Minggu, 06 Desember 2020

Memajukan Prestasi Dan Motivasi Mencar Ilmu Ipa Dengan Menerapkan Pengajaran Berbasis Inkuiri

Berikut ini kami bagikan File Penelitian Tindakan kelas MENINGKATKAN PRESTASI DAN MOTIVASI BELAJAR IPA DENGAN MENERAPKAN PENGAJARAN BERBASIS INKUIRI PADA SISWA KELAS ……………………… ……………………………………………… TAHUN 2004/2005 KARYA ILMIAH OLEH ………………………………… NIP: …………………………… DINAS PENDIDIKAN …………………………………… …………………………………………………………… LEMBAR PENGESAHAN Laporan penelitian ini telah disetujui dan disyahkan untuk melengkapi perpustakaan SD/Madrasah Ibtidaiyah dan dapat diajukan sebagai salah satu Karya Ilmiah untuk Penetapan Angka Kredit Jabatan Guru pada Golongan …….. Kepala Sekolah …………………………… ……………………………….. Penulis ……………………………… ………………………… NIP: ………………….. NIP: ……………. Mengetahui Mengetahui Kepala UPTD Perpustakaan Umum Kepala Cabang Dinas Pendidikan ……………… ……………………… …………………………. ………………………… NIP: ………………… NIP: …………… Mengetahui Mengetahui Kepala Dinas Pendidikan Ketua PD II PGRI ……………………… ………………………. ……………………………. ……………………… Pembina Taman Kanak-kanak I NPA: ………………….. NIP: …………… KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan peran penyusunan karya ilmiah dengan judul "Meningkatkan Prestasi dan Motivasi Belajar IPA Dengan Menerapkan Pengajaran Berbasis Inkuiri Pada Siswa Kelas …………………………….. Tahun Pelajaran ……", penulisan karya ilmiah ini kami susun untuk dipakai dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan mampu dipakai selaku perbandingan dalam pengerjaan karya ilmiah bagi sobat sejawat juga anak latih pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pelatihan karya ilmiah dewasa. Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak menerima sumbangan dari aneka macam pihak. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan lapang dada dan sedalam-dalamnya kepada: 1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan ………………………. 2. Yth. Ketua PD II PGRI ……………………………… 3. Yth. Rekan-rekan Guru ………………………………. 4. Semua pihak yang sudah banyak menolong sehingga penulisan ini final. Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari tepat untuk itu segala kritik dan anjuran yang bersifat membangun dari semua pihak senantiasa penulis inginkan. Penulis ABSTRAK …………………, 2004. Meningkatkan Prestasi dan Motivasi Belajar IPA Dengan Menerapkan Pengajaran Berbasis Inkuiri Pada Siswa Kelas ……………………………. Tahun Pelajaran …… Kata Kunci: pembelajaran ipa, pengajaran berbasis inkuiri Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, menyaksikan, bertanya tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu "mengerjakannya", yaitu menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, memperlihatkan misalnya, menjajal mempraktekkan keahlian dan menjalankan tugas yang menuntut wawasan yang telah mereka peroleh. Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini yakni: (a) Bagaimanakah peningkatan prestasi mencar ilmu siswa dengan diterapkannya pengajaran berbasis inkuiri? (b) Bagaimanakah dampak versi pengajaran berbasis inkuiri terhadap motivasi mencar ilmu siswa? Sedangkan tujuan dari observasi ini ialah: (a) Ingin mengenali seberapa jauh pemahaman dan penguasaan mata pelajaran IPA setelah diterapkannya pengajaran berbasis inkuiri. (b) Ingin mengenali dampak motivasi mencar ilmu siswa setelah diterapkan pengajaran berbasis inkuiri. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran berisikan empat tahap yakni: rancangan, aktivitas dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran observasi ini adalah siswa kelas ……………………. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar pengamatan acara berguru mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I hingga siklus III adalah, siklus I (62,50%), siklus II (75,00%), siklus III (87,50%). Simpulan dari penelitian ini yaitu metode pengajaran berbasis inkuiri mampu besar lengan berkuasa kasatmata kepada motivasi belajar Siswa ………………………………, serta versi pembelajaran ini mampu dipakai selaku salah satu alternative pembelajaran IPA. DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul i Lembar Pengesahan ii Kata Pengantar iii Abstrak iv Daftar Isi v BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 B. Rumusan Masalah 3 C. Tujuan Penelitian 3 D. Kegunaan Penelitian 4 E. Definisi Operasional Variabel 4 F. Batasan Masalah 5 BAB II KERANGKA TEORI A. Tinjauan Tentang Prestasi Belajar 6 B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Presasi Belajar 8 C. Hakikat IPA 9 D. Pengajaran Berbasis Inkuiri 10 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat, Waktu, dan Subyek Penelitian 22 B. Rancangan Penelitian 22 C. Instrumen Penelitian 23 D. Metode Pengumpulan Data 27 E. Teknik Analisis Data 27 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis Item Butir Soal 30 B. Analisi Data Penelitian Persiklus 32 C. Pembahasan 40 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 42 B. Saran 42 DAFTAR PUSTAKA 44 Meningkatkan Prestasi dan Motivasi Belajar IPA Dengan Menerapkan Pengajaran Berbasis Inkuiri  Contents BAB I PENDAHULUAN BAB II LANDASAN TEORI BAB III METODE PENELITIAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V PENTUP DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia yakni rendahnya mutu pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilaksanakan untuk menigkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain lewat berbagai pembinaan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan fasilitas dan prasarana pendidikanlain, dan peningkatan mutu manajemen sekolah, namun demikian, berbagai indikator kualitas pendidikan belum memperlihatkan kenaikan yang mencukupi. Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan gres terus dikerjakan oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar, serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran. Mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan gosip ke dalam pikiran siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil berguru yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil berguru yang langgeng hanyalah kegiatan pengajaran berbasis inkuiri. Apa yang menyebabkan pengajaran menjadi aktif? Agar belajar menjadi aktif siswa mesti melakukan aneka macam tugas. Mereka mesti menggunakan otak, mengkaji pemikiran , memecahkan problem, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Pengajaran berbasis inkuiri harus sigap, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud) Untuk mampu mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, menyaksikan, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu "mengerjakannya", adalah menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, memperlihatkan contohnya, mencoba mempraktekkan kemampuan, dan melakukan peran yang menuntut pengetahuan yang sudah atau mesti mereka dapatkan. Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis mencoba menerapkan salah satu sistem pembelajaran, yakni metode pembelajaran berbasis inkuiri untuk mengungkapkan apakah dengan versi berbasis inkuiri dapat memajukan motivasi berguru dan prestasi sains. Dalam sistem pembelajaran berbasis inkuiri siswa lebih aktif dalam memecahkan untuk menemukan sedang guru berperan selaku pembimbing atau memberikan isyarat cara memecahkan persoalan itu. Dengan menyadari tanda-tanda-tanda-tanda atau kenyataan tersebut diatas, maka dalam penelitian ini penulis penulis mengambil judul "Meningkatkan Prestasi dan Motivasi Belajar IPA Dengan Menerapkan Pengajaran Berbasis Inkuiri Pada Siswa Kelas ……………………………………..Tahun Pelajaran 2004/2005." B. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahnnya sebagi berikut: 1. Bagaimanakah kenaikan prestasi mencar ilmu siswa dengan diterapkannya pengajaran berbasis inkuiri pada siswa Kelas ……………………………. tahun pelajaran 2004/2005? 2. Bagaimanakah imbas versi pengajaran berbasis inkuiri kepada motivasi belajar siswa Kelas ………………………………………………… tahun pelajaran 2004/2005? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan urusan di atas, penelitian ini bertujuan untuk: 1. Ingin mengenali seberapa jauh pemahaman dan penguasaan mata pelajaran IPA sesudah diterapkannya pengajaran berbasis inkuiri pada siswa Kelas ……………………………………………………….. tahun pelajaran 2004/2005. 2. Mengetahui efek motivasi mencar ilmu siswa sehabis diterapkan pengajaran berbasis inkuiri dalam membangunkan ingatan siswa kepada materi pelajaran IPA setelah dipraktekkan pengajaran berbasis inkuiri pada siswa Kelas ………………………………………………………. tahun pelajaran 2004/2005. D. Kegunaan Penelitian Adapun maksud penulis menyelenggarakan observasi ini dibutuhkan mampu berkhasiat sebagai: 1. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis ihwal peranan guru dalam memajukan pengertian siswa berguru IPA 2. Sumbangan aliran bagi guru dalam mengajar dan mengembangkan pengertian siswa berguru IPA di ……………………………. tahun pelajaran 2004/2005. 3. Meningkatkan motivasi berguru IPA. 4. Mengembangkan tata cara pembelajaran yang cocok dengan bidang studi IPA. E. Definisi Operasional Variabel Agar tidak terjadi salah persepsi kepada judul penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut: 1. Metode pembelajaran berbasis inkuiri ialah: Suatu pendekatan pengajaran yang melibatkan siswa didorong untuk mempunyai pengalaman dan melaksanakan percobaan yang memungkinkan mereka memperoleh prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri. 2. Motivasi mencar ilmu yakni: Merupakan daya penggagas psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan acara mencar ilmu dan memperbesar kemampuan, pengalaman. Motivasi mendorong dan mengarah minat mencar ilmu untuk tercapai suatu tujuan. 3. Prestasi mencar ilmu yakni: Hasil berguru yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, setelah siswa mengikuti pelajaran. F. Batasan Masalah Karena keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan duduk perkara yang meliputi: 1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas ………………………………… Tahun Pelajaran 2004/2005. 2. Penelitian ini dijalankan pada bulan September tahun pelajaran 2004/2005. 3. Materi yang disampaikan yakni pokok bahasan ………………….. Back to Content ? BAB II LANDASAN TEORI BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Prestrasi Belajar 1. Pengertian Belajar Pengertian berguru sudah banyak dikemukakan dalam kepustakaan. Yang dimaksud berguru adalah perbuatan murid dalam bidang material, formal serta fungsional kebanyakan dan bidang intelektual pada utamanya. Jadi berguru ialah hal yang pokok. Belajar ialah suatu perubahan pada perilaku dan tingkah laris yang lebih baik, namun kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih jelek. Untuk dapat disebut mencar ilmu, maka pergantian mesti ialah tamat dari pada kurun yang cukup panjang. Berapa usang waktu itu berjalan sukar diputuskan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaklah ialah tamat dari suatu masa yang mungkin berlangsung berhari-hari, berminggu-ahad, berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Belajar merupakan sebuah proses yang tideak mampu dilihat dengan kasatmata proses itu terjadi dalam diri seserorang yang sedang mengalami berguru. Jadi yang dimaksud dengan berguru bukan tingkah laku yang nampak, namun prosesnya terjadi secara internal di dalam diri individu dalam mengusahakan memperoleh relasi-korelasi gres. 2. Pengertian Prestasi Belajar Sebelum diterangkan pengertian tentang prestasi mencar ilmu, terlebih dahulu akan dikemukakan wacana pengertian prestasi. Prestasi ialah hasil yang sudah diraih. Dengan demikian bahwa prestasi ialah hasil yang telah dicapai oleh seseorang sesudah melaksanakan sesuatu pekerjaan/acara tertentu. Jadi prestasi yaitu hasil yang sudah diraih oleh alasannya adalah itu semua individu dengan adanya berguru kesudahannya dapat diraih. Setiap individu berguru menghendaki hasil yang yang sebaik-baiknya. Oleh karena itu setiap individu mesti mencar ilmu dengan sebaik-baiknya biar prestasinya sukses dengan baik. Sedang pemahaman prestasi juga ada yang mengatakan prestasi yaitu kemampuan. Kemampuan di sini bermakna yan dimampui individu dalam melakukan sesuatu. 3. Pedoman Cara Belajar Untuk memperoleh prestasi/hasil berguru yang bagus mesti dilaksanakan dengan baik dan aliran cara yang tapat. Setiap orang memiliki cara atau aliran sendiri-sendiri dalam berguru. Pedoman/cara yang satu cocok digunakan oleh seorang siswa, namun mungkin kurang sesuai untuk anak/siswa yang lain. Hal ini disebabkan karena mempunyai perbedaan individu dalam hal kemampuan, kecepatan dan kepekaan dalam menerima bahan pelajaran. Oleh alasannya adalah itu tidaklah ada suatu petunjuk yang niscaya yang harus dilaksanakan oleh seorang siswa dalam melaksanakan kegiatan berguru. Tetapi faktor yang paling memilih kesuksesan berguru yakni para siswa itu sendiri. Untuk dapat meraih hasil belajar yang sebaik mungkin harus memiliki kebiasaan mencar ilmu yang baik. B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar 1. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar Adapun aspek-faktor itu, dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu: a. Faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang kita sebut aspek individu. Yang tergolong ke dalam aspek individu antara lain aspek kematangan atau kemajuan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi. b. Faktor yang ada pada luar individu yang kita sebut dengan aspek sosial Sedangkan yang faktor sosial antara lain aspek keluarga, kondisi rumah tangga, guru, dan cara dalam mengajarnya, lingkungan dan peluang yang ada atau tersedia dan motivasi sosial. Berdasarkan aspek yang menghipnotis acara belajar di atas memperlihatkan bahwa berguru itu merupaka proses yang cukup kompleks. Artinya pelaksanaan dan akhirnya sangat diputuskan oleh faktor-aspek di atas. Bagi siswa yang berada dalam faktor yang mendukung kegiatan belajar akan mampu dilalui dengan tanpa gangguan dn pada gilirannya akan mendapatkan prestasi atau hasil mencar ilmu yang baik. Sebaliknya bagi siswa yang berada dalam keadaan berguru yang tidak menguntungkan, dalam arti tidak ditunjang atau disokong oleh faktor-faktor diatas, maka acara atau proses belajarnya akan terhambat atau menemui kesulitan. C. Hakikat IPA IPA didefiniksan sebagai sebuah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara alam. Perkembangan IPA tidak hanya ditandai dengan adanya fakta, tetapi juga oleh adanya tata cara ilmiah dan perilaku ilmiah. Metode ilmiah dan pengamatan ilmiah menekankan pada hakikat IPA. Secara rinci hakikat IPA menurut Bridgman (dalam Lestari, 2002: 7) yakni selaku berikut: 1. Kualitas; intinya rancangan-rancangan IPA senantiasa mampu dinyatakan dalam bentuk angka-angka. 2. Observasi dan Eksperimen; merupakan salah satu cara untuk dapat memahami rancangan-desain IPA secara sempurna dan dapat diuji kebenarannya. 3. Ramalan (prediksi); ialah salah satu asumsi penting dalam IPA bahwa misteri alam raya ini mampu dipahami dan mempunyai keteraturan. Dengan asumsi tersebut melalui pengukuran yang teliti maka berbagai peristiwa alam yang mau terjadi mampu diprediksikan secara sempurna. 4. Progresif dan komunikatif; artinya IPA itu senantiasa berkembang ke arah yang lebih tepat dan inovasi-penemuan yang ada ialah kelanjutan dari inovasi sebelumnya. Proses; tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dikerjakan dengan menggunakan sistem ilmiah dalam rangkan menemukan sebuah kebernaran. 5. Universalitas; kebenaran yang didapatkan selalu berlaku secara biasa . Dari klarifikasi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hakikat IPA merupakan bab dari IPA, dimana desain-konsepnya diperoleh melalui suatu proses dengan menggunakan tata cara ilmiah dan diawali dengan perilaku ilmiah kemudian diperoleh hasil (produk). D. Pengajaran Berbasis Inkuiri Pembelajaran dengan penemuan (inquiry) ialah satu komponen penting dalam pendekatan konstruktivistik yang telah memiliki sejarah panjang dalam penemuan atu pembaharuan pendidikan. Dalam pembelajaran dengan penemuan/inkuiri, siswa didorong untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri, Bruner (1966), penganjur pembelajaran dengan basis inkuiri, menyatakan sebagai berikut: "Kita mengajarkan suatu bahan kajian tidak untuk menghasilkan perpustakaan hidup tentang materi kajian itu, namun lebih ditujukan untuk menciptakan siswa berpikir …. Untuk diri mereka sendiri, meneladani mirip apa yang dijalankan oleh seorang sejarawan, mereka turut mengambil bab dalam proses, bukan sebuah produk (Nur & Wikandari, 2000:10). Belajar dengan penemuan mampu diterapkan dalam banyak mata pelajaran. Sebagai acuan, siswa diberi sederet silinder dengn ukuran dan berat yang berlainan-beda. Siswa diminta untuk menggelindingkan silinder tersebut pada suatu bidang miring. Bila percobaan itu dijalankan dengan benar, siswa akan mampu memperoleh prinsip-prinsip utama yagn menentuan kecepatan silinder tersebut. Belajar dengan inovasi memiliki banyak sekali laba. Pembelajaran dengan inkuiri memacu cita-cita siswa untuk mengenali, memotivasi mereka untuk melanjutan pekerjaannya hingga mereka memperoleh prinsip-prinsip utama yang memilih kecepatan silinder tersebut. Belajar dengan inovasi mempunyai beberapa laba. Pembelajaran dengan inkuiri memacu impian siswa untuk mengenali, memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaannya sampai mereka mendapatkan jawabannya. Siswa juga belajar memecahkan persoalan secara berdikari dan memiliki keterampilan berpikir kritis sebab mereka harus selalu mengecek dan menangani informasi. Pengajaran berbasis inkuiri memerlukan taktik pengajar yang mengikuti metodologi IPA dan menyediakan potensi untuk pembelajaran berarti. Inkuiri yakni seni dan ilmu bertanya dan menjawab. Inkuiri melibatkan observasi dan pengukuran, pembutan hipotesis dan interpretasi, pembentukan versi dan pengujian model. Inkuiri menuntut adanya eksperimentasi, refleksi, dan pengenalan akan keunggulan dan kelamahan sistem-metodenya sendiri. Selama proses inkuiri berlangsung, seorang guru dapat menajukan suatu pertanyaan atau mendorong siswa untuk bertanya-pertanyaan mereka sendiri. Pertanyaannya bersifat open-ended, memberi kesempatan terhadap siswa untuk menilik sendiri dan mereka mencari balasan sendiri (tetapi tidak hanya satu jawaban yang benar). Inkuiri ialah apa yang dibuat oleh para ilmuwan. Para ilmuwan melaksanakan ikuiri dengan sebuah cara formal dan sitematis, dan dalam proses melaksanakan inkuiri para ilmuwan memperlihatkan kontribusi pada badan gosip yang bersifat kolektif yang kita sebut pengetahuan. Dalam proses mengalami ilmu lewat inkuiri, siswa belajar bagaiman menjadi ilmuwan. Mereka berguru lebih banyak lagi dibandingkan dengan cuma desain dan fakta, mereka mempelajari menyebarkan proses yang terlibah dalam pemantapan desain dan fakta. Inkuiri menawarkan terhadap siswa pengalaman-pengalaman mencar ilmu yang faktual dan aktif. Siswa diperlukan mengambil inisiatif. Mereka dilatih bagaimana memecahkan maslah, menciptakan keputusan, dan memperoleh ketarampilan. Inkuiri memeungkinkan siswa dalam berbgai tahap perkembangannya melakukan pekerjaan dengan problem-persoalan yang serupa dan bahkan mereka melakukan pekerjaan sama mencari solusi kepada masalah-dilema. Setiap siswa harus memainkan dan memfungsikan talentanya masing-masing. Inkuiri memungkinkan terjadinya integrasi berbagai disiplin ilmu. Ketika siswa melaksanakan eksplorasi mereka condong mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang hendak melibatkan IPA dan matematika, ilmu sosial, bahasa, seni, dan teknik. Inkuiri melibatkan pula komunikasi. Siswa mesti bertanya-pertanyaan yang mempunyai arti dan berafiliasi. Mereka mesti melapoirkan hasil-hasil temuannya, mulut atau tertulis. Dengan begitu, mereka bekerja dan mengajar satu sama lain. Inkuiri memungkinkan guru mempelajari siswa-siswanya - siapa mereka, apa yang mereka ketahui, dan bagaimana mereka melakukan pekerjaan . Pemahaman guru tentang siswa akan memungkinkan guru untuk menjadi fasilitator yang lebih efektif dalam proses penelusuran ilmu oleh siswa. Ketika guru memakai teknik inkuiri, guru dihentikan banyak bertanya atau mengatakan. Terlalu banyak intervensi, terlalu banyak mengajukan pertanyaan, dan terlampau banyak menjawab akan mengurangi proses mencar ilmu siswa melalui inkuiri. Dengan demikian, proses berguru tidak akan lagi menggembirakan. Dalam proses inkuiri, siswa dituntut untuk bertanggung jawab bagi pendidikan mereka sendiri. Guru yang menaruh perhatian pada langsung siswa, akan mendapatkan kegiatan-acara yang disukai siswa, juga hal-hal yng baik yag ada dalam diri siswa-siswanya, dan kesulitian-kesusahan yang mengusik siswa dalam proses mencar ilmu. Guru dituntut menyesuaikan diri terhadap gaya belajara siswa-siswanya. Siklus inkuiri ialah: (1) Observasi (Observation); (2) Bertanya (Questioning); (3) Mengajukan dugaan (Hipothesis); (4) Pengumpulan data (Data Gathering); dan Penyimpulan (Conclusion). Inkuiri adalah satu proses yang bergerak dari langkah pengamatan hingga langkah pengertian. Inkuiri dimulai dengan observasi yang menjadi dasar pemunculan berbagai pertanyaan yang diajukan siswa. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut dikejar dan diperoleh melalui suatu siklus pembuatan prediksi, perumusan hipotesis, pengembangan cara-cara pengujian hipotesis, pembuatan observasi lanjutan, penciptaan teori dan versi-model desain yang didasarkan pada data dan wawasan. Inkuiri membuat berbagai potensi bagi guru untuk mempelajari bagaimana otak siswa bekerja. Guru dapat memanfaatkannya untuk menentukan situasi-situasi berguru yang sempurna dan memfasilitasi siswa dalam proses pencarian ilmu. Dalam proses inkuiri, siswa berguru dan dilatih bagaimana mereka mesti berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan slah satu tujuan pendidikan. Ketika siswa berguru berpikir kritis, merka kan memperlihatkan anggapan-pikiran dan proses-proses selaku berikut: a. Mengajukan pertanya mirip "Bagaimana itu kita tahu?" atau "Apa buktinya?" b. Mengetahui perbedaan antara pengamatan dan kesimpulan. c. Mengetahui bahwa semua ide ilmiah itu dapat berubah dan bahwa teori yang ada yakni teori-teori yang terbaik menurut bukti yang kita miliki sejuh nini. d. Mengetahui bahwa dibutuhkan bukti yang cukup untuk mempesona suatu kesimpulan yang besar lengan berkuasa. e. Memberi klarifikasi atau interpretasi, memalkukan observasi dan/atau prediksi. f. Selalu mencari konsistensi kepada kesimpulan-kesimpulan yang diambil dan memgerikan klarifikasi dengan rasa percaya diri. Salah satu tujuan utama pendidikan yakni mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis, membuat keputusan rasional tentang apa yang diperbuat atau apa yang diyakini.seperti halnya setiap tujuan yang lain, mencar ilmu berpikir kritis bergantung pada penataan situasi kelas yang mendorong penerimaan persepsi divergen (berbeda) dan diskusi bebas. Tatanan itu sebaiknya juga lebih menekankan pada perlindungan argumentasi atau pandangan daripada hanya memperlihatkan jawaban benar. Keterampilan dalam berpikir kritis paling baik diraih jika dihibungkan dengan topik-topik yang dikenal siswa. Tujuan pengajaran berpikir kritis yakni menciptakan sebuah semangat berpikir kritis yang mendorong siswa mempertanyakan apa yang mereka dengar dan mengkaji pikiran mereka sendiri untuk menentukan tidak terjadi nalar yang tidak konsisten atau keliru. Beyer (1988:57) mengidentifiksi 10 kemampuan berpikir kritis yang dpat digunakan siswa untuk menimbang-nimbang validitas (keabsahan) permintaan atau argument, memahami periklanan, dan sebagainya. (1) Membedakan fakta-fakta yang mampu diverifikasi dan tuntutan nilai-nilai yang sulit diverifikasi (diuji kebenarannya). (2) Membedakan antara gosip, permintaan, atau alasan yang berkaitan dengan yang tidak relevan. (3) Menentukan ketelitian factual (kebenaran) dari suatu penyataan. (4) Menentukan kredibilitas (dapat mengemban amanah) dari suaut sumber. (5) Mengidentifikasi tuntutan atau argument yang mendua. (6) Mengidentifikasi perkiraan yang tidak dinyatakn. (7) Mendeteksi bias (memperoleh penyimpangan). (8) Mengidentifikasi kekeliruan-kekeliruan akal. (9) Mengenali ketidak-konsistenan akal dalam sebuah alur akal sehat. (10) Menentukan kekuatan sebuah argument atau tuntutan. Beyer mengingatkan bahwa 10 keahlian berpikir kritis di atas bukan merupakan suatu urutan langkah-langkah tetapi lebih ialah daftar cra yang mampu dilakukan. Dengan cara-cara itu, siswa dapat menangani informasi untuk mengevaluasi apakah informasi itu benar atau masuk akal. Tugas utama dalam mengajarkan berpikir kritis kepada siswa yaitu menolong mereka mencar ilmu tidak hanya bagaimana menggunakan tiap-tiap seni manajemen berpikir kritis itu, namun juga menyampaikan kapan tiap-tiap taktik berpikir kritis itu cocok untuk dipakai. Proses inkuiri tidak dpat dipisahkan dari rancangan berpikir kritis. Konsep berpikir kritis tidak mampu pula dipisahkan dari konsep inteligensi. Inteligensi bukan sesuatu yang hanya dpat diukur dengan tes, buan pula sesuatu yang semata-mata pembawaan genetis secara lahiriah. Howard Gardaner (1983) mengambarkan bahwa intelgensi mampu diubah. "Intelligence is the ability to solve problems or to create products that are valued between one or more cultural settings" (Johnson, 2002:141). Intelligensi tidak mampu dipisahkan dari konteks di mana manusia itu hidup dan berkembang. Menurut Gardaner, inteligensi tidak dilahirkan, namun mampu meningkat atau berkurang, bergantung pada lingkungan atau konteks seseorang. Lingkungan yang dimaksud yaitu teman, guru, orang renta, buku, alat-alat mencar ilmu (pena, computer, acara-acara fisik, musik), dan hal-hal lain yang meraih otak melalui panca indera. Dengan menggunakan standar khusus untuk mengidentifikasi desain inteleigenais, Gardaner mengusulkan delapan jenis inteligenwsi, ialah: linguistic, logical-mathematic, musical, spatial, bodily-kinesthetic, interpersonal, intra-personal, dan naturalist. Jenis pekerjan dan aktivitas yang mampu dikembangkan untuk kedelapan jenis inteligensi ini dpat dicontohkan sebagai beikut: (1) linguistic: wartawan, reporter, politikus, atau penulis; (2) logis-mathematis; mahir fisika, neurology, atau insinyur; (3) spasial: pelukis, interior decorator, atau pemain tennis; (4) bodily-kinesthic: penari balet, pemain golf, pembalap, atau petinju; (5) musik: pengarang lagu, penyanyi, atau organis/pianis; (6) interpersonal: hakim, saleperson, atau guru; (7) intrapersonal: biarawan/rohaniawan, pujangga, atau jago ilmu jiwa/psikolog; dan (8) naturalist: mahir botani, ahli kebun binatang, atau ahli pertamanan. Kedelapan jenis inteligensi ini telah mengilhami para pendidik untuk mengajar dengan dengan mengac pada salah satu dari delapan jenis inteligensi tersebut. "Hundred, perhaps thousands, of classrooms around the world rely today on Gardaner's theory of multiple intelligences to help students realize their latent potential" (Johnson, 2002:141). Apakah kelas berkonsentrasi pada siswa yang kurang bisa atau kelas yang siswa-siswanya berbakat, para pendidik melihat faedah mengajar yang tepat dengan