Sabtu, 12 Desember 2020

Seni Manajemen Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Proyek/Tugas Dalam Meningkatkan Prestasi Berguru Biologi Pada Siswa

Kesempatan kali ini kami bagikan file Penelitian Tindakan Kelas dengan judul Strategi Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Proyek/Tugas Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Biologi Pada Siswa, mirip apa bentuk dan isinya? STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MODEL PENGAJARAN BERBASIS PROYEK/TUGAS DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI PADA SISWA KELAS ………… NEGERI ………….. ………………. TAHUN 2003/2004 KARYA ILMIAH OLEH …………………………………. NIP : ………………. DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN ………………….. ………………. NEGERI …………………. HALAMAN PENGESAHAN KARYA ILMIAH BERJUDUL: STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MODEL PENGAJARAN BERBASIS PROYEK/TUGAS DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI  PADA SISWA KELAS ………… NEGERI ………….. ………………. TAHUN 2003/2004 OLEH …………………………………. NIP : ………………. TELAH DISETUJUI Kepala Dinas Pendidikan Ketua PGRI Kabupaten ………………. Kabupaten ………………. ………………………………. ………………………………. NIP. NIP. KATA PENGANTAR Puji syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan karya ilmiah ini mampu diselesaikan pada waktunya. Karya ilmiah yang berjudul “Strategi Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Proyek/Tugas Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Biologi  Pada Siswa Kelas ….. Tahun 2003/2004” ini, disusun untuk menyanggupi tolok ukur peningkatan kalangan profesi guru dari IV-b ke IV-c. Dalam penyusunan dan penyelesaian karya ilmiah ini tidak terlepas dari tunjangan aneka macam pihak. Oleh sebab itu pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih yang tak terhingga terhadap: 1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten …. 2. Yth. Ketua PD II PGRI Kabupaten …… 3. Yth. Rekan-rekan Guru ….. Negeri …… 4. Semua pihak yang sudah banyak membantu sehingga penulisan ini simpulan Peneliti menyadari bahwa hasil observasi ini masih jauh dari sempurna. Oleh alasannya adalah itu kritik dan usulan yang bersifat membangun sungguh peneliti kehendaki demi kesempurnaan penelitian ini dan demi penelitian yang akan tiba. …….., Oktober 2003 Peneliti ABSTRAK …., 2005. Strategi Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Proyek/Tugas Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Biologi  Pada Siswa Kelas …… Tahun Pelajaran 2005/2006 Kata Kunci: Biologi , tata cara berguru aktif model tugas/proyek Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan cukup umur ini untuk kembali pada pedoman bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jikalau anak “mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengenali’-nya. Pembelajaran yang berorientasi sasaran penguasaan materi terbukti sukses dalam persaingan ‘mengenang’ jangka pendek, namun gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangkan panjang. Permasalahan yang ingin dikaji dalam observasi ini adalah: (a) Bagaimanakah kenaikan prestasi berguru Biologi  dengan diterapkannya sistem belajar aktif versi pengajaran terarah? (b) Bagaimanakah pengaruh sistem belajar aktif versi peran/proyek kepada motivasi berguru? Tujuan dari penelitian ini yakni: (a) Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar Biologi  setelah diterapkannya metode berguru aktif versi pengajaran terarah.(b) Ingin mengetahui imbas motivasi mencar ilmu Biologi  sehabis diterapkan sistem belajar aktif versi pengajaran terarah. Penelitian ini menggunakan penelitian langkah-langkah (action research) sebanyak tiga putaran. Setian putaran terdiri dari empat tahap ialah: rancangan, acara dan observasi, refleksi, dan refisi. Sasaran observasi ini adalh siswa kelas ……………………………... Data yang diperoleh berbentukhasil tes formatif, lembar observasi acara mencar ilmu mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami kenaikan dari siklus I sampai siklus III yaitu, siklus I (66,67%), siklus II (77,78%), siklus III (88,89%). Simpulan dari penelitian ini yaitu metode mencar ilmu aktif model peran/proyek dapat kuat kasatmata terhadap motivasi berguru Siswa ……………………………….., serta versi pembelajaran ini dapat digunakan selaku salah satu alternative pembelajaran Biologi . DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul Halaman Pengesahan Kata Pengantar Abstrak Daftar Isi BAB  I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian E. Penjelasan