PENGARUH PEMBELAJARAN DENGAN PEMBERIAN BALIKAN DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR EKONOMI KOPERASI PADA SISWA KELAS …….. …………………………………… TAHUN 2002/2003 KARYA TULIS ILMIAH OLEH ……………………………… NIP: ……………………………….. DINAS PENDIDIKAN KOTA ………………… ……………………………………. LEMBAR PENGESAHAN Laporan penelitian ini telah disetujui dan disyahkan untuk melengkapi perpustakaan SD/Madrasah Ibtidaiyah dan mampu diajukan selaku salah satu Karya Ilmiah untuk Penetapan Angka Kredit Jabatas Guru pada Golongan IVa ke IVb. …………………………….. Kepala Sekolah …………………………………… Penulis ………………………………… ……………………………… NIP: …………………. NIP: …………….. Mengetahui Mengetahui Pustakawan ………………… Kepala Cab. Din. Pendidikan Kecamatan ………. Kecamatan ………….. ………………………. ……………………… NIP: ……………… Mengetahui Mengetahui Kepala Dinas Pendidikan Ketua P G R I Kota …………… Kota …….. ……………………… ……………………………. Pembina Utama Muda NPA: …………………. NIP: ………………… KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, cuma dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan karya ilmiah dengan judul “Pengaruh Pembelajaran Dengan Pemberian Balikan Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Ekonomi Koperasi Pada Siswa Kelas ……………………………………… Tahun Pelajaran 2002/2003”, penulisan karya ilmiah ini kami susun untuk digunakan dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan mampu digunakan selaku perbandingan dalam pembuatan karya ilmiah bagi sahabat sejawat juga anak didik pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pelatihan karya ilmiah remaja. Dalam penyusunan karya imiah ini penulis banyak mendapat pinjaman dari berbagai pihak. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan lapang dada dan sedalam-dalamnya terhadap: 1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan ………………………….. 2. Yth. Ketua PD II PGRI ………………………. 3. Yth. Rekan-rekan Guru ……………………………………….. 4. Semua pihak yang telah banyak membantu sehingga penulisan ini tamat. Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari sempurna untuk itu segala kritik dan rekomendasi yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis kehendaki. Penulis ABSTRAK …………………………….., 2002. Pengaruh Pembelajaran Dengan Pemberian Balikan Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Ekonomi Koperasi Pada Siswa Kelas ………………………………………….. Tahun Pelajaran 2002/2003 Kata Kunci: tunjangan balikan Tugas utama seorang guru yakni bertanggung jawab menolong anak bimbing dalam hal belajar. Dalam proses berguru mengajar, gurulah yang memberikan pelajaran, memecahkan problem-dilema yang terjadi dalam kelas, menciptakan evaluasi belajar siswa, baik sebelum, sedang maupun sesudah pelajaran berjalan. Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian langkah-langkah ini yakni: (a) Apakah pembelajaran dengan pertolongan balikan berpengaruh terhadap hasil berguru siswa? (b) Bagaimanakah imbas pembelajaran dengan sumbangan balikan kepada motivasi belajar siswa? Sedangkan tujuan dari penelitian ini ialah: (a) Untuk mengungkap pengaruh pembelajaran dengan pemberian balikan terhadap hasil belajar Ekonomi Koperasi . (b) Untuk mengungkap pembelajaran dengan pemberian balikan kepada motivasi belajar Ekonomi Koperasi . Penelitian ini menggunakan observasi tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran berisikan empat tahap yaitu: rancangan, aktivitas dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran observasi ini yaitu siswa kelas ………………………………………….. Data yang diperoleh berbentukhasil tes formatif, lembar observasi acara mencar ilmu mengajar. Tujuan penelitian langkah-langkah ini adalah: (a) Untuk mengungkap dampak pembelajaran dengan pemberian balikan terhadap prestasi berguru ilmu wawasan sosial, (b) Untuk mengungkap pembelajaran dengan bantuan balikan terhadap motivasi belajar ilmu pengetahaun. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III adalah, siklus I 68,18%), siklus II (77,27%), siklus III ((86,36%). Kesimpulan dari observasi ini yakni pembelajaran dengan santunan balikan dapat besar lengan berkuasa aktual kepada motivasi mencar ilmu Siswa ………………………., serta model pembelajaran ini dapat digunakan selaku salah satu alternative pembelajaran ilmu ekonomi. DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul i Halaman Pengesahan ii Kata Pengantar iii Abstrak iv Daftar Isi v BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 4 C. Tujuan Penelitian 5 D. Manfaat Penelitian 5 E. Definisi Operasional Variabel Penelitian 6 F. Batasan Masalah 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Definisi Pembelajaran B. Motivasi Belajar C. Pemberian Balikan 8 D. Hasil Belajar Ekonomi Koperasi 13 E. Materi Ekonomi Koperasi 15 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 17 B. Rancangan Penelitian 18 C. Instrumen Penelitian 19 D. Metode Pengumpulan Data 23 E. Teknik Analisis Data 23 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis Item Butir Soal 25 B. Analisis Data Penelitian Persiklus 27 C. Pembahasan 36 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 38 B. Saran 39 DAFTAR PUSTAKA 40 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas pendidikan, selaku salah satu pilar pengembangan sumberdaya manusia yang bermakna, sangat penting bagi pembangunan nasional. Bahkan mampu dikatakan kurun depan bangsa bergantung pada eksistensi pendidikan yang bermutu yang berlangsung di abad kini. Pendidikan yang bermutu cuma akan timbul dari sekolah yang berkualitas. Oleh alasannya itu, upaya kenaikan mutu sekolah ialah titik sentral upaya menciptakan pendidikan yang bermutu demi terciptanya tenaga kerja yang bermutu pula. Dengan kata lain upaya kenaikan kualitas sekolah ialah merupakan langkah-langkah yang tidak pernah terhenti, kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun. Dalam upaya kenaikan kualitas sekolah, tenaga kependidikan yang meliputi, tenaga pendidik, pengurus satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti, teknis sumber berguru, sangat dibutuhkan berperan sebagaimana mestinya dan selaku tenaga kependidikan yang berkualitas. Tenaga pendidik/guru yang bermutu ialah tenaga pendidik/guru yang sanggup, dan cekatan dalam melakukan tugasnya. Tugas utama guru yaitu bertanggung jawab menolong anak asuh dalam hal berguru. Dalam proses belajar mengajar, gurulah yang menyampaikan pelajaran, memecahkan persoalan-dilema yang terjadi dalam kelas, membuat penilaian belajar siswa, baik sebelum, sedang maupun setelah pelajaran berjalan (Combs, 1984: 11-13). Untuk memainkan peranan dan melaksanakan tugas-peran itu, seorang guru diharapkan mempunyai kemampuan professional yang tinggi. Dalam kekerabatan ini maka untuk mengenal siswa-siswanya dengan baik, guru perlu memiliki kemampuan untuk melakukan diagnosis serta mengenal dengan baik cara-cara yang paling efektif untuk membantu siswa tumbuh sesuai dengan potensinya masing-masing. Proses pembelajaran yang dilakukan guru memang dibedakan keluasan cakupannya, namun dalam konteks acara mencar ilmu mengajar mempunyai tugas yang sama. Maka tugas mengajar bukan cuma sekedar menuangkan bahan pelajaran, namun