Selasa, 22 Desember 2020

Makalah Sejarah Kehidupan Awal Penduduk Indonesia

Donwload makalah, acuan makalah, cara membuat makalah - Pada kali ini kami bagikan pola makalah sejarah ihwal Sejarah Kehidupan Awal Masyarakat Indonesia. Makalah ini merupakan tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran sejarah. Mudah-mudahan bermanfaat. Langsung saja mirip apa bentuk dan isi makalah ihwal Sejarah Kehidupan Awal Masyarakat Indonesia. Makalah Sejarah Kehidupan Awal Masyarakat Indonesia MAKALAH KEHIDUPAN AWAL MASYARAKAT INDONESIA Oleh : 1. Didin Kurniawan 2. Imam Adhy Hermawan 3. Muhammad Irfanuddin 4. Sandi Sukmana Putra 5. Yeti Dhea Arumsari SMA NEGERI 1 CLURING Jl. HUZAINI NO.      CLURING BANYUWANGI Tahun 2011/2012 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala bimbingan dan   petunjuk-Nya sehingga penulisan makalah dengan judul “Kehidupan Awal Masyawakat Indonesia” mampu dituntaskan, makalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Sejarah. Makalah ini dapat diatasi dengan baik selain sebab  kerja keras juga sumbangan dari banyak sekali pihak. Oleh sebab itu saya mengucapkan banyak terima kasih. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan baik dari tata cara penulisan maupun penggunaan bahasa. Untuk itu  saya mengharap kritik dan  saran  yang bersifat membagun demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata kami mengucapkan  terima kasih dan impian kami makalah ini dapat berguna bagi semua pihak dan pembaca. Banyuwangi,  ……………..             Penulis, DAFTAR ISI Halaman Judul i Katan Pengantar ii Daftar Isi iii BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang 1 B. Tujuan Penulisan 1 C. Manfaat 1 BAB II PEMBAHASAN A.    Kehidupan Masyarakat Beternak Dan Bercocok Tanam 2 B. Kehidupan Masyarakat Berburu Dan Mengumpulkan Makanan 3 C. Perkembangan Teknologi Masyarakat Awal Indonesia 7 D. Sistem Kepercayan Awal Masyarakat Indonesia 9 DAFTAR PUSTAKA BAB  I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia ialah salah satu mahluk yang tinggal dibumi pada jaman dahulu era. Mereka hidup dengan cara berburu, bercocok tanam, hingga mengenal teknologi dan keyakinan. Pada kurun berburu dan menghimpun makanan, manusia tinggal di alam terbuka seperti hutan, di tepi sungai, di gunung, di gua dan di lembah-lembah. Kemampuan berpikir manusia untuk mempertahankan kehidupannya mulai meningkat . Munculnya golongan-golongan manusia dalam jumlah yang lebih banyak serta menetap di suatu tempat. Munculnya bentuk kehidupan semacam itu berawal dari upaya manusia untuk mempersiapkan persediaan materi kuliner yang cukup dalam satu periode tertentu. Dalam kehidupan menetap itu manusia mulai hidup dari hasil bercocok tanam dengan menanam jenis-jenis flora yang semula tumbuh liar untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Disamping itu, mereka mulai menjinakkan hewan-hewan yang dapat menyanggupi kebutuhan hidupnya mirip kuda, anjing, kerbau, sapi, dan babi. Dari contoh kehidupan bercocok tanam ini, insan sudah dapat menguasai alam lingkungannya beserta isinya. Dalam makalah ini akan dibahas ihwal kehidupan masyarakat dizaman dahulu dengan lebih ringkas. B. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dalam penyusunan makalah ini diantaranya selaku berikut : 1. Untuk memenuhi salah satu peran mata pelajaran sejarah 2. Mengidentifikasi kehidupan manusia pada zaman dulu C. Manfaat 1. Dapat mengenali kehidupan penduduk di jaman dahulu. 