong ke dalam faktor individu antara lain faktor kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi. b. Faktor yang ada pada luar individu yang kita sebut dengan faktor sosial Sedangkan yang aspek sosial antara lain aspek keluarga, keadaan rumah tangga, guru, dan cara dalam mengajarnya, lingkungan dan peluang yang ada atau tersedia dan motivasi sosial. Berdasarkan faktor yang mempengaruhi aktivitas mencar ilmu di atas menunjukkan bahwa mencar ilmu itu merupaka proses yang cukup kompleks. Artinya pelaksanaan dan akhirnya sungguh ditentukan oleh faktor-faktor di atas. Bagi siswa yang berada dalam aspek yang mendukung acara mencar ilmu akan mampu dilalui dengan tanpa hambatan dn pada gilirannya akan memperoleh prestasi atau hasil belajar yang bagus. Sebaliknya bagi siswa yang berada dalam kondisi belajar yang tidak menguntungkan, dalam arti tidak ditunjang atau didukung oleh aspek-faktor diatas, maka aktivitas atau proses belajarnya akan terhambat atau menemui kesusahan. C. Hakikat IPA IPA didefiniksan sebagai suatu kumpulan wawasan yang tersusun secara alam. Perkembangan IPA tidak hanya ditandai dengan adanya fakta, namun juga oleh adanya sistem ilmiah dan sikap ilmiah. Metode ilmiah dan observasi ilmiah menekankan pada hakikat IPA. Secara rinci hakikat IPA berdasarkan Bridgman (dalam Lestari, 2002: 7) adalah sebagai berikut: 1. Kualitas; pada dasarnya desain-konsep IPA senantiasa dapat dinyatakan dalam bentuk angka-angka. 2. Observasi dan Eksperimen; merupakan salah satu cara untuk dapat memahami konsep-desain IPA secara tepat dan mampu diuji kebenarannya. 3. Ramalan (prediksi); ialah salah satu asumsi penting dalam IPA bahwa misteri alam raya ini dapat dimengerti dan memiliki keteraturan. Dengan perkiraan tersebut lewat pengukuran yang teliti maka banyak sekali insiden alam yang akan terjadi dapat diprediksikan secara tepat. 4. Progresif dan komunikatif; artinya IPA itu selalu berkembang ke arah yang lebih sempurna dan penemuan-inovasi yang ada ialah kelanjutan dari inovasi sebelumnya. Proses; tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dilakukan dengan memakai tata cara ilmiah dalam rangkan menemukan suatu kebernaran. 5. Universalitas; kebenaran yang didapatkan selalu berlaku secara biasa . Dari klarifikasi di atas, mampu ditarik kesimpulan bahwa hakikat IPA ialah bagian dari IPA, dimana desain-konsepnya diperoleh lewat suatu proses dengan memakai sistem ilmiah dan diawali dengan perilaku ilmiah kemudian diperoleh hasil (produk). D. Proses Belajar Mengajar IPA Proses dalam pengertian disini merupakan interaksi semua komponen atau bagian yang terdapat dalam mencar ilmu mengajar yang satu sama lainnya saling berafiliasi (inter independent) dalam ikatan untuk mencapai tujuan (Usman, 2000: 5). Belajar diartikan sebagai proses pergantian tingkah laris pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang sehabis mengalami proses berguru akan mengalami pergantian tingkah laku, baik faktor pengetahuannya, keterampilannya, maupun faktor sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi mampu, dari tidak memahami menjadi mengetahui. (dalam Usman, 2000: 5). Mengajar ialah sebuah perbuatan yang membutuhkan tanggungjawab budbahasa yang cukup berat. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam acara sebuah usaha mengorganisasi lingkungan dalam relevansinya dengan anak ajar dan materi pengajaran yang mengakibatkan proses berguru. Proses berguru mengajar merupakan suatu inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru selaku pemegangn tugas utama. Proses mencar ilmu mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar korelasi timbal balik yang berlangsung dalam suasana edukatif untuk meraih tujuan tertentu. Interaksi atau korelasi timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar (Usman, 2000: 4). Sedangkan menurut buku Pedoman Guru Pendidikan Agama Islam, proses berguru mengajar mampu mengandung dua pemahaman, yakni rentetan kegiatan perencanaan oleh guru, pelaksanaan kegiatan hingga penilaian acara tindak lanjut (dalam Suryabrata, 1997: 18). Dari kedua usulan tersebut mampu disimpulkan bahwa proses berguru mengajar IPA meliputi kegiatan yang dilaksanakan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan aktivitas hingga penilaian dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam suasana edukatif untuk mencapai tujuan tertentu ialah pengajaran IPA. E. Prestasi Belajar IPA Belajar mampu menenteng suatu pergeseran pada individu yang berguru. Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laris dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam mencar ilmu merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang hendak dicapai siswa dalam proses berguru di sekolah. Menurut Poerwodarminto (1991: 768), prestasi mencar ilmu adalah hasil yang dicapai (dilaksanakan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi berguru merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang memerlukan fikiran. Berdasarkan uraian diatas mampu dikatakan bahwa prestasi mencar ilmu yang diraih oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan aktivitas berguru. Pencapaian hasil belajar tersebut mampu dikenali dengan megadakan penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk mengenali sejauh mana siswa telah sukses mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru mampu mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah. Sejalan dengan prestasi berguru, maka dapt diartikan bahwa prestasi mencar ilmu IPA ialah nilai yang dipreoleh siswa setelah melibatkan secara pribadi/aktif seluruh peluangyang