teaching is primarily and always the stimulation of learner (Wetherington, 1986: 131-136), dan mengajar tidak hanya dapat dinilai dengan hasil penguasaan mata pelajaran, namun yang paling penting yaitu kemajuan langsung anak, sekalipun mempelajari pelajaran yang baik, akan memperlihatkan pengalaman menghidupkan beragam sifat, perilaku dan kemampuan yang konstruktif. Dengan tercapainya tujuan dan kualitas pembelajaran, maka dibilang bahwa guru sudah berhasil dalam mengajar. Keberhasilan acara mencar ilmu mengajar tentu saja diketahui sehabis diadakan evalusi dengan berbagai aspek yang sesuai dengan rumusan beberapa tujuan pembelajaran. Sejauh mana tingkat kesuksesan belajar mengajar, dapat dilihat dari daya serap anak ajar dan persentase kesuksesan anak asuh dalam mencapai tujuan pembelajaran khusus. Jika hanya tujuh puluh lima persen atau lebih dari jumlah anak ajar yang mengikuti proses berguru mengajar mencapai taraf keberhasilan kurang (di bawah taraf minimal), maka proses belajar mengajar selanjutnya hendaknya ditinjau kembali. Setiap akan mengajar, guru perlu menciptakan persiapan mengajar dalam rangka melaksanakan sebagian dari rencana bulanan dan rencana tahunan. Dalam perisiapan itu sudah terkandung ihwal, tujuan mengajar, pokok yang hendak diajarkan, metode mengajar, bahan pelajaran, alat peraga dan teknik penilaian yang digunakan. Karena itu setiap guru mesti mengetahui benar ihwal tujuan mengajar, secara khusus menentukan dan memilih tata cara mengajar sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, cara memilih, memilih dan memakai alat peraga, cara menciptakan tes dan menggunakannya, dan pengetahuan ihwal alat-alat evaluasi. Sementara itu teknologi pembelajaran yakni salah satu dari aspek tersebut yang condong diabaikan oleh beberapa pelaku pendidikan, khususnya bagi mereka yang menganggap bahwa sumber daya insan pendidikan, fasilitas dan prasarana pendidikanlah yang terpenting. Padahal jikalau dikaji lebih lanjut, setiap pembelajaran pada semua tingkat pendidikan baik formal maupun non formal terlebih tingkat SD, haruslah berpusat pada kebutuhan kemajuan anak selaku kandidat individu yang unik, selaku makhluk sosial, dan selaku calon manusia seutuhnya. Hal tersebut dapat diraih kalau dalam aktivitas belajar mengajar, guru senantiasa mempergunakan teknologi pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran dengan sumbangan balikan dalam penyampaian materi dan gampang diserap penerima bimbing atau siswa berlawanan. Khususnya dalam pembelajaran Ekonomi Koperasi , agar siswa mampu memahami materi yang disampaikan guru dengan baik, maka proses pembelajaran dengan pemberian balikan, guru akan memulai membuka pelajaran dengan menyampaikan kata kunci, tujuan yang ingin dicapai, baru memaparkan isi dan diakhiri dengan memberikan soal-soal terhadap siswa. Dari latar belakang masalah tersebut, maka peneliti merasa terdorong untuk melihat efek pembelajaran dengan pemberian balikan kepada prestasi belajar siswa dengan mengambil judul “Pengaruh Pembelajaran Dengan Pemberian Balikan Terhadap Hasil Belajar Bidang Ekonomi Koperasi Pada Siswa Kelas …………………………………………………….. Tahun Pelajaran 2002/2003”. B. Rumusan Masalah Merujuk pada uraian latar belakang di atas, mampu dikaji ada beberapa masalah yang dirumuskan selaku berikut: 1. Apakah pembelajaran dengan perlindungan balikan besar lengan berkuasa kepada hasil belajar Ekonomi Koperasi siswa Kelas ………………………….Tahun Pelajaran 2002/2003? 2. Bagaimanakah dampak pembelajaran dengan bantuan balikan terhadap motivasi mencar ilmu siswa Kelas ………………………….. Tahun Pelajaran 2002/2003? C. Tujuan Penelitian Berdasar atas perumusan masalaah di atas, maka tujuan dijalankan penelitian ini adalah: 1. Untuk mengungkap pengaruh pembelajaran dengan pemberian balikan kepada hasil berguru Ekonomi Koperasi siswa Kelas ……………………..Tahun Pelajaran 2002/2003. 2. Untuk mengungkap imbas pembelajaran dengan sumbangan balikan kepada motivasi belajar Ekonomi Koperasi siswa …………………………………. Tahun Pelajaran 2002/2003. D. Kegunaan Penelitian 1. Hasil dan temuan observasi ini mampu menawarkan informasi perihal pembelajaran dengan dukungan balikan dalam pembelajaran Ekonomi Koperasi . 2. Guru-guru Ekonomi Koperasi perlu mempergunakan teknik pembelajaran dengan dukungan balikan untuk mengembangkan kualitas pembelajaran, baik dalam hal kualitas proses maupun kualitas hasil. 3. Memberikan tanggung jawab dan rasa keadilan bagi guru dalam hal proses pembelajaran dengan tetap berpegang pada suatu pemahaman bahwa siswa memerlukan perhatian guru. E. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Pembelajaran dengan pertolongan balikan, ialah sebuah bentuk acara kurikuler sebagai fasilitas untuk meraih tujuan pembelajaran dengan pemberian balikan dimulai dengan menyampaikan tujuan dan juga keyword , diteruskan dengan bantuan materi yang tepat dengan tujuan, dan derma peran berupa soal-soal yang dijalankan dirumah. 2. Pemberian Tugas, yaitu catatan guru yang dicantumkan dalam lembar tanggapan siswa, sesudah guru meneliti tanggapan, yang dapat digunakan oleh siswa di dalam memperdalam materi yang diberikan sesuai dengan materi soal. Dalam pemberian peran ini pekerajaan dikemtugas kepada siswa. 3. Hasil Belajar Ekonomi Koperasi , ialah hasil yang diperoleh siswa sesudah melakukan soal atau tes dari guru setelah proses mengajar berjalan dalam satu pokok bahasan simpulan. F. Batasan Masalah Karena kekurangan waktu, maka dibutuhkan pembatasan problem yang mencakup: 1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas ………………………………. Tahun Pelajaran 2002/2003. 2. Penelitian ini dilakukan pada bulan September semester ganjil tahun anutan 2002/2003. 3. Materi yang disampaikan yaitu pokok bahasan keanekaragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Definisi Pembelajaran Pembelajaran yakni proses, cara, menimbulkan orang atau makhluk hidup berguru. Sedangkan berguru adalah berupaya memperoleh kepandaian atau ilmu, berganti tingka laris atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. (KBBI, 1996: 14). Sependapat dengan pernyataan tersebut Sutomo (1993: 68) mengemukakan bahwa pembelajaran ialah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilaksanakan sehingga memungkinkan dia mencar ilmu untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sedangkan belajar yakni sebuah peoses yang menyebabkan pergeseran tingkah laris yang bukan disebabkan oleh proses perkembangan yang bersifat fisik, tetapi pergantian dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah, berkembang daya pikir, sikap dan lain-lain. (Soetomo, 1993: 120). Makara pembelajaran ialah proses yang disengaja yang menjadikan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada suasana tertentu. B. Motivasi Belajar 1. Pengertian Motivasi Motif ialah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melaksanakan sesuatu, atau kondisi seserang atau organisme yang menimbulkan kesiapan kesiapannya untuk mengawali serangkaian tingkah laris atau perbuatan. Sedangkan motivasi yaitu sebuah proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laris untuk memenuhi keperluan dan mencapai tujuan, atau kondisi dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam meraih tujuan tertentu (Usman, 2000: 28). Sedangkan berdasarkan Djamarah (2000: 114) motivasi yaitu suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk kegiatan konkret untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses mencar ilmu, motivasi sungguh diperlukan karena seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam berguru tidak akan mungkin melaksanakan kegiatan mencar ilmu. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang termotivasi dalam mencar ilmu sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan bahan itu dengan lebih baik. Kaprikornus motivasi yakni suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam meraih tujuan tertentu. 1. Macam-macam Motivasi Menurut jenisnya motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Motivasi Intrinsik Jenis motivasi ini timbul selaku akibat dari dalam individu, apakah alasannya adalah adanya permintaan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan yang demikian karenanya dia mau melaksanakan sesuatu atau berguru (Usman, 2000: 29). Sedangkan berdasarkan Djamarah (2000: 115), motivasi instrinsik ialah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, alasannya adalah dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Menurut Winata (dalam Erriniati, 1994: 105) ada beberapa seni manajemen dalam mengajar untuk membangun motivasi intrinsik. Strategi tersebut ialah sebagai berikut: 1) Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa. 2) Memberikan kebebasan dalam memperluas materi pelajaran sebatas yang pokok. 3) Memberikan banyak waktu extra bagi siswa untuk melakukan tugas dan memanfaatkan sumber mencar ilmu di sekolah. 4) Sesekali memberikan penghargaan pada siswa atas pekerjaannya. 5) Meminta siswa untuk menerangkan hasil pekerjaannya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi instrinsik yakni motivasi yang timbul dari dalam individu yang berfungsinya tidak butuhdirangsang dari luar. Seseorang yang mempunyai motivasi intrinsik dalam dirinya maka secara sadar akan melakukan suatu aktivitas yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. b. Motivasi Ekstrinsik Jenis motivasi ini muncul sebagai akibat dampak dari luar individu, apakah karena adanya usul, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian risikonya ia mau melaksanakan sesuatu atau belajar. Misalnya seseorang mau belajar sebab ia disuruh oleh orang tuanya biar mendapat peringkat pertama dikelasnya (Usman, 2000: 29). Sedangkan berdasarkan Djamarah (2000: 117), motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik yaitu motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Beberapa cara menghidupkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi instrinsik antata lain: 1) Kompetisi (persaingan): guru berusaha membuat kompetisi diantara siswanya untuk mengembangkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan menanggulangi prestasi orang lain. 2) Pace Making (menciptakan tujuan sementara atau bersahabat): Pada permulaan kegiatan berguru mengajar guru, hendaknya terlebih dahulu memberikan terhadap siswa TIK yang akan diraih sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk meraih TIK tersebut. 3) Tujaun yang terang: Motif mendorong individu untuk meraih tujuan. Makin terperinci tujuan, makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan semakin besar pula motivasi dalam melakuakan sesuatu tindakan. 4) Kesempurnaan untuk berhasil: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan dan keyakinan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan menenteng imbas yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya banyak memperlihatkan kesempatan kepada anak untuk meraih berhasil dengan perjuangan berdikari, tentu saja dengan bimbingan guru. 5) Minat yang besar: Motif akan timbul jikalau individu memiliki minat yang besar. 6) Mengadakan evaluasi atau tes. Pada biasanya semua siswa mau berguru dengan tujuan memperoleh nilai yang bagus. Hal ini terbukti dalam kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak berguru jika tidak ada ulangan. Akan namun, jikalau guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan ekspresi, barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia mendapat nilai yang bagus. Jadi, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang besar lengan berkuasa bagi siswa. Dari uraian di atas diketahui bahwa motivsi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari luar individu yang berfungsinya alasannya adalah adanya perangsang dari luar, contohnya adanya kompetisi, untuk meraih nilai yang tinggi, dan lain sebagainya. C. Pemberian Balikan 1. Pengertian Dengan mengutip beberapa persepsi, Panjaitan (1993: 23) mengemukakan ihwal pengertian derma balikan sebagai berikut: a. Pemberian balikan ialah bantuan info kepada siswa tentang hasil kerjanya dalam menjalankan tes atau latihan (‘Cardelle dan Corno, 1985: 162-173). b. Pemberian balikan yakni bantuan isu terhadap akseptor ajar sampai sejauh mana dia sudah meraih tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan (Dawdan Gage, 1967: 181-188). c. Pemberian balikan yaitu sumbangan berita terhadap siswa seberapa jauh beliau talah mengetahui isi pembelajaran sesuai dengan tes dan latihan yang diberikan guru kepadanya (Kulik dan Kulik, 1988: 79-97). d. Pemberian balikan yaitu suatu komunikasi antara guru dan siswa dalam hal memudahkan siswa memperbaiki kekurangannya dalam proses pembelajaran (Measn, dkk, 1978: 373-387). e. Pemberian balikan yakni dukungan info terhadap siswa wacana pemahamannya dalam melaksanakan tes atau latihan sesudah menyelesaikan suatu topik atau satu sub pokok bahasan yang diberikan guru sehabis selang waktu tertentu (Rochim dan Thomson, 1985: 368-372). f. Pemberian balikan adalah salah satu cara untuk memudahkan siswa belajar, adalah memberi informsi terhadap siswa ihwal hasil kerjanya dalam mengerjakan tes atau latihan (Anderson dan Faust, 1973: 271-295). g. Pemberian balikan yaitu merupakan interaksi antara guru dan siswa yang digunakan sebagai korekasi kepada balasan siswa dalam melaksanakan tes atau latihan semoga siswa tahu apakah jawabannya dalam melakukan tes atau latihan menjawab soal-soal itu benar atau salah (Hill, 1980). h. Benne, dkk, (1975) menyatakan bahwa dengan tunjangan balikan siswa akan mengenali kesalahan/kelemahan dan penilain serta komentar yang diberikan oleh guru perihal tampilannya dalam melakukan tes atau latihan dengan maksud biar mempermudah siswa dalam memperbaikinya. i. Pemberian balikan yakni info yang diberikan terhadap siswa setalah beliau menunjukkan tanggapanatas tes atau latihan yang diberikan guru sesudah melaksanakan proses pembelajaran sesuai denga program yang dirancang oleh guru (Skodmore, dkk. 1979: 89). Berdasarkan makna pengertian santunan balikan dalam pembelajaran, secara teoritis mirip yang telah diuraikan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pemberian balikan yakni informsi atau informasiguru kepada siswa baik secara verbal atau tertulis kepada salah benarnya balasan siswa dari hasil dalam menjalankan tes atau latihan sesudah akhir mengikuti acara pembelajaran yang dirumuskan oleh guru dengan tujuan biar siswa terangsang atau termotivasi untuk berusaha merespon mencari pembetulan. 