Senin, 07 Desember 2020

Mengembangkan Prestasi Belajar Sains Melalui Gabungan Tata Cara Ceramah Dengan Tata Cara Kooperatif Versi Tps (Think Pair Share)

Berikut ini kami bagikan file PTK IPA judul  Meningkatkan Prestasi Belajar Sains Melalui Gabungan Metode Ceramah Dengan Metode Kooperatif model TPS (Think Pair Share), mirip apa bentuk Penelitian Tindakan Kelas IPA Meningkatkan Prestasi Belajar Sains Melalui Gabungan Metode Ceramah Dengan Metode Kooperatif model TPS (Think Pair Share) silahkan cek review dibawah ini : Meningkatkan Prestasi Belajar Sains Melalui Gabungan Metode Ceramah Dengan Metode Kooperatif model TPS (Think Pair Share) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia yaitu rendahnya mutu pendidikan, terutama pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha sudah dilakukan untuk menigkatkan kualitas pendidikan nasional, antara lain melalui banyak sekali pelatihan dan peningkatan mutu guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan fasilitas dan prasarana pendidikanlain, dan peningkatan mutu manajemen sekolah, namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan kenaikan yang mencukupi. Upaya kenaikan mutu pendidikan di Indonesia  tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dilaksanakan oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi asuh, erta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran. Mengajar bukan semata dilema menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan gosip ke dalam pikiran siswa. Belajar membutuhkan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif. Apa yang menimbulkan berguru aktif? Agar mencar ilmu menjadi aktif siswa harus melakukan berbagai peran. Mereka harus memakai otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit, mengasyikkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan kawasan duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud) Untuk mampu mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, menyaksikan, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu “mengerjakannya”, yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktekkan keahlian, dan menjalankan tugas yang menuntut pengetahuan yang sudah atau harus mereka dapatkan. Salah satu sistem untuk menghidupkan apa yang siswa pelajari dalam satu semester proses berguru mengajar ialah tata cara pembelajaran bagaimana menyebabkan belajar tidak terlupakan. Metode ini yakni untuk membantu siswa dalam mengingat materi pelajaran yang sudah diterima selama ini. Selain itu tata cara ini diterapkan pada akhir semester proses mencar ilmu mengajar dengan  tujuan untuk menolong siswa agar siap mengahadapi ujian semester atau cobaan final. Dengan menyadari tanda-tanda-gejala atau realita tersebut diatas, maka dalam observasi ini penulis penulis mengambil judul “Meningkatkan Prestasi Belajar Sains Melalui Gabungan Metode Ceramah Dengan Metode Kooperatif model TPS (Think Pair Share) Pada Siswa Kelas………………………………………….” B. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahnnya sebagi berikut: 1. Seberapa tinggi tingkat penguasaan bahan pelajaran Sains dengan diterapkannya adonan sistem ceramah dengan metode kooperatif model TPS  pada siswa Kelas …………………………………….. 2. Bagaimanakah imbas gabungan sistem ceramah dengan tata cara kooperatif versi TPS  dalam mengembangkan prestasi serta pomahaman materi pelajaran Sains pada siswa Kelas …………………………………………….. C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan masalah di atas, penelitian ini bermaksud untuk: 1. Ingin mengetahui seberapa jauh pengertian dan penguasaan mata pelajaran Sains sehabis diterapkannya gabungan metode ceramah dengan sistem kooperatif versi TPS  pada siswa Kelas ………………………………… 2. Mengetahui pengaruhnya adonan metode ceramah dengan tata cara kooperatif model TPS  dalam mengembangkan prestasi serta pengertian siswa terhadap materi pelajaran Sains sesudah diterapkan gabungan sistem ceramah dengan metode kooperatif model TPS  pada siswa Kelas ……………………………… D. Manfaat Penelitian Penulis menginginkan dengan hasil observasi ini dapat: 1. Memberikan berita tentang model pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran IPA atau Sains. 2. Meningkatkan motivasi dan prestasi berguru siswa pada pelajaran IPA atau Sains. 3. Mengembangkan versi pembelajaran yang tepat dengan mata pelajaran IPA atau Sains. E. Definisi Operasional Variabel Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul observasi ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut: 1. Metode ceramah adalah: Adalah sebuah cara penyampain materi pelajaran dengan komunikasi lisan. 2. Metode kooperatif ialah: Suatu pengajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja dalam kalangan-kelompok untuk memutuskan tujuan bareng 3. Motivasi belajar adalah: Merupakan daya pelopor psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan memperbesar kemampuan, pengalaman. Motivasi mendorong dan mengarah minat mencar ilmu untuk tercapai sebuah tujuan. 4. Prestasi mencar ilmu ialah: Hasil mencar ilmu yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, setelah siswa mengikuti pelajaran …………….. F. Batasan Masalah Karena keterbatasan waktu, maka diharapkan pembatasan dilema yang mencakup: 1. Penelitian ini cuma dikenakan pada siswa kelas …………………………………. 2. Penelitian ini dalaksanakan pada bulan September semester ganjil tahun pelajaran 2004/2005. 3. Materi yang disampaikan yakni pokok bahasan……………………. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Prestasi Belajar 1. Pengertian Belajar Pengertian berguru sudah banyak dikemukakan dalam kepustakaan. Yang dimaksud berguru ialah perbuatan murid dalam bidang material, formal serta fungsional pada umumnya dan bidang intelektual pada utamanya. Makara berguru merupakan hal yang pokok. Belajar ialah sebuah pergantian pada sikap dan tingkah laku yang lebih baik, namun kemungkinan mengarah pada tingkah laris yang lebih jelek. Untuk dapat disebut mencar ilmu, maka perubahan harus merupakan final dari pada kala yang cukup panjang. Berapa lama waktu itu berjalan sukar diputuskan dengan pasti, namun perubahan itu hendaklah merupakan tamat dari suatu era yang mungkin berjalan berhari-hari, berminggu-ahad, berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Belajar ialah suatu proses yang tideak dapat dilihat dengan aktual proses itu terjadi dalam diri seserorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud dengan mencar ilmu bukan tingkah laku yang nampak, namun prosesnya terjadi secara internal di dalam diri individu dalam mengusahakan mendapatkan relasi-relasi gres. 2. Pengertian Prestasi Belajar Sebelum dijelaskan pemahaman mengenai prestasi belajar, terlebih dulu akan dikemukakan tentang pengertian prestasi. Prestasi yakni hasil yang sudah diraih. Dengan demikian bahwa prestasi merupakan hasil yang sudah dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan sesuatu pekerjaan/aktivitas tertentu. Jadi prestasi yaitu hasil yang telah diraih oleh sebab itu semua individu dengan adanya belajar risikonya dapat diraih. Setiap individu berguru mengharapkan hasil yang yang sebaik mungkin. Oleh alasannya itu setiap individu harus mencar ilmu dengan sebaik-baiknya biar prestasinya berhasil dengan baik. Sedang pengertian prestasi juga ada yang mengatakan prestasi ialah kemampuan. Kemampuan di sini memiliki arti yan dimampui individu dalam mengerjakan sesuatu. 