Jumat, 25 Desember 2020

Ptk Pai Upaya Mengembangkan Prestasi Berguru Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pengajaran Learning Together

Berikut ini kami bagikan Kartya Tulis Ilmiah berupa Laporan Penelitian Tindakan kelas dengan Judul  Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pengajaran Learning Together, kami juga memperlihatkan download file tersebut dalam bentuk dokumen word yang gampang di edit pada simpulan post. PTK PAI Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pengajaran Learning Together  Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pengajaran Learning Together   Karya Tulis Ilmiah hasil penelitian langkah-langkah kelas yang berjudul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pengajaran Learning Together    Pada Siswa Kelas … ini telah disetujui dan disahkan untuk diajukan selaku materi evaluasi kenaikan pangkat. KATA PENGANTAR Puji syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan karya ilmiah ini mampu terselesaikan pada waktunya. Karya ilmiah yang berjudul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pengajaran Learning Together    Pada Siswa Kelas … ini, disusun untuk menyanggupi persyaratan kenaikan kelompok profesi guru dari IV/a ke IV/b. Dalam penyusunan dan penyelesaian karya ilmiah ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh alasannya itu pada potensi ini peneliti mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten … 2. Yth. Ketua PGRI Kabupaten … 3. Yth. Rekan-rekan Guru … 4. Semua pihak yang sudah banyak membantu sehingga penulisan ini final Peneliti menyadari bahwa hasil penelitian ini masih jauh dari tepat. Oleh alasannya itu kritik dan usulan yang bersifat membangun sungguh peneliti kehendaki demi kesempurnaan penelitian ini dan demi penelitian yang mau datang. …, Mei 2005 Peneliti ABSTRAK …………………, 2001. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pengajaran Learning Together Pada Siswa ………………………………. Tahun Pelajaran 2001/2002 Kata Kunci: pembelajaran PAI, kooperatif model learning together  Berbagai pengaruh negatif dalam memakai sistem kerja kelmpok tersebut sebaiknya bisa dihindari jika saja guru mau meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian dalam mempersiapkan dan menyusun metode kerja kalangan. Yang diperkanalkan dalam sistem pembelajaran cooperative learning bukan sekedar kerja kalangan, melainkan pada penstrukturannya. Kaprikornus, tata cara pengajaran cooperative learning bisa didefinisikan sebagai kerja/mencar ilmu kalangan yang teratur. Yang tergolong di dalam struktur ini adalah lima unsru pokok (Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan aktual, tanggung jawab individual, interaksi personal, keterampilan melakukan pekerjaan sama, dan proses golongan. Penelitian ini menurut persoalan: (a) Apakah pembelajaran kooperatif model learning together besar lengan berkuasa kepada hasil berguru Pendidikan Agama Islam ? (b)  Seberapa tinggi tingkat penguasaan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam  dengan diterapkannya sistem pembelajaran kooperatif model learning together? Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Untuk mengungkap imbas pembelajaran kooperatif versi learning together terhadap hasil mencar ilmu Pendidikan Agama Islam . (b) Ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dan penguasaan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam  sehabis diterapkannya pembelajaran kooperatif model learning together Penelitian ini memakai observasi langkah-langkah (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: desain, acara dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran observasi ini yaitu siswa Kelas ……………………………………. Data yang diperoleh berbentukhasil tes formatif, lembar pengamatan acara berguru mengajar. Dari hasil analis ditemukan bahwa prestasi mencar ilmu siswa mengalami peningkatan dari siklus I hingga siklus III adalah, siklus I (60,71%), siklus II (75,00%), siklus III (89,29%). Simpulan dari observasi ini ialah tata cara kooperatif versi learning together mampu kuat nyata terhadap motivasi berguru Siswa ……………………………………….., serta versi pembelajaran ini dapat digunakan selaku salah satu alternative Pendidikan Agama Islam . DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul Lembar Pengesahan Kata Pengantar Abstrak Daftar Isi Daftar Lampiran BAB  I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Pentingnya Penelitian E. Definisi Operasional Variabel F. Batasan Masalah BAB  II KAJIAN PUSTAKA A. Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam  .…………………….. B. Pengajaran Kooperatif  C. Metode Learning Together BAB  III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat, Waktu, dan Subyek Penelitian B. Rancangan Penelitian C. Alat Pengumpul Data D. Analisis Data BAB  IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hubungan Pembelajaran Model Learning Together     Dengan  Ketuntasan Belajar B. Pembahasan BAB  V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN Lampiran                                                                                                     Halaman Lampiran 1 Nilai Formatif Pada Siklus I Lampiran 1 Nilai Formatif Pada Siklus II Lampiran 1 Nilai Formatif Pada Siklus III BAB  I  PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada abad 21 ini, kita perlu menelaah kembali praktik-praktik pembelajaran di sekolah-sekolah. Peranan yang harus dimainkan oleh dunia pendidikan dalam merencanakan akan didik untuk berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan bermasyarakat di kurun 21 akan sungguh berlainan dengan peranan tradisional yang selama ini dipegang oleh