2. Langkah Pemberian Balikan Menurut Panjaitan (1993: 24) ada dua cara pinjaman balikan, sebagia berikut: a. Pemberian Balikan Secara Simbol Pemberian balikan secara simbol yaitu pinjaman info guru kepada siswa secara tertulis yang dituangkan pada lembar jawaban hasil kerja siswa dalam melakukan tes atau latihan, dengan menawarkan tanda benar (B) pada tanggapan yang benar, dan menunjukkan tanda salah (S) pada balasan yang salah tanpa menunjukkan keterangan apapun. Tanda-tanda tersebut selaku simbol apakah pekerjaan siswa benar atau salah. b. Pemberian Balikan Secara Ekspositorik Pemberian balikan secara ekspositorik, yaitu dukungan berita guru kepada siswa secara tertulis yang dituangkan pada lembar balasan hasil kerja siswa dalam mengerjakan tes atau latihan, yakni dengan memberikan tanda benar (B) pada balasan yang benar, dan menawarkan tanda salah (S) pada tanggapan yang salah dan sekaligus memberi klarifikasi singkat/terperinci atas kesalahannya dan petunjuk perbaikan serta buku sumber acuannya biar siswa dapat memperbaiki kekurangannya dan kesalahannya yang sudah diperbuatnya. Catatan yang diberikan oleh guru (kebanyakan untuk balasan yang salah) mampu diberikan dengan terperinci atau isyarat lain yang dapat menolong siswa memperbaiki pekerjaannya yang salah. Pembelajaran dengan cara menawarkan balikan baik secara simbol maupun secara ekspositorik dari guru terhadap siswa biar mempermudah siswa untuk memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya dan diprediksi mampu kuat aktual kepada kenaikan perolehan hasil mencar ilmu. 3. Kebijaksanaan Pemberian Balikan Pemberian balikan dalam bentuk berita atau pemberitahuan dari guru terhadap siswa tentang kekurangan-kekurangannya atau tentang kesalahan-kesalahannya kepada hasil kerjanya dalam menjawab tes atau latihan setelah simpulan mengikuti eksperimen dalam pembelajaran, yang pengaruhnya dapat mengakibatkan reaksi minimal tiga kemungkinan pada diri siswa. Kemungkinan yang muncul dalam sumbangan balikan mampu menyebabkan siswa apatis, patah semangat, atau patah hati, dan menjadi pendorong semangat belajar. Hal demikian tergantung kebijaksaan atau kepandaian logika kecerdikan sang guru dalam menawarkan balikan. Cara pemberi balikan mampu bersifat aktual dan dapat negative. (Jarolimek dan Foster, 1978; Panjaitan, 1993: 27). Pemberian balikan yang bersifat kasatmata dikandung maksud isu atau pemberitahuan terhadap kesalahan-kesalahan atau kelemahan-kelemahan yang diperbuat oleh siswa, baik yang verbal maupun yang tertulis pada lembar balasan siswa hsil pembuatan tes atau latihan semestinya balikan yang bersifat membangun, harus ialah balikan yang bersifat konstruktif adalah berita atau pemberitahuan yang disampaikan guru terhadap siswa harus bisa memberikan dorongan atau motivasi sukses yang mampu membangkitkan semangat dan perjuangan dalam diri siswa untuk lebih ulet berusaha berguru memperbaiki kekurangan-kekurangannya dan kesalahan-kesalahannya yang sudah diperbuatnya. Karenanya info atau pemberitahuan itu mesti dikerjakan dengan seksama, bersifat pujian, terperinci, cermat, dan spesifik, mudah diketahui siswa, sehingga siswa tergerak jiwanya untuk berupaya memperbaikinya. Adapun sebaliknya tunjangan balikan yang bersifat negative yakni balikan yang bersifat destruktif atau balikan yang bersifat merusak yakni isu atau keteranganguru terhadap siswa kepada kesalahan-kesalahan yang sudah diperbuatnya yang disampaikan dengan nada kecaman, cemoohan, penghinaan, lebih-lebih dibarengi dengan rasa emosional guru dengan marah-marah. Tindakan yang demikian dapat menyebabkan: - Rasa apatis pada diri siswa, siswa menjadi abad kurang pandai kepada pelajaran yang diberikan oleh guru. - Rasa patah hati, patah semangat pada diri siswa, sehingga siwa menjadi tidak mau berguru lagi terhadap pelajaran yang sudah diberikan oleh guru. Guru yang bijaksana ialah guru yang senantiasa memakai logika budinya untuk memperlihatkan balikan yang bersifat konstruktif, dan selalu menyingkir dari bantuan balikan yang bersifat destruktif atau balikan yang bersifat merusak kepada hasil pekerjaan siswa dalam melakukan tes atau latihan. Pemberian balikan harus bisa mendorong siswa untuk lebih bersemangat lagi dalam mengembangkan belajarnya. D. Hasil Belajar Ekonomi Koperasi Di dalam perumpamaan hasil belajar, terdapat dua komponen di dalamnya, ialah bagian hasil dan bagian berguru. Hasil ialah suatu hasil yang telah diraih pebelajar dalam acara belajarnya (dari yang sudah dilakukan, dilakukan, dan sebagainya), sebagaimana diterangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, (1995: 787). Dari pemahaman ini, maka hasil belajar yaitu penguasaan wawasan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lajimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Belajar itu selaku suatu proses perubahan tingkah laku, atau memaknai sesuatu yang diperoleh. Akan tetapi bila kita bicara tentang hasil mencar ilmu, maka hal itu ialah hasil yang telah dicapai oleh si pebelajar. Istilah hasil belajar memiliki relasi yang bersahabat kaitannya dengan prestasi mencar ilmu. Sesungguhnya sangat sulit untuk membedakan pemahaman prestasi mencar ilmu dengan hasil belajar. Ada yang berpendapat bahwa pemahaman hasil berguru dianggap sama dengan pengertian prestasi belajar. Akan tetapi lebih dahulu seharusnya kita simak pertimbangan yang mengatakan bahwa hasil mencar ilmu berlainan secara prinsipil dengan prestasi belajar. Hasil belajar memperlihatkan mutu rentang waktu yang lebih panjang, misalnya satu cawu, satu semester dan sebagainya. Sedangkan prestasi mencar ilmu memberikan kualitas yang lebih pendek, contohnya satu pokok bahasan, satu kali ulangan harian dan sebagainya. Nawawi (1981: 100) mengemukakan pemahaman hasil adalah sebagai berikut: Keberhasilan murid dalam mempelajari bahan pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau skor dari hasil tes perihal sejumlah pelajaran tertentu. Pendapat lain dikemukakan oleh Sadly (1977: 904), yang menawarkan klarifikasi perihal hasil mencar ilmu sebagai berikut, “Hasil yang diraih oleh tenaga atau daya kerja seseorang dalam waktu tertentu”, sedangkan Marimba (1978: 143) mengatakan bahwa “hasil yaitu kemampuan seseorang atau kelompok yang secara eksklusif dapat diukur”. Menurut Nawawi (1981: 127), berdasarkan tujuannya, hasil mencar ilmu dibagi menjadi tiga macam, ialah: a. Hasil mencar ilmu yang berupa kemampuan keahlian atau kecakapan di dalam melakukan atau melaksanakan suatu peran, tergolong di dalamnya keterampilan menggunakan alat. b. Hasil berguru yang berupa kesanggupan penguasaan ilmu wawasan tentang apa yang dikerjakan. c. Hasil berguru yang berupa perubahan perilaku dan tingkah laku. E. Materi Ekonomi