2. Sebagai bahan referensi tambahan di bidang pendidikan khusunya mata pelajaran sejarah tentang kehidupan penduduk di jaman dahulu BAB II PEMBAHASAN A. KEHIDUPAN MASYARAKAT BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN 1. Lingkungan Alam Kehidupan Pada masa berburu dan menghimpun makanan, insan tinggal di alam terbuka mirip hutan, di tepi sungai, di gunung, di gua dan di lembah-lembah. Manusia melaksanakan perjalanannya condong melalui atau menyusuri tepi-tepi sungai. Timbul di dalam benak pikiran mereka untuk membuat rakit-rakit dan mereka mampu membuat perahu sebagai fasilitas perjalanan untuk lewat sungai. 2. Kehidupan Sosial Masyarakat pada kurun berburu dan menghimpun kuliner telah mengenal kehidupan golongan, kelompok sekitar 10-15 orang. Mereka hidup selalu berpindah-pindah semata-mata hanya untuk menyanggupi kebutuhan hidupnya. Hubungan antar anggota golongan sangat dekat. Masing-masing kelompok itu memiliki pemimpin yang sungguh di taati dan sungguh di hormati oleh anggota kelompoknya. Pada kurun berburu dan menghimpun makanan sudah tampakadanya gejala kehidupan sosial dalam suatu kelompok penduduk , walaupun tingkatannya masih sangat sederhana. 3. Kehidupan Budaya Pada kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan kuliner, manusia lebih bahagia menentukan goa-goa sebagai daerah tinggalnya. Mereka mulai menciptakan alat-alat berburu, alat pemotong, alat pengeruk tanah, dan alat lainnya. Para mahir menafsirkan bahwa pembuat alat-alat tersebut ialah jenis manusia Pithecanthropus dan kebudayaannya di sebut tradisi Paleolitikum (batu tua). Alat-alat tersebut banyak di peroleh di Kali Basoka, kawasan Kabupaten Pacitan (Jawa Timur) dan lalu di sebut budaya Pacitan. Benda-benda hasil kebudayaan tersebut yaitu sebagai berikut. Kapak Perimbas Kapak perimbas tidak memiliki tangkai dan dipakai dengan cara menggenggam. Penelitian terhadap kapak ini di kerjakan di tempat Punung (Kabupaten Pacitan) oleh Von Koenigswald (1935). Para ahli mengambil kesimpulan bahwa alat-alat itu berasal dari lapisan yang serupa dengan Pithecanthropus erectus dan di perkirakan juga bahwa Pithecanthropus erectus inilah pembuatnya. Kapak Penetak Kapak penetak ini bentuknya lebih besar dari kapak perimbas dan cara pembuatannya masih bergairah. Kapak ini berfungsi untuk membelah kayu, pohon, dan bambu. Kapak Genggam bentuknya hampir sama dengan kapak perimbas dan kapak penetak. Tetapi bentuknya jauh lebih kecil. Kapak genggam di buat masih sungguh sederhana dan belum di asah. Pahat Genggam Pahat genggam mempunyai bentuk lebih kecil dari kapak genggam. Pahat genggam memiliki fungsi untuk menggemburkan tanah. Alat Serpih alat serpih mempunyai bentuk yang sangat sederhana dan berdasarkan bentuknya alat-alat di duga di gunakan selaku pisau, gurdi dan alat penusuk. Alat serpih ini juga di temukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1934 di tempat Sangiran (Kabupaten Surakarta). Alat serpih berukuran antara 10-20 centimeter. Alat-alat dari Tulang alat-alat dari tulang di buat dari tulang-tulang hewan buruan. Peralatan dari tulang itu banyak di dapatkan di Ngandong. 4. Kehidupan Ekonomi Masyarakat Pada abad kehidupan berburu dan mengumpulkan masakan, insan bekerja bahu-membahu dalam upaya untuk memenuhi keperluan hidupnya. 