Minggu, 06 Desember 2020

Penerapan Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks Dalam Membantu Penguasaan Materi Pelajaran Sains

Berikut ini kami bagikan File Penelitian Tindakan kelas PENERAPAN CARA BELAJAR AKTIF MODEL PENCOCOKAN KARTU INDEKS DALAM MEMBANTU PENGUASAAN MATERI PELAJARAN SAINS PADA SISWA KELAS ……………………. ………………………………………………….. TAHUN 2003/2004 KARYA ILMIAH OLEH ……………………………….. NIP: …………………………… DINAS PENDIDIKAN ………………………………. …………………………………………………… HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Setelah membaca dan mencermati karya ilmiah yang merupakan ulasan hasil observasi yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan ………..…………………………………………… hasil karya dari: Nama : ……………………. NIP : …………………… Unit Kerja : ……………………………………………. Judul : Penerapan Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks dalam Membantu Penguasaaan Materi Pelajaran Sains Pada Siswa Kelas ……………………………………..Tahun Pelajaran 2003/2004. Menyetujui dan mengesahkan untuk diajukan menerima Penetapan Angka Kredit Kenaikan Pangkat dalam jabatan fungsional guru. Mengetahui Ketua PD PGRI II ……………………………. …………………….. ……………………………. ………………………………. ……………………….. NPA: ……………… NIP: …………………. HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Karya Ilmiah ini diajukan selaku syarat untuk memenuhi penetapan angka kredit kenaikan pangkat dalam jabatan fungsional guru. Karya ilmiah ini tidak dipublikasikan namun telah disetujui dan disahkan untuk didokumentasikan di perpustakaan ………………………………………. Pada Hari : …………………… Tanggal : …………………… Perpustakawan Kepala ………………………….. …………………………… ………………. …………………. ……………………. ………………… NIP:…………….. NIP: ………………. KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, cuma dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis mampu menyelesaikan peran penyusunan karya ilmiah dengan judul "Penerapan Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks dalam Membantu Penguasaaan Materi Pelajaran Sains Pada Siswa Kelas …………………………………. Tahun Pelajaran 2003/2004", penulisan karya ilmiah ini kami susun untuk digunakan dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan dapat dipakai sebagai perbandingan dalam pengerjaan karya ilmiah bagi sobat sejawat juga anak didik pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pelatihan karya ilmiah cukup umur. Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan ikhlas dan sedalam-dalamnya terhadap: 1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan ……………………………….. 2. Yth. Ketua PD II PGRI ………………………………….. 3. Yth. Rekan-rekan Guru …………………………………………… 4. Semua pihak yang telah banyak menolong sehingga penulisan ini akhir. Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari sempurna untuk itu segala kritik dan rekomendasi yang bersifat membangun dari semua pihak senantiasa penulis harapkan. Penulis ABSTRAK ………………. 2003. Penerapan Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks dalam Membantu Penguasaaan Materi Pelajaran Sains Pada Siswa ………………………………….. Pelajaran 2003/2004 Kata Kunci: mencar ilmu aktif, pencocokan kartu indeks Untuk mampu mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar,menyaksikan, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu "mengerjakannya", adalah menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menawarkan contohnya, mencoba mempraktekkan keterampilan dan melaksanakan tugas yang menuntut wawasan yang telah mereka dapatkan. Penelitian ini memakai penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setian putaran terdiri dari empat tahap yaitu: desain, acara dan observasi, refleksi, dan refisi. Sasaran observasi ini adalh siswa kelas ………………….. ……………………………... Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi acara berguru mengajar. Dari hasil analis ditemukan bahwa prestasi belajar siswa mengalami kenaikan dari siklus I hingga siklus III yakni, siklus I (62,50%), siklus II (75,00%), siklus III (87,50%). Simpulan dari observasi ini yakni tata cara mencar ilmu aktif versi pencocokan kartu indeks dapat besar lengan berkuasa nyata terhadap motivasi mencar ilmu Siswa ……………………………., serta versi pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran sains. DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul Halaman Pengesahan Kata Pengantar Abstrak Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Kegunaan Penelitian E. Penjelasan Istilah ………………………………………… F. Batasan Masalah…………………………………………. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Prestasi Belajar B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar C. Hakikat IPA atau Sains D. Proses Belajar Mengajar IPA atau Sains E. Prestasi Belajar IPA atau Sains F. Gaya Belajar G. Sisi Sosial Proses Belajar H. Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat, Waktu, dan Subyek Penelitian B. Rancangan Penelitian C. Instrumen Penelitian D. Metode Pengumpulan Data E. Teknik Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis Item Butir Soal B. Analisi Data Penelitian Persiklus C. Pembahasan BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA Penerapan Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu indeks Dalam Membantu Penguasaan Materi Pelajaran Sains Contents BAB I PENDAHULUAN BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB III METODE PENELITIAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V PENUTUP DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesejahteraan bangsa tidak cuma bergantung pada sumber daya alam dan modal yang berisifat fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, sosial dan iman (kredibilitas). Dengan demikian permintaan untuk terus menerus memutakhirkan wawasan sains menjadi suatu keharusan. Mutu lulusan tidak cukup diukur dengan standar lokal saja sebab pergantian global sudah sungguh besar mensugesti ekonomi sebuah bangsa. Industri baru dikembangkan dengan berbasis kompetensi sains dan teknologi tingkat tinggi, dengan demikian bangsa yang berahasil adalah bangsa yang memiliki standasr komptensi sains dan teknologi yang tinggi. Upaya kenaikan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dijalankan oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi latih, serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran. Mengajar bukan semata problem menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan gosip ke dalam pikiran siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah acara berguru aktif. Apa yang menyebabkan berguru aktif? Agar