3. Pedoman Cara Belajar Untuk mendapatkan prestasi/hasil berguru yang baik harus dijalankan dengan baik dan aliran cara yang tapat. Setiap orang memiliki cara atau ajaran sendiri-sendiri dalam belajar. Pedoman/cara yang satu cocok digunakan oleh seorang siswa, namun mungkin kurang sesuai untuk anak/siswa yang lain. Hal ini disebabkan alasannya adalah mempunyai perbedaan individu dalam hal kemampuan, kecepatan dan kepekaan dalam mendapatkan bahan pelajaran. Oleh alasannya itu tidaklah ada sebuah isyarat yang niscaya yang mesti dilaksanakan oleh seorang siswa dalam melakukan aktivitas mencar ilmu. Tetapi aspek yang paling menentukan kesuksesan berguru yaitu para siswa itu sendiri. Untuk dapat mencapai hasil berguru yang sebaik mungkin mesti memiliki kebiasaan mencar ilmu yang bagus. B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar 1.  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar Adapun aspek-faktor itu, mampu dibedakan menjadi dua golongan adalah: a. Faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang kita sebut aspek individu. Yang termasuk ke dalam faktor individu antara lain aspek kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan aspek langsung. b. Faktor yang ada pada luar individu yang kita sebut dengan aspek sosial Sedangkan yang faktor sosial antara lain faktor keluarga, kondisi rumah tangga, guru, dan cara dalam mengajarnya, lingkungan dan peluang yang ada atau tersedia dan motivasi sosial. Berdasarkan faktor yang menghipnotis kegiatan belajar di atas memberikan bahwa belajar itu merupaka proses yang cukup kompleks. Artinya pelaksanaan dan kesannya sangat diputuskan oleh faktor-aspek di atas. Bagi siswa yang berada dalam aspek yang mendukung acara berguru akan dapat dilalui dengan lancar dn pada gilirannya akan mendapatkan prestasi atau hasil belajar yang bagus. Sebaliknya bagi siswa yang berada dalam kondisi mencar ilmu yang tidak menguntungkan, dalam arti tidak ditunjang atau didukung oleh faktor-faktor diatas, maka acara atau proses belajarnya akan terhambat atau menemui kesulitan. C. Hakikat IPA atau Sains IPA atau sains didefiniksan sebagai sebuah kumpulan wawasan yang tersusun secara alam. Perkembangan IPA tidak hanya ditandai dengan adanya fakta, namun juga oleh adanya tata cara ilmiah dan perilaku ilmiah. Metode ilmiah dan observasi ilmiah menekankan pada hakikat IPA atau Sains. Secara rinci hakikat IPA atau Sains berdasarkan Bridgman (dalam Lestari, 2002: 7) yaitu selaku berikut: 1. Kualitas; pada dasarnya desain-desain IPA atau Sains selalu mampu dinyatakan dalam bentuk angka-angka. 2. Observasi dan Eksperimen; ialah salah satu cara untuk mampu mengetahui rancangan-konsep IPA atau Sains secara sempurna dan mampu diuji kebenarannya. 3. Ramalan (prediksi); ialah salah satu asumsi penting dalam IPA atau Sains bahwa misteri alam raya ini mampu dimengerti dan memiliki keteraturan. Dengan perkiraan tersebut melalui pengukuran yang teliti maka banyak sekali insiden alam yang akan terjadi mampu diprediksikan secara sempurna. 4. Progresif dan komunikatif; artinya IPA atau Sains itu selalu berkembang ke arah yang lebih tepat dan inovasi-penemuan yang ada ialah kelanjutan dari inovasi sebelumnya. Proses; tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dikerjakan dengan menggunakan sistem ilmiah dalam rangkan menemukan sebuah kebernaran. 5. Universalitas; kebenaran yang didapatkan senantiasa berlaku secara umum. Dari penjelasan di atas, mampu ditarik kesimpulan bahwa hakikat IPA atau Sains ialah bagian dari IPA, dimana konsep-konsepnya diperoleh lewat suatu proses dengan memakai  metode ilmiah dan diawali dengan sikap ilmiah lalu diperoleh hasil (produk). D. Metode Ceramah 1. Pengertian Metode ceramah acap kali disebut sebagai sistem kuliah, mampu juga disebut tata cara deskripsi. Sesuai dengan namanya, berceramah dipergunakan sebagai sistem mengajar. Sedangkan berdasarkan Hasibuan dan Mudjiono (1981), tata cara ceramah yaitu cara penyampain bahan pelajaran dengan komunikasi mulut. Kaprikornus sistem ceramah adalah sistem belajar yang digunakan untuk memberikan pelajaran yang tepat dengan rumusan metode belajar mengajar. Penggunaan sistem ceramah secara terus menerus dalam proses berguru kurang tepat karena dapat menimbulkan kejenuhan pada siswa. Gambaran pengajaran dengan pendekatan ceramah adalah sebagai berikut; guru mendominasi acara mencar ilmu mengajar, definisi dan rumus diberikannya, teladan-teladan soal diberikan dan dekerjakan sendiri oleh guru, tindakan guru diikuti dengan teliti oleh siswa. 2. Kebaikan Metode Ceramah a. Dapat menamung kelas besar dan tidap siswa memiliki potensi yang sama untuk menyimak . Oleh jadinya biaya yang diperluan lebih hemat biaya. b. Bahan pelajaran mampu diberikan secara urut, pandangan baru atau rancangan mampu dijadwalkan dengan baik. c. Guru mampu menekankan hal-hal yang penting, sehingga waktu dan energi mampu dipakai sehemat mungkin. d. Isi silabus mampu dilaksanakan menurut acara, alasannya guru tidak harus menyesuaikan dengan kecepatan berguru siswa. e. Kekurangan atau tidak adanya buku pelajaran dan alat Bantu pelajaran tidak menghambat jalanya pelajaran. 3. Kelemahan Metode Ceramah a. Pelajaran berjalan membosankan siswa karena mereka tidak diberi peluang untuk memperoleh sendiri rancangan yang diajarkan. b. Siswa menjadi pasih hanay aktif menciptakan catatan saja. c. Kepadatan rancangan-rancangan yang diajarkan dapat berakibat siswa tidak bisa menguasai materi yang diajarkan. d. Pengetahuan yang diperoleh lewat ceramah lebih cepat terlupakan. e. Ceramah menjadikan system mencar ilmu siswa menjadi “mencar ilmu menghafal” dan tidak mengacu pada timbulnya pemahaman. 4. Peranan Siswa dalamMetode Ceramah Walaupun dalam metode ini, seluruh kegiatan didominasi oleh guru, siswa juga berperan dalam tata cara ceramah ialah; a. Mengadakan interpretasi terhadap informasi guru. b. Mendengarkan dan mengamati dengan baik informasi guru. c. Mengadakan asimilasi, apabila tidak ada interpertasi yang benar. d. Mengadakan pencatatan yang diharapkan 5. Peranan Guru Dalam Metode Ceramah Dalam metode ceramah, tugas utama yaitu gru. Karena pelaksanaan metode ceramah merupakan komunikasi satu arah, dalam arti guru mendominasi seluruh acara belajra mengajar. Berhasil tidaknya tata cara ceramah tergantung sebagian besar pada guru. Oleh sebab itu ada beberapa hal yang mesti diamati oleh guru. a. Satuan bahan pelajaran apa yang dihidangkan pada siswa. b. Bagaimana menghidangkan satuan bahan pelajaran tersebut. c. Alat-alat apa yang dipakai oleh guru tersebut. 