5. Kehidupan Kepercayaan Masyarakat Penemuan kuburan dari periode berburu dan menghimpun makanan menawarkan bahwa masyarakat pada masa itu telah memiliki fikiran tertentu dan memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal. Dan pada masa itu manusia sudah mampu memakai logika pikirannya, walaupun terbatas hanya pada hal-hal tertentu saja. B. KEHIDUPAN MASYARAKAT BETERNAK DAN BERCOCOK TANAM 1. Lingkungan Alam Sekitar Kemampuan berpikir manusia untuk mempertahankan kehidupannya mulai berkembang. Hal ini menimbulkan munculnya kelompok-kelompok manusia dalam jumlah yang lebih banyak serta menetap di suatu kawasan. Munculnya bentuk kehidupan semacam itu berawal dari upaya manusia untuk mempersiapkan persediaan materi makanan yang cukup dalam satu kurun tertentu. Dalam kehidupan menetap itu insan mulai hidup dari hasil bercocok tanam dengan menanam jenis-jenis tanaman yang semula tumbuh liar untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Disamping itu, mereka mulai menjinakkan binatang-hewan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya seperti kuda, anjing, kerbau, sapi, dan babi. Dari teladan kehidupan bercocok tanam ini, manusia sudah dapat menguasai alam lingkungannya beserta isinya. Kehidupan bercocok tanam yang pertama kali di kenal oleh manusia yakni berhuma. Berhuma adalah teknik bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan dan menanamnya, sesudah tanah tidak subur mereka pindah dan mencari bagian hutan yang lain. Namun dalaman perkembangan berikutnya, insan mulai menimbang-nimbang kembali untuk hidup menetap dalam waktu yang cukup usang. Oleh alasannya adalah itu, manusia mulai menerapkan kehidupan bercocok tanam pada tanah-tanah persawahan. 2. Kehidupan Sosial Kehidupan masyarakat pada abad bercocok tanam mengalami kenaikan yang cukup pesat. Mereka memilih daerah tinggal  pada sebuah tempat tertentu. Hal ini di maksudkan agar hubungan antara manusia di dalam golongan masyarakatnya kian erat. Eratnya relasi antar insan di dalam golongan masyarakatnya, ialah suatu cermin bahwa manusia tidak mampu hidup sendiri tanpa anggota golongan penduduk yang yang lain. Hal ini di sebabkan alasannya adalah manusia yakni makhluk sosial. Manusia selau tergantung dengan insan yang lain, sehingga masing-masing manusia saling melengkapi, saling menolong dan saling berinteraksi dalam upaya menyanggupi keperluan hidupnya. Kehidupan sosial yang di kerjakan oleh maasyarakat pada periode bercocok tanam ini terlihat dengan jelas melalu cara melakukan pekerjaan dengan sesungguhnya, membangun rumah sebagai tempat tinggal dan lain-lain. Cara hidup bahu-membahu itu ialah salah satu ciri kehidupan penduduk yang bersifat agraris. Hingga sekarang, terutama pada penduduk -penduduk di tempat pedesaan atau pegunungan, budaya hidup bergotong-royong itu masih di pertahankan. Walaupun sebagian orang menyadari bahwa kehidupan bergotong royong dapat mempererat relasi di antara anggota-anggota masyarakat. Mereka ini umumnya mendapat sanksi dari anggota-anggota masyarakat yang lain. Sanksi tersebut pada umumnya lebih bersifat sanksi sopan santun. Pola hidup menetap sudah menciptakan relasi sosial penduduk terjalin dan terorganisasi dengan lebih baik. Biasanya terdapat seorang pemimpin yang di sebut kepala suku, sosok kepala suku merupakan orang yang sungguh di percaya dan di taati untuk memimpin suatu kalangan penduduk . 3. Kehidupan Ekonomi Pada periode kehidupan bercocok tanam, kebutuhan hidup penduduk kian bertambah, tetapi tidak ada satu anggota penduduk pun yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya sendiri. Oleh alasannya adalah itu mereka menjalin relasi yang lebih erat lagi dengan sesama anggota masyarakat. Mereka juga menjalin korelasi dengan masyarakat yang berada di luar daerah tempat tinggalnya. Masyarakat yang berada di kawasan pegunungan memerlukan hasil yang di peroleh dari pantai mirip garam, ikan bahari, dan lain-lain. Dalam rangka menyanggupi kebutuhannya masing-masing di adakan pertukaran barang dengan barang (sistem tukar barang). Pertukaran barang dengan barang ini menjadi awal hadirnya tata cara perdagangan atau tata cara perekonomian dalam penduduk . Bahkan untuk memperlancar acara jual beli, di butuhkan suatu daerah khusus yang mampu di jadikan sebagai daerah konferensi antara penjualdan pembeli. Tempat itu di kenal dengan sebutan pasar. 