mencar ilmu menjadi aktif siswa harus menjalankan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji ide, memecahkan persoalan, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit, mengasyikkan, bersemangat dan sarat gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud) Untuk mampu mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, melihat, bertanya tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu "mengerjakannya", yaitu menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, memberikan contohnya, mencoba mempraktekkan kemampuan, dan menjalankan peran yang menuntut pengetahuan yang telah atau harus mereka peroleh. Salah satu metode untuk membangkitkan apa yang siswa pelajari dalam satu semester proses berguru mengajar adalah metode pembelajaran bagaimana menjadikan mencar ilmu tidak terlalaikan. Metode ini yaitu untuk membantu siswa dalam mengenang bahan pelajaran yang telah diterima selama ini. Selain itu tata cara ini diterapkan pada akhir semester proses berguru mengajar dengan tujuan untuk menolong siswa biar siap mengahadapi cobaan semester atau ujian selesai. Dengan menyadari tanda-tanda-gejala atau realita tersebut diatas, maka dalam penelitian ini penulis penulis mengambil judul "Penerapan Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu indeks Dalam Membantu Penguasaan Materi Pelajaran Sains Pada Siswa Kelas …………………………….Tahun Pelajaran 2003/2004." B. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahnnya sebagi berikut: 1. Seberapa tinggi tingkat penguasaan materi pelajaran Sains dengan diterapkannya tata cara pembelajaran yang selama ini diterapakan pada siswa Kelas ………………………………………… tahun pelajaran 2003/2004? 2. Bagaimanakah pengaruh cara mencar ilmu aktif model pencocokan kartu indeks dalam membantu siswa mengingatkan kembali bahan pelajaran Sains pada siswa Kelas …………………………………….. tahun pelajaran 2003/2004? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan urusan di atas, observasi ini bermaksud untuk: 1. Ingin mengetahui seberapa jauh pengertian dan penguasaan mata pelajaran Sains setelah diterapkannya cara mencar ilmu aktif versi pencocokan kartu indeks pada siswa Kelas ……………………………….. tahun pelajaran 2003/2004. 2. Mengetahui pengaruhnya cara berguru aktif model mencocokan kartu indek dalam membangunkan kenangan siswa terhadap bahan pelajaran Sains setelah dipraktekkan cara mencar ilmu aktif model pencocokan kartu indeks pada siswa Kelas ……………………………………………… tahun pelajaran 2003/2004. D. Kegunaan Penelitian Adapun maksud penulis mengadakan observasi ini dibutuhkan dapat berkhasiat selaku : 1. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis wacana peranan guru dalam mengembangkan pemahaman siswa belajar Sains 2. Sumbangan fatwa bagi guru Sains dalam mengajar dan meningkatkan pengertian siswa berguru Sains di ………………………………….. tahun pelajaran 2003/2004. 3. Membantu siswa untuk mengenang kembali bahan pelajaran yang telah diterimanya selama ini. 4. Membantu siswa kelas ………. biar siap untuk menghadapi cobaan tamat. E. Penjelasan Istilah Agar tidak terjadi salah pandangan kepada judul penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal selaku berikut: 1. Metode kooperatif adalah: Suatu pengajaran yang melibatkan siswa untuk melakukan pekerjaan dalam kalangan-kalangan untuk memutuskan tujuan bersama 2. Motivasi belajar yaitu: Merupakan daya penggagas psikis dari dalam diri seseorang untuk mampu melakukan kegiatan mencar ilmu dan memperbesar keterampilan, pengalaman. Motivasi mendorong dan mengarah minat belajar untuk tercapai sebuah tujuan. 3. Prestasi mencar ilmu yaitu: Hasil mencar ilmu yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, sehabis siswa mengikuti pelajaran ……………... F. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian Karena kekurangan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah yang meliputi: 1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas ……………………………….tahun pelajaran 2003/2004. 2. Penelitian ini dikerjakan pada bulan September semester ganjil tahun palajaran 2003/2004. 3. Materi yang disampaikan ialah pokok bahasan………………….. Back to Content ? BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Prestrasi Belajar 1. Pengertian Belajar Pengertian berguru telah banyak dikemukakan dalam kepustakaan. Yang dimaksud belajar ialah tindakan murid dalam bidang material, formal serta fungsional kebanyakan dan bidang intelektual pada utamanya. Jadi berguru merupakan hal yang pokok. Belajar merupakan sebuah pergeseran pada perilaku dan tingkah laris yang lebih baik, tetapi kemungkinan mengarah pada tingkah laris yang lebih buruk. Untuk dapat disebut belajar, maka pergeseran mesti merupakan simpulan dari pada masa yang cukup panjang. Berapa usang waktu itu berjalan sulit diputuskan dengan niscaya, namun pergantian itu hendaklah merupakan selesai dari sebuah kala yang mungkin berjalan berhari-hari, berminggu-ahad, berbulan-bulan atau beberapa tahun. Belajar merupakan sebuah proses yang tideak dapat dilihat dengan positif proses itu terjadi dalam diri seserorang yang sedang mengalami berguru. Makara yang dimaksud dengan mencar ilmu bukan tingkah laku yang nampak, tetapi prosesnya terjadi secara internal di dalam diri individu dalam mengusahakan mendapatkan hubungan-relasi gres. 2. Pengertian Prestasi Belajar Sebelum diterangkan pengertian tentang prestasi mencar ilmu, apalagi dahulu akan dikemukakan wacana pengertian prestasi. Prestasi adalah hasil yang telah diraih. Dengan demikian bahwa prestasi ialah hasil yang telah diraih oleh seseorang sesudah melakukan sesuatu pekerjaan/aktivitas tertentu. Makara prestasi yakni hasil yang telah dicapai oleh alasannya itu semua individu dengan adanya belajar kesannya mampu diraih. Setiap individu berguru menghendaki hasil yang yang sebaik-baiknya. Oleh sebab itu setiap individu mesti berguru dengan sebaik mungkin supaya prestasinya berhasil dengan baik. Sedang pemahaman prestasi juga ada yang menyampaikan prestasi adalah kemampuan. Kemampuan di sini bermakna yan dimampui individu dalam menjalankan sesuatu. 