cara-cara untuk meraih banyak sekali jenis inteligensi yang dikemukakan Gardaner. Setiap siswa mampu mengembangkan setiap jenis inteligensidi atas dengan perkiraan bahwa siswa belajar dalam sebuah lingkungan belajar yang kaya yang memungkikan mereka menghubungkan makna dengan konteks. "CTL's component work together to provide this rich environment, offering students many opportunities to ignite the eight multiple intelligences" (Amstrong, 1994:35). Guru CTL menyadari dan menghargai bahwa setiap anak memiliki derajat yang berlawanan dalam hal inteligensinya dan bahwa CTL selaku sebuah system holistic bekerjasama dengan delapan inteligensi yang dibawa setiap anak pada lingkungan berguru. Delapan inteligensi (Howard Gardaner, 1983) Multiple Intelligences Logika-matematika Peka terhadap contoh, kemampuan dan sistematika. Linguistic/ilmu bahasa Peka kepada suara, ritme, dan makna kata Musik Kemapuan menghasilkan dan menghargai ritme, tinggi rendah bunyi, dan warna suara Spatial/jarak Kemampuan untuk melakukan transformasi mengenai persepsi permulaan seseorang dan kesanggupan mengkreasi kembali faktor-faktor pengalaman visual seseorang. Bodily-kinesthetic/fisik-kinestetik Kemampuan menertibkan gerak tubuh seseorangdan kemampuan menanggulangi objek secara terampil. Inter personal/antar-langsung Kemampuan untuk menjawab atu memberikan reaksi secara tepat banyak sekali situasi batin, temperamen, motivasi dan keinginanorang lain. Intapersonal/antar-eksklusif Bagaimana menjiwai perasaan sendiri, kesanggupan mendiskriminasikan mengembangkan perasaan seseorang, dan kesanggupan menarik kesimpulan untuk menuntun tingkah laku seseorang Naturalist/alamiah Mengamati, mengalami dan mengorganisasikan banyak sekali contoh dalam lingkungan alamiah Guru yang memakai pembelajaran berbasis inkuiri haru menimbulkan siswa mampu bangkit sendiri, mesti mendorong siswa untuk mampu berdiri diatas kaki sendiri sedini mungkin sejak dari awal masuk sekolah. Timbul pertanyaan, bagaimana caranya guru membantu siswa supaya mereka tumbuh mandiri? Jawabannya yaitu memberi keleluasaan terhadap siswa untuk mengikuti minat alamiah mereka. Guru harus mendorong siswa untuk memecahkan sendiri msalah yang dihadapinnya atau memecahkan sendiri di dalam kelompoknya, bukan mengajarkan mereka jawaban dari persoalan yang mereka hadapi. Siswa akan mendapat keuntungan kalau mereka mampu "melihat" dan "melaksanakan" sesuatu daripada hanya sekedar mendengarkan ceramah atau penjelasan guru. Guru mampu membantu siswa mengerti desain-rancangan yang sulit dengan bantuan gambar dan demontrasi. Belajar harus luwes dan bersifat menilik atau melalui inovasi. Jika siswa tampak berusaha dengan menghadapi sebuah, berikan mereka waktu untuk mencoba sendiri memecahkan duduk perkara tersebut sebelum memberikan pemecahannya. Guru juga harus mengamati perilaku siswa kepada mencar ilmu. Menurut Jerome, S. Burner, sekolah mesti merangsang keingintahuan siswa, meminimalkan risiko kegagalan, dan bertindak serelevan mungkin bagi siswa. Sebagai saran tamhahan bagi guru yangmengajar dengan pendekatan inkuiri: (1) doronglah siswa supaya mereka mengajukan dugan awal dengan cara guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan membimbing; (2) gunakan bahan dan permainan yang beraneka ragam; (3) berikan kesempatan terhadap siswa untuk membuat puas keingintahuan mereka, walaupun mereka mengajukan pemikiran -gagasan yang tidak berhubungan eksklusif dengan pelajaran yang diberikan; dan (4) gunakan sejumlah pola yang kontras atau perlihatkan perbedaan yang kasatmata dengan materi bimbing perihal topik-topik yang terkait. Back to Content ? BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini ialah penelitian langkah-langkah (action research), karena penelitian dijalankan untuk memecahkan problem pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk observasi deskriptif, alasannya adalah menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran dipraktekkan dan bagaimana hasil yang diharapkan mampu dicapai. Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti, 1997: 8) mengelompokkan observasi langkah-langkah menjadi empat macam yaitu, (a) guru selaku penelitia; (b) penelitian langkah-langkah kolaboratif; (c) simultan terintegratif; (d) administrasi social eksperimental. Dalam penelitian langkah-langkah ini memakai bentuk guru selaku peneliti, penanggung jawab sarat penelitian ini yaitu guru. Tujuan utama dari penelitian langkah-langkah ini yaitu untuk memajukan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara penuh terlibat dalam observasi mulai dari penyusunan rencana, langkah-langkah, pengamatan, dan refleksi. Dalam observasi ini peneliti tidak berhubungan dengan siapapun, kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dikerjakan mirip biasa, sehingga siswa tidak tahu bila diteliti. Dengan cara ini dibutuhkan ditemukan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan. A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat penelitian adalah kawasan yang digunakan dalam melakukan observasi untuk mendapatkan data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di ………………………………………. tahun pelajaran 2004/2005. 2. Waktu Penelitian Waktu observasi yakni waktu berlangsungnya observasi atau dikala penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilakukan pada bulan September semester gasal tahun pelajaran 2004/2005. 3. Subyek Penelitian Subyek penelitian ialah siswa-siswi Kelas ………………………………. tahun pelajaran 2004/2005 pada pokok bahasan alat peredaran darah. B. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK yaitu sebuah bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku langkah-langkah yang dijalankan untuk memajukan kemantapan rasional dari langkah-langkah mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman kepada langkah-langkah-langkah-langkah yang dilaksanakan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dikerjakan (dalam Mukhlis, 2000: 3). Sedangkah berdasarkan Mukhlis (2000: 5) PTK adalah sebuah bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki keadaan pembelajaran yang dilaksanakan. Adapun tujuan utama dari PTK adalah untuk memperbaiki/mengembangkan pratek pembelajaran secara berkelanjutan, sedangkan tujuan penyertaannya yaitu menumbuhkan budaya meneliti di kelompok guru (Mukhlis, 2000: 5). Sesuai dengan jenis observasi yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka observasi ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), yakni berupa spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (planning), action (langkah-langkah), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya yakni perncanaan yang sudah direvisi, langkah-langkah, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi persoalan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 3.1 Alur PTK Penjelasan alur di atas yaitu: 1. Rancangan/planning permulaan, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan problem, tujuan dan membuat rencana langkah-langkah, tergolong di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran. 2. Kegiatan dan observasi, mencakup tindakan yang dilaksanakan oleh peneliti selaku upaya membangun pemahaman desain siswa serta mengamati hasil atau imbas dari diterapkannya sistem pembelajaran versi inkuiri. 