4. Sistem Kepercayaan Masyarakat Perkembangan metode iktikad penduduk pada periode kehidupan bercocok tanam dan menetap, ialah kelanjutan iman yang telah muncul pada kurun kehidupan masyarakat berburu dan menghimpun kuliner. Kehidupan bercocok tanam keyakinan masyarakat semakin bertambah. Mereka yakin bahwa orang-orang yang meninggal rohnya pergi ke suatu tempat yang tidak jauh dari daerah tinggalnya atau roh orang yang meninggal itu tetap berada di sekitar wilayah daerah tinggalnya, sehingga ketika-waktu dapat di panggil untuk di minati bantuannya dalam masalah tertentu mirip menangani wabah penyakit atau menghalau pasukan-pasukan lawan yang ingin menyerang daerah kawasan tinggalnya. Inti kepercayaan ini berkembang dari zaman ke zaman. Penghormatan dan pemujaan terhadap roh nenek moyang ialah sebuah doktrin yang berkembang di seluruh dunia. Di Indonesia kepercayaan dan pemujaan kepada roh nenek moyang terlihat melalui peninggalan-peninggalan tugu-tugu kerikil atau bangunan-bangunan megalitikum. Bangunan-bangunan megalitikum itu banyak di dapatkan pada kawasan-daerah yang lebih tinggi ialah di puncak bukit, di lereng gunung atau daerah-kawasan yang lebih tinggi dari dataran sekitarnya. Untuk menelusuri doktrin masyarakat Indonesia dari periode bercocok tanam, para andal mengadakan observasi dari aneka macam bangunan megalitikum atau kuburan manusia yang berasal dari kala itu. Dari hasil penelitian itu, para jago sejarah sukses menerima gambaran perihal berbagai kebiasaan yang bekerjasama dengan keyakinan masyarakat pada abad itu, hingga kini ini kita masih mampu lihat upacara-upacara tradisi Megalitikum dari beberapa suku bangsa di Indonesia. Berdasarkan keyakinan itu, seorang kepala suku memiliki kekuasaan dan tanggung jawab sarat terhadap kalangan sukunya. Seorang kepala suku dapat mengendalikan dan melindungi kalangan sukunya dari segala bentuk bahaya, seperti ancaman dari binatag buas, ancaman dari golongan lainnya, bahaya dari wabah penyakit dan sebagainya. 5. Kekuasaan Budaya Perkembangan kebudayaan pada abad bercocok tanam makin bertambah pesat, karena insan mulai dapat membuatkan dirinya untuk membuat kebudayaan yang lebih baik. Beliung persegi ialah hasil kebudayaan manusia dari era kehidupan penduduk bercocok tanam. Beliung persegi di peroleh dalamjumlah yang cukup besar. Daerah-kawasan daerah penemuannya antara lain Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Kapak Lonjong terbuat dari kali yang bewarna kehitam-hitaman, cara pembuatannya ialah dengan diupam sampai halus. Kapak lonjong ini di peroleh oleh para andal sejarah di Maluku, Papua dan sebagian tempat Sulawesi Utara. Di lur wilayah Indonesia kapak lonjong di temukan di kepulauan Filipina, Taiwan dan Cina. Mata panah merupakan salah satu dari peralatan berburu maupun menangkap ikan. Sisi-sisi mata panah dari zaman kehidupan masyarakat bercocok tanam sukses di peroleh di dalam goa-goa yang ada di pinggir sungai. Kemungkinan juga ada mata panah yang di buat dari kayu seperti yang masih di gunakan oleh para penduduk orisinil Papua. Gerabah terbuat dari tanah liat yang di bakar. Alat-alat itu di gunakan selaku tempat untuk menyimpan benda-benda pelengkap. Gerabah nyaris di peroleh pada setiap rumah tangga di seluruh Indonesia. 