dimilikinya baik aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perilaku) dan psikomotor (keahlian) dalam proses mencar ilmu mengajar IPA. F. Gaya Belajar Kalangan pendidik sudah menyadari bahwa akseptor didik mempunyai bermacam cara belajar. Sebagian siswa bisa mencar ilmu dengan sangat bagus hanya dengan melihat orang lain melakukannya. Biasanya, mereka ini menggemari penghidangan informasi yang runtut. Mereka lebih senang menuliskan apa yang dibilang guru. Selama pelajaran, mereka umumnya diam dan jarang terganggu oleh kegaduhan. Perserta latih visual ini berlainan dengan penerima asuh auditori, yang umumnya tidak sungkan-sungkan untuk memperhatikan apa yang dijalankan oleh guru, dan menciptakan catatan. Mereka menggurulkan kesanggupan untuk mendengar dan mengingat. Selama pelajaran, mereka mungkin banyak bicara dan gampang teralihkan perhatiannya oleh suara atau kebisingan. Peserta asuh kinestetik mencar ilmu utamanya dengan terlibat langsung dalam acara. Mereka cenderung impulsive, semau gue, dan kurang sabaran. Selama pelajaran, mereka mungkin saja bingung jikalau tidak mampu leluasa bergerak dan melaksanakan sesuatu. Cara mereka mencar ilmu boleh jadi terlihat sembarang pilih dan tida karuan. Tentu saja, hanya ada sedikit siswa yang mutlak mempunyai satu jenis cara mencar ilmu. Grinder (1991) menyatakan bahwa dari setiap 30 siswa, 22 diantaranya rata-rata dapat berguru dengan efektif selama gurunya mengahadirkan kegaitan berguru yang berkombinasi antara visual, auditori dan kinestik. Namun, 8 siswa siswanya sedemikan menggemari salah satu bentuk pengajaran dibanding dua yang lain. Sehingga mereka mesti berusaha keras untuk memahami pelajaran bila tidak ada kecermatan dalam menyuguhkan pelajaran sesuai dengan ara yang mereka senangi. Guna memenuhi keperluan ini, pengajaran mesti bersifat mulitsensori dan penuh dengan kombinasi. Kalangan pendidikan juga mencermati adanya pergantian cara berguru siswa. Selama lima belas tahun terakhir, Schroeder dan koleganya (1993) sudah menerapkan indikator tipe Myer-Briggs (MBTI) kepada mahasiswa baru. MBTI merupakan salah satu instrument yang paling banyak dipakai dalam dunia pendidikan dan untuk mengetahui fungsi perbedaan individu dalam proses mencar ilmu. Hasilnya memperlihatkan sekitar 60 persen dari mahasiswa yang masuk mempunyai orientasi mudah ketimbang teoritis kepada pembelajaran, dan persentase itu bertambah setiap tahunnya. Mahasiswa lebih senang terlibat dalam pengalaman eksklusif dan konkret ketimbang mempelajari konsep-konsep dasar terlebih dulu dan baru kemudian menerapkannya. Penelitain MBTI lainnya, terang Schroeder, menawarkan bahwa siswa sekolah menengah lebih senang acara berguru yang benar-benar aktif dari pada acara yang reflektif absurd, dengan rasio lima banding satu. Dari semua ini, ia menyimpulkan bahwa cara berguru dan mengajar aktif sangat sesuai dengan siswa masa kini. Agar mampu efektif, guru mesti memakai yang berikut ini: diskusi dan proyek golongan kecil, penyajian dan debat, dalam kelas, latihan lewat pengalaman, pengalaman lapangan, simulasi, dan studi perkara. Secara khusus Schroeder menekankan bahwa siswa kurun sekarang "mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap acara kelompok dan mencar ilmu bersama." Temuan-teman ini mampu dianggap tidak mengejutkan kalau kita menimbang-nimbang secepatnya laju kehidupan terbaru. Dimasa sekarang siswa dibesarkan dalam dunia yang segala sesuatunya berlangsung dengan cepat dan banyak pilihan yang tersedia. Suara-suara terdengar begitu menghentak merdu, dan warna-warna tampakbegitu semarak dan mempesona. Obyek, baik yang kasatmata maupun yang maya, bergerak cepat. Peluang untuk mengubah segala sesuatu dari satu kondisi ke keadaan lain terbuka sungguh luas. G. Pengajaran Berbasis Masalah Pengajaran berbasis problem (Problem-Based Learning) yakni suatu pandekatan pengajaran yang memakai dilema dunia konkret sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar ihwal cara berpikir kritis dan keahlian pemecahan problem, serta untuk mendapatkan wawasan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Pengajaran duduk perkara dipakai untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam suasana berorientasi problem, termasuk di dalamnya mencar ilmu bagaimana berguru. Menurut Ibrahim dan Nur (200: 2)), "Pengajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Teacihg (Pembelajaran Proyek), Experienced-Based Education (Pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic Learning (Pembelajaran Autentik), dan Achoered Instruction (Pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)". Peran guru dalam pengajaran berbasis masalah adalah menyuguhkan problem, bertanya, dan memfasilitasi pengusutan dan obrolan. Pengajaran berbasis persoalan tidak dapat dijalankan tanpa guru menyebarkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Secara garis besar pengajaran berbasis duduk perkara terdiri dari menyajikan terhadap siswa suasana persoalan yang autentik dan bermakna yang mampu memperlihatkan akomodasi terhadap mereka untuk melaksanakan pengusutan dan ikuiri. 1. Ciri-cirinya Berbagai pengembangan pengajaran berbasis duduk perkara telah menjajal menunjukkan cirri-ciri pengajaran berbasis masalah sebagai berikut. a. Pengajuan pertanyaa atau duduk perkara. Pengajaran berbasis dilema bukan hanya mengorganisasikan prinsip-prinsip atau kemampuan akademik tertentu, pembelajaran menurut duduk perkara mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan problem yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara langsung bermakna untuk siswa. Mereka mengajukan suasana kehidipan faktual yang autentik, menyingkir dari tanggapan sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi itu. b. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Meskipun pengajaran berbasis problem mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, Matematika, Ilmu Sosial), problem yang mau diselidiki sudah diseleksi yang sungguh-sungguh positif supaya dalam pemecahannya siswa meninjau persoalan itu dari banyak mata pelajaran. c. Penyelidikan autentik. Pengajaran berbasis masalah mewajibkan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari pemecahan problem konkret. Mereka harus menganalisasi dan mendefinisikan dilema, mengembankan hipotesis dan menciptakan ramalan, menghimpun dan menganalisis gosip, melakukan eksperimen (jika diperlukan), menciptakan iferensi, dan merumuskan kesimpulan. Sudah barang pasti, metode pengusutan yang digunakan bergantung pada dilema yang sesdang dipelajari. d. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya. Pengajaran berbasis dilema menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya positif atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk solusi problem yang mereka temukan. Produk itu mampu berupa transkrip debat, laporan, versi fisik, video atau acara computer (Ibrahim & Nur, 200:5-7). Pengajaran berbasis dilema dicirikan oleh siswa bekerja sama satu sama lain (paling sering secara berpasangan atau dalam golongan kecil). Bekerja sama memperlihatkan motivasi untuk secara berkesinambungan terlibat dalam tugas-peran kompleks dan memperbanyak kesempatan untuk menyebarkan inkuiri dan dialog dan untuk menyebarkan keahlian sosial dan kemampuan berpikir. 2. Tujuan Pembelajaran dan Hasil Belajar Pengajaran berbasis masalah dirancang untuk menolong guru menunjukkan gosip sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pengajaran berbasis problem dikembangkan terutama untuk membantu siswa berbagi kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan kemampuan intelektual, berguru perihal berbagai tugas orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman aktual atau simulasi, dan mengakibatkan pembelajar yang otonom dan berdikari. Uraian rinci terhdap ketiga tujuan itu diterangkan lebih jauh oleh Ibrahim dan Nur (2000:7-12) berikut ini. a. Keteramplan Berpikir dan Keterampilan Pemecahan Masalah Berbagai macam pandangan baru telah dipakai untuk menggambarkan cara seseorang berpikir. Tetapi, apakah bergotong-royong yang terlibat dalam proses berpikir? Apakah kemampuan berpikir itu dan khususnya apakah kemampuan berpikir itu? - Berpikir ialah proses yang melibatkan operasi mental mirip induksi, deduksi, pembagian terstruktur mengenai, dan pikiran sehat. - Berpikir ialah proses secara simbolik menyatakan (lewat bahasa) objek positif dan peristiwa-peristiwa dan penggunaan pernyataan simbolik itu untuk menemuan prinsip-prinsip esensial tentang objek dan peristiwa itu untuk memperoleh prinsip-prinsip esensial ihwal objek dan insiden itu. Pernyataan simbolik (abstrak) seperti itu biasanya berlainan dengan operasi mental yang didasarkan pada tingkat konkret dari fakta dan masalah khusus. - Berpikir yakni kesanggupan untuk menganalisis, mengkritik, dan meraih kesimpulan berdasar pada inferensi atau usulanyang seksama. Tentang berpikir tingkat tinggi, Resnick (1987) memperlihatkan klarifikasi selaku berikut: - Berpikir tingkat tinggi yakni nonalgoritmik, ialah alur langkah-langkah yang tidak sepenuhnya mampu diterapan sebelumnya. - Berpikir tingkat tinggi cenderung kompleks. Keseluruhan alurnya tidak dapat diamati dari satu sudut pandang. - Berpikir tingkat tinggi acap kali menghasilkan banyak penyelesaian, masing-masing dengan keuntungan dan kerugian. - Berpikir tingkat tinggi melibatkan pendapatdan interpretasi. - Berpikir tingkat tinggi melibatkan ketidakpastian. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas tidak selamanya dimengerti. - Berpikir tingkat tinggi melibatkan banyak penerapan banya kriteria, yang adakala bertentangan satu sama lain. - Berpikir tingkat tinggi melibatkan banyak pengaturan diri perihal proses berpikir. Kita tidak mengakui selaku berpikir tingkat tinggi pada seseorang kalau ada orang lain membantunya pada setiap tahap. - Berpikir tingkat tinggi melibatkan pencarian makna, memperoleh struktur pada kondisi yang sepertinya tidak teratur. - Berpikir tingkat tinggi adalah kerja keras. Ada pengerahan kerja mental besar-besaran ketika melaksanakan berbagai jenis elaborasi dan pendapatyang diharapkan. Perlu dicatat bahwa Resnick memakai kata-kata dan istilah seperti pertimbangan, pengaturan diri, penelusuran makna, dan ketidakpastian. Hal ini memiliki arti bahwa proses berpikir dan keterampilan yang perlu diaktifkan sangatlah kompleks. Resnick juga menekankan pentingnya konteks atau keterkaitan pada ketika berpikir tentan berpikir. Meskipun proses mempunyai beberapa kesamaan antarsituasi, proses itu juga bervarisai bergantung pada apa yang dipikirkan seseorang. Sebagai pola, proses yang kita pakai untuk mempertimbangkan matematika berlainan dengan proses yang kita gunakan untuk memikirkan puisi. Proses berpikir yang dipakai untuk menimbang-nimbang pandangan baru absurd berlainan dengan yang dipakai untuk mempertimbangkan situasi kehidupan kasatmata. Karena hakikat kekomplekan dan konteks dari kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka keahlian itu tidak mampu diajarkan memakai pendekatan yang dirancang untuk mengajarkan ilham dan keahlian yang lebih nyata. Keterampilan proses dan berpikir tingkat tinggi bagaimanapun juga terang dapat diajarkan, dan pada umumnya program dan kurikulum dikembangkan untuk tujuan ini sungguh mendasarkan diri pada pendekatan yang serupa dengan pengajaran berbasis problem. a. Pemodelan Peran Orang Dewasa Resnick juga memperlihatkan rasional tentang bagaimana pengajaran berbasis persoalan membantu siswa untuk berkinerja dalam suasana kehidupan positif dan belajar wacana pentingnya peran orang remaja. Dalam banyak hal pengajaran berbasis problem bersesuaian dengan aktivitas mental di luar sekolah sebagaimana yang diperankan oleh orang remaja. 