3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan menimbang-nimbang hasil atau imbas dari tindakan yang dikerjakan menurut lembar observasi yang diisi oleh pengamat. 4. Rancangan/rencana yang direvisi, menurut hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dijalankan pada siklus selanjutnya. Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang serupa (alur acara yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di final masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dijalankan. C. Instrumen Penelitian Instrumen yang dipakai dalam observasi ini terdiri dari: 1. Silabus Yaitu seperangkat planning dan pengaturan wacana aktivitas pembelajaran pengelolahan kelas, serta evaluasi hasil berguru. 2. Rencana Pelajaran (RP) Yaitu ialah perangkat pembelajaran yang dipakai sebagai fatwa guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan mencar ilmu mengajar. 3. Tes formatif Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan diraih, dipakai untuk mengukur kesanggupan pengertian konsep IPA pada pokok bahasan alat peredaran darah. Tes formatif ini diberikan setiap final putaran. Bentuk soal yang diberikan yaitu pilihan guru (objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46 soal yang telah diujicoba, kemudian penulis menyelenggarakan analisis butir soal tes yang sudah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal. Analisis ini dipakai untuk memilih soal yang bagus dan menyanggupi syarat dipakai untuk mengambil data. Langkah-langkah analisi butir soal yaitu selaku berikut: a. Validitas Tes Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga mampu ditentukan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tingkat kevalidan ini mampu dihitung dengan hubungan Product Moment: (Suharsimi Arikunto, 2001: 72) Dengan: rxy : Koefisien kekerabatan product moment N : Jumlah penerima tes ?Y : Jumlah skor total ?X : Jumlah skor butir soal ?X2 : Jumlah kuadrat skor butir soal ?XY : Jumlah hasil kali skor butir soal b. Reliabilitas Reliabilitas butir soal dalam penelitian ini menggunakan rumus belah dua selaku berikut: (Suharsimi Arikunto, 20001: 93) Dengan: r11 : Koefisien reliabilitas yang sudah diubahsuaikan r1/21/2 : Korelasi antara skor-skor setiap bagian tes Kriteria reliabilitas tes jikalau harga r11 dari perkiraan lebih besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliable. c. Taraf Kesukaran Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal adalah indeks kesukaran. Rumus yang digunakan untuk memilih taraf kesukaran ialah: (Suharsimi Arikunto, 2001: 208) Dengan: P : Indeks kesukaran B : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar Js : Jumlah seluruh siswa penerima tes Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran soal adalah sebagai berikut: - Soal dengan P = 0,000 sampai 0,300 yaitu sulit - Soal dengan P = 0,301 sampai 0,700 adalah sedang - Soal dengan P = 0,701 hingga 1,000 yaitu gampang d. Daya Pembeda Daya pembeda soal ialah kemampuan sebuah soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang memberikan besarnya daya pembeda desebut indeks diskriminasi. Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks diskriminasi adalah selaku berikut: (Suharsimi Arikunto, 2001: 211) Dimana: D : Indeks diskriminasi BA : Banyak akseptor kalangan atas yang menjawab dengan benar BB : Banyak peserta kalangan bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah penerima kalangan atas JB : Jumlah akseptor kelompok bawah Proporsi akseptor kalangan atas yang menjawab benar. Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar Kriteria yang dipakai untuk menentukan daya pembeda butir soal selaku berikut: - Soal dengan D = 0,000 hingga 0,200 ialah jelek - Soal dengan D = 0,201 sampai 0,400 yakni cukup - Soal dengan D = 0,401 sampai 0,700 yaitu baik - Soal dengan D = 0,701 hingga 1,000 adalah sangat baik D. Metode Pengumpulan Data Data-data yang dibutuhkan dalam observasi ini diperoleh lewat pengamatan pembuatan pengajaran berbasis inkuiri, dan tes formatif. E. Teknik Analisis Data Untuk mengetahui keefektivan suatu sistem dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan evaluasi data. Pada observasi ini memakai teknik analisis deskriptif kualitatif, adalah suatu sistem penelitian yang bersifat menggambarkan realita atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengenali prestasi belajar yang diraih siswa juga untuk menemukan respon siswa kepada aktivitas pembelajaran serta kegiatan siswa selama proses pembelajaran. Untuk menganalisis tingkat kesuksesan atau persentase keberhasilan siswa sehabis proses berguru mengajar setiap putarannya dijalankan dengan cara menunjukkan evaluasi berbentuksoal tes tertulis pada setiap selesai putaran. Analisis ini dijumlah dengan menggunakan statistic sederhana yaitu: 1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang berikutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan: Dengan : = Nilai rata-rata ? X = Jumlah semua nilai siswa ? N = Jumlah siswa 2. Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan berguru ialah secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan mencar ilmu mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), adalah seorang siswa sudah tuntas belajar jikalau sudah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk mengkalkulasikan persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut: Back to Content ? BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data observasi yang diperoleh berbentukhasil uji coba item butir soal, data pengamatan berupa observasi pengelolaan pengajaran berbasis inkuiri dan pengamatan acara siswa dan guru pada selesai pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap siklus. Data hasil uji coba item butir soal dipakai untuk mendapatkan tes yang benar-benarmewakili apa yang diharapkan. Data ini selanjutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. Data tes formatif untuk mengetahui kenaikan prestasi belajar siswa sehabis diterapkan pengajaran berbasis inkuiri. A. Analisis Item Butir Soal Sebelum melakukan pengambilan data lewat instrument penelitian berupa tes dan mendapatkan tes yang bagus, maka data tes tersebut diuji dan dianalisis. Uji coba dikerjakan pada siswa di luar sasaran penelitian. Analisis tes yang dilakukan meliputi: 1. Validitas Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes sehingga dapat digunakan selaku instrument dalam penelitian ini. Dari perkiraan 46 soal diperoleh 16 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Valid Soal Tidak Valid 1, 2, 3, 4, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 30,36, 37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45 5, 6, 8, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 31, 32, 33, 34, 35, 40, 46 2. Reliabilitas Soal-soal yang telah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil perkiraan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 654. Harga ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 24) dengan r (95%) = 0,404. Dengan demikian soal-soal tes yang dipakai telah menyanggupi syarat reliabilitas. 