6. Perhiasan Pada kurun kehidupan masyarakat bercocok tanam sudah di kenal berbagai bentuk tambahan. Bahan dasar pengerjaan pelengkap di ambil dari bahan-bahan yang ada di sekeliling lingkungan alam kawasan tinggalnya, seperti tanah liat, batu kalsedon, yaspur dan agat. Dari materi-bahan itu masyarakat membuat banyak sekali bentuk pelengkap yang di inginkannya mirip kalung, gelang dan lain-lain. Di samping kebudayaan-kebudayaan yang sudah berhasil di temukan oleh para mahir tersebut, juga berkembang kebudayaan yang terbuat dari watu-batu besar atau kebudayaan megalitikum pada abad kehidupan masyarakat bercocok tanam. Wujud bangunan megalitikum di antaranya selaku berikut.  Menhir yakni tugu watu daerah pemujaan terhadap roh nenek moyang  Waruga ialah kubur watu yang berbentuk kubus atau lingkaran. Waruga di buat dari kerikil utuhn dan banyak di dapatkan di daerah Sulawesi Tengan dan Utara.  Dolmen yaitu meja watu yang menaruh sesaji yang di persembahkan terhadap roh nenek moyang.  Punden Berundak-undak merupakan bangunan suci daerah pemujaan terhadap roh nenek moyang yang di buat dalam bentuk bertingkat-tingkat.  Sarkofagus adalah peti mayit yang yang dibuat dari watu bundar ( kerikil tunggal ).  Kubur Batu yakni peti mayit yang yang dibuat dari watu pipih.  Arca dari kurun megalitikum menggambarkan binatang dan manusia. C. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MASYARAKAT AWAL INDONESIA 1. Keadaaan Alam Lingkungan Kehidupan Manusia Pada kala ini, insan telah mengenal teknologi, meski teknologi itu masih terbatas pada upaya untuk memenuhi peralatan-peralatan sederhanan yang di perlukan dalam aktivitas kehidupannya. Ketika insan mulai mengenal logam, manusia sudah mampu menggunakan perlengkapan-perlengkapan yang terbuat dari logam, mirip perlengkapan rumah tangga, peralatan pertanian, berburu, berkebun dan lain-lain. Orang yang andal menciptakan alat-alat dari logam itu disebut undagi dan kawasan pengerjaan alat-alat di sebut perundagian. Logam campuran disebut dengan logam perunggu. Benda-benda yang yang dibuat dari perunggu ini ada yang di buat di wialyah Indonesia oleh penduduk Indonesia sendiri. Alat cetak dari tanah liat terlebih dahulu di bentuk dengan lilin sesuai dengan barang yang akan di buat, kemudian di balut dengan tanah liat. 2. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Kehidupan pada kurun manusia sudah mengenal logam di kenal selaku abad perundagian. Masa perundagian sungguh penting alasannya pada masa ini terjalin hubungan dengan tempat-tempat di sekeliling kepulauan Indonesia. Masa perundagian juga menjadi dasar bertumbuh kembangnya kerajaan-kerajaan di Indonesia seperti kerajaan Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram dan kerajaan-kerajaan yang lain. Kemakmuran masyarakat di ketahui melalui kemajuan teknik pertanian. Bentuk alat-alat pertanian mirip pisau, bajak, cangkul dan sebagainya. 