1. Pengajaran berbasis dilema memiliki komponen-unsur belajar magang. Hal tersebut mendorong observasi dan obrolan dengan orang lain, sehingga secara bertahap siswa dapat mengetahui peran penting dari acara mental dan mencar ilmu yang terjadi di luar sekolah. 2. Pengajaran berbasis persoalan melibatkan siswa dalam pengusutan pilihan sendiri, yang memungkinkan siswa menginterpretasikan dan menerangkan fenomena dunia nyata dan membangun pemahamannya wacana fenomena tersebut. b. Pembelajaran yang Otonom dan Mandiri Pengajaran berbasis problem berusaha membantu siswa menjadi pembelajar yang mampu berdiri diatas kaki sendiri dan otonom. Bimbingan guru yang berulang-ulang mendorong dan mengarahkan siswa untuk bertanya, mencari solusi kepada masalah aktual oleh mereka sendiri. Dengan begitu, siswa mencar ilmu menuntaskan peran-peran mereka secara mampu berdiri diatas kaki sendiri dalam hidupnya. 3. Tahapan Pengajaran Berbasis Masalah Pengajaran berbasis persoalan lazimnya berisikan lima tahapan utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu suasana dilema dan diakhiri dengan penghidangan dan analisis hasil kerja siswa. Tahapan Tingkah Laku Guru Tahap 1 Orientasi siswa terhadap dilema Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang diperlukan, memotivasi siswa supaya terlibat pada kegiatan pemecahan dilema yang dipilihnya Tahap 2 Mengorganisasi siswa untuk belajar Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan peran mencar ilmu yang berhubugnan dengan persoalan tersebut Tahap 3 Membimbing penyelidikan individual dan golongan Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informsi yang tepat, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penyelasan dan pemecahan masalahnya. Tahap 4 Mengembangkan dan menghidangkan hasil karya Guru menolong siwa merekncanakan dan mempersiapkan karyayang sesuai mirip laporan, video, dan versi serta membantu mereka banyak sekali peran dengan temannya. Tahap 5 Menganalisa dan memeriksa proses pemecahan maslah Guru menolong siswa melaksanakan refleksi atau penilaian terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. 4. Lingkungan Belajar dan Sistem Manajemen Tidak mirip lingkungan belajar yang terorganisir secara ketat yang diharapkan dalam pembelajaran eksklusif atau penggunaan yang hati-hati kalangan kecil dalam pembelajaran kooperatif, lingkungan berguru dan system administrasi dalam pengajaran berbasis persoalan dicirikan oleh sifatnya yang terbuka, ada proses demokrasi, dan peranan siswa yang aktif. Meskipun guru dan siswa melaksanakan tahapan pembelajaran yang terorganisir dan mampu diprediksi dalam pengajaran berbasis problem, norma di sekeliling pelajaran ialah norma inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan pertimbangan . Lingkungan mencar ilmu menekankan peranan sentral siswa, bukan guru yang ditekankan. Back to Content ? BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), sebab penelitian dilaksanakan untuk memecahkan duduk perkara pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, karena menggambarkan bagaimana sebuah teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan mampu dicapai. Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti, 1997: 8) menggolongkan penelitian tindakan menjadi empat macam yaitu, (a) guru sebagai penelitia; (b) observasi tindakan kolaboratif; (c) simultan terintegratif; (d) administrasi social eksperimental. Dalam observasi langkah-langkah ini menggunakan bentuk guru selaku peneliti, penanggung jawab penuh penelitian ini ialah guru. Tujuan utama dari observasi langkah-langkah ini ialah untuk memajukan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara sarat terlibat dalam penelitian mulai dari penyusunan rencana, langkah-langkah, pengamatan, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti tidak berafiliasi dengan siapapun, kehadiran peneliti selaku guru di kelas selaku pengajar tetap dan dikerjakan mirip biasa, sehingga siswa tidak tahu bila diteliti. Dengan cara ini dibutuhkan ditemukan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang dibutuhkan. A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melaksanakan observasi untuk memperoleh data yang dikehendaki. Penelitian ini bertempat di ………………………………………… Tahun Pelajaran 2002/2003. 2. Waktu Penelitian Waktu observasi ialah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober semester gasal tahun pelajaran 2002/2003. 