sekolah-sekolah. Ada persepsi lazim yang sudah berakar dalam dunia pendidikan dan juga sudah menjadi harapan penduduk . Persepsi lazim ini menganggap bahwa sudah merupakan tugas guru untuk mengajar dan menyodori siswa dengan muatan-muatan info dan pengetahuan. Guru perlu bersikap atau setidaknya dipandang oleh siswa sebagai yang mahatahu dan sumber isu. Lebih celaka lagi, siswa berguru dalam situasi yang membebani dan seram alasannya dibayangi oleh tuntutan-tuntutan mengejar-ngejar nilai-nilai tes dan ujian yang tinggi. Tampaknya, perlu adanya pergantian paradigma dalam menelaah proses berguru siswa dan interaksi antara siswa dan guru. Sudah seyogyanyalah kegiatan belajar mengajar juga lebih menimbang-nimbang siswa. Siswa bukanlah suatu botol kosong yang bisa diisi dengan muatan-muatan berita apa saja yang dianggap perlu oleh guru. Selain itu, alur proses mencar ilmu tidak mesti berasal dari guru menuju siswa. Siswa mampu juga saling mengajar dengan sesama siswa yang lainnnya. Bahkan, banyak observasi menawarkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif dibandingkan dengan pengajaran oleh guru. Sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak asuh untuk berhubungan dengan sesama siswa dalam peran-peran yang teratur disebut sebagai tata cara “pembelajaran bantu-membantu” atau cooperative learning. Dalam tata cara ini, guru bertindak sebagai fasilitator. Ada beberapa argumentasi penting mengapa tata cara pengajaran ini perlu dipakai lebih sering di sekolah-sekolah. Seiring dengan proses globalisasi, juga terjadi transformasi sosial, ekonomi, dan demografis yang mewajibkan sekolah untuk lebih menyiapkan anak didik dengan keahlian-keahlian baru untuk mampu ikut ikut serta dalam dunia yang berubah dan berkembang pesat. Sesungguhnya, bagi guru-guru di negeri ini sistem tolong-menolong tidak terlalu gila dan mereka telah sering menggunakannya dan mengenalnya  selaku metode kerja kalangan. Memang tidak bisa disanggah bahwa banyak guru sudah sering menugaskan para siswa untuk melakukan pekerjaan dalam kalangan.  Sayangnya, sistem kerja kalangan sering dianggap kurang efektif. Berbagai sikap dan kesan negative memang bermunculan dalam pelaksaan metode kerja kelompok. Jika kerja kelompok tidak sukses, siswa condong saling menyalahkan. Sebaliknya kalau berhasil, timbul perasaan tidak adil. Siswa yang terpelajar/tekun merasa rekannya yang kurang bisa sudah membonceng pada hasil kerja mereka. Akibatnya, metode kerja golongan yang sebaiknya bertujuan mulia, adalah menanamkan rasa persaudaraan dan kemampuan melakukan pekerjaan sama, justru bisa rampung dengan ketidakpuasaan dan kekecewaaan. Bukan hanya guru dan siswa yang merasa pesimis perihal penggunaan sistem kerja kelompok, bahkan kadang-kadang orang tua pun merasa was-was jikalau anak mereka dimasukkan dalam satu kelompok dengan siswa lain yang dianggap kurang sebanding. Berbagai dampak negatif dalam memakai tata cara kerja kelmpok tersebut sebaiknya mampu dikesampingkan kalau saja guru mau menyempatkan lebih banyak waktu dan perhatian dalam merencanakan dan menyusun metode kerja golongan. Yang diperkanalkan dalam tata cara pembelajaran cooperative learning bukan sekedar kerja kalangan, melainkan pada penstrukturannya. Makara, sistem pengajaran cooperative learning bisa didefinisikan selaku kerja/belajar kelompok yang teratur. Yang tergolong di dalam struktur ini yaitu lima unsru pokok (Johnson & Johnson, 1993), ialah saling ketergantungan kasatmata, tanggung jawab perorangan, interaksi personal, kemampuan melakukan pekerjaan sama, dan proses kelompok. Kekawatiran bahwa semangat siswa dalam berbagi diri secara perorangan bisa terancam dalam penggunaan sistem kerja kalangan bisa diketahui sebab dalam penugasan kalangan yang dijalankan secara asal-asalan, siswa bukannya mencar ilmu secara optimal, melainkan belajar mendominasi ataupun melempar tanggung jawab. Metode pembelajaran tolong-menolong distruktur sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota dalam satu kalangan melaksanakan taanggung jawab pribadinya alasannya ada sistem akuntabilitas individu. Siswa tidak bisa begitu saja membonceng jerih payah rekannya dan usaha setiap siswa akan dihargai sesuai dengan poin-poin perbaikannya. Dari latar belakang dilema tersebut, maka peneliti merasa terdorong untuk menyaksikan pengaruh pembelajaran terorganisir dan pinjaman balikan kepada prestasi belajar siswa dengan mengambil judul “Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam  Melalui Pembelajaran Kooperatif Model Learning Together Pada Siswa …………………………………………….Tahun Pelajaran 2001/2002”.  B. Rumusan Masalah Merujuk pada uraian latar belakang di atas, dapat dikaji ada beberapa persoalan yang dirumuskan selaku berikut: 1. Apakah pembelajaran kooperatif versi learning together kuat terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam  siswa …………………………..tahun pelajaran 2001/2002? 2. Seberapa tinggi tingkat penguasaan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam  dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model learning together pada siswa Kelas …………………………………….. tahun pelajaran 2001/2002? C. Tujuan Penelitian Berdasar atas rumusan masalaah di atas, maka tujuan dilakukan penelitian ini yakni: 1. Untuk mengungkap efek pembelajaran kooperatif versi learning together terhadap hasil mencar ilmu Pendidikan Agama Islam  siswa Kelas …………………………………………..tahun pelajaran 2001/2002. 