Koperasi Pada dikala ini sedikit perhatian yang ditujukan pada pembelajaran Ekonomi Koperasi dengan membuatkan versi-model yang sistematis. Pembelajaran dengan ceramah dan Tanya jawab merupakan strategi yang paling kerap dipakai dalam pembelajaran Ekonomi Koperasi . Guru mendominasi pembicaraan dan buku-buku konvensional masih ialah sumber belajar yang primer. Dengan cara yang mirip ini tidak mengherankan jikalau siswa cenderung secara umum apatis terhadap tanda-tanda sosial. Karena yang ditemukan dalam pembelajaran Ekonomi Koperasi hanya fakta-fakta dan bukan inspirasi-inspirasi (Armento: 1986) selaku mana dikutip Karwono (1993: 61). Sebagian besar observasi wacana pembelajaran Ekonomi Koperasi telah mengkaji relasi antara teknik-teknik pembelajaran dan pengaruhnya kepada hasil belajar siswa. Penelitian banyak dilakukan untuk menerangkan hubungan-kekerabatan yang stabil antara fenomena-fenomena pembelajaran yang diseleksi. Penelitian pada variabel pembelajaran condong untuk menggambarkan perhatian biasa di bidang teknik penyelidikan inovatif dan reflektif. Topik-topik yang lain menggambarkan refleksi sifat dari pembelajaran Ekonomi Koperasi dan kurangnya konsensus pada definisi yang jelas dari tujuan Ekonomi Koperasi . Perilaku siswa dianggap sebagai hasil pembelajaran. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini ialah observasi langkah-langkah (action research), alasannya observasi dikerjakan untuk memecahkan persoalan pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk observasi deskriptif, karena menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diharapkan mampu diraih. Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti, 1997; 8) menggolongkan penelitian tindakan menjadi empat macam yaitu (a) guru bertindak selaku peneliti, (b) penelitian langkah-langkah kolaboratif, (c) Simultan terintegratif, dan (d) manajemen sosial ekperimental. Dalam observasi ini peneliti selaku guru bekerja sendirian, tidak berkolaborasi dengan siapapun. Hal ini peneliti lakukan supaya dalam observasi ini siswa tidak tahu jikalau sedang diteliti. Kehadiran peneliti selaku guru dalam kelas dijalankan seperti lazimnya tanpa ada perbedaan dari hari biasa. A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat penelitian yakni kawasan yang digunakan dalam melaksanakan penelitian untuk menemukan data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di ……………………………………… 2. Waktu Penelitian Waktu observasi adalah waktu berlangsungnya observasi atau ketika observasi ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September semester ganjil 2002/2003. 3. Subyek Penelitian Subyek penelitian yakni siswa-siswi kelas ……………………………. pada pokok bahasan keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. B. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK adalah sebuah bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku langkah-langkah yang dikerjakan untuk mengembangkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melakukan peran, memperdalam pemahaman kepada tindakan-langkah-langkah yang dilakukan itu, serta memperbaiki keadaan dimana praktek pembelajaran tersebut dilaksanakan (dalam Mukhlis, 2000: 3). Sedangkah berdasarkan Mukhlis (2000: 5) PTK ialah suatu bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dikerjakan. Adapun tujuan utama dari PTK yaitu untuk memperbaiki/meningkatkan praktek pembelajaran secara berkelanjutan, sedangkan tujuan penyertaannya yaitu menumbuhkan budaya meneliti di golongan guru (Mukhlis, 2000: 5). Sesuai dengan jenis observasi yang diseleksi, ialah penelitian tindakan, maka observasi ini memakai model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), yakni berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus mencakup planning (planning), action (langkah-langkah), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya ialah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilaksanakan langkah-langkah pendahuluan yang berupa kenali permasalahan. . Siklus spiral dari tahap-tahap observasi tindakan kelas mampu dilihat pada gambar berikut. Gambar 3.1 Alur PTK Penjelasan alur di atas adalah: 1. Rancangan/rencana awal, sebelum menyelenggarakan penelitian peneliti menyusun rumusan duduk perkara, tujuan dan menciptakan rencana langkah-langkah, tergolong di dalamnya instrumen observasi dan perangkat pembelajaran. 2. Kegiatan dan observasi, meliputi tindakan yang dilaksanakan oleh peneliti sebagai upaya membangun pengertian desain siswa serta memperhatikan hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran model sumbangan balikan . 3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari langkah-langkah yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. 4. Rancangan/planning yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dijalankan pada siklus berikutnya. Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang serupa (alur aktivitas yang serupa) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di simpulan masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki metode pengajaran yang telah dijalankan. C. Instrumen Penelitian Instrumen yang dipakai dalam observasi ini terdiri dari: 1. Silabus Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan perihal acara pembelajaran pengelolaan kelas, serta evaluasi hasil berguru. 2. Rencana Pelajaran (RP) Yaitu ialah perangkat pembelajaran yang dipakai sebagai pemikiran guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil berguru, tujuan pembelajaran khusus, dan acara belajar mengajar. 3. Lembar Kegiatan Siswa Lembar aktivitas ini yang dipergunakan siswa untuk menolong proses pengumpulan data hasil kegiatan santunan peran. 4. Tes formatif Tes ini disusun menurut tujuan pembelajaran yang akan dicapai, dipakai untuk mengukur kesanggupan pemahaman konsep ekonomi pada pokok bahasan ……………. Tes formatif ini diberikan setiap tamat putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah opsi guru (objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46 soal yang telah diujicoba, lalu penulis mengadakan analisis butir soal tes yang telah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal. Analisis ini digunakan untuk memilih soal yang bagus dan menyanggupi syarat digunakan untuk mengambil data. Langkah-langkah analisi butir soal yakni sebagai berikut: a. Validitas Tes Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga dapat ditentukan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tingkat kevalidan ini dapat dihitung dengan relasi Product Moment: (Suharsimi Arikunto, 2001: 72) Dengan: rxy : Koefisien relasi product moment N : Jumlah peserta tes ΣY : Jumlah skor total ΣX : Jumlah skor butir soal ΣX2 : Jumlah kuadrat skor butir soal ΣXY : jumlah hasil kali skor butir soal b. Reliabilitas Reliabilitas butir soal dalam observasi ini menggunakan rumus belah dua selaku berikut: (Suharsimi Arikunto, 2001: 93) Dengan: r11 : Koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan r1/21/2 : Korelasi antara skor-skor setiap serpihan tes Kriteria reliabilitas tes bila harga r11 dari perhitungan lebih besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliabel. c. Taraf Kesukaran Bilangan yang menawarkan sukar dan gampangnya sebuah soal ialah indeks kesukaran. Rumus yang digunakan untuk memilih taraf kesukaran yakni: (Suharsimi Arikunto, 2001: 208) Dengan: P : Indeks kesukaran B : banyak siswa yang menjawab soal dengan benar Js : Jumlah seluruh siswa penerima tes Kriteria untuk memilih indeks kesukaran soal yaitu sebagai berikut: - Soal dengan P = 0,000 sampai 0,300 ialah sulit - Soal dengan P = 0,301 hingga 0,700 adalah sedang - Soal dengan P = 0,701 sampai 1,000 ialah mudah d. Daya Pembeda Daya pembeda soal yakni kesanggupan sebuah soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang memperlihatkan besarnya daya pembeda desebut indeks diskriminasi. Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks diskriminasi adalah sebagai berikut: (Suharsimi Arikunto, 2001: 211) Dimana: D : Indeks diskriminasi BA : Banyak penerima kelompok atas yang menjawab dengan benar BB : Banyak akseptor golongan bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah akseptor kalangan atas JB : Jumlah akseptor kelompok bawah Proporsi akseptor kalangan atas yang menjawab benar. Proporsi penerima golongan bawah yang menjawab benar Kriteria yang dipakai untuk menentukan daya pembeda butir soal selaku berikut: - Soal dengan D = 0,000 sampai 0,200 yaitu buruk - Soal dengan D = 0,201 sampai 0,400 yaitu cukup - Soal dengan D = 0,401 sampai 0,700 adalah baik - Soal dengan D = 0,701 hingga 1,000 adalah sangat baik D. Metode Pengumpulan Data Data-data yang diperlukan dalam observasi ini diperoleh lewat pengamatan pengolahan proses belajar mengajar dengan sistem sumbangan balikan, dan tes formatif. E. Teknik Analisis Data Untuk mengetahui keefektivan sebuah sistem dalam aktivitas pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini memakai teknik analisis deskriptif kualitatif, adalah suatu metode observasi yang bersifat menggambarkan realita atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi berguru yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa kepada aktivitas pembelajaran serta kegiatan siswa selama proses pembelajaran. Untuk menganalisis tingkat kesuksesan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses mencar ilmu mengajar setiap putarannya dilaksanakan dengan cara menunjukkan penilaian berbentuksoal tes tertulis pada setiap selesai putaran. Analisis ini dihitung dengan memakai statistik sederhana yakni: 1. Untuk menganggap ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang berikutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan: Dengan : = Nilai rata-rata Σ X = Jumlah semua nilai siswa Σ N = Jumlah siswa 2. Untuk ketuntasan berguru Ada dua kategori ketuntasan mencar ilmu yakni secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan isyarat pelaksanaan berguru mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa sudah tuntas berguru bila sudah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas berguru jikalau di kelas tersebut terdapat 85% yang sudah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut: BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data penelitian yang diperoleh berbentukhasil uji coba item butir soal, data observasi berupa observasi pengelolaan pembelajaran dengan tunjangan balikan, dan data tes formatif siswa pada setiap siklus. Data hasil uji coba item butir soal dipakai untuk mendapatkan tes yang betul-betul mewakili apa yang diinginkan. Data ini berikutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. Data tes formatif untuk mengenali peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran dengan dukungan balikan. A. Analisis Item Butir Soal Sebelum melakukan pengambilan data lewat instrumen penelitian berupa tes dan mendapatkan tes yang bagus, maka data tes tersebut diuji dan dianalisis. Uji coba dijalankan pada siswa di luar sasaran penelitian. Analisis tes yang dilaksanakan mencakup: 1. Validitas Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengenali kelayakan tes sehingga mampu digunakan sebagai Instrumen dalam observasi ini. Dari perkiraan 46 soal diperoleh 16 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Valid Soal Tidak Valid 4, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 36, 37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45, 46 1, 2, 3, 8, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 31, 32, 33, 34, 35, 40 2. Reliabilitas Soal-soal yang telah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 732. Harga ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 44) dengan r (95%) = 0,297. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan sudah memenuhi syarat reliabilitas. 3. Taraf Kesukaran (P) Taraf kesukaran dipakai untuk mengetahui tingkat kesukaran soal. Hasil analisis memperlihatkan dari 46 soal yang diuji terdapat: - 21 soal mudah - 15 soal sedang - 10 soal susah 4. Daya Pembeda Analisis daya pembeda dijalankan untuk mengetahui kemampuan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkriteria jelek sebanyak 15 soal, berkriteria cukup 22 soal, berkriteria baik 8 soal, dan yang berkriteria tidak baik 1 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah menyanggupi syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. B. Analisis Data Penelitian Persiklus 1. Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti merencanakan perangkat pembelajaran yang berisikan rencana pelajaran 1, Lomba Kompetensi Siswa 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar pengamatan pengolaan pembelajaran dengan perlindungan balikan. b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan aktivitas mencar ilmu mengajar untuk siklus I dikerjakan pada tanggal 6 September 2002 di kelas ……….. dengan jumlah siswa 44 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada planning pelajaran yang telah disediakan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan mencar ilmu mengajar. Pada simpulan proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengenali tingkat kesuksesan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar yang sudah dilakukan. Adapun data hasil observasi pada siklus I adalah sebagai berikut Table 4.2. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus I No. Absen Skor Keterangan No. Absen Skor Keterangan T TT T TT 1 70 √ 23 80 √ 2 70 √ 24 40 √ 3 30 √ 25 30 √ 4 80 √ 26 70 √ 5 100 √ 27 70 √ 6 60 √ 28 70 √ 7 80 √ 29 60 √ 8 30 √ 30 70 √ 9 50 √ 31 80 √ 10 80 √ 32 70 √ 11 70 √ 33 50 √ 12 60 √ 34 30 √ 13 90 √ 35 30 √ 14 80 √ 36 70 √ 15 80 √ 37 80 √ 16 80 √ 38 70 √ 17 70 √ 39 70 √ 18 60 √ 40 80 √ 19 70 √ 41 60 √ 20 40 √ 42 70 √ 21 80 √ 43 80 √ 22 70 √ 44 100 √ Jumlah 1500 15 7 Jumlah 1430 15 7 Skor Maksimal Ideal 4400 Jumlah Skor Tercapai 2930 Skor Rata-rata 66,59 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 30 Jumlah siswa yang belum tuntas : 14 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I No Uraian Hasil Siklus I 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas berguru Persentase ketuntasan mencar ilmu 66,59 30 68,18 Dari tabel di atas mampu dijelaskan bahwa dengan menerapkan tata cara pembelajaran dengan pertolongan balikan diperoleh nilai rata-rata prestasi mencar ilmu siswa yakni 66,59 dan ketuntasan mencar ilmu meraih 68,18% atau ada 30 siswa dari 44 siswa sudah tuntas berguru. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, sebab siswa yang mendapatkan nilai ≥ 65 cuma sebesar 68,18% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang diinginkan yakni sebesar 85%. Hal ini disebabkan sebab siswa masih merasa gres dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan sistem pembelajaran dengan tunjangan balikan. c. Refleksi Dalam pelaksanaan aktivitas belajar mengajar diperoleh gosip dari hasil observasi sebagai berikut: 1) Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran 2) Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu 3) Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. d. Refisi Pelaksanaan kegiatan berguru mengajar pada siklus I ini masih terdapat kelemahan, sehingga perlu adanya refisi untuk dijalankan pada siklus selanjutnya. 1) Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih terperinci dalam memberikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat eksklusif dalam setiap aktivitas yang mau dikerjakan. 2) Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan info-isu yang dirasa perlu dan memberi catatan 3) Guru mesti lebih cekatan dan bergairahdalam memotivasi siswa sehingga siswa mampu lebih bersemangat . 2. Siklus II a. Tahap penyusunan rencana Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang berisikan planning pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap acara dan pelaksanaan Pelaksanaan acara berguru mengajar untuk siklus II dilakukan pada tanggal 11 September 2002 di Kelas …………. dengan jumlah siswa 44 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses mencar ilmu mengajar mengacu pada planning pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kelemahan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dijalankan serempak dengan pelaksanaan mencar ilmu mengajar. Pada tamat proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses berguru mengajar yang sudah dilakukan. Instrumen yang digunakan yakni tes formatif II. Adapun data hasil observasi pada siklus II ialah selaku berikut. Table 4.4. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus II No. Absen Skor Keterangan No. Absen Skor Keterangan T TT T TT 1 70 √ 23 70 √ 2 80 √ 24 60 √ 3 50 √ 25 40 √ 4 80 √ 26 70 √ 5 100 √ 27 80 √ 6 70 √ 28 80 √ 7 90 √ 29 80 √ 8 40 √ 30 80 √ 9 70 √ 31 80 √ 10 60 √ 32 90 √ 11 70 √ 33 80 √ 12 80 √ 34 70 √ 13 70 √ 35 50 √ 14 80 √ 36 80 √ 15 80 √ 37 70 √ 16 40 √ 38 90 √ 17 70 √ 39 70 √ 18 60 √ 40 30 √ 19 80 √ 41 80 √ 20 80 √ 42 80 √ 21 80 √ 43 90 √ 22 80 √ 44 100 √ Jumlah 1580 16 6 Jumlah 1620 18 4 Skor Maksimal Ideal 4400 Jumlah Skor Tercapai 3200 Skor Rata-rata 72,73 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 34 Jumlah siswa yang belum tuntas : 10 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.5. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II No Uraian Hasil Siklus II 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan mencar ilmu 72,73 34 77,27 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 72,73% dan ketuntasan berguru mencapai 77,27% atau ada 34 siswa dari 44 siswa sudah tuntas berguru. Hasil ini memperlihatkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan berguru secara klasikal sudah mengalami kenaikan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya kenaikan hasil berguru siswa ini sebab sehabis guru menginformasikan bahwa setiap selesai pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk mencar ilmu. Selain itu siswa juga telah mulai mengetahui apa yang dimaksudkan dan dinginkan guru dengan menerapkan metode pembelajaran dengan pertolongan balikan. c. Refleksi Dalam pelaksanaan acara berguru diperoleh informasi dari hasil observasi sebagai berikut: 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/mendapatkan desain 3) Pengelolaan waktu d. Revisi Rancangan Pelaksanaan acara berguru pada siklus II ini masih terdapat kelemahan-kelemahan. Maka perlu adanya revisi untuk dikerjakan pada siklus II antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses mencar ilmu mengajar berlangsung. 2) Guru mesti lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. 3) Guru mesti lebih tabah dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/mendapatkan rancangan. 4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga aktivitas pembelajaran mampu berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. 5) Guru seharusnya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dijalankan pada setiap kegiatan mencar ilmu mengajar. 3. Siklus III a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti merencanakan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap kegiatan dan observasi Pelaksanaan aktivitas mencar ilmu mengajar untuk siklus III dikerjakan pada tanggal 18 September 2002 di Kelas …………… dengan jumlah siswa 44 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses mencar ilmu mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan mengamati revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kelemahan pada siklus II tidak terulang laig pada siklus III. Pengamatan (observasi) dikerjakan serempak dengan pelaksanaan mencar ilmu mengajar. Pada selesai proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang dipakai yaitu tes formatif III. Adapun data hasil observasi pada siklus III adalah sebagai berikut. Table 4.6. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus III No. Absen Skor Keterangan No. Absen Skor Keterangan T TT T TT 1 80 √ 23 70 √ 2 70 √ 24 80 √ 3 50 √ 25 60 √ 4 70 √ 26 80 √ 5 70 √ 27 90 √ 6 90 √ 28 70 √ 7 70 √ 29 90 √ 8 60 √ 30 80 √ 9 90 √ 31 70 √ 10 90 √ 32 80 √ 11 70 √ 33 90 √ 12 80 √ 34 60 √ 13 80 √ 35 90 √ 14 90 √ 36 90 √ 15 50 √ 37 70 √ 16 80 √ 38 60 √ 17 90 √ 39 90 √ 18 60 √ 40 80 √ 19 80 √ 41 80 √ 20 70 √ 42 80 √ 21 90 √ 43 100 √ 22 80 √ 44 100 √ Jumlah 1660 18 4 Jumlah 1760 20 2 Skor Maksimal Ideal 4400 Jumlah Skor Tercapai 3420 Skor Rata-rata 77,73 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 38 Jumlah siswa yang belum tuntas : 6 Klasikal : Tuntas Tabel 4.7. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus III No Uraian Hasil Siklus III 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas berguru Persentase ketuntasan mencar ilmu 77,73 38 86,36 Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 77,73 dan dari 44 siswa yang sudah tuntas sebanyak 38 siswa dan 6 siswa belum mencapai ketuntasan berguru. Maka secara klasikal ketuntasan berguru yang sudah tercapai sebesar 88,64% (termasuk klasifikasi tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami kenaikan lebih baik dari siklus II. Adanya kenaikan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya kenaikan kesanggupan guru dalam menerapkan pembelajaran dengan sumbangan balikan sehingga siswa menjadi lebih sudah biasa dengan pembelajaran mirip ini sehingga siswa lebih gampang dalam memahami bahan yang telah diberikan. Disamping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari siswa yang sudah menguasai bahan pelajaran untuk mengajari temannya yang belum menguasai. c. Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses mencar ilmu mengajar dengan penerapan sistem pembelajaran dengan dukungan balikan. Dari data-data yang sudah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut: 1) Selama proses berguru mengajar guru sudah melakukan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa faktor yang belum tepat, namun persentase pelaksanaannya untuk masing-masing faktor cukup besar. 2) Berdasarkan data hasil pengamatan dikenali bahwa siswa aktif selama proses berguru berlangsung. 3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan kenaikan sehingga menjadi lebih baik. 4) Hasil berguru siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan metode pembelajaran dengan pinjaman balikan dengan baik dan dilihat dari acara siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses berguru mengajar sudah berlangsung dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, namun yang perlu diperhatikan untuk tindakah berikutnya yaitu mengoptimalkan dan mempertahankan apa yang sudah ada dengan tujuan semoga pada pelaksanaan proses mencar ilmu mengajar selanjutnya penerapan sistem pembelajaran dengan derma balikan mampu meningkatkan proses berguru mengajar sehingga tujuan pembelajaran mampu tercapai. C. Pembahasan 1. Ketuntasan Hasil berguru Siswa Melalui hasil peneilitian ini menawarkan bahwa pembelajaran penemuan terbimbing memiliki dampak aktual dalam mengembangkan prestasi belajar siswa.hal ini mampu dilihat dari makin mantapnya pengertian siswa kepada bahan yang disampaikan guru (ketuntasan mencar ilmu meningkat dari siklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 68,18%, 77,27%, dan 86,36%. Pada siklus III ketuntasan berguru siswa secara klasikal sudah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh acara siswa dalam proses sistem pembelajaran dengan santunan balikan dalam setiap siklus mengalami kenaikan. Hal ini memiliki pengaruh faktual kepada prestasi belajar siswa ialah mampu ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami kenaikan. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh kegiatan siswa dalam proses pembelajaran matematika dengan metode pembelajaran dengan tunjangan balikan yang paling dominan ialah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/mengamati klarifikasi guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Kaprikornus mampu dikatakan bahwa kegiatan siswa mampu dikategorikan aktif. Sedangkan untuk acara guru selama pembelajaran sudah melakukan langkah-langkah sistem pembelajaran dengan pinjaman balikan dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam melakukan acara pembelajaran, menerangkan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk kegiatan di atas cukup besar. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang sudah dikerjakan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dijalankan mampu ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Pembelajaran dengan tata cara pembelajaran dengan pertolongan balikan mempunyai efek faktual dalam mengembangkan prestasi mencar ilmu siswa yang ditandai dengan kenaikan ketuntasan mencar ilmu siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I 68,18%), siklus II (77,27%), siklus III (86,36%). 2. Penerapan metode pembelajaran dengan sumbangan balikan memiliki dampak kasatmata, adalah dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan rata-rata jawaban siswa yang menyatakan bahwa siswa terpesona dan tertarikdengan metode pembelajaran dengan perlindungan balikan sehingga mereka menjadi termotivasi untuk berguru. 3. Penerapan metode pembelajaran dengan derma balikan efektif untuk mengingatkan kembali materi asuh yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi cobaan tamat yang segera akan dijalankan. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses mencar ilmu mengajar Bahasa Inggris lebih efektif dan lebih memperlihatkan hasil yang optimal bagi siswa, makan disampaikan anjuran selaku berikut: 1. Untuk melakukan tata cara pembelajaran dengan bantuan balikan memerlukan antisipasi yang cukup matang, sehingga guru mesti mempu menentukan atau menentukan topik yang betul-betul mampu diterapkan dengan tata cara pembelajaran dengan perlindungan balikan proses berguru mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka memajukan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan aktivitas penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemuan wawasan gres, mendapatkan rancangan dan kemampuan, sehingga siswa sukses atau bisa memecahkan problem-duduk perkara yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, alasannya adalah hasil observasi ini hanya dijalankan di ………………………………………… DAFTAR PUSTAKA Ardana, Wayan. 1980. Beberapa Metode Statistik Untuk Keperluan Penelitian Pendidikan. Malang: Swadaya. Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta. Arikunto, Suharsimi. 1992. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara. Arikunto, Suharsimi. 1989. Penilaian Program Pendidikan. Proyek Pengembangan LPTK Depdikbud. Dirjen Dikti. Arikunto, Suharsimi.1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Bina Aksara. Combs. Arthur. W. 1984. The Profesional Education of Teachers. Allin and Bacon, Inc. Boston. Djamarah, Syaiful Bahri. 1994. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Fakultas Tarbiyah IAIN Antasasi. Banjarmasin. Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta. Hadi, Sutrisno. 1981. Metodogi Research. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Yoyakarta. Hamalik, Oemar. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru. Hamalik, Oemar. 1999. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineksa Cipta. Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Slameto, 1988. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara. Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka. Suryabrata, Sumadi. 1990. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset. Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Wetherington. H.C. and W.H. Walt. Burton. 1986. Teknik-teknik Belajar dan Mengajar. (terjemahan) Bandung: Jemmars. Dapatkan file secara lengkap berupa pengaturan, gambar, tabel dan lain-lain dalam format microsoft word (.doc) pada link dibawah ini !! Dowwload PTK Format Microsoft Word (.doc) Pengaruh Pembelajaran Dengan Pemberian Balikan Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Ekonomi Koperasi Pada Siswa Sumber https://somadrug1.blogspot.com
pop
Home
PTK Ekonomi
Imbas Pembelajaran Dengan Sumbangan Balikan Dalam Mengembangkan
Prestasi Belajar Ekonomi Koperasi Pada Siswa
Jumat, 11 Desember 2020
Imbas Pembelajaran Dengan Sumbangan Balikan Dalam Mengembangkan Prestasi Belajar Ekonomi Koperasi Pada Siswa
Diterbitkan Desember 11, 2020
Artikel Terkait
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
EmoticonEmoticon