3. Taraf Kesukaran (P) Taraf kesukaran dipakai untuk mengetahui tingkat kesukaran soal. Hasil analisis menawarkan dari 46 soal yang diuji terdapat: - 20 soal mudah - 16 soal sedang - 10 soal sulit 4. Daya Pembeda Analisis daya pembeda dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkriteria buruk sebanyak 16 soal, berkriteria cukup 20 soal, berkriteria baik 10 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang dipakai sudah menyanggupi syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. B. Analisis Data Penelitian Persiklus 1. Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti merencanakan perangkat pembelajaran yang berisikan planning pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan aktivitas mencar ilmu mengajar untuk siklus I dijalankan pada tanggal 12 September 2004 di Kelas ……….. dengan jumlah siswa 24 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses mencar ilmu mengajar mengacu pada planning pelajaran yang sudah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dikerjakan bersama-sama dengan pelaksaaan berguru mengajar Pada selesai proses mencar ilmu mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengenali tingkat kesuksesan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar yang sudah dijalankan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I yakni selaku berikut: Table 4.2. Nilai Tes Formatif Pada Siklus I No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 80 ? 13 90 ? 2 50 ? 14 70 ? 3 70 ? 15 50 ? 4 40 ? 16 40 ? 5 60 ? 17 80 ? 6 80 ? 18 80 ? 7 70 ? 19 70 ? 8 60 ? 20 70 ? 9 40 ? 21 50 ? 10 80 ? 22 60 ? 11 70 ? 23 70 ? 12 80 ? 24 90 ? Jumlah 780 7 5 Jumlah 820 8 4 Jumlah Skor 1600 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2400 % Skor Tercapai 66,67 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 15 Jumlah siswa yang belum tuntas : 9 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I No Uraian Hasil Siklus I 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas berguru Persentase ketuntasan berguru 66,67 15 62,50 Dari tabel di atas mampu dijelaskan bahwa dengan menerapkan pengajaran berbasis inkuiri diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 66,67 dan ketuntasan berguru meraih 62,50% atau ada 15 siswa dari 24 siswa telah tuntas berguru. Hasil tersebut menawarkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas berguru, sebab siswa yang menemukan nilai ? 65 hanya sebesar 62,50% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang diharapkan yakni sebesar 85%. Hal ini disebabkan alasannya siswa masih canggung dengan diterapkannya pengajaran berbasis inkuiri. 2. Siklus II a. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan acara mencar ilmu mengajar untuk siklus II dilakukan pada tanggal 19 September 2004 di Kelas V dengan jumlah siswa 24 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan mengamati revisi pada siklus I, sehingga kesalah atau kekurangan pada siklus I tidak terulanga lagi pada siklus II. Pengamatan (pengamatan) dijalankan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada final proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengenali tingkat kesuksesan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar yang sudah dijalankan. Instrument yang digunakan ialah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II ialah selaku berikut. Table 4.4. Nilai Tes Formatif Pada Siklus II No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 80 ? 13 80 ? 2 60 ? 14 60 ? 3 80 ? 15 80 ? 4 80 ? 16 70 ? 5 70 ? 17 70 ? 6 60 ? 18 70 ? 7 70 ? 19 60 ? 8 60 ? 20 90 ? 9 70 ? 21 80 ? 10 80 ? 22 60 ? 11 80 ? 23 80 ? 12 70 ? 24 80 ? Jumlah 860 9 3 Jumlah 880 9 3 Jumlah Skor 1740 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2400 % Skor Tercapai 72,50 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 18 Jumlah siswa yang belum tuntas : 6 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.5. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II No Uraian Hasil Siklus II 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan mencar ilmu 72,50 18 75,00 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi mencar ilmu siswa adalah 72,50 dan ketuntasan mencar ilmu mencapai 75,00% atau ada 18 siswa dari 24 siswa sudah tuntas mencar ilmu. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan mencar ilmu secara klasikal sudah mengalami kenaikan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil mencar ilmu siswa ini sebab siswa sudah mulai dekat dengan pengajaran berbasis inkuiri, selain itu ada perasaan bahagia pada diri siswa dengan adanya cara mencar ilmu yang gres alasannya itu adalah pengamalan pertama bagi siswa. 3. Siklus III a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti merencanakan perangkat pembelajaran yang berisikan planning pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap acara dan observasi Pelaksanaan aktivitas belajar mengajar untuk siklus III dikerjakan pada tanggal 25 September 2004 di Kelas V dengan jumlah siswa 24 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses mencar ilmu mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kelemahan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (pengamatan) dilakukan serentak dengan pelaksanaan berguru mengajar. Pada selesai proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar yang telah dikerjakan. Instrumen yang digunakan ialah tes formatif III. Adapun data hasil observasi pada siklus III yakni selaku berikut: Table 4.6. Nilai Tes Formatif Pada Siklus III No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 60 ? 13 80 ? 2 80 ? 14 90 ? 3 80 ? 15 80 ? 4 70 ? 16 70 ? 5 70 ? 17 80 ? 6 90 ? 18 60 ? 7 80 ? 19 80 ? 8 60 ? 20 90 ? 9 80 ? 21 80 ? 10 90 ? 22 70 ? 11 70 ? 23 80 ? 12 80 ? 24 70 ? Jumlah 910 10 2 Jumlah 930 11 1 Jumlah Skor 1840 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2400 % Skor Tercapai 76,67 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 21 Jumlah siswa yang belum tuntas : 3 Klasikal : Tuntas Tabel 4.7. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III No Uraian Hasil Siklus III 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan belajar 76,67 21 87,50 Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 76,67 dan dari 24 siswa yang telah tuntas sebanyak 21 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan mencar ilmu. Maka secara klasikal ketuntasan berguru yang sudah tercapai sebesar 87,50% (tergolong klasifikasi tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil berguru pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan siswa dalam mengerti pembelajaran berbasis inkuiri. Disamping itu kenaikan kemampuan guru dalam mengorganisir pengajaran berbasis inkuiri makin mantap. c. Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terealisasi dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses mencar ilmu mengajar dengan penerapan pengajaran berbasis inkuiri. Dari data-data yang telah diperoleh mampu duraikan sebagai berikut: 1) Selama proses berguru mengajar guru sudah melakukan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa faktor yang belum sempurna, namun persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. 2) Berdasarkan data hasil observasi diketahui bahwa siswa aktif selama proses berguru berlangsung. 3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya telah mengalami perbaikan dan kenaikan sehingga menjadi lebih baik. 4) Hasil mencar ilmu siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru sudah menerapkan pengajaran berbasis inkuiri dengan baik dan dilihat dari acara siswa serta hasil berguru siswa pelaksanaan proses mencar ilmu mengajar sudah berlangsung dengan baik. Maka tidak dibutuhkan revisi terlampau banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah berikutnya yaitu memaksimalkan dan menjaga apa yang telah ada dengan tujuan supaya pada pelaksanaan proses mencar ilmu mengajar berikutnya penerapan pengajaran berbasis inkuiri mampu memajukan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran mampu tercapai. C. Pembahasan 1. Ketuntasan Hasil mencar ilmu Siswa Melalui hasil peneilitian ini memberikan bahwa pengajaran berbasis inkuiri mempunyai imbas aktual dalam memajukan prestasasi berguru siswa. Hal ini dapat dilihat dari kian mantapnya pemahaman dan penguasaan siswa terhadap bahan yang sudah disampaikan guru selama ini (ketuntasan mencar ilmu berkembangdari sklus I, II, dan III) ialah masing-masing 62,50%, 75,00%, dan 87,50%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal sudah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh acara siswa dalam proses pengajaran berbasis inkuiri dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini memiliki pengaruh konkret kepada proses mengingat kembali materi pelajaran yang sudah diterima selama ini, yakni mampu ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami kenaikan. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh kegiatan siswa dalam proses pembelajaran IPA dengan pengajaran berbasis inkuiri yang paling mayoritas yaitu bekerja dengan menggunakan alat/media, menyimak / memperhatikan klarifikasi guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Kaprikornus dapat dikatakan bahwa kegiatan isiswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk acara guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah pengajaran berbasis inkuiri dengan baik. Hal ini tampakdari acara guru yang timbul di antaranya acara membimbing dan memperhatikan siswa dalam mengerjakan acara, menjelaskan/melatih memakai alat, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk acara di atas cukup besar. Back to Content ? BAB V PENTUP BAB V PUNUTUP A. Kesimpulan Dari hasil aktivitas pembelajaran yang sudah dilakukan selama tiga siklus, dan menurut seluruh pembahasan serta analisis yang sudah dilaksanakan mampu ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Pembelajaran dengan pengajaran berbasis inkuiri mempunyai dampak aktual dalam memajukan prestasi mencar ilmu siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan berguru siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (62,50%), siklus II (75,00%), siklus III (87,50%). 2. Penerapan pengajaran berbasis inkuiri mempunyai efek positif, yaitu mampu meningkatkan motivasi berguru siswa untuk mempelajari pelajaran IPA yang ditunjukan dengan rata-rata jawaban siswa yang menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan pengajaran berbasis inkuiri sehingga mereka menjadi termotivasi untuk berguru. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya supaya proses belajar mengajar IPA lebih efektif dan lebih menunjukkan hasil yang maksimal bagi siswa, maka disampaikan rekomendasi sebagai berikut: 1. Untuk melaksanakan pengajaran berbasis inkuiri memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus bisa menentukan atau menentukan topik yang benar-benar mampu dipraktekkan dengan pengajaran berbasis inkuiri dalam proses berguru mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan prestasi berguru siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan banyak sekali tata cara pengajaran yang tepat, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya mampu menemuan wawasan gres, menemukan konsep dan keahlian, sehingga siswa berhasil atau bisa memecahkan dilema-dilema yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil observasi ini hanya dijalankan di …………………………………………. tahun pelajaran 2004/2005. 4. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dikerjakan perbaikan-perbaikan semoga diperoleh hasil yang lebih baik. Back to Content ? DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta. Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon. Daroeso, Bambang. 1989. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Semarang: Aneka Ilmu. Hadi, Sutrisno. 1982. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi UGM. Melvin, L. Siberman. 2004. Active Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia dan Nuansa. Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nurhadi, dkk. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya Dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang (UM Press). Riduwan. 2004. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta. Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Surakhmad, Winarno. 1990. Metode Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars. Back to Content ? Dapatkan file secara lengkap berupa pengaturan, gambar, tabel dan lain-lain dalam format microsoft word (.doc) pada link dibawah ini !! Dowwload PTK Format Microsoft Word (.doc) Meningkatkan Prestasi dan Motivasi Belajar IPA Dengan Menerapkan Pengajaran Berbasis Inkuiri
Sumber https://somadrug1.blogspot.com


EmoticonEmoticon