2. Ingin mengenali seberapa jauh pemahaman dan penguasaan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam  setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif versi learning together pada siswa Kelas ……………………………………. D. Pentingnya Penelitian 1. Hasil dan temuan penelitian ini dapat menunjukkan berita tentang pembelajaran kooperatif versi learning together dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam  oleh guru Kelas ……………………………………. 2. Sekolah sebagai penentu kebijakan dalam upaya memajukan prestasi belajar siswa utamanya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam . 3. Guru, sebagai bahan pendapatdalam menentukan tata cara pembelajaran yang dapat menunjukkan faedah bagi siswa. 4. Siswa, mampu mengembangkan motiviasi belajar dan melatih perilaku sosial untuk saling peduli kepada kesuksesan siswa lain dalam mencapai tujuan belajar. 5. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis ihwal peranan guru Pendidikan Agama Islam  dalam mengembangkan pengertian siswa belajar Pendidikan Agama Islam . 6. Sumbangan pedoman bagi guru Pendidikan Agama Islam  dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar Pendidikan Agama Islam . E. Definisi Operasional Variabel Agar tidak terjadi salah pandangan terhadap judul observasi ini, maka perlu didefinisikan hal-hal selaku berikut: 1. Metode pembelajaran kooperatif versi learning together yakni:  Suatu pengajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja dalam golongan-kelompok untuk menetapkan tujuan bareng . 2. Motivasi berguru ialah: Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laris untuk memenuhi keperluan dan meraih tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.  3. Prestasi belajar yakni: Hasil mencar ilmu yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, sehabis siswa mengikuti pelajaran. F. Batasan Masalah Karena kekurangan waktu, maka dibutuhkan pembatasan masalah meliputi: 1. Penelitian ini cuma dikenakan pada siswa Kelas ……………………………………. tahun pelajaran 2001/2002. 2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September semester ganjil tahun pelajaran 2001/2002. 3. Materi yang disampaikan ialah pokok bahasan ……………………… BAB  II KAJIAN PUSTAKA  A. Definisi Pembelajaran Pembelajaran ialah proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup mencar ilmu. Sedangkan mencar ilmu yaitu berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berganti tingkah laris atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (KBBI, 1996:14). Sependapat dengan pernyataan tersebut, Sutomo (1993:68), mengemukakan bahwa berguru ialah proses pengelolaan lingkungan seseorang dengan sengaja dikerjakan sehingga memungkinkan dia mencar ilmu untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laris tertentu pula. Sedangkan belajar ialah sebuah proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan , kecakapan, bertambah wawasan, meningkat daya pikir, perilaku dan lain-lain (Soetomo, 1993:120). Pasal 1 Undang-Undang No. 20 tahun 2003 ihwal tata cara pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi penerima didik dengan pendidik dan sumber mencar ilmu pada suatu lingkungan mencar ilmu. Jadi, pembelajaran yakni proses yang disengaja yang menjadikan siswa berguru pada suatu lingkungan belajar untuk melakaukan kegiatan pada situasi tertentu. B. Motivasi Belajar 1.    Konsep Motivasi Pengertian tradisional menitik beratkan pada tata cara imposisi, adalah pengajaran dengan cara menuangkan hal-hal yang dianggap penting oleh guru bagi murid (Hamalik, Oemar: 2001: 157). Cara ini tidak menimbang-nimbang apakah materi pelajaran yang diberikan itu sesuai atau tidak dengan kesanggupan, kebutuhan, minat, dan tingkat kesanggupan, serta pengertian murid. Tidak pula diamati apakah bahan-materi yang diberikan itu didasarkan atas motif-motif dan tujuan yang ada pada murid. Sejak adanya inovasi-penemuan gres dalam bidang psikologi ihwal kepribadian dan tingkahlaku insan, serta kemajuan dalam bidang ilmu pendidikan maka persepsi tersebut kemudin berubah. Faktor siswa ajar justru menjadi komponen yang menentukan sukses atau tidaknya pengajaran    menurut   “Pusat minat”    anak makan,   busana,   permainan/bekeraja. Kemudian menyusul tokoh pendidikan lainnya, mirip Dr. John Dewey, yang populer dengan “pengajaran proyeknya”, yang menurut pada masalahyang menarik perhatian siswa, system persekolahan yang lain. Sehingga sejak itu pula para hebat berpendapat, bahwa tingkah laku insan didorong oleh motif-motif tertentu, dan tindakan belajar akan sukses bila didasarkan pada motivasi yang aa pada murid. Murid dapat dipaksa untuk mengikuti semua tindakan, tetapi beliau tidak dapat dipaksa untuk menghayati tindakan itu sebagaimana mestinya. Seekor kuda dapat digiring ke sungai tetapi tidak mampu dipaksa untuk minum. Demikian pula halnya dengan murid, guru dapat memaksakan bahan pelajaran kepaa mereka, akan namun guru tidak mungkin mampu memaksanya untuk mencar ilmu dalam arti bahu-membahu. Inilah yang menjadi peran paling berat ialah bagaimana caranya berupaya aga murid mau belajar, dan memiliki impian untuk berguru secara kontinyu. 2.   Pengertian Motivasi Motif ialah daya dalam diri seseorang yang mendoronbgnya untuk melakukian sesuatu, atau kondisi seorang atau organisme yang mengakibatkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laris untuk menyanggupi kebuuhan dan mencapai tujuan., atau keadaan dan kesiapan dalam arti individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman, 2000: 28). Sedangkan menurut Djamarah (2002: 114) motivasi yaitu suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas aktual untuk meraih tujuan tertentu. Dalam proses berguru, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak memiliki motivasai dalam berguru tidak akan mungkin melaksanakan acara mencar ilmu. Hal ini sesui dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang bermotivasi dalam berguru sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu dapat menyerap dan mengendapkan bahan itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan bahan itu dengan lebih baik. Makara motivasi yakni suatu keadaan yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai ujuan tertentu. 