3. Pedoman Cara Belajar Untuk memperoleh prestasi/hasil berguru yang bagus mesti dijalankan dengan baik dan aliran cara yang tapat. Setiap orang memiliki cara atau fatwa sendiri-sendiri dalam belajar. Pedoman/cara yang satu cocok digunakan oleh seorang siswa, tetapi mungkin kurang sesuai untuk anak/siswa yang lain. Hal ini disebabkan alasannya memiliki perbedaan individu dalam hal kesanggupan, kecepatan dan kepekaan dalam mendapatkan bahan pelajaran. Oleh alasannya itu tidaklah ada suatu petunjuk yang niscaya yang harus dikerjakan oleh seorang siswa dalam melakukan acara berguru. Tetapi aspek yang paling menentukan keberhasilan mencar ilmu yakni para siswa itu sendiri. Untuk mampu meraih hasil berguru yang sebaik mungkin harus memiliki kebiasaan belajar yang baik. B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar 1. Faktor-aspek Yang Mempengaruhi Belajar Adapun aspek-aspek itu, dapat dibedakan menjadi dua kalangan ialah: a. Faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang kita sebut faktor individu. Yang termasuk ke dalam aspek individu antara lain faktor kematangan atau kemajuan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan aspek langsung. b. Faktor yang ada pada luar individu yang kita sebut dengan aspek sosial Sedangkan yang faktor sosial antara lain aspek keluarga, kondisi rumah tangga, guru, dan cara dalam mengajarnya, lingkungan dan kesempatan yang ada atau tersedia dan motivasi sosial. Berdasarkan faktor yang menghipnotis aktivitas mencar ilmu di atas menunjukkan bahwa berguru itu merupaka proses yang cukup kompleks. Artinya pelaksanaan dan akhirnya sungguh diputuskan oleh faktor-aspek di atas. Bagi siswa yang berada dalam aspek yang mendukung acara berguru akan dapat dilalui dengan tanpa gangguan dn pada gilirannya akan mendapatkan prestasi atau hasil mencar ilmu yang bagus. Sebaliknya bagi siswa yang berada dalam kondisi mencar ilmu yang tidak menguntungkan, dalam arti tidak ditunjang atau didukung oleh faktor-aspek diatas, maka kegiatan atau proses belajarnya akan terhambat atau menemui kesusahan. C. Hakikat IPA atau Sains IPA atau sains didefiniksan selaku suatu kumpulan wawasan yang tersusun secara alam. Perkembangan IPA tidak hanya ditandai dengan adanya fakta, namun juga oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Metode ilmiah dan observasi ilmiah menekankan pada hakikat IPA atau Sains. Secara rinci hakikat IPA atau Sains berdasarkan Bridgman (dalam Lestari, 2002: 7) yakni sebagai berikut: 1. Kualitas; intinya rancangan-konsep IPA atau Sains selalu dapat dinyatakan dalam bentuk angka-angka. 2. Observasi dan Eksperimen; ialah salah satu cara untuk dapat mengetahui rancangan-rancangan IPA atau Sains secara tepat dan mampu diuji kebenarannya. 3. Ramalan (prediksi); merupakan salah satu asumsi penting dalam IPA atau Sains bahwa misteri alam raya ini mampu diketahui dan mempunyai keteraturan. Dengan perkiraan tersebut melalui pengukuran yang teliti maka banyak sekali kejadian alam yang mau terjadi mampu diprediksikan secara tepat. 4. Progresif dan komunikatif; artinya IPA atau Sains itu selalu berkembang ke arah yang lebih sempurna dan inovasi-penemuan yang ada ialah kelanjutan dari inovasi sebelumnya. Proses; tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dilaksanakan dengan memakai metode ilmiah dalam rangkan menemukan sebuah kebernaran. 5. Universalitas; kebenaran yang ditemukan senantiasa berlaku secara biasa . Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA atau Sains merupakan bab dari IPA, dimana desain-konsepnya diperoleh lewat suatu proses dengan menggunakan metode ilmiah dan diawali dengan perilaku ilmiah kemudian diperoleh hasil (produk). D. Proses Belajar Mengajar IPA atau Sains Proses dalam pengertian disini ialah interaksi semua komponen atau bagian yang terdapat dalam berguru mengajar yang satu sama yang lain saling berafiliasi (inter independent) dalam ikatan untuk meraih tujuan (Usman, 200: 5). Belajar diartikan selaku proses perubahan tingka laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang sesudah mengalami proses belajar akan mengalami pergantian tingkah laku, baik faktor pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi mampu, dari tidak mengetahui menjadi memahami. (dalam Usman, 2000: 5). Mengajar merupakan suatu tindakan yang memerlukan tanggungjawab etika yang cukup berat. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam aktivitas suatu perjuangan mengorganisasi lingkungan dalam keterkaitannya dengan anak latih dan materi pengajaran yang mengakibatkan proses berguru. Proses belajar mengajar merupakan suatu inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegangn peran utama. Proses berguru mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar kekerabatan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau relasi timbal balik antara guru dan siswa itu ialah syarat utama bagi berlangsungnya proses berguru mengajar (Usman, 2000: 4). Sedangkan menurut buku Pedoman Guru Pendidikan Agama Islam, proses mencar ilmu mengajar mampu mengandung dua pengertian, yaitu rentetan acara penyusunan rencana oleh guru, pelaksanaan aktivitas hingga penilaian acara tindak lanjut (dalam Suryabrata, 1997: 18). Dari kedua usulan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa proses belajar mengajar IPA atau Sains meliputi kegiatan yang dilaksanakan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan aktivitas hingga evaluasi dan acara tindak lanjut yang berjalan dalam situasi edukatif untuk meraih tujuan tertentu yaitu pengajaran IPA atau Sains. E. Prestasi Belajar IPA atau Sains Belajar mampu menjinjing sebuah pergeseran pada individu yang belajar. Perubahan ini ialah pengalaman tingkah laris dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam berguru merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang hendak diraih siswa dalam proses mencar ilmu di sekolah. Menurut Poerwodarminto (1991: 768), prestasi mencar ilmu yakni hasil yang diraih (dilakukan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi mencar ilmu merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan kecermatan kerja serta perjuangan yang memerlukan asumsi. Berdasarkan uraian diatas mampu dibilang bahwa prestasi berguru yang diraih oleh siswa dengan melibatkan seluruh kesempatanyang dimilikinya sehabis siswa itu melakukan kegiatan belajar. Pencapaian hasil berguru tersebut dapat diketahui dengan megadakan penilaian tes hasil berguru. Penilaian diadakan untuk mengetahui sejauh mana siswa sudah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat mengenali sejauh mana kesuksesan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah. Sejalan dengan prestasi mencar ilmu, maka dapt diartikan bahwa prestasi belajar IPA atau Sains adalah nilai yang dipreoleh siswa setelah