6. Sepuluh Saran Untuk Mengefektifkan Pengajaran Dengan Ceramah Berceramah merupakan salah satu dari sistem pengajaran yang paling usang digunakan, tetapi apakah tata cara seperti ini memiliki tempat dalam lingkungan belajar aktif? Karema terlalu sering dipakai, sistem ceramah tidak akan mengantarkan pada pembelajaran, tetapi ada kalanya cara ini mampu efektif. Agar mampu efektif, guru harus terlebih dulu menghidupkan minat, mengoptimalkan pemahaman dan pengingatan, melibatkan siswa selama penceramahan, dan menekankan kembali apa yang telah disajikan. Berikut ialah sejumlah opsi untuk melaksanakan hal itu. a. Membangkitkan Minat - Paparkan cerita atau tayangan menarik: Sajikan anekdot yang berhubungan , cerita fiksi, kartun, atau gambar grafis yang bisa menarik perhatian siswa kepada apa yang mau anda ajaran. - Ajuan soal cerita: Ajukan soal yang nantinya akan menimbulkan sajian dalam ceramah pengajaran. - Pertanyaan penguji: Ajukan pertanyaan terhadap siswa (sekalipun mereka baru sedikit memiliki pengetahuan perihal mata pelajaran) agau mereka termotivasi untuk menyimak ceramah dalam rangka menerima jawabannya. b. Memaksimalkan Pemahaman dan Pengingatan - Headline/kepala isu: Susunlah kembali poin-poin utama dalam ceramah menjadi kata-kata kunci yang berfungsi selaku subjudul lisan atau santunan mengenang. - Contoh dan analogi: Berikan gambaran positif wacana pemikiran dalam perencanaan dan, jika memungkinkan, buatlah perbandingan antara materi dengan wawasan dan pengalaman yang siswa miliki. - Cadangan visual: Gunakan grafik lipat, transparansi, buku pegangan dan peragan yang memungkinkan siswa melihat dan mendengar apa yang guru katakan. c. Melibatkan Siswa Perceramahan - Tantangan kecil: Lakukan interupsi ceramah secara berkala dan tantanglah siswa untuk memperlihatkan acuan tentang desain-rancangan yang telah disuguhkan selama ini atau untuk menjawab pertanyaan kuis ringan. - Latihan yang memperjelas: Selama menghidangkan materi selingilah dengan aktivitas yang memperjelas hal-hal yang disampaikan. d. Memperkuat Apa yang Telah Disampaikan - Soal penerangan: Ajukan masalah atau pertanyaan untuk dipecahkan oleh siswa menurut info yang disampaikan selama pengajaran. - Tinjauan siswa: Perintahkan siswa untuk meninjau tes dari penyampaian pelajaran kepada sesama siswa, atau berilah mereka tes penilaian diri. E. Pengajaran Kooperatif Pengajaran kooperatif (Cooperatif Learning) memerlukan pendekatan pengajaran lewat penggunaan golongan kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan keadaan mencar ilmu dalam mencapai tujuan belajar (Houlobec, 2001). 1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Manusia memiliki derajat potensi, latar belakang histories, serta harapan kurun depan yang berbeda-beda. Karena adanya perbedaan, insan dapat silih asah (saling mencerdaskan). Pembelajaran kooperatif secara sadar membuat interaksi yang silih asah sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa. Manusia ialah makhluk perorangan, berbeda satu dengan sama lain. Karena sifatnya yang individual maka insan yang satu membutuhkan insan lainnya sehingga selaku konsekuensi logisnya insan harus menjadi makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan sesamanya. Karena satu sama lain saling membutuhkan maka harus ada interaksi yang silih asih (saling mencintai atau saling menyayangi). Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja membuat interaksi yang saling mengasihi antar sesama siswa. Perbedaan antarmanusia yang tidak terkelola secara baik mampu menjadikan ketersinggungan dan kesalahpahaman antarsesamanya. Agar manusia terhindar dari ketersinggungan dan kesalahpahaman maka dibutuhkan interaksi yang silih latih (saling empati). Pembelajaran kooperatif yakni pembelajaran yang secara sadar dan sengaja membuat interaksi yang silih latih untuk menyingkir dari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang mampu menimbulkan permusuhan. Dengan ringkas Abdurrahman dan Bintoro (200: 78) menyampaikan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis membuatkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih latih antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam penduduk faktual”. 2. Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah sebuah system yang di dalamnya terdapat unsur-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai komponen dalam pembelajaran kooperatif yaitu adanya: “(1) saling ketergantungan konkret; (2) interaksi tatap tampang; (3) akuntabilitas perorangan, dan (4) keahlian untuk menjalin kekerabatan antar eksklusif atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan” (Abdurrahman & Bintoro, 200:78-79) a. Saling ketergantungan kasatmata Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan situasi yang mendorong biar siswa merasa saling memerlukan.  Hubungan yang saling membutuhan inilah yang dimaksud dengan saling memberikan motivasi ntuk meraih hasil mencar ilmu yang maksimal. Saling ketergantungan tersebut dapat diraih lewat: (a) saling ketergantungan pencapaian tujuan, (b) saling ketergantungan dalam menuntaskan peran, (c) saling ketergantungan bahan atau sumber, (d) saling ketergantungan tugas, dan (e) saling ketergantungan hadiah. b. Interaksi tatap muka Interaksi tatap paras menuntut para siswa dalam kelompok mampu saling bertatap wajah sehingga mereka dapat melakukan obrolan, tidak hanya dengan guru, namun juga dengan sesama siswa. Interaksi semacam itu memungkinkan para siswa mampu saling menjadi sumber belajar sehingga sumber berguru lebih beragam. Interaksi semacam itu sangat penting alasannya adalah ada siswa yang merasa lebih gampang berguru dari sesamanya. c. Akuntabilitas individual Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudanya dalam berguru kelompok. Meskipun demikian, evaluasi ditujukan untuk mengenali penguasaan siswa kepada bahan pelajaran secara perorangan. Hasil penilaian secara individual tersebut berikutnya disampaikan oleh guru terhadap kalangan biar semua anggota kalangan mengetahui siapa anggota kelompok mengetahui siapa anggota yang memerluan pinjaman dan siapa anggota golongan yang dapat memberikan santunan. Nilai kalangan didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua anggotanya, dan karena itu tiap anggota golongan mesti menawarkan urunan demi kemajian kelompok. Penilaian golongan secara perorangan inilah yang dimaksudkan dengan akuntabilitas perorangan. d. Keterampilan menjalin korelasi antar eksklusif Dalam pembelajaran kooperatif keahlian sosial seperti tenggang rasa, perilaku sopan kepada teman, mengkritik wangsit dan bukan mengkritifk sahabat, berani mempertahankan fikiran logis, tidak mendominasi orang lain, berdikari, dan banyak sekali sifat lain yang berfaedah dalam menjalin hubungan antar langsung (interpersonal relationship) tidak cuma diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang tidak mampu menjalin kekerabatan antar eksklusif tidak cuma mendapatkan teguran dari guru tetapi juga dari sesama siswa. Menciptakan situasi belajar kooperatif bukan pekerjaan yang gampang. Untuk membuat situasi belajar tersebut dibutuhkan pengertian filosofis dan keilmuan yang cukup disertai dedikasi yang tinggi serta latihan yang cukup pula. F. Think-Pair-Share Metode ini dikembangkan oleh Frank Lyman dan mitra-kawannya dari Universitas Maryland dan mampu mengubah perkiraan bahwa tata cara resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kalangan kelas secara keseluruhan. Metode Think-Pair-Share memperlihatkan terhadap para siswa untuk berpikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain. Sebagai pola, seorang guru gres saja menyelesaikan suatu hidangan pendek atau para siswa sudah final membaca suatu peran. Selanjutnya, guru meminta kepada para siswa untuk menyadari secara lebih serius perihal apa yang sudah diterangkan oleh guru atau apa yang telah dibaca. Guru tersebut memilih tata cara Think-Pair-Share daripada tata cara Tanya jawab untuk kalangan secara keseluruhan (whole-group question and answer). Lyman dan mitra-kawannya memakai langkah-langkah sebagai berikut: a) Langah 1 – Berpikir (Thinking): Guru bertanya atau gosip yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu satu menit untuk berpikir sendiri tentang tanggapan atau berita tersebut. b) Langkah 2 – Bepasangan (Pairing): Selanjutnya guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang sudah dipikirkan. Interaksi selama kala ini mampu menghasilkan balasan bersama bila suatu pertanyaan