3.    Macam-macam Motivasi Menurut jenisnya, motivasi dibedakan menjadi sua, ialah : a. Motivasi Intinsik Jenis motivasi ini muncul selaku akibat dari dalam individu, apakah alasannya adanya undangan, suruhan, atau paksaan dari orang lain, sehingga dalam keadaan yang demikian kesudahannya beliau mau melakukan sesuatu untuk mencar ilmu (Usman, 2000: 29). Sedangkan berdasarkan Djamarah (2002: 115), motivasi intrinsic yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak butuhirangsang dari luar, sebab dalam setiap diri individu sedah ada dorongan untuk melaksanakan sesuatu. Menurut Winata (dalam Erriniati, 1994: 105) ada beberapa taktik dalam mengajar untuk mnembangun motivasi intrinsic, taktik tersebut adalah selaku berikut :L 1) Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa. 2) Memberikan keleluasaan dalam memperluas bahan pelajaran sebatas yang pokok. 3) Memberikan banyak waktu tambahan bagi siswa untuk melaksanakan tugas dan memanfaatkan su,mber mencar ilmu di sekolah. 4) Sesekali menawarkan penghargaan pada siswa atas pekerjaannya. Dari uraian di atas mampu ditarik kesimpulan bahwa mnotivasi intrinsic adalah motivasi yang timbul dari dalam individu yang fungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Seseorang yang mempunyai motivasi inrinsik dala dirinya, maka secara sadar akan melakukan sesuatu acara yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. b. Motivasi Ekstrinsik Jenis motivasi ini timbut sebagai akhir efek dari luar individu,n apakah alasannya adanya permintaan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian kesannya ia mau melakukan sesuatu ata mencar ilmu. Misalnya seseorang mau belajar sebab dia disuruh oleh orang tuanya biar mendapat peringkat pertama di kelasnya. (Usman, 2000: 29). Sedangkan berdasarkan Djamarah (2002: 117), motivasi ekstrinsik ialah kebalikan dari motivasi intrinsic. Motivasi ekstrinsik yakni motif-motif yang aktif dan berfunmgsi sebab adanya perangsang dari luar. Beberapa cara menghidupkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan moivasi instrinsik antara lain : 1) Kompetisi persaingan): Guru berupaya membuat persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berupaya memperbaiki hasil prestasi yang telah diraih sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain. 2) Pace Making (membuat tujuan sementara atau erat): Pada permulaan acara berguru mengajar guru, hendaknya apalagi dahulu menyamnpaikan kepada siswa TIK yang hendak dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk meraih TIK tersebut. 3) Tujuan yang terperinci: Motif medorong individu untuk meraih tujuan. Makin jelas tujuan, makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakukan sesuatu perbuatan. 4) Kesempunaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menjadikan rasa puas, kesenangan dan kepercayaan teradap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan menenteng imbas yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya banyak menunjukkan peluang terhadap anak untuk menjangkau sukses dengan usaha mampu berdiri diatas kaki sendiri, tentu saja dengan bimbingan guru. 5) Minat yang besar: Motif akan muncul jika individu mempunyai minat yang besar. 6) Mengadakan penelitiaqn atau tes. Pada biasanya semua siswa mau belajar dengan tujuan mendapatkan nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar kalau tiak ada ulangan. Akan tetapi, jikalau guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan ekspresi, barulah siswa giat berguru dan menghafal supaya dia mendapat nilai yang baik. Makara, angka atau nilai itu ialah motivasi yang kuat bagi siswa.          Dari uraian di atas dikenali bahwa motivasi ekstrinsik ialah motivasi yang tibul dari luar individu yang berfungsinya Karen danya perangsang dari luar, contohnya adanya kompetisi dari luar, untuk mencapi nilai yang tinggi, dn lain sebgainya. C. Meningkatkan Motivasi Belajar        Telah disepakati oleh jago pendidikan bahwa guru ialah kunci alam proses belajar mengajar. Bila al ini dilihat dari sisi nilai lebih yang dimiliki oleh guru dibandingkan dengan siswanya. Nilai lebih ini dimiliki oleh guru khususnya dalam ilmu wawasan yang dimiliki oleh guru biang studi pengjarannya. Walau demikian nilai lebih itu tidak akan sanggup menerima amanah oleh guru, pabila beliau tidak memiliki teknik-teknik yang tept untuk mentransferkan kepada siswa. Disamping itu kegiatan mengajar adalah satu acara yang sangan kompleks, sebab itu sangat sulit bagi guru PAI bagaimana caranya mengajar dengan baik agr mampu mengembangkan motivasi siswa dalam berguru PAI.       Untuk merealisasikan harapan tersebut, maka aa beberapa prinsip biasa yang harus dipegang oleh guru PAI dalam melakukan tugasnya.  Menurut Prof. Dr. S. Nasution, prinsip-prinsip umum yang hrus dipegang oleh guru PAI dalam melaksanakan tugasnya yakni sebagai berikut : 1. Guru yang baik memahami dan menghormaati siswa. 2. Guru yang bik harus menghormati bahan pelajaran yang diberikannya. 3. guru hendaknya menyesuikan materi pelajaran yang diberikan dengan kemampuan siswa. 4. Guru hendaknya menyesuaikan sistem pengajar dengan pelajarannya. 5. Guru yang bagus mengaktifkan siswa dalam mencar ilmu. 6. Guru yang bagus memperlihatkan pemahaman, bukan hanya dengan kata-kata belaka. Hal ini unmtuk menghindari verbalisme pada murid. 