3. Subyek Penelitian Subyek observasi adalah siswa-siswi Kelas ………………………….. Tahun Pelajaran 2002/2003. Pada pokok bahasan ………. B. Rancangan Penelitian Penelitian ini memakai Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK yakni suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dikerjakan untuk memajukan kemantapan rasional dari langkah-langkah mereka dalam melakukan tugas, memperdalam pengertian kepada langkah-langkah-tindakan yang dilaksanakan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dijalankan (dalam Mukhlis, 2003: 3). Sedangkah berdasarkan Mukhlis (2003: 5) PTK ialah sebuah bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki keadaan pembelajaran yang dijalankan. Adapun tujuan utama dari PTK ialah untuk memperbaiki/meningkatkan pratek pembelajaran secara berkelanjutan, sedangkan tujuan penyertaannya yaitu menumbuhkan budaya meneliti di golongan guru (Mukhlis, 2003: 5). Sesuai dengan jenis penelitian yang diseleksi, adalah penelitian langkah-langkah, maka penelitian ini menggunakan versi observasi langkah-langkah dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), yakni berupa spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (langkah-langkah), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus selanjutnya yakni perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dikerjakan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi urusan. Siklus spiral dari tahap-tahap observasi tindakan kelas mampu dilihat pada gambar berikut. Gambar 3.1 Alur PTK Penjelasan alur di atas adalah: 1. Rancangan/planning permulaan, sebelum mengadakan observasi peneliti menyusun rumusan persoalan, tujuan dan menciptakan rencana langkah-langkah, tergolong di dalamnya instrumen observasi dan perangkat pembelajaran. 2. Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dikerjakan oleh peneliti sebagai upaya membangun pengertian konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran model kontekstual berbasis dilema. 3. Refleksi, peneliti mengkaji, menyaksikan dan menimbang-nimbang hasil atau imbas dari tindakan yang dikerjakan menurut lembar observasi yang diisi oleh pengamat. 4. Rancangan/planning yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat menciptakan desain yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus selanjutnya. Observasi dibagi dalam tiga putaran, ialah putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang serupa (alur kegiatan yang sama) dan membicarakan satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di simpulan masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki tata cara pengajaran yang sudah dikerjakan. C. Instrumen Penelitian Instrumen yang dipakai dalam observasi ini berisikan: 1. Silabus Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan perihal kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas, serta evaluasi hasil mencar ilmu. 2. Rencana Pelajaran (RP) Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang dipakai sebagai anutan guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil mencar ilmu, tujuan pembelajaran khusus, dan acara berguru mengajar. 3. Tes formatif Tes ini disusun menurut tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, digunakan untuk mengukur kesanggupan pengertian desain IPA pada pokok bahasan …………. Tes formatif ini diberikan setiap simpulan putaran. Bentuk soal yang diberikan yaitu pilihan guru (objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 45 soal yang telah diujicoba, lalu penulis menyelenggarakan analisis butir soal tes yang sudah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal. Analisis ini dipakai untuk menentukan soal yang baik dan memenuhi syarat dipakai untuk mengambil data. Langkah-langkah analisi butir soal ialah selaku berikut: a. Validitas Tes Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk mengenali tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga dapat diputuskan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tingkat kevalidan ini dapat dihitung dengan hubungan Product Moment: (Suharsimi Arikunto, 2001: 72) Dengan: rxy : Koefisien relasi product moment N : Jumlah peserta tes ?Y : Jumlah skor total ?X : Jumlah skor butir soal ?X2 : Jumlah kuadrat skor butir soal ?XY : Jumlah hasil kali skor butir soal b. Reliabilitas Relaiabilitas butir soal dalam penelitian ini memakai rumus belah dua sebagai berikut: (Suharsimi Arikunto, 20001: 93) Dengan: r11 : Koefisien reliabilitas yang sudah diubahsuaikan r1/21/2 : Korelasi antara skor-skor setiap kepingan tes Kriteria reliabilitas tes jika harga r11 dari perkiraan lebih besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliabel. c. Taraf Kesukaran Bilangan yang menawarkan sulit dan mudahnya sebuah soal ialah indeks kesukaran. Rumus yang dipakai untuk memilih taraf kesukaran yaitu: (Suharsimi Arikunto, 2001: 208) Dengan: P : Indeks kesukaran B : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar Js : Jumlah seluruh siswa penerima tes Kriteria untuk memilih indeks kesukaran sola ialah sebagai berikut: - Soal dengan P = 0,000 hingga 0,300 adalah sulit - Soal dengan P = 0,301 sampai 0,700 ialah sedang - Soal dengan P = 0,701 hingga 1,000 yakni gampang d. Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang memperlihatkan besarnya daya pembeda desebut indeks diskriminasi. Rumus yang dipakai untuk mengkalkulasikan indeks diskriminasi ialah selaku berikut: (Suharsimi Arikunto, 2001: 211) Dimana: D : Indeks diskriminasi BA : Banyak penerima kalangan atas yang menjawab dengan benar BB : Banyak peserta golongan bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah peserta kalangan atas JB : Jumlah akseptor golongan bawah Proporsi akseptor golongan atas yang menjawab benar. Proporsi akseptor golongan bawah yang menjawab benar Kriteria yang digunakan untuk memilih daya pembeda butir soal selaku berikut: - Soal dengan D = 0,000 hingga 0,200 yakni buruk - Soal dengan D = 0,201 hingga 0,400 yakni cukup - Soal dengan D = 0,401 hingga 0,700 adalah baik - Soal dengan D = 0,701 sampai 1,000 yakni sangat bagus D. Metode Pengumpulan Data Data-data yang diperlukan dalam observasi ini diperoleh lewat pengamatan pembuatan tata cara pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis dilema, dan tes formatif. E. Teknik Analisis Data Untuk mengenali keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan evaluasi data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, adalah suatu sistem observasi yang bersifat menggambarkan realita atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap acara pembelajaran serta kegiatan siswa selama proses pembelajaran. Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase kesuksesan siswa setelah proses mencar ilmu mengajar setiap putarannya dijalankan dengan cara memberikan penilaian berbentuksoal tes tertulis pada setiap final putaran. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistic sederhana yakni: 1. Untuk menganggap ulangan atau tes formatif Peneliti melaksanakan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan: Dengan : = Nilai rata-rata ? X = Jumlah semua nilai siswa ? N = Jumlah siswa 2. Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan berguru yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunju pelaksanaan mencar ilmu mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), adalah seorang siswa telah tuntas berguru kalau sudah meraih skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas mencar ilmu bila di kelas tersebut terdapat 85% yang sudah meraih daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menjumlah persentase ketuntasan mencar ilmu digunakan rumus sebagai berikut: Back to Content ? BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Data observasi yang diperoleh berbentukhasil uji coba item butir soal, data observasi berupa observasi pengelolaan tata cara pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis dilema dan pengamatan acara siswa dan guru pada selesai pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap siklus. Data hasil uji coba item butir soal dipakai untuk menerima tes yang sungguh-sungguhmewakili apa yang diharapkan. Data ini selanjutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. Data lembar pengamatan diambil dari dua observasi yakni data pengamatan pengelolaan metode pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah yang digunakan untuk mengenali imbas penerapan tata cara pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis duduk perkara dalam memajukan prestasi mencar ilmu siswa dan data pengamatan kegiatan siswa dan guru. Data tes formatif untuk mengenali kenaikan prestasi berguru siswa sehabis dipraktekkan metode pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis problem. A. Analisis Item Butir Soal Sebelum melaksanakan pengambilan data lewat instrument observasi berupa tes dan menerima tes yang bagus, maka data tes tersebut diuji dan dianalisis. Uji coba dilakukan pada siswa di luar target penelitian. Analisis tes yang dikerjakan mencakup: 1. Validitas Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes sehingga mampu dipakai selaku instrument dalam penelitian ini. Dari perkiraan 46 soal diperoleh 16 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Valid Soal Tidak Valid 3, 4, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 25, 27, 28, 29, 30,36, 37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45, 46 1, 2, 8, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 31, 32, 33, 34, 35, 40 2. Reliabilitas Soal-soal yang sudah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 554. Harga ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 25) dengan r (95%) = 0,367. Dengan demikian soal-soal tes yang dipakai telah memenuhi syarat reliabilitas. 3. Taraf Kesukaran (P) Taraf kesukaran digunakan untuk mengenali tingkat kesukaran soal. Hasil analisis menunjukkan dari 46 soal yang diuji terdapat: - 20 soal mudah - 16 soal sedang - 10 soal susah 4. Daya Pembeda Analisis daya pembeda dilakukan untuk mengetahui kesanggupan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkteriteria jelek sebanyak 16 soal, berkriteria cukup 20 soal, berkriteria baik 10 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang dipakai telah menyanggupi syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. B. Analisis Data Penelitian Persiklus 1. Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan acara belajar mengajar untuk siklus I dikerjakan pada tanggal 4 Oktober 2002 di Kelas ………. dengan jumlah siswa 25 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada planning pelajaran yang sudah disediakan. Pengamatan (pengamatan) dikerjakan serempak dengan pelaksaaan belajar mengajar Pada tamat proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kesuksesan siswa dalam proses berguru mengajar yang sudah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I ialah sebagai berikut: Table 4.2. Nilai Tes Formatif Pada Siklus I No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 40 ? 14 50 ? 2 70 ? 15 30 ? 3 80 ? 16 60 ? 4 50 ? 17 80 ? 5 70 ? 18 40 ? 6 80 ? 19 80 ? 7 70 ? 20 60 ? 8 60 ? 21 70 ? 9 80 ? 22 80 ? 10 80 ? 23 80 ? 11 70 ? 24 50 ? 12 70 ? 25 80 ? 13 80 ? Jumlah 760 6 6 Jumlah 900 10 3 Jumlah Skor 1660 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2500 % Skor Tercapai 66,40 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 16 Jumlah siswa yang belum tuntas : 9 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I No Uraian Hasil Siklus I 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan berguru 66,40 16 64,00 Dari tabel di atas mampu diterangkan bahwa dengan menerapkan pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis persoalan diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa yaitu 66,40 dan ketuntasan berguru meraih 64,00% atau ada 16 siswa dari 25 siswa sudah tuntas mencar ilmu. Hasil tersebut menawarkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, alasannya siswa yang memperoleh nilai ? 