3. Kehidupan Budaya Masyarakat Peninggalan-peninggalan budaya penduduk Indonesia yang berasal dari benda-benda logam merupakan kekayaan dan keragaman budaya yang sudah tumbuh dan meningkat pada kala itu. Di antaranya : Nekara Perunggu,  nekara ialah suatu benda kebudayaan yang terbuat dari perunggu. Bentuknya mirip suatu dandang yang tertelungkup, berfungsi selaku pemanis upacara untuk memohon turunnya hujan. Nekara di hias beranekaragam dengan teladan binatang, contoh geometri, acuan tumbuh-flora dan lain sebagainya. Nekara di peroleh pada daerah Indonesia bab timur, yakni Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Selayar, Papua. Nekara tersebut bergaris tengah 160 cm dan tinggi 198 cm. Rakyat setempat menyebut Nekara itu dengan nama “Bulan Pejeng”. Nekara yang terkecil di sebut moko. Moko sering di anggap keramat dan bahkan di jadikan selaku mas kawin pada tradisi upacara perkawinan di tempat Nusa Tenggara. Kapak Perunggu, bentuk kapak perunggu bermacam-macam, ada yang berupa pahat, jantung dan tembilang. Pola hiasanya berbentuktopang mata dan teladan geometri. Bejana Perunggu, bentunya mirip gitar Spanyol, tetapi tanpa tangkai. Pola hiasan yakni hiasan anyaman dan ibarat abjad “J”. Arca Perunggu, bentuk arca ( patung ) bermacam-macam, mirip menggambarkan orang sedang menari, naik kuda dan memegang busur panah. Perhiasan, suplemen yang terbuat dari perunggu, emas, dan besi banyak di dapatkan di daerah Indonesia. Bentuk perhiasan beranekaragam dan di gunakan sebagai gelang tangan, gelang kaki, cincin, kalung, bandul dan lain-lain.  Tempat penemuan benda-benda dari besi antara lain gunung Kidul (Yogyakarta), Bogor, Besuki dan Punung (Jawa Timur). D. SISTEM KEPERCAYAN AWAL MASYARAKAT INDONESIA 1. Kepercayaan Terhadap Roh Nenek Moyang Perkembangan sistem iman pada masyarakat Indonesia berawal dari kehidupan penduduk berburu dan menghimpun masakan. Masyarakat pada abad itu selalu hidup berpindah-pindah untuk mencari kawasan tinggal yang mampu memenuhi keperluan hidupnya. Mereka mulai berdiam lama / tinggal pada sebuah tempat pada goa-goa. Pada goa-goa itu di dapatkan sisa-sisa budaya mereka, berupa alat-alat kehidupan. Dari hasil inovasi itu dapat di ketahui pada abad itu orang sudah mempunyai pandangan tertentu mengenai akhir hayat. Penguburan kerangka manusia di dalam goa-goa ialah wujud penghormatan kepada orang yang meninggal, penghormatan terhadap orang yang sudah pergi atau penghormatan kepada roh. Megalitikum berfungsi selaku tempat-daerah pemujaan atau penghormatan terhadap terhadap roh nenek moyang. Sebelum masuknya imbas Hindhu-Budha, masyarakat Indonesia sudah menunjukkan penghormatan dan pemujaan terhadap roh nenek moyang. 2. Kepercayaan Bersifat Animisme Animisme merupakan sebuah keyakinan penduduk kepada suatu benda yang di anggap mempunyai roh atau jiwa. Masyarakat banyak yang yakin bahwa sebilah keris pusaka memiliki roh atau jiwa, sehingga benda-benda mirip itu di anggap mampu memberi petunjuk wacana banyak sekali hal yang meningkat dalam penduduk . Selain benda-benda tersebut diatas, terdapat banyak hal yang di percaya oleh penduduk , antara lain bangunan gedung renta, bangunan candi, pohon besar dan yang lain sebagainya. 3. Kepercayaan Bersifat Dinamisme Dinamisme ialah suatu kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan mistik. Sejak berkembangnya iman terhadap roh nenek moyang pada abad kehidupan masyarakat bercocok tanam, maka berkembang pula iktikad yang bersifat dinamisme. Misalnya, sebuah batu cincin di pandang memiliki kekuatan untuk melemahkan musuh. 4. Kepercayaan Bersifat Monoisme Kepercayaan monoisme yakni doktrin kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan ini muncul menurut pengalaman-pengalana dari masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Download File bentuk microsoft word secara lengkap ihwal Sejarah Kehidupan Awal Masyarakat Indonesia. Dowwload Makalah Format Microsoft Word (.doc) Makalah Sejarah Kehidupan Awal Masyarakat Indonesia
Sumber https://somadrug1.blogspot.com


EmoticonEmoticon