7. Guru menghubungkan pelajaran pada kehidupan siswa. 8. Guru terkait dengan teks book. 9. Guru yang baik tidak cuma mengjar dalam arti memberikan wawasan, melainkan senantiasa membentuk kepribadian siswanya. Sehubungan dengan upya meningkatkan motivasi mencar ilmu siswa ada dua prinsip yang mesti diamati oleh guru sebagaimana yang dikemukakan oleh Thomas F. Suton sebagi berikut : 1. Menyelidiki dengan terperinci dan tegas apa yang diperlukan dari pelajaran untuk di pelajari dan mengapa beliau diperlukan mempelajarinya. 2. Menciptakan kesadaran yang tinggi pada pelajaran akan pentingnya memiliki skill dan wawasan yang akan diberikan oleh acara pendidikn itu.          Dari prinsip-prinsip biasa di atas, memberikan bahwa perann guru PAI dlm mengajar PAI mampu dikatkan sangat dominant, begitu pula dalam memajukan motivasi berguru sisw sepertinya guru yng mengenali akan kesanggupan siswa-siswanya baik secara individual maupun secara kelompok, guru mengetahui problem-masalah belajar dan mengajar, guru pula yang mengethui kesusahan-kesusahan siswa teraap pelajaran PAI dn bagaimana cara memecahkannya. D. Model LT (Learning Together) Para siswa dikelompokkan ke dalam tim dengan empat sampai lima orang per tim dan heterogen kemampuannya. Para siswa melakukan pekerjaan selaku sebuah keompok untuk menyelesaikan sebuah produk kelompok, aneka macam gagasan, dan membantu satu sama lain dengan tanggapan, dan meminta derma dari sobat yang lain sebelum bertanya kepada guru, dan si guru memperlihatkan penghargaan terhadap golongan berdasarkan kinerja kelompok. BAB  III  METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), alasannya adalah observasi dilakukan untuk memecahkan dilema pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga tergolong penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang dikehendaki mampu diraih. Menurut Sukidin dkk (2002:54) ada 4 macam bentuk observasi tindakan, ialah: (1) penelitian tindakan guru selaku peneliti, (2) observasi langkah-langkah kolaboratif, (3) observasi tindakan simultan terintegratif, dan (4) penelitian tindakan sosial eksperimental. Keempat bentuk penelitian tindakan di atas, ada persamaan dan perbedaannya. Menurut Oja dan Smulyan sebagaimana dikutip oleh Kasbolah, (2000) (dalam Sukidin, dkk. 2002:55), ciri-ciri dari setiap observasi tergantung pada: (1) tujuan utamanya atau pada tekanannya, (2) tingkat Learning Together    antara pelaku peneliti dan peneliti dari luar, (3) proses yang digunakan dalam melaksanakan observasi, dan (4) korelasi antara proyek dengan sekolah. Dalam observasi ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana guru sungguh berperan sekali dalam proses observasi tindakan kelas. Dalam bentuk ini, tujuan utama penelitian langkah-langkah kelas adalah untuk meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam acara ini, guru terlibat eksklusif secara penuh dalam proses penyusunan rencana, langkah-langkah, observasi, dan refleksi. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini peranannya tidak mayoritas dan sangat kecil. Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan. Kemmis dan Taggart (1988:14) menyatakan bahwa model observasi langkah-langkah yakni berupa spiral. Tahapan observasi tindakan pada suatu siklus mencakup penyusunan rencana atau pelaksanaan observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dilarang jikalau sesuai dengan keperluan dan dirasa sudah cukup. A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat observasi ialah daerah yang digunakan dalam melaksanakan observasi untuk mendapatkan data yang dikehendaki. Penelitian ini bertempat di …. Tahun pelajaran … 2. Waktu Penelitian Waktu observasi ialah waktu berlangsungnya observasi atau ketika penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret semester genap …. 3. Subyek Penelitian Subyek observasi yakni siswa-siswi kelas … tahun pelajaran … pada pokok bahasan cerita nabi Ibrahim a.s, dan nabi Ismail a.s. B. Rancangan Penelitian Menurut pengertiannya penelitian langkah-langkah yakni observasi ihwal hal-hal yang terjadi di penduduk atau sekelompok target, dan akhirnya pribadi dapat dikenakan pada penduduk yang bersangkutan (Arikunto, Suharsimi 2002:82). Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan yaitu adanya partisipasi dan Learning Together    antara peneliti dengan anggota kelompok target. Penelitian tindakan ialah satu seni manajemen pemecahan dilema yang mempergunakan langkah-langkah positif dalam bentuk proses pengembangan kreatif yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas tersebut dapat saling mendukung satu sama lain. Sedangkan tujuan observasi tindakan mesti menyanggupi beberapa prinsip sebagai berikut: 1. Permasalahan atau topik yang dipilih harus menyanggupi persyaratan, yakni betul-betul aktual dan penting, menarik perhatian dan mampu dikerjakan serta dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan pergantian. 2. Kegiatan observasi, baik intervensi maupun observasi yang dikerjakan tidak boleh sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama. 3. Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien, artinya terpilih dengan sempurna sasaran dan tidak menghamburkan waktu, dana dan tenaga. 4. Metodologi yang dipakai mesti terang, rinci, dan terbuka, setiap langkah dari tindakan dirumuskan dengan tegas sehingga orang yang berkeinginan kepada penelitian dapat mengevaluasi setiap hipotesis dan pembuktiannya. 