telah diajukan atau penyampaian ide bersama kalau suatu su khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru membolehkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untu berpasangan. c) Langkah 3 – Berbagi (Sharing): Pada final ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk membuatkan atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan. Pada langkah ini akan menjadi efektif bila guru berkeliling kelas dari pasangan yang satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atu separo dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh peluang untuk melapor. G. Peran Guru dalam Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif menuntut guru untuk berperan relatif berbeda dari pembelajaran tradisional. Berbagai tugas guru dalam pembelajaran kooperatif tersebut dpat dikemukan sebagai berikut ini. 1. Merumuskan tujuan pembelajaran. Menentukan jumlah anggota dalam kalangan belajar. Jumlah anggota dalam tidap kelompok belajar dilarang terlalu besar, biasanya 2 hingga 6siswa. Ada 3 aspek yang memilih jumlah anggota tiap golongan belajar. Ketiga factor tersebut yakni: (1) taraf kemampuan siswa, (2) ketersediaan bahan, dan (3) ketersediaan waktu. Jumlah anggota golongan berguru hendaknya kecil supaya tiap siswa aktif menjalin kerjasama menuntaskan peran. Ada 4 pertanyaan yang hendaknya dijawab oleh guru saat akan menempatkan siswa dalam kalangan. Keempat pertanyaan tersebut dapat dikemukakan selaku berikut: G. Pengelompokkan siswa secara homogen atau heterogen? Pengelompokkan siswa hendaknya heterogen. Keheterogenan kelompok mencakup jenis kelamin, ras, agama, (bila mungkin), tingkat kesanggupan (tinggi, sedang, rendah), dan sebagainya. H. Bagimana menempatkan siswa dalam golongan? Ada dua jenis kelompok mencar ilmu kooperatif, adalah (1) yang berorientasi bukan pada peran (non-task-orientied), dan (2) yang berorientasi pada peran (task oriented). Kelompok mencar ilmu kooperatif yang berorientasi bukan pada tugas tidak menuntut adanya pembagian peran untuk tiap anggota kalangan. Kelompok belajar semacam ini terlihat mirip pada saat siswa melakukan soal-soal matematika berbentuk prosedur solusi dan mencocokkan pendapatnya. Kelompok belajar yang berorientasi pada tugas menekankan adanya pembagian tugas yang jelas bagi semua anggota golongan. Kelompok belajar seperti ini tampak seperti pada dikala siswa melakukan kunjungan ke kebun binatang sehinga mesti disusun oleh panitia untuk menentukan siapa yang menjadi ketua, sekretaris, bendahara, seksi transportasi, seksi konsumsi, dan sebagainya. Siswa yang baru mengenal berguru kooperatif mampu ditempatkan dalam kalangan mencar ilmu yang berorientasi pada tugas, dari jenis tugas yang sederhana sampai yang kompleks. I. Siswa bebas menentukan sahabat atau diputuskan oleh guru. Kebebasan memilih teman sering mengakibatkan golongan mencar ilmu menjadi homogen sehingga tujuan belajar kooperatif tidak tercapai. Anggota tiap kalangan mencar ilmu hendaknya diputuskan secara acak oleh guru. Ada 3 teknik untuk menentukan anggota golongan secara acak yang dapat dipakai oleh guru. Ketiga tekniktersebu mampu dikemukakan selaku berikut. 1) Berdasarkan metode sosiometri. Melalui metode sosiometri guru mampu menentukan siswa yang tergolong disukai oelh banyak teman (bintang kelas) hingga yang paling tidak digemari atau tidak mempunyai teman (terisoalsi). Berdasarkan sistem sosiometri tersebut guru menyusun kelompok-golongan mencar ilmu yang di dalam tiap golongan ada siswa yang termasuk banyak sahabat, yang termasuk biasa, dan yang terisoalsi. 2) Berdasarkan kesamaan nomor. Jika jumlah siswa dalam kelas terdiri atas 30 siswa dan guru ingin membentuk 10 kalangan belajar yang dari 1 sampai 10. berikutnya, para siswa yang bernomorsama dikelompokkan sehingga terbentuklah 10 golongan siswa dengan masing-masing beranggotakan 3 orang siswa yang mempunyai karakteristik heterogen. 3) Menggunakan teknik acak berstrata. Para siswa dalam kelas lebih dahulu dikelompokkan secara homogen atas dasar jenis kelamin dan atas dasar kemampuannya (tinggi, sedang, rendah), dan sebagainya. Setelah itu, secara acak siswa diambil dari golongan homogen tersebut dan dimasukkan ke dalam sejumlah kalangan-kalangan mencar ilmu yang heterogen. 2. Menetukan daerah duduk siswa. Tempat duduk siswa hendaknya disusun supaya tiap kalangan dapat saling bertatap paras tetapi cukup terpisah antara kelompok yang satu dengan kalangan lainnya. Susunan kawasan duduk dapat dalam bentuk lingkaran atau berhadap-hadapan. 3. Merancang materi untuk memajukan saling ketergantungan konkret. Cara menyusun bahan bimbing dan penggunaannya dalam suatu acara pembelajaran dpat menetukan tidak cuma efektivitas pencapaian tujuan belajar siswa. Bahan didik hendaknya dibagikan kepada semua siswa supaya mereka dapat berpartisipasi dalam pencapaian tujaun pembelajaran yang telah ditetapkan. Jika kelompok berguru sudah mempunyai cukup pengalaman, guru tidak perlu membagikan bahan didik dengan berbagai isyarat khusus. Jika golongan berguru belum banyak pengalaman atau masih baru, guru perlu memberi tahu para siswa bahwa mereka harus bekerja sama, bukan melakukan pekerjaan sendiri-sendiri. Ada 3 macam cara untuk memajukan saling ketergantungan nyata. Ketiga macam cara tersebut dapat dikemukakan selaku berikut. a. Saling ketergantungan bahan. Tiap kalangan cuma diberi satu bahan didik dan kelompok harus melakukan pekerjaan sama untuk mempelajarinyal. b. Saling ketergantungan informasi. Tiap anggota golongan diberi bahan didik yang berlainan untuk selanjutnya disatukan untuk disintesiskan. Bahan ajar juga mampu disajikan dalam bentuk “Jigsaw puzzle” shingga dengan demikian tiap siswa memiliki bab dari bahan yang dibutuhkan untuk melengkapi atau menuntaskan tugas. c. Saling ketergantungan menghadapi lawan dari luar. Bahan ajar disusun dalam suatu bentuk pertarungan antar golongan yang memiliki kekuatan keseimbangan selaku dasar untuk meningkatkan saling ketergantungan aktual antar anggota kalangan. Keseimbangan kekuatan antar golongan pelu diperhatikan Karena pertanding antar kalangan yang mempunyai kekuatan sepadan atau memiliki peluang untuk kalah atau menang yang sama dapat mengembangkan motivasi mencar ilmu. 4. Menentukan tugas siswa untuk menunjang saling ketergantungan konkret. Saling ketergantungan konkret mampu diciptakan melalui pembagian tugas terhadap tiap anggota golongan dan mereka bekraja untuk saling melengkapi. Dalam mata pelajara IPA contohnya, seorang anggota kalangan diberi peran selaku peneliti\, yaig lainnya seagai penyimpul, yang yang lain lagi selaku penulis, yang lainya  lagi selaku pemberi semangat, dan ada pula yang menjadi pengawas terjalinya kolaborasi. Penugasan untuk memerankan sebuah fungsi semacam itu ialah tata cara yang efektif untuk melatih keahlian menjalin kolaborasi. 5. Menjelaskan peran akademik. Ada beberapa faktor yang perlu disadari oleh para guru dalam menjelaskan peran akademik terhadap para siswa. Beberapa aspek tersebut dpat dikemukakan sebagai berikut. a. Menyusun peran sehingga siswa menjadi jelas mengenai peran tersebut. Kejelasan tugas sungguh penting bagi para siswa alasannya adalah dapat menghindarkan mereka dari freustasi atau kebingungan. Dlaam pembelajaran kooperatif siswa yang tidak mampu mengerti tugasnya mampu bertanya kepada kelompoknya sebelum bertanya terhadap guru. b. Menjelaskan tujuan belajar dan mengaitkannya dengan pengalaman siswa di era lampau. c. Menjelaskan berbagai desain atau pemahaman atau istilah, mekanisme yang mesti disertai atau pengertian acuan terhadap para siswa. d. Mengajukan aneka macam pertanyaak khusus untuk mengetahui pemahaman para siswa perihal tugas mereka. 