65 hanya sebesar 64,00% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yakni sebesar 85%. Hal ini disebabkan sebab siswa masih asing dengan diterapkannya pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah. 2. Siklus II a. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang berisikan planning pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap acara dan pelaksanaan Pelaksanaan acara mencar ilmu mengajar untuk siklus II dijalankan pada tanggal 11 Oktober 2002 di Kelas ………. dengan jumlah siswa 25 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses berguru mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalah atau kekurangan pada siklus I tidak terulanga lagi pada siklus II. Pengamatan (pengamatan) dijalankan serempak dengan pelaksanaan berguru mengajar. Pada selesai proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses berguru mengajar yang sudah dikerjakan. Instrument yang digunakan yaitu tes formatif II. Adapun data hasil observasi pada siklus II yaitu selaku berikut. Table 4.4. Nilai Tes Formatif Pada Siklus II No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 70 ? 14 70 ? 2 80 ? 15 60 ? 3 90 ? 16 80 ? 4 50 ? 17 80 ? 5 70 ? 18 70 ? 6 80 ? 19 70 ? 7 70 ? 20 60 ? 8 60 ? 21 80 ? 9 70 ? 22 80 ? 10 80 ? 23 60 ? 11 80 ? 24 70 ? 12 50 ? 25 80 ? 13 70 ? Jumlah 860 9 3 Jumlah 920 10 3 Jumlah Skor 1780 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2500 % Skor Tercapai 71,20 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 19 Jumlah siswa yang belum tuntas : 6 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.5. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II No Uraian Hasil Siklus II 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar 71,20 19 76,00 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi mencar ilmu siswa yakni 71,20 dan ketuntasan mencar ilmu mencapai 76,00% atau ada 19 siswa dari 25 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menawarkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan mencar ilmu secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil mencar ilmu siswa ini karena siswa telah mulai erat dan menemuan keasyikan dengan sistem pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis duduk perkara. Disamping itu kesanggupan guru dalam mengelola proses berguru mengajar dalam tata cara ini juga semakin berkembangsehingga proses belalar-mengajar kian efektif. 3. Siklus III a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang berisikan planning pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap aktivitas dan pengamatan Pelaksanaan aktivitas mencar ilmu mengajar untuk siklus III dilakukan pada tanggal 18 Oktober 2002 di Kelas …….. dengan jumlah siswa 25 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada planning pelajaran dengan mengamati revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kelemahan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (pengamatan) dijalankan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada tamat proses mencar ilmu mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengenali tingkat kesuksesan siswa dalam proses berguru mengajar yang sudah dilaksanakan. Instrumen yang digunakan yakni tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah selaku berikut: Table 4.6. Nilai Tes Formatif Pada Siklus III No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 70 ? 14 80 ? 2 80 ? 15 90 ? 3 80 ? 16 80 ? 4 70 ? 17 70 ? 5 70 ? 18 80 ? 6 90 ? 19 60 ? 7 80 ? 20 80 ? 8 60 ? 21 90 ? 9 80 ? 22 80 ? 10 90 ? 23 70 ? 11 70 ? 24 80 ? 12 80 ? 25 60 ? 13 90 ? Jumlah 920 10 2 Jumlah 1010 12 1 Jumlah Skor 1930 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2500 % Skor Tercapai 77,20 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 22 Jumlah siswa yang belum tuntas : 3 Klasikal : Tuntas Tabel 4.7. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III No Uraian Hasil Siklus III 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan belajar 77,20 22 88,00 Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 77,20 dan dari 25 siswa yang sudah tuntas sebanyak 22 siswa dan 3 siswa belum meraih ketuntasan mencar ilmu. Maka secara klasikal ketuntasan mencar ilmu yang sudah tercapai sebesar 88,00% (tergolong klasifikasi tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami kenaikan lebih baik dari siklus II. Adanya kenaikan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya kenaikan kemampuan siswa mempelajari bahan pelajaran yang telah dipraktekkan selama ini. Disamping itu dengan adanya tata cara pembelajaran ini siswa mampu bertanya dengan sesama temanya, dan ternyata dari proses mengajukan pertanyaan antar siswa ini, siswa lebih gampang mendapatkan klarifikasi dari temannya yang lebih paham tengtang bahan pelejaran tersebut. Juga dari hasil pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis duduk perkara ini murid jadi lebih gampang untuk melakukan pekerjaan sama dengan sesama temanya. c. Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan metode pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis duduk perkara. Dari data-data yang telah diperoleh mampu duraikan sebagai berikut: 1. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa faktor yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. 2. Berdasarkan data hasil pengamatan dikenali bahwa siswa aktif selama proses belajar berjalan. 3. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya telah mengalami perbaikan dan kenaikan sehingga menjadi lebih baik. 4. Hasil belajar siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan sistem pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis masalah dengan baik dan dilihat dari acara siswa serta hasil berguru siswa pelaksanaan proses belajar mengajar telah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah selanjutnya yakni mengoptimalkan dan mempertahankan apa yang sudah ada dengan tujuan supaya pada pelaksanaan proses berguru mengajar berikutnya penerapan metode pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis persoalan dapat memajukan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. C. Pembahasan 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Melalui hasil peneilitian ini memberikan bahwa pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis persoalan mempunyai dampak kasatmata dalam mengembangkan daya ingat siswa. Hal ini dapat dilihat dari makin mantapnya pemahaman dan penguasaan siswa terhadap bahan yang sudah disampaikan guru selama ini (ketuntasan mencar ilmu meningkat dari sklus I, II, dan III) adalah masing-masing 64,00%, 76,00%, dan 88,00%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis duduk perkara dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini mempunyai dampak kasatmata terhadap proses mengingat kembali bahan pelajaran yang telah diterima selama ini, ialah dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami kenaikan. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh acara siswa dalam proses pembelajaran IPA dengan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis dilema yang paling mayoritas adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Makara dapat dibilang bahwa acara isiwa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk acara guru selama pembelajaran sudah melaksanakan tindakan sistem pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalahdengan baik. Hal ini tampakdari aktivitas guru yang timbul di antaranya acara membimbing dan memperhatikan siswa dalam menjalankan aktivitas, menerangkan/melatih memakai alat, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk kegiatan di atas cukup besar. Back to Content ? BAB V PENUTUP Dari hasil kegiatan pembelajaran yang sudah dikerjakan selama tiga siklus, dan menurut seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Pembelajaran dengan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis problem mempunyai imbas konkret dalam memajukan prestasi mencar ilmu siswa yang ditandai dengan kenaikan ketuntasan mencar ilmu siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (64,00%), siklus II (76,00%), siklus III (88,00%). 2. Penerapan pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis duduk perkara mempunyai imbas faktual, yaitu dapat meningkatkan motivasi berguru siswa untuk mempelajari bahan pelajaran yang diterima selama ini, dimana hal tersebut ditunjukan dengan rata-rata sikap siswa yang menyatakan bahwa siswa kesengsem dan terpikatdengan pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis persoalan sehingga mereka menjadi termotivasi untuk berguru. 3. Pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis masalah mempunyai efek konkret kepada pengertian bahan pelajaran yang diajaran, dimana dengan tata cara ini siswa dipaksa untuk memecahkan duduk perkara yang beruhubungan dengan bahan palajaran yang diajarkan. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar IPA lebih efektif dan lebih menunjukkan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran selaku berikut: 1. Untuk melaksanakan sistem pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis duduk perkara memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mempu memilih atau menentukan topik yang sungguh-sungguh bisa dipraktekkan dengan pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis duduk perkara dalam proses mencar ilmu mengajar sehingga diperoleh hasil yang maksimal. 2. Dalam rangka meningkatkan prestasi mencar ilmu siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan banyak sekali metode pengajaran yang sesuai, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemuan pengetahuan gres, mendapatkan konsep dan kemampuan, sehingga siswa berhasil atau bisa memecahkan duduk perkara-dilema yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, alasannya adalah hasil observasi ini hanya dilaksanakan di ……………………………. Tahun Pelajaran 2002/2003 Back to Content ? DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon. Daroeso, Bambang. 1989. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Semarang: Aneka Ilmu. Dayan, Anto. 1972. Pengantar Metode Statistik Deskriptif, tt. Lembaga Penelitian Pendidian dan Penerangan Ekonomi. Hadi, Sutrisno. 198. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi UGM. Melvin, L. Siberman. 2004. Aktif Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia dan Nuansa. Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Riduwan. 2004. Belajar Praktis Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta. Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Surakhmad, Winarno. 1990. Metode Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars. Back to Content ? DOWNLOAD FILE Dapatkan file secara lengkap berupa pengaturan, gambar, tabel dan lain-lain dalam format microsoft word (.doc) pada link dibawah ini !! Dowwload PTK Format Microsoft Word (.doc) Efektivitas Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Prestasi dan Penguasaan Materi Pelajaran IPA Back to Content ?
Sumber https://somadrug1.blogspot.com


EmoticonEmoticon