5. Kegiatan observasi diharapkan mampu merupakan proses aktivitas yang berkelanjutan (on-going), mengenang bahwa pengembangan dan perbaikan kepada mutu langkah-langkah memang tidak dapat berhenti namun menjadi tantangan sepanjang waktu. (Arikunto, Suharsimi, 2002:82-83). Sesuai dengan jenis observasi yang dipilih, adalah penelitian tindakan, maka observasi ini menggunakan versi observasi langkah-langkah dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, Suharsimi, 2002:83), yaitu berupa spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus mencakup planning (planning), action (langkah-langkah), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya ialah penyusunan rencana yang sudah direvisi, langkah-langkah, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus I dijalankan langkah-langkah pendahuluan yang berupa kenali masalah. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut. Penjelasan alur di atas yaitu: 1. Rancangan/rencana awal, sebelum menyelenggarakan observasi peneliti menyusun rumusan duduk perkara, tujuan dan membuat planning tindakan, tergolong di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran. 2. Kegiatan dan observasi, mencakup tindakan yang dikerjakan oleh peneliti selaku upaya membangun pengertian konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya pengajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah. 3. Refleksi, peneliti mengkaji, menyaksikan dan menimbang-nimbang hasil atau pengaruh dari tindakan yang dijalankan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. 4. Rancangan/planning yang direvisi, menurut hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dikerjakan pada siklus selanjutnya. Observasi dibagi dalam tiga siklus,  yakni siklus 1, 2, dan seterusnya, dimana masing siklus dikenai perlakuan yang serupa (alur acara yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di tamat masing putaran. Siklus ini berkesinambungan dan akan dihentikan bila sesuai dengan keperluan dan dirasa telah cukup. C. Alat Pengumpul Data Alat pengumpul data dalam observasi ini ialah tes buatan guru yang fungsinya ialah: (1) untuk memilih seberapa baik siswa sudah menguasai materi pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu, (2) untuk memilih apakah sebuah tujuan sudah tercapai, dan (3) untuk mendapatkan suatu nilai (Arikunto, Suharsimi, 2002:149). Sedangkan tujuan dari tes ialah untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individual maupun secara klasikal. Di samping itu untuk mengenali letak kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa sehingga dapat dilihat dimana kelemahannya, utamanya pada bagian mana TPK yang belum tercapai. Untuk memperkuat data yang dikumpulkan maka juga digunakan sistem pengamatan (observasi) yang dilakukan oleh sobat sejawat untuk mengenali dan merekam acara guru dan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar. D. Analisis Data Dalam rangka menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga mampu menghasilkan suatu kesimpulan yang mampu dipertanggungjawabkan, maka dipakai analisis data kuantitatif dan pada sistem observasi digunakan data kualitatif. Cara penghitungan untuk mengenali ketuntasan belajar siswa dalam proses belajar mengajar selaku berikut. 1. Merekapitulasi hasil tes 2. Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya untuk masing-masing siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan mencar ilmu seperti yang terdapat dalam buku isyarat teknis evaluasi adalah siswa dikatakan tuntas secara individual jika menerima nilai sekurang-kurangnya65, sedangkan secara klasikal dikatakan tuntas mencar ilmu jikalau jumlah siswa yang tuntas secara individu mencapai 85% yang sudah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%. 3. Menganalisa hasil pengamatan yang dilaksanakan oleh guru sendiri selama kegiatan belajar mengajar berjalan. BAB  IV  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hubungan Pembelajaran Model Learning Together   dengan Ketuntasan Belajar Suatu pokok bahasan atau sub pokok bahasan dianggap tuntas secara klasikal jika siswa yang menerima nilai 65 lebih dari atau sama dengan 85%,  sedangkan seorang siswa dinyatakan tuntas mencar ilmu pada pokok bahasan atau sub pokok bahasan tertentu jikalau mendapat nilai minimal 65. 1. Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari planning pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga disediakan lembar observasi pengelolaan versi pembelajaran Learning Together , dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa. b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan  Pelaksanaan kegiatan berguru mengajar untuk siklus I dikerjakan pada tanggal 4 Maret 2005 di Kelas VI jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang sudah disediakan. Pengamatan (pengamatan) dikerjakan bersama-sama dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dijalankan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I yakni selaku berikut. Tabel 4.1. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I No Uraian Hasil Siklus I 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan berguru 70,00 15 68,18 Dari  tabel di atas dapat diterangkan bahwa dengan menerapkan pembelajaran model Learning Together   diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa ialah 70,00 dan ketuntasan mencar ilmu meraih 68,18% atau ada 15 siswa dari 22 siswa sudah tuntas berguru. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas mencar ilmu, alasannya adalah siswa yang memperoleh nilai  65 hanya sebesar 68,18% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki ialah sebesar 85%. Hal ini disebabkan alasannya siswa masih merasa gres dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan pembelajaran model Learning Together  . c. Refleksi Dalam pelaksanaan acara mencar ilmu mengajar diperoleh isu dari hasil observasi sebagai berikut: 1) Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam memberikan tujuan pembelajaran 2) Guru kurang optimal dalam pengelolaan waktu 3) Siswa kurang aktif selama pembelajaran berlangsung d. Refisi Pelaksanaan acara mencar ilmu mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dijalankan pada siklus berikutnya. 1) Guru perlu lebih cekatan dalam memotivasi siswa dan lebih terperinci dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat eksklusif dalam setiap aktivitas yang akan dikerjakan. 2) Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menyertakan berita-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan. 3) Guru harus lebih cekatan dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. 2. Siklus II a. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang berisikan planning pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan aktivitas mencar ilmu mengajar untuk siklus II dijalankan pada tanggal 11 Maret 2005 di Kelas VI dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan mengamati revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kelemahan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dijalankan bersama-sama dengan pelaksanaan mencar ilmu mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengenali tingkat kesuksesan siswa dalam proses berguru mengajar yang sudah dilakukan. Instrumen yang dipakai yaitu tes formatif II. Adapun data hasil observasi pada siklus II yakni selaku berikut.                    Tabel 4.2. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II No Uraian Hasil Siklus II 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan berguru 77,73 17 79,01 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi berguru siswa adalah 77,73 dan ketuntasan belajar mencapai 79,01% atau ada 17 siswa dari 22 siswa telah tuntas berguru. Hasil ini menawarkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan berguru secara klasikal telah mengalami kenaikan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya kenaikan hasil berguru siswa ini alasannya sesudah guru memberitahukan bahwa setiap akhir pelajaran akan senantiasa diadakan tes sehingga pada konferensi selanjutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga telah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diharapkan guru dengan menerapkan pembelajaran model Learning Together  . c. Refleksi Dalam pelaksanaan acara berguru diperoleh info dari hasil observasi sebagai berikut. 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/mendapatkan desain 3) Pengelolaan waktu d. Revisi Rancangan Pelaksanaan aktivitas mencar ilmu pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kelemahan. Maka perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus II antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya mampu menciptakan siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung. 2) Guru mesti lebih bersahabat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau mengajukan pertanyaan. 3) Guru harus lebih tabah dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/memperoleh desain. 4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga acara pembelajaran mampu berlangsung sesuai dengan yang dibutuhkan. 5) Guru seharusnya menambah lebih banyak pola soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dilakukan pada setiap acara berguru mengajar. 3. Siklus III a. Tahap penyusunan rencana Pada tahap ini peneliti merencanakan perangkat pembelajaran yang berisikan planning pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap acara dan observasi Pelaksanaan aktivitas berguru mengajar untuk siklus III dilakukan pada tanggal 18 ….. 2005 di Kelas … dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku pengajar. Adapun proses berguru mengajar mengacu pada planning pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kelemahan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (pengamatan) dilakukan bersama-sama dengan pelaksanaan berguru mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kesuksesan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar yang sudah dilaksanakan. Instrumen yang digunakan yakni tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III yakni sebagai berikut. Tabel 4.3. Hasil Formatif Siswa Pada Siklus III No Uraian Hasil Siklus III 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas berguru Persentase ketuntasan belajar 82,73 19 86,36 Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 82,73 dan dari 22 siswa telah tuntas sebanyak 19 siswa dan 3 siswa belum meraih ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan mencar ilmu yang sudah tercapai sebesar 86,36% (termasuk klasifikasi tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya kenaikan hasil berguru pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya kenaikan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran model Learning Together   sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran mirip ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. c. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terealisasi dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran model Learning Together  . Dari data-data yang telah diperoleh mampu diuraikan sebagai berikut: 1) Selama proses berguru mengajar guru sudah melakukan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa faktor yang belum tepat, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. 2) Berdasarkan data hasil observasi dimengerti bahwa siswa aktif selama proses berguru berlangsung. 3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. 