6. Menjelaskan terhadap siswa perihal tujuan dan kewajiban melakukan pekerjaan sama. Menjelaskan tujaun dan kewajiban bekerja sama terhadap para siswa dilaksanakan dengan contoh sebagai berikut. a. Meminta kepada golongan untuk menghasilkan sebuah karya atau produk tertentu. Jika kary kelompok berupa laporan, tiap anggota golongan harus menandatangani laporan tersebut sebagai tandean bahwa dia setuju dengan isi lapoian golongan dan dpat menjelaskan argumentasi isi laporan tersebut. b. Menyediakan hadiah bagi golongan. Pemberian hadiah ialah salah satu cara untuk mendorong golongan menjalin kerja sama sehingga terjalin pula rasa kebersamaan antar anggota kelompok. Semua anggota kelompok mesti saling membantu supaya masing-masing memperoleh skor hasil berguru yang optiml sebab keberhasilan kalangan ditentukan oleh keberhasilan tiap anggota. 7. Menyusun akuntabilitas individual. Suatu golongan belajar tidak mampu dibilang benar-benar kooperatif jikalau memperbolehkan adanya anggota kelompk yang melaksanakan seluruh pekerjan. Suatu kalangan berguru  juga tidak dapat dibilang benar-benr kooperatif jikalau memperbolehkn adanya anggota yang tidak melaksanakan apa pun demi kelompok. Untuk menjamin semoga seluruh anggota kelompok betul-betul menjalin kerja sama dan semoga seluruh anggota golongan betul-betul menjalin kolaborasi dan supaya kalangan mengenali adanya anggota kelompok yang memerlukan pemberian atau dorongan, guru hrus seirng melaksanakan pengukuran untuk mengenali taraf penguasaan tiap siswa terhadap bahan pelajaran yang sedang dipelajari. 8. Menyusun kerja sama antar kalangan. Hasil kasatmata yang didapatkan dalam suatu kelompok belajar kooperatif mampu diperluas ke seluruh kelas dengan membuat kolaborasi antar kalangan. Nilai embel-embel mampu diberikan bila seluruh siswa di dalam kelas menjangkau kriteria kualitas yang tinggi. Jika sebuah kelomok telah menuntaskan pekerjaannya dengan baik, para anggotanya mampu diminta untuk membantu golongan-kelompok lain yang belum final. Upaya semacam ini memungkinkan terciptanya situasi kehidupan kelas yang sehat, yang memungkinkan semua peluangsiswa bekembang optimal dan terintegrasi. 9. Menjelaskan tolok ukur kesuksesan. Penilaian dalam pembelajarankooperatif bertolak dari evaluasi contoh tolok ukur (criterion referenced). Pada permulaan acara belajar guruhendaknya menunjukan secara terperinci kepada siswa mengenai bagaimana pekerjaan mereka akan dinilai. 10. Menjelaskan sikap siswa yang dibutuhkan. Perkataan kolaborasi atau bantu-membantu sereing mempunyai konotasi dan penggunaan yang beragam. Oleh sebab itu, guru perlu mendifinisikan perkatann kerja sma tersebut secara operasional dalam bentuk berbagai sikap tersebut antara lain dpat dikemukakan dengan kata-kata seperti “Tetaplah berada dalam kelompokmu”, “Berbicaralah secara perlahan-lahan”, Berbicaralah berdasarkan giliran,” dan sebagainya. Jika golongan mulai berfungsi secara efektif, sikap yang diharapkan dapat meliputi hal-hal selaku berikut. a. Tiap anggota golongan menjelaskan bagaimana mendapatkan balasan. b. Meminta kepada tiap anggota golongan untuk mengaitkan pelajaran gres dengan yang sudah dipelajari sebelumnya. c. Memeriksa untuk meyakinkan bahwa semua anggota kalangan mengetahui materi yang dipelajari dan menyetujui jawaban-jawabannya. d. Mendorong semua anggota kelompok supaya berpartisipasi dalam menyhelesaikan peran. e. Memperhatikan dengan benar-benar perihal apa yang dikatakan oleh anggota lain. f. Jangan mengganti asumsi sebab berlainan dari anggapan anggota lain tanpa klarifikasi yang logis. g. Memberikan kritik kepada ide, bukan kepada pribadi. 11. Memantau perilaku siswa. Setelah semua kalangan mulai bekerja, guru harus memakai sebagian besar waktunya untuk mengawasi acara siswa. Tujuan pemantauan, guru mesti menerangkan pelajaran, mengulang mekanisme atau strategi untuk menyelesaikan peran, menjawab pertanyaa, dan mengajarkan keterampilan menuntaskan peran bila perlu. 12. Memberikan santunan terhadap siswa dalam menyelesaian peran. Pada dikala melakukan pemantauan, guru mesti menjelaskan pelajaran, mengulang mekanisme atau strategi untuk menyelesaikan peran, menjawab pertanyaa, dan mengajarkan keterampilan menuntaskan tugas kalau perlu. 13. Melakukan intervensi untuk mengajarkan kemampuan bekerja sama. Pada ketika memantau kelompok-kalangan yang sedang berguru, guru kadang kala mendapatkan siswa yang tidak mempunyai keahlian untuk menjalin kerja sama yang cukup dan adanya kalangan yang mempunyai problem dalam menjalin kolaborasi. Dalam kondisi semacam itu, guru perlu memberikan pesan tersirat semoga siswa mampu melakukan pekerjaan efektif. 14. Menutup pelajaran. Pada dikala pelajara selsai, guruperlu meringkas pokok-pokok pelajaran, meminta terhadap siswa untuk mengemukakan inspirasi atau acuan, dan menjawab pertanyaan dan hsil mencar ilmu mereka. 15. Menilai mutu pekerjaan atau hasil berguru siswa. Guru menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar para siswa menurut evaluasi pola tolok ukur. Para anggota golongan hendaknya juga diminta untuk memperlihatkan umpan balik perihal kualitas pekerjaan dan hasil berguru mereka. 16. Menilai kualitas kolaborasi antar anggot kelompok. Meskipun waktu mencar ilmu di kelas terbatas, dibutuhkan waktu untuk berdiskusi dengan para siwa untuk membahas mutu kerja sama antar anggota kalangan pada hari itu. Pembicaraan dengan para sisaw dijalankan untuk mengetahui apa yang sudah dijalankan dengna baik dan apa yang masih perlu ditingkatkan pada hari selanjutnya. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini ialah penelitian langkah-langkah (action research), karena penelitian dijalankan untuk memecahkan problem pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, karena menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran dipraktekkan dan bagaimana hasil yang dikehendaki dapat dicapai. Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti, 1997; 8) mengelompokkan penelitian tindakan menjadi empat macam ialah (a) guru bertindak sebagai peneliti, (b) observasi tindakan kolaboratif, (c) Simultan terintegratif, dan (d) manajemen social ekperimental. Dalam observasi tindakan ini memakai bentuk guru sebagai peneliti, penanggung jawab sarat observasi langkah-langkah yakni praktisi (guru). Tujuan utapajm dari penelitian langkah-langkah ini yaitu mengembangkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara penuh terlibat dalam observasi mulai dari penyusunan rencana, langkah-langkah, pengamatan dan refleksi. Dalam observasi ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun, kedatangan peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan. A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat observasi yaitu daerah yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk mendapatkan data yang diharapkan. Penelitian ini bertempat di……………………………………………... 2. Waktu Penelitian Waktu observasi yaitu waktu berlangsungnya observasi atau ketika penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilakukan pada bulan September semester gasal tahun pelajaran 2004/2005. 3. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas ……………………………………… tahun pelajaran 2004/2005 pada pokok bahasan cirri-ciri makhluk hidup dan lingkungan hidupnya. B. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK yakni sebuah bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku langkah-langkah yang dijalankan untuk memajukan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam  melakukan peran, memperdalam pengertian terhadap langkah-langkah-langkah-langkah yang dilaksanakan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dijalankan (dalam Mukhlis,      2003: 3). Sedangkah berdasarkan Mukhlis (2003: 5) PTK yakni suatu bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilaksanakan. Adapun tujuan utama dari PTK adalah untuk memperbaiki/meningkatkan pratek pembelajaran secara berkelanjutan, sedangkan tujuan penyertaannya yakni menumbuhkan budaya meneliti di kelompok guru (Mukhlis, 2003: 5). Sesuai dengan jenis observasi yang dipilih, yaitu observasi tindakan, maka observasi ini memakai model observasi langkah-langkah dari Kemmis dan Taggart  (dalam Sugiarti, 1997: 6), ialah berupa spiral dari siklus yang satu ke siklus yang selanjutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (langkah-langkah), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya yaitu perncanaan yang telah direvisi, tindakan, observasi, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilaksanakan langkah-langkah pendahuluan yang berupa identifikasi problem. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas mampu dilihat pada gambar berikut. Gambar 3.1 Alur PTK Penjelasan alur di atas adalah: 1. Rancangan/planning permulaan, sebelum menyelenggarakan observasi peneliti menyusun rumusan problem, tujuan dan menciptakan planning langkah-langkah, tergolong di dalamnya instrumen observasi dan perangkat pembelajaran. 2. Kegiatan dan observasi, meliputi langkah-langkah yang dikerjakan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman rancangan siswa serta memperhatikan hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran  versi campuran ceramh dan thinks pair share (TPS). 3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan memikirkan hasil atau pengaruh dari langkah-langkah yang dilaksanakan berdasarkan lembar observasi yang diisi oleh pengamat. 4. Rancangan/planning yang direvisi, menurut hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang serupa (alur aktivitas yang serupa) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di final masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki metode pengajaran yang sudah dilaksanakan. C. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam observasi ini berisikan: 1. Silabus Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan ihwal acara pembelajaran pengelolahan kelas, serta evaluasi hasil mencar ilmu. 2. Rencana Pelajaran (RP) Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang dipakai selaku aliran guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil berguru, tujuan pembelajaran khusus, dan aktivitas mencar ilmu mengajar. 3. Tes formatif Tes ini disusun menurut tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pengertian rancangan Sains pada pokok bahasan mengetahui hakekat bangsa dan negara. Tes formatif ini diberikan setiap tamat putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan guru (objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 45 soal yang telah diujicoba, lalu penulis menyelenggarakan analisis butir soal tes yang telah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal. Analisis ini dipakai untuk menentukan soal yang baik dan memenuhi syarat digunakan untuk mengambil data. Langkah-langkah analisi butir soal adalah sebagai berikut: a. Validitas Tes Validitas butir soal atau validitas item dipakai untuk mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga mampu ditentukan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tingkat kevalidan ini dapat dijumlah dengan korelasi Product Moment:   (Suharsimi Arikunto, 2001: 72) Dengan: rxy : Koefisien kekerabatan product moment N : Jumlah peserta tes ΣY : Jumlah skor total ΣX : Jumlah skor butir soal ΣX2 : Jumlah kuadrat skor butir soal ΣXY : Jumlah hasil kali skor butir soal b. Reliabilitas Reliabilitas butir soal dalam penelitian ini menggunakan rumus belah dua selaku berikut:   (Suharsimi Arikunto, 20001: 93) Dengan: r11 : Koefisien reliabilitas yang telah diadaptasi r1/21/2 : Korelasi antara skor-skor setiap bagian tes Kriteria reliabilitas tes jikalau harga r11 dari perhitungan lebih besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliable. c. Taraf Kesukaran Bilangan yang memberikan susah dan gampangnya sebuah soal ialah indeks kesukaran. Rumus yang dipakai untuk memilih taraf kesukaran yaitu:   (Suharsimi Arikunto, 2001: 208) Dengan: P : Indeks kesukaran B : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar Js : Jumlah seluruh siswa peserta tes        Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran soal yakni selaku berikut: - Soal dengan P = 0,000 hingga 0,300 yakni sulit - Soal dengan P = 0,301 hingga 0,700 yakni sedang - Soal dengan P = 0,701 sampai 1,000 ialah gampang d. Daya Pembeda Daya pembeda soal ialah kemampuan sebuah soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menawarkan besarnya daya pembeda desebut indeks diskriminasi. Rumus yang dipakai untuk menghitung indeks diskriminasi ialah selaku berikut:   (Suharsimi Arikunto, 2001: 211) Dimana: D : Indeks diskriminasi BA : Banyak peserta kelompok atas yang menjawab dengan benar BB : Banyak akseptor kalangan bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah akseptor kalangan atas JB : Jumlah akseptor kelompok bawah    Proporsi akseptor golongan atas yang menjawab benar.    Proporsi peserta golongan bawah yang menjawab benar Kriteria yang digunakan untuk memilih daya pembeda butir soal sebagai berikut: - Soal dengan D = 0,000 hingga 0,200 yakni buruk - Soal dengan D = 0,201 sampai 0,400 ialah cukup - Soal dengan D = 0,401 sampai 0,700 yakni baik - Soal dengan D = 0,701 sampai 1,000 yakni sangat bagus D. Metode Pengumpulan Data Data-data yang diharapkan dalam observasi ini diperoleh lewat observasi pengolahan belajar aktif, dan tes formatif. E. Teknik Analisis Data Untuk mengenali keefektivan suatu sistem dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan evaluasi data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yakni sebuah tata cara penelitian yang bersifat menggambarkan realita atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengenali prestasi berguru yang diraih siswa juga untuk mendapatkan respon siswa kepada aktivitas pembelajaran serta acara siswa selama proses pembelajaran. Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase kesuksesan siswa sesudah proses mencar ilmu mengajar setiap putarannya dilaksanakan dengan cara menawarkan evaluasi berbentuksoal tes tertulis pada setiap selesai putaran. Analisis ini dihitung dengan memakai statistic sederhana ialah: 1. Untuk menganggap ulangan atau tes formatif Peneliti melaksanakan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang berikutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif mampu dirumuskan:   Dengan :    = Nilai rata-rata    Î£ X = Jumlah semua nilai siswa    Î£ N = Jumlah siswa 2. Untuk ketuntasan berguru Ada dua klasifikasi ketuntasan mencar ilmu yaitu secara individual dan secara klasikal. Berdasarkan petunju pelaksanaan mencar ilmu mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yakni seorang siswa telah tuntas mencar ilmu kalau telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas mencar ilmu bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah meraih daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan berguru digunakan rumus selaku berikut: BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data observasi yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal, data pengamatan berupa observasi pengelolaan belajar aktif dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada akhir pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap siklus. Data hasil uji coba item butir soal digunakan untuk mendapatkan tes yang benar-benarmewakili apa yang dikehendaki. Data ini berikutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. Data lembar pengamatan diambil dari dua observasi adalah data observasi pengelolaan berguru aktif yang dipakai untuk mengetahui pengaruh penerapan adonan tata cara ceramah dengan metode kooperatif model TPS  dalam memajukan prestasi berguru siswa dan data pengamatan aktivitas siswa dan guru. Data tes formatif untuk mengenali kenaikan prestasi mencar ilmu siswa sehabis diterapkan gabungan tata cara ceramah dengan tata cara kooperatif model TPS . A. Analisis Item Butir Soal Sebelum melakukan pengambilan data melalui instrument observasi berupa tes dan mendapatkan tes yang bagus, maka data tes tersebut diuji dan dianalisis. Uji coba dilakukan pada siswa di luar sasaran penelitian. Analisis tes yang dikerjakan meliputi: 1. Validitas Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes sehingga mampu digunakan selaku instrument dalam penelitian ini. Dari perkiraan 48 soal diperoleh 18 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Valid Soal Tidak Valid 1, 4, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 25, 27, 28, 29, 30, 32, 33, 36, 37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45 2, 3, 5, 6, 8, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 31, 34, 35, 40, 46, 47, 48 2. Reliabilitas Soal-soal yang telah menyanggupi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 554. Harga ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 24) dengan r (95%) = 0,404. Dengan demikian soal-soal tes yang dipakai sudah memenuhi syarat reliabilitas. 3. Taraf Kesukaran (P) Taraf kesukaran dipakai untuk mengetahui tingkat kesukaran soal. Hasil analisis menunjukkan dari 45 soal yang diuji terdapat: - 20 soal mudah - 15 soal sedang - 10 soal susah 4. Daya Pembeda Analisis daya pembeda dijalankan untuk mengenali kesanggupan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkteriteria jelek sebanyak 18 soal, berkriteria cukup 20 soal, berkriteria baik 10 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang dipakai sudah memenuhi syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. B. Analisis Data Penelitian Persiklus 1. Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang berisikan planning pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan mencar ilmu mengajar untuk siklus I dikerjakan pada tanggal 11 September 2004 di Kelas ……. dengan jumlah siswa 24 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada planning pelajaran yang sudah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilakukan bersama-sama dengan pelaksaaan mencar ilmu mengajar Pada final proses mencar ilmu mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang sudah dikerjakan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I yakni sebagai berikut:                     Table 4.2. Nilai Tes Formatif Pada Siklus I No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 80 √ 13 70 √ 2 50 √ 14 60 √ 3 80 √ 15 80 √ 4 50 √ 16 80 √ 5 60 √ 17 60 √ 6 80 √ 18 80 √ 7 70 √ 19 70 √ 8 60 √ 20 70 √ 9 80 √ 21 60 √ 10 80 √ 22 80 √ 11 70 √ 23 70 √ 12 60 √ 24 60 √ Jumlah 820 8 4 Jumlah 840 8 4 Jumlah Skor 1660 Jumlah Skor Mask. Ideal 2400 % Skor Tercapai 69,17 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 16 Jumlah siswa yang belum tuntas : 8 Klasikal : Belum tuntas                Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I No Uraian Hasil Siklus I 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan mencar ilmu 69,17 16 66,67  Dari tabel di atas mampu diterangkan bahwa dengan menerapkan campuran metode ceramah dengan metode kooperatif versi TPS  diperoleh nilai rata-rata prestasi berguru siswa yakni 69,17 dan ketuntasan belajar mencapai 66,67% atau ada 16 siswa  dari 24 siswa telah tuntas mencar ilmu. Hasil tersebut menawarkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, alasannya adalah siswa yang memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 66,67% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang diinginkan adalah sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih banyak ajaib dengan motode pembelajaran yang gres dipraktekkan. 2. Siklus II a. Tahap perencanaan Pada tahap inipeneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang berisikan planning pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap acara dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan mencar ilmu mengajar untuk siklus II dilakukan pada tanggal 18 September 2004 di Kelas ……….. dengan jumlah siswa 24 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses mencar ilmu mengajar mengacu pada planning pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalah atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilakukan serentak dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada tamat proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses berguru mengajar yang telah dikerjakan. Instrumen yang dipakai yakni tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II yakni selaku berikut.                     Table 4.4. Nilai Tes Formatif Pada Siklus II No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 70 √ 13 70 √ 2 80 √ 14 80 √ 3 60 √ 15 90 √ 4 50 √ 16 50 √ 5 70 √ 17 70 √ 6 80 √ 18 70 √ 7 70 √ 19 80 √ 8 60 √ 20 80 √ 9 50 √ 21 80 √ 10 70 √ 22 60 √ 11 70 √ 23 80 √ 12 80 √ 24 80 √ Jumlah 810 8 4 Jumlah 890 10 2 Jumlah Skor 1700 Jumlah Skor Mask. Ideal 2400 % Skor Tercapai 70,83 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 16 Jumlah siswa yang belum tuntas : 6 Klasikal : Belum tuntas                               Tabel 4.5. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II No Uraian Hasil Siklus II 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan mencar ilmu 70,83 18 75,00 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi berguru siswa adalah 70,83 dan ketuntasan berguru meraih 75,00% atau ada 18 siswa dari 24 siswa telah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal sudah mengalami kenaikan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena siswa sudah mulai erat sistem pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Disamping itu kemampuan guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar makin mantap sehingga jadinya pun prestasi siswa semakin meningkat. 3. Siklus III a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap aktivitas dan pengamatan Pelaksanaan acara berguru mengajar untuk siklus III dijalankan pada tanggal 25 September 2004 di Kelas ……….. dengan jumlah siswa 24 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses mencar ilmu mengajar mengacu pada planning pelajaran dengan mengamati revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dikerjakan berbarengan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada tamat proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses berguru mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III yakni selaku berikut: Table 4.6. Nilai Tes Formatif Pada Siklus III No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 60 √ 13 80 √ 2 80 √ 14 90 √ 3 80 √ 15 80 √ 4 70 √ 16 70 √ 5 70 √ 17 80 √ 6 90 √ 18 60 √ 7 80 √ 19 80 √ 8 60 √ 20 90 √ 9 80 √ 21 80 √ 10 90 √ 22 70 √ 11 70 √ 23 80 √ 12 80 √ 24 70 √ Jumlah 910 10 2 Jumlah 930 11 1 Jumlah Skor 1840 Jumlah Skor Mask. Ideal 2400 % Skor Tercapai 76,67 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 21 Jumlah siswa yang belum tuntas : 3 Klasikal : Tuntas                                 Tabel 4.7. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III No Uraian Hasil Siklus III 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan berguru 76,67 21 87,50 Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 76,67 dan dari 24 siswa yang sudah tuntas sebanyak 21 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan mencar ilmu yang sudah tercapai sebesar 87,50% (termasuk klasifikasi tuntas).  Hasil pada siklus III ini mengalami kenaikan lebih baik dari siklus II. Adanya kenaikan hasil berguru pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya kenaikan kemampuan siswa dalam mempelajari materi pelajaran yang telah dipraktekkan selama ini, adanya koordinasi antar siswa ialah siswa yang lebih mampu mengajari temannya yang kurang mampu dalam kelompoknya. Juga kesanggupan guru dalam mengarahkan siswa dalam proses belajar mengajar ini kian baik dalam mengarahkan siswa.. c. Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang sudah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses berguru mengajar dengan penerapan adonan metode ceramah dengan metode kooperatif model TPS . Dari data-data yang telah diperoleh mampu duraikan selaku berikut: 1. Selama proses belajar mengajar guru telah melakukan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa faktor yang belum sempurna, namun persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. 2. Berdasarkan data hasil observasi dikenali bahwa siswa aktif selama proses berguru berlangsung. 3. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya telah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. 4. Hasil berguru siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan berguru aktif dengan baik dan dilihat dari kegiatan siswa serta hasil mencar ilmu siswa pelaksanaan proses berguru mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlampau banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah berikutnya yakni mengoptimalkan dan mempertahankan apa yang sudah ada dengan tujuan biar pada pelaksanaan proses mencar ilmu mengajar selanjutnya penerapan mencar ilmu aktif mampu memajukan proses mencar ilmu mengajar sehingga tujuan pembelajaran mampu tercapai. C. Pembahasan 1. Ketuntasan Hasil mencar ilmu Siswa Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa campuran metode ceramah dengan tata cara kooperatif versi TPS  mempunyai pengaruh aktual dalam memajukan daya ingat siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pengertian dan penguasaan siswa kepada bahan yang telah disampaikan guru selama ini (ketuntasan belajar berkembangdari sklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 66,67%, 75,00%, dan 87,50%. Pada siklus III ketuntasan mencar ilmu siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses adonan sistem ceramah dengan tata cara kooperatif model TPS  dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berpengaruh aktual kepada proses mengenang kembali bahan pelajaran yang telah diterima selama ini, adalah mampu ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh acara siswa dalam proses pembelajaran Sains dengan adonan metode ceramah dengan sistem kooperatif model TPS  yang paling dominan adalah melakukan pekerjaan dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/mengamati penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi mampu dikatakan bahwa acara siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk kegiatan guru selama pembelajaran sudah melaksanakan langkah-langkah mencar ilmu aktifdengan baik. Hal ini terlihat dari kegiatan guru yang muncul di antaranya acara membimbing dan mengamati siswa dalam melaksanakan acara, menjelaskan, memberi umpan balik/penilaian/tanya jawab dimana prosentase untuk kegiatan di atas cukup besar. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil acara pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan menurut seluruh pembahasan serta analisis yang sudah dilakukan dapat ditarik kesimpulan selaku berikut: 1. Pembelajaran dengan gabungan tata cara ceramah dengan tata cara kooperatif versi TPS  mempunyai imbas kasatmata dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan berguru siswa dalam setiap siklus, ialah siklus I (66,67%), siklus II (75,00%), siklus III (87,50%). 2. Penerapan gabungan tata cara ceramah dengan tata cara kooperatif model TPS  mempunyai imbas faktual, ialah dapat memajukan motivasi berguru siswa untuk mempelajari bahan pelajaran yang telah diterima selama ini yang ditunjukan dengan rata-rata jawaban siswa yang menyatakan bahwa siswa bergairah dengan adonan metode ceramah dengan tata cara kooperatif model TPS  sehingga mereka menjadi termotivasi untuk berguru. 3. Gabungan sistem ceramah dengan tata cara kooperatif versi TPS  memiliki dampak konkret terhadap peningkatan prestasi berguru siswa, dimana siswa yang lebih bisa dalam sebuah kelompok akan mengajari temanya yang kurang mampu dalam kelompoknya. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya semoga proses berguru mengajar Sains lebih efektif dan lebih menunjukkan hasil yang maksimal bagi siswa, makan disampaikan rekomendasi selaku berikut: 1. Untuk melaksanakan berguru aktif memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mempu memilih atau menentukan topik yang benar-benar mampu dipraktekkan dengan campuran metode ceramah dengan tata cara kooperatif model TPS  dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan prestasi mencar ilmu siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan banyak sekali sistem pengajaran yang tepat, walau dalam taraf yang sederhana,  dimana siswa nantinya mampu menemuan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau bisa memecahkan persoalan-problem yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, sebab hasil penelitian ini cuma dijalankan di ………………………………………………………. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon. Daroeso, Bambang. 1989. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Semarang: Aneka Ilmu. Dayan, Anto. 1972. Pengantar Metode Statistik Deskriptif, tt. Lembaga Penelitian Pendidian dan Penerangan Ekonomi. Hadi, Sutrisno. 198. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi UGM. Melvin, L. Siberman. 2004. Aktif Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia dan Nuansa. Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Riduwan. 2002. Belajar Praktis Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta. Sukmadinata, Nana Syaodih. 2002. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Surakhmad, Winarno. 1990. Metode Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars. Dapatkan file secara lengkap berbentukpengaturan, gambar, tabel dan lain-lain dalam format microsoft word (.doc) pada link dibawah ini !! Dowwload PTK Format Microsoft Word (.doc) Meningkatkan Prestasi Belajar Sains Melalui Gabungan Metode Ceramah Dengan Metode Kooperatif model TPS (Think Pair Share)
Sumber https://somadrug1.blogspot.com


EmoticonEmoticon