melibatkan secara langsung/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik faktor kognitif (wawasan), afektif (sikap) dan psikomotor (kemampuan) dalam proses berguru mengajar IPA atau Sains. F. Gaya Belajar Kalangan pendidik sudah menyadari bahwa penerima ajar mempunyai bermacam cara berguru. Sebagian siswa mampu belajar dengan sangat baik hanya dengan melihat orang lain melakukannya. Biasanya, mereka ini menggemari penyajian informasi yang runtut. Mereka lebih suka menuliskan apa yang dibilang guru. Selama pelajaran, mereka umumnya diam dan jarang terganggu oleh kebisingan. Perserta asuh visual ini berlawanan dengan penerima bimbing auditori, yang lazimnya tidak sungkan-sungkan untuk memperhatikan apa yang dijalankan oleh guru, dan membuat catatan. Mereka menggurulkan kesanggupan untuk mendengar dan mengingat. Selama pelajaran, mereka mungkin banyak bicara dan gampang teralihkan perhatiannya oleh bunyi atau kebisingan. Peserta latih kinestetik berguru khususnya dengan terlibat langsung dalam acara. Mereka condong impulsive, semau gue, dan kurang sabaran. Selama pelajaran, mereka mungkin saja gelisah kalau tidak mampu leluasa bergerak dan melakukan sesuatu. Cara mereka belajar boleh jadi tampak sembarang pilih dan tida karuan. Tentu saja, cuma ada sedikit siswa yang mutlak memiliki satu jenis cara belajar. Grinder (1991) menyatakan bahwa dari setiap 30 siswa, 22 diantaranya rata-rata dapat berguru dengan efektif selama gurunya mengahadirkan kegaitan belajar yang berkombinasi antara visual, auditori dan kinestik. Namun, 8 siswa siswanya sedemikan menggemari salah satu bentuk pengajaran dibanding dua yang lain. Sehingga mereka harus berupaya keras untuk mengerti pelajaran bila tidak ada kecermatan dalam menyuguhkan pelajaran sesuai dengan ara yang mereka senangi. Guna menyanggupi keperluan ini, pengajaran harus bersifat mulitsensori dan penuh dengan variasi. Kalangan pendidikan juga mencermati adanya perubahan cara belajar siswa. Selama lima belas tahun terakhir, Schroeder dan koleganya (1993) telah menerapkan indikator tipe Myer-Briggs (MBTI) kepada mahasiswa gres. MBTI merupakan salah satu instrument yang paling banyak dipakai dalam dunia pendidikan dan untuk mengerti fungsi perbedaan individu dalam proses mencar ilmu. Hasilnya menawarkan sekitar 60 persen dari mahasiswa yang masuk memiliki orientasi mudah ketimbang teoritis terhadap pembelajaran, dan persentase itu bertambah setiap tahunnya. Mahasiswa lebih suka terlibat dalam pengalaman eksklusif dan faktual ketimbang mempelajari rancangan-desain dasar terlebih dulu dan gres kemudian menerapkannya. Penelitain MBTI lainnya, terang Schroeder, memperlihatkan bahwa siswa sekolah menengah lebih suka acara mencar ilmu yang sungguh-sungguh aktif dari pada aktivitas yang reflektif absurd, dengan rasio lima banding satu. Dari semua ini, ia menyimpulkan bahwa cara belajar dan mengajar aktif sangat sesuai dengan siswa era kini. Agar bisa efektif, guru mesti memakai yang berikut ini: diskusi dan proyek kelompok kecil, penyajian dan debat, dalam kelas, latihan melalui pengalaman, pengalaman lapangan, simulasi, dan studi kasus. Secara khusus Schroeder menekankan bahwa siswa abad kini "bisa beradaptasi dengan baik terhadap aktivitas kalangan dan berguru bersama." Temuan-teman ini dapat dianggap tidak mengagetkan jika kita menimbang-nimbang segera laju kehidupan terbaru. Dimasa kini siswa dibesarkan dalam dunia yang segala sesuatunya berlangsung dengan segera dan banyak pilihan yang tersedia. Suara-suara terdengar begitu menghentak merdu, dan warna-warna terlihat begitu meriah dan menawan. Obyek, baik yang nyata maupun yang maya, bergerak cepat. Peluang untuk mengganti segala sesuatu dari satu keadaan ke kondisi lain terbuka sungguh luas. G. Sisi Sosial Proses Belajar Karena siswa periode kini menghadapi dunia di mana terdapat wawasan yang luas, pergantian pesat, dan ketidakpastian, mereka bisa mengalami kegundahan dan bersikap defensif. Abraham Maslow mengajarkan terhadap kita bahwa manusia memiliki dua kumpulan kekuatan atau keperluan yang satu berupaya untuk tumbuh dan lainnya cenderung terhadap keamanan. Orang yang dihadapkan pada kedua keperluan ini akan memiliki keselamatan daripada pertumbuhan. Kebutuhan akan rasa kondusif harus dipenuhi sebelum mampu sepenuhnya kebutuhan untuk mencapai sesuatu mengambil resiko, dan menggali hal-hal baru. Pertumbuhan berlangsung dengan langkah-langkah kecul, menurut Maslow, dan "tiap langkah maju cuma dimungkin akan bila ada rasa kondusif, yang mana ini merupakan langkah ke depan dari situasi rumah yang aman menuju wilayah yang belum dikenali" (Maslow, 1968). Salah satu cara utama untuk mendapatkan rasa kondusif ialah menjalin kekerabatan dengan orang lain dan menjadi bab dari kalangan. Perasaan saling memiliki ini memungkinkan siswa untuk menghadapi tantangan. Ketika mereka belajar bareng sahabat, bukannya sendirian, mereka mendapatkan santunan emosional dan intelektual yang memungkinkan mereka melampaui ambang pengetahuan dan ketermapilan mereka yang sekarang. Jerome Bruner membahas segi sosial proses berguru dama buku klasiknya, Toward a Theory of Instruction. Dia menjelaskan perihal "kebutuhan mendalam manusia untuk menanggapi orang lain dan untuk bekerjasama dengan mereka guna mencapai tujuan," yang mana hal ini beliau sebut resiprositas (korelasi timbal balik). Bruner beropini bahwa resiprositas ialah sumber motivasi yang bisa dimanfaatkan oleh guru selaku berikut, "Di mana diperlukan tindakan bareng , dan di mana resiprositas diperlukan bagi golongan untuk mencapai sebuah tujuan, disitulah terdapat proses yang membawa individu ke dalam pembelajaran membimbingnya untuk mendapatkan kesanggupan yang diperlukan dalam pembentukan kalangan" (Bruner, 1966). Konsep-konsepnya Maslow dan Bruner mengurusi pertumbuhan metode berguru kolaboratif yang sedemikian popular dalam lingkup pendidikan kala sekarang. Menempatkan siswa dalam kelompok dan memberi mereka peran yang menuntut untuk bergantung satu sama lain dalam mengerjakannya merupakan cara yang elok untuk memanfaatkan keperluan sosial siswa. Mereka menjadi cenderung lebih telibat dalam aktivitas belajar karena mereka mengerjakannya bersama teman-sahabat. Begitu terlibat, mereka juga langsung memiliki kebutuhan untuk membahas apa yang mereka alami bareng sobat, yang mengarah kepada hubungan-kekerabatan lebih lanjut. Kegiatan berguru bersama dapat membantu memacu berguru aktif. Kegiatan mencar ilmu dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif dengan cara khusus. Apa yang didiskusikan siswa dengan sahabat-temannya dan apa yang diajarkan siswa terhadap sobat-temannya memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran. Metode belajar bareng yang terbaik, semisal pelajaran menyusun gambar (jigsaw), menyanggupi standar ini. Pemberian peran yang berbeda kepada siswa akan mendorong mereka untuk tidak cuma mencar ilmu bareng , tetapi juga mengajarkan satu sama lain. H. Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks 1. Uraian Singkat Ini ialah cara aktif dan menyenangkan untuk meninjau ulang bahan pelajaran. Cara ini memungkinkan siswa untuk berpasangan dan memberi pertanyaan kuis kepada temannya. 2. Prosedur a. Pada kartu indeks yang terpisah, tuliskanlah pertanyaan wacana apapun yang diajarkan di kelas. Buatlah krtu pertanyaan dengan jumlah yang sama dengan setengah jumlah siswa. b. Pada kartu yang terpisah, catatlah, tulisan balasan atas masing-masing pertanyaan itu. c. Campurlah dua kumpulan kartu itu dan kocoklah beberapa kali semoga betul-betul tercampuraduk. d. Berikan satu kartu untuk satu siswa. Jelaskan bahwa ini merupakan latihan mencocokan. Sebagian siswa menerima pertanyaan tinjauan dan sebagian lain mendapatkan kartu jawabannya. e. Perintahkan siswa untuk mencari kartu pasangan mereka. Bila sudah terbentuk pasangan, perintahkan siswa yang berpasangan itu untuk mencari kawasan duduk bareng . (Katakan pada mereka untuk tidak mengungkapkan kepada pasangan lain apa yang ada di kartu mereka). f. Bila semua pasangan yang cocok telah duduk bareng , perintahkan tiap pasangan untuk memperlihatkan kuis terhadap siswa yang lain dengan membacakan keras-keras pertanyaan mereka dan menantang siswa lain untuk menunjukkan jawaban. 3. Variasi a. Sususunlah kartu yang berisi sebuah kalimat beberapa kata yang dihilangkan untuk dicocokkan dengan kartu yang berisi kata-kata yang hilang itu misalnya, "Perubahan wujud dari berudu mejadi katak disebut _________." b. Buatlah kartu yang berisi pertanyaan-pertanyaan dengan beberapa kemungkinan jawabannya __ misalnya, "cara pencernaan makanan pada hewan?". Cocokkan kartu-kartu itu dengan kartu yang berisi kumpulan tanggapan yang relevan. Ketika tiap pasangan menunjukkan kuis kepada golongan, perintahkan mereka untuk mendapatkann beberapa jawaban dari siswa lain. Back to Content ? BAB III METODE PENELITIAN Menurut Oja dan Smuljan (dalam Titik Sugiarti, 1997: 8) mengelompokkan observasi langkah-langkah menjadi empat macam adalah (a) guru sebagai peneliti, (b) observasi langkah-langkah kolaboratif, (c) simultan terintegratif, dan (d) adminsitrasi social eksperimental. Dalam observasi langkah-langkah ini memakai bentuk guru sebagai peneliti, penanggungjawab penuh penelitian yakni praktisi (guru). Tujuan utama dari observasi ini adalah meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari penyusunan rencana, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Dalam observasi ini peneliti tidak berafiliasi dengan siapapun, kedatangan peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dikerjakan seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu jikalau diteliti. Dengan cara ini dibutuhkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan. A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat observasi yaitu tempat yang dipakai dalam melakukan observasi untuk menemukan data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di ……………………………………………….. tahun pelajaran 2003/2004. 2. Waktu Penelitian Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat observasi ini dilangsungkan. Penelitian ini dijalankan pada bulan Maret semester genap tahun pelajaran 2004/2005. 3. Subyek Penelitian Subyek penelitian yakni siswa-siswi Kelas ………………………………………. tahun pelajaran 2003/2004 tahun pelajaran 2004/2005. B. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK ialah sebuah bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku langkah-langkah yang dikerjakan untuk mengembangkan kemantapan rasional dari langkah-langkah mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-langkah-langkah yang dijalankan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dikerjakan (dalam Mukhlis, 2003: 3). Sedangkah berdasarkan Muhlis (2003: 5) PTK ialah suatu bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilaksanakan. Adapun tujuan utama dari PTK yaitu untuk memperbaiki/meningkatkan pratek pembelajaran secara berkesinambungan, sedangkan tujuan penyertaannya yaitu menumbuhkan budaya meneliti di golongan guru (Mukhlis, 2003: 5). Sesuai dengan jenis observasi yang diseleksi, yakni penelitian tindakan, maka observasi ini memakai versi penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), ialah berupa spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus mencakup planning (rencana), action (langkah-langkah), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus selanjutnya yakni perncanaan yang telah direvisi, tindakan, observasi, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dijalankan langkah-langkah pendahuluan yang berupa identifikasi masalah. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas mampu dilihat pada gambar berikut. Gambar 3.1 Alur PTK Penjelasan alur di atas ialah: 1. Rancangan/planning awal, sebelum menyelenggarakan penelitian peneliti menyusun rumusan problem, tujuan dan menciptakan planning langkah-langkah, termasuk di dalamnya instrumen observasi dan perangkat pembelajaran. 2. Kegiatan dan observasi, mencakup tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pengertian konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran model kartu indeks . 3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan menimbang-nimbang hasil atau efek dari langkah-langkah yang dikerjakan menurut lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. 4. Rancangan/rencana yang direvisi, menurut hasil refleksi dari pengamat menciptakan desain yang direvisi untuk dijalankan pada siklus berikutnya. Observasi dibagi dalam tiga putaran, yakni putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang serupa (alur aktivitas yang serupa) dan membicarakan satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di selesai masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang sudah dijalankan. C. Instrumen Penelitian Instrumen yang dipakai dalam observasi ini berisikan: 1. Silabus Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan perihal aktivitas pembelajaran pengelolahan kelas, serta evaluasi hasil belajar. 