4) Hasil mencar ilmu siswa pada siklus III meraih ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan pembelajaran model Learning Together   dengan baik dan dilihat dari kegiatan siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses mencar ilmu mengajar sudah berlangsung dengan baik. Maka tidak dibutuhkan revisi terlalu banyak, namun yang perlu diperhatikan untuk langkah-langkah berikutnya yaitu mengoptimalkan dan mempertahankan apa yang sudah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan model pengajaran Learning Together    dapat meningkatkan proses mencar ilmu mengajar sehingga tujuan pembelajaran mampu tercapai. B. Pembahasan 1. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Melalui hasil observasi ini memberikan bahwa pembelajaran versi Learning Together   memiliki imbas kasatmata dalam meningkatkan prestasi berguru siswa. Hal ini dapat dilihat dari makin mantapnya pemahaman siswa terhadap bahan yang disampaikan guru (ketuntasan mencar ilmu meningkat dari siklus I, II, dan III) adalah masing-masing 68,18%, 79,01%, dan 86,36%. Pada siklus III ketuntasan mencar ilmu siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh acara siswa dalam proses mencar ilmu mengajar dengan menerapkan model pengajaran Learning Together    dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini mempunyai dampak aktual kepada prestasi belajar siswa yaitu mampu ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pad setiap siklus yang terus mengalami kenaikan. 3. Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran PAI pada pokok bahasan cerita nabi Ibrahim a.s, dan nabi Ismail a.s dengan versi pengajaran Learning Together    yang paling dominan yaitu, mendengarkan/mengamati klarifikasi guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi mampu dikatakan bahwa aktivitas siswa mampu dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran sudah melakukan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan pengajaran konstekstual model pengajaran berbasis duduk perkara dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam memperoleh rancangan, menjelaskan materi yang sulit, memberi umpan balik/penilaian/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. BAB  V  SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan selama tiga siklus, hasil seluruh pembahasan serta analisis yang sudah dilakukan mampu disimpulkan selaku berikut: 1. Model pengajaran Learning Together    dapat meningkatkan kualitas pembelajaran PAI. 2. Pembelajaran versi Learning Together   mempunyai efek aktual dalam meningkatkan prestasi mencar ilmu siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, ialah siklus I (68,18%), siklus II (79,01%), siklus III (86,36%). 3. Model pengajaran Learning Together    dapat mengakibatkan siswa merasa dirinya mendapat perhatian dan peluang untuk memberikan pertimbangan , gagasan, pandangan baru dan pertanyaan. 4. Siswa dapat melakukan pekerjaan secara mampu berdiri diatas kaki sendiri maupun kelompok, serta mampu mempertanggungjawabkan segala tugas individu maupun kalangan. 5. Penerapan pembelajaran model Learning Together   mempunyai pengaruh faktual, yaitu dapat meningkatkan motivasi berguru siswa. B. Saran Dari hasil observasi yang diperoleh dari uraian sebelumnya biar proses mencar ilmu mengajar PAI lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan rekomendasi selaku berikut: 1. Untuk melaksanakan model pengajaran Learning Together    memerlukan antisipasi yang cukup matang, sehingga guru harus bisa memilih atau menentukan topik yang betul-betul mampu dipraktekkan dengan pembelajaran versi Learning Together   dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang maksimal. 2. Dalam rangka meningkatkan prestasi mencar ilmu siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan banyak sekali tata cara pengajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat mendapatkan pengetahuan gres, mendapatkan rancangan dan keahlian, sehingga siswa berhasil atau bisa memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil observasi ini hanya dijalankan di … tahun pelajaran … 4. Untuk penelitian yang sama hendaknya dijalankan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon. Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta. Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta. Azhar, Lalu Muhammad. 1993. Proses Belajar Mengajar Pendidikan. Jakarta: Usaha Nasional. Daroeso, Bambang. 1989. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Semarang: Aneka Ilmu. Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta. Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineksa Cipta. Hadi, Sutrisno. 1982. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi UGM. Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Hasibuan K.K. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineksa Cipta. Masriyah. 1999. Analisis Butir Tes. Surabaya: Universitas Press. Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nur, Moh. 2001. Pemotivasian Siswa untuk Belajar. Surabaya: University Press. Univesitas Negeri Surabaya. Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka. Sukidin, dkk. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Insan Cendekia. Surakhmad, Winarno. 1990. Metode Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars. Suryosubroto, B. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineksa Cipta. Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Lampiran 1 Dowwload PTK Format Microsoft Word (.doc) Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pengajaran Learning Together
Sumber https://somadrug1.blogspot.com


EmoticonEmoticon