2. Rencana Pelajaran (RP) Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai fatwa guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan berguru mengajar. 3. Tes formatif Tes ini disusun menurut tujuan pembelajaran yang akan diraih, dipakai untuk mengukur kemampuan pengertian rancangan Sains pada pokok bahasan ……….. Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran. Bentuk soal yang diberikan yakni opsi guru (objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46 soal yang sudah diujicoba, kemudian penulis mengadakan analisis butir soal tes yang telah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal. Analisis ini dipakai untuk memilih soal yang baik dan memenuhi syarat digunakan untuk mengambil data. Langkah-langkah analisi butir soal ialah sebagai berikut: a. Validitas Tes Validitas butir soal atau validitas item dipakai untuk mengenali tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga dapat diputuskan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tingkat kevalidan ini mampu dihitung dengan kekerabatan Product Moment: (Suharsimi Arikunto, 2001: 72) Dengan: rxy : Koefisien hubungan product moment N : Jumlah akseptor tes ?Y : Jumlah skor total ?X : Jumlah skor butir soal ?X2 : Jumlah kuadrat skor butir soal ?XY : Jumlah hasil kali skor butir soal b. Reliabilitas Reliabilitas butir soal dalam observasi ini memakai rumus belah dua selaku berikut: (Suharsimi Arikunto, 20001: 93) Dengan: r11 : Koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan r1/21/2 : Korelasi antara skor-skor setiap penggalan tes Kriteria reliabilitas tes jikalau harga r11 dari perkiraan lebih besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliable. c. Taraf Kesukaran Bilangan yang menawarkan sukar dan gampangnya suatu soal ialah indeks kesukaran. Rumus yang dipakai untuk menentukan taraf kesukaran adalah: (Suharsimi Arikunto, 2001: 208) Dengan: P : Indeks kesukaran B : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar Js : Jumlah seluruh siswa peserta tes Kriteria untuk memilih indeks kesukaran soal ialah selaku berikut: - Soal dengan P = 0,000 hingga 0,300 ialah sulit - Soal dengan P = 0,301 sampai 0,700 yakni sedang - Soal dengan P = 0,701 sampai 1,000 ialah mudah d. Daya Pembeda Daya pembeda soal yaitu kesanggupan sebuah soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang memperlihatkan besarnya daya pembeda desebut indeks diskriminasi. Rumus yang digunakan untuk menjumlah indeks diskriminasi yaitu sebagai berikut: (Suharsimi Arikunto, 2001: 211) Dimana: D : Indeks diskriminasi BA : Banyak peserta kelompok atas yang menjawab dengan benar BB : Banyak penerima kelompok bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah penerima golongan atas JB : Jumlah akseptor golongan bawah Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar. Proporsi peserta golongan bawah yang menjawab benar Kriteria yang dipakai untuk menentukan daya pembeda butir soal selaku berikut: - Soal dengan D = 0,000 sampai 0,200 ialah buruk - Soal dengan D = 0,201 sampai 0,400 ialah cukup - Soal dengan D = 0,401 hingga 0,700 yaitu baik - Soal dengan D = 0,701 hingga 1,000 ialah sangat baik D. Metode Pengumpulan Data Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan belajar aktif, dan tes formatif. E. Teknik Analisis Data Untuk mengetahui keefektivan suatu tata cara dalam acara pembelajaran perlu diadakan evaluasi data. Pada observasi ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yakni suatu sistem observasi yang bersifat menggambarkan realita atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengenali prestasi berguru yang dicapai siswa juga untuk memperoleh tanggapansiswa terhadap acara pembelajaran serta acara siswa selama proses pembelajaran. Untuk menganalisis tingkat kesuksesan atau persentase keberhasilan siswa sesudah proses belajar mengajar setiap putarannya dikerjakan dengan cara menunjukkan evaluasi berbentuksoal tes tertulis pada setiap tamat putaran. Analisis ini dijumlah dengan menggunakan statistic sederhana ialah: 1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang berikutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan: Dengan : = Nilai rata-rata ? X = Jumlah semua nilai siswa ? N = Jumlah siswa 2. Untuk ketuntasan berguru Ada dua kategori ketuntasan mencar ilmu ialah secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunju pelaksanaan mencar ilmu mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), ialah seorang siswa telah tuntas mencar ilmu jika sudah meraih skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas mencar ilmu jika di kelas tersebut terdapat 85% yang telah meraih daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk mengkalkulasikan persentase ketuntasan berguru digunakan rumus selaku berikut: Back to Content ? BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Data observasi yang diperoleh berbentukhasil uji coba item butir soal, data observasi berupa pengamatan pengelolaan berguru aktif dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada final pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap siklus. Data hasil uji coba item butir soal dipakai untuk menerima tes yang betul-betul mewakili apa yang diinginkan. Data ini berikutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. Data lembar observasi diambil dari dua observasi yakni data observasi pengelolaan belajar aktif yang dipakai untuk mengetahui imbas penerapan versi belajar aktif dalam memajukan prestasi belajar siswa dan data observasi aktivitas siswa dan guru. Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah dipraktekkan mencar ilmu aktif. A. Analisis Item Butir Soal Sebelum melakukan pengambilan data melalui instrument penelitian berbentuktes dan menerima tes yang bagus, maka data tes tersebut diuji dan dianalisis. Uji coba dijalankan pada siswa di luar sasaran penelitian. Analisis tes yang dijalankan meliputi: 1. Validitas Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengenali kelayakan tes sehingga mampu digunakan selaku instrument dalam observasi ini. Dari perhitungan 46 soal diperoleh 16 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Valid Soal Tidak Valid 4, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 25, 27, 28, 29, 30, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45 1, 2, 3, 5, 6, 8, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 31, 32, 40 2. Reliabilitas Soal-soal yang telah menyanggupi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 653. Harga ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 24) dengan r (95%) = 0,404. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi syarat reliabilitas. 3. Taraf Kesukaran (P) Taraf kesukaran dipakai untuk mengetahui tingkat kesukaran soal. Hasil analisis memberikan dari 46 soal yang diuji terdapat: - 20 soal gampang - 16 soal sedang - 10 soal sulit 4. Daya Pembeda Analisis daya pembeda dikerjakan untuk mengetahui kemampuan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkteriteria buruk sebanyak 16 soal, berkriteria cukup 20 soal, berkriteria baik 10 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah menyanggupi syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. B. Analisis Data Penelitian Persiklus 1. Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan berguru mengajar untuk siklus I dilakukan pada tanggal 9 Maret 2005 di Kelas ……….. dengan jumlah siswa 24 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses berguru mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang sudah dipersiapkan. Pengamatan (pengamatan) dijalankan serempak dengan pelaksaaan mencar ilmu mengajar Pada selesai proses mencar ilmu mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kesuksesan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dikerjakan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah selaku berikut: Table 4.2. Nilai Tes Formatif Pada Siklus I No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 70 ? 13 70 ? 2 70 ? 14 80 ? 3 60 ? 15 60 ? 4 70 ? 16 80 ? 5 60 ? 17 60 ? 6 80 ? 18 80 ? 7 70 ? 19 70 ? 8 60 ? 20 70 ? 9 70 ? 21 60 ? 10 70 ? 22 70 ? 11 60 ? 23 70 ? 12 60 ? 24 60 ? Jumlah 800 7 5 jumlah 830 8 4 Jumlah Skor 1630 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2400 % Skor Tercapai 67,91 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 15 Jumlah siswa yang belum tuntas : 9 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I No Uraian Hasil Siklus I 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar 67,91 15 62,50 Dari tabel di atas mampu diterangkan bahwa dengan menerapkan cara berguru aktif model pencocokan kartu indeks diperoleh nilai rata-rata prestasi berguru siswa ialah 67,91 dan ketuntasan berguru meraih 62,50% atau ada 15 siswa dari 24 siswa telah tuntas belajar. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, alasannya siswa yang memperoleh nilai ? 65 cuma sebesar 62,50% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang diharapkan ialah sebesar 85%. Hal ini disebabkan alasannya siswa masih banyak yang lupa terhadap materi pelajaran yang sudah diberikan hampir satu semester. 2. Siklus II a. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti merencanakan perangkat pembelajaran yang berisikan rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap aktivitas dan pelaksanaan Pelaksanaan acara mencar ilmu mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 16 Maret 2005 di Kelas ……….. dengan jumlah siswa 24 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses mencar ilmu mengajar mengacu pada planning pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalah atau kelemahan pada siklus I tidak terulanga lagi pada siklus II. Pengamatan (pengamatan) dikerjakan bersama-sama dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada final proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengenali tingkat kesuksesan siswa dalam proses berguru mengajar yang sudah dijalankan. Instrument yang digunakan ialah tes formatif II. Adapun data hasil observasi pada siklus II adalah selaku berikut. Table 4.4. Nilai Tes Formatif Pada Siklus II No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 80 ? 13 80 ? 2 60 ? 14 60 ? 3 80 ? 15 80 ? 4 80 ? 16 70 ? 5 70 ? 17 70 ? 6 60 ? 18 70 ? 7 70 ? 19 60 ? 8 60 ? 20 90 ? 9 70 ? 21 80 ? 10 80 ? 22 60 ? 11 80 ? 23 70 ? 12 70 ? 24 70 ? Jumlah 860 9 3 Jumlah 860 9 3 Jumlah Skor 1720 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2400 % Skor Tercapai 71,67 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 18 Jumlah siswa yang belum tuntas : 6 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.5. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II No Uraian Hasil Siklus II 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan mencar ilmu 71,67 18 75,00 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi berguru siswa ialah 71,67 dan ketuntasan berguru meraih 75,00% atau ada 22 siswa dari 18 siswa sudah tuntas mencar ilmu. Hasil ini memperlihatkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya kenaikan hasil berguru siswa ini sebab siswa telah mulai mempelajari lagi materi yang telah diterimnya selama ini. Sehingga kenangan siswa terbuka kembali dengan materi yang telah diajarkan selama ini. Selain itu dari permainan ini siswa tidak tahu menjadi tahu dari tanggapan siswa sudah mengetahuai jawabannya. 3. Siklus III a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari planning pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap acara dan pengamatan Pelaksanaan acara mencar ilmu mengajar untuk siklus III dijalankan pada tanggal 23 Maret 2005 di Kelas ……….. dengan jumlah siswa 24 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses mencar ilmu mengajar mengacu pada planning pelajaran dengan mengamati revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (pengamatan) dilaksanakan bersama-sama dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada final proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengenali tingkat keberhasilan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar yang telah dijalankan. Instrumen yang digunakan yakni tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah selaku berikut: Table 4.6. Nilai Tes Formatif Pada Siklus III No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 60 ? 13 80 ? 2 80 ? 14 90 ? 3 80 ? 15 80 ? 4 70 ? 16 70 ? 5 70 ? 17 80 ? 6 90 ? 18 60 ? 7 80 ? 19 80 ? 8 60 ? 20 90 ? 9 80 ? 21 80 ? 10 90 ? 22 70 ? 11 70 ? 23 80 ? 12 80 ? 24 70 ? Jumlan 910 10 2 Jumlah 930 11 1 Jumlah Skor 1840 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2400 % Skor Tercapai 76,67 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 21 Jumlah siswa yang belum tuntas : 3 Klasikal : Tuntas Tabel 4.7. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III No Uraian Hasil Siklus III 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan berguru 76,67 21 87,50 Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 76,67 dan dari 24 siswa yang telah tuntas sebanyak 21 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan mencar ilmu yang telah tercapai sebesar 87,50% (termasuk klasifikasi tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami kenaikan lebih baik dari siklus II. Adanya kenaikan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya kenaikan kesanggupan siswa dalam mempelajari kembali bahan pelajaran yang sudah diterapkan selama ini. Juga dari hasil cara belajar aktif versi pencocokan kartu indeks ini murid jadi mudah mengenang kembali. c. Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terealisasi dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan belajar aktif. Dari data-data yang sudah diperoleh mampu duraikan selaku berikut: 1. Selama proses berguru mengajar guru sudah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum tepat, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. 2. Berdasarkan data hasil observasi dikenali bahwa siswa aktif selama proses belajar berjalan. 3. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. 4. Hasil mencar ilmu siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan belajar aktif dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil berguru siswa pelaksanaan proses belajar mengajar telah berjalan dengan baik. Maka tidak dibutuhkan revisi terlampau banyak, namun yang perlu diperhatikan untuk tindakah berikutnya yaitu memaksimalkan dan menjaga apa yang telah ada dengan tujuan biar pada pelaksanaan proses mencar ilmu mengajar selanjutnya penerapan berguru aktif dapat mengembangkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran mampu tercapai. C. Pembahasan 1. Ketuntasan Hasil mencar ilmu Siswa Melalui hasil peneilitian ini memberikan bahwa cara mencar ilmu aktif model pencocokan kartu indeks mempunyai efek kasatmata dalam memajukan daya ingat siswa. Hal ini mampu dilihat dari semakin mantapnya pemahaman dan penguasaan siswa kepada bahan yang telah disampaikan guru selama ini (ketuntasan mencar ilmu berkembangdari siklus I, II, dan III) yakni masing-masing 62,50%, 75,00%, dan 87,50%. Pada siklus III ketuntasan mencar ilmu siswa secara klasikal sudah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses cara belajar aktif versi pencocokan kartu indeks dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini mempunyai pengaruh aktual terhadap proses mengingat kembali bahan pelajaran yang sudah diterima selama ini, adalah dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Sains dengan cara mencar ilmu aktif model pencocokan kartu indeks yang paling secara umum dikuasai ialah melakukan pekerjaan dengan memakai alat/media, mendengarkan/mengamati klarifikasi guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi mampu dibilang bahwa kegiatan isiwa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran sudah melaksanakan tindakan berguru aktifdengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan memperhatikan siswa dalam melaksanakan kegiatan, menerangkan/melatih menggunakan alat, memberi umpan balik/evaluasi/Tanya jawab dimana prosentase untuk acara di atas cukup besar. Back to Content ? BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang sudah dijalankan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan selaku berikut: 1. Pembelajaran dengan cara berguru aktif versi pencocokan kartu indeks memiliki dampak aktual dalam memajukan prestasi mencar ilmu siswa yang ditandai dengan kenaikan ketuntasan mencar ilmu siswa dalam setiap siklus, adalah siklus I (62,50%), siklus II (75,00%), siklus III (87,50%). 2. Penerapan cara berguru aktif versi pencocokan kartu indeks mempunyai dampak positif, adalah dapat meningkatkan motivasi berguru siswa untuk mempelajari kembali materi pelajaran yang telah diterima selama ini yang ditunjukan dengan rata-rata balasan siswa yang menyatakan bahwa siswa kesengsem dan kepincutdengan cara mencar ilmu aktif model pencocokan kartu indeks sehingga mereka menjadi termotivasi untuk mencar ilmu. 3. Cara berguru aktif versi pencocokan kartu indeks mempunyai dampak nyata terhadap daya ingat siswa, dimana dengan tata cara ini siswa dipaksa untuk mengenang kembali bahan palajaran yang sudah diterima selama ini. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar Sains lebih efektif dan lebih menawarkan hasil yang optimal bagi siswa, makan disampaikan saran selaku berikut: 1. Untuk melaksanakan belajar aktif membutuhkan persiapan yang cukup matang, sehingga guru mesti mempu menentukan atau menentukan topik yang sungguh-sungguh bisa dipraktekkan dengan cara berguru aktif versi pencocokan kartu indeks dalam proses mencar ilmu mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka memajukan prestasi berguru siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan banyak sekali sistem pengajaran yang tepat, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemuan wawasan gres, mendapatkan konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan persoalan-problem yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil observasi ini hanya dijalankan di ……………………………………… tahun pelajaran 2003/2004. Back to Content ? DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon. Daroeso, Bambang. 1989. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Semarang: Aneka Ilmu. Dayan, Anto. 1972. Pengantar Metode Statistik Deskriptif, tt. Lembaga Penelitian Pendidian dan Penerangan Ekonomi. Hadi, Sutrisno. 198. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi UGM. Melvin, L. Siberman. 2004. Aktif Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia dan Nuansa. Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Riduwan. 2004. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta. Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Surakhmad, Winarno. 1990. Metode Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars. Back to Content ? Dapatkan file secara lengkap berupa pengaturan, gambar, tabel dan lain-lain dalam format microsoft word (.doc) pada link dibawah ini !! Dowwload PTK Format Microsoft Word (.doc) Penerapan Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu indeks Dalam Membantu Penguasaan Materi Pelajaran Sains
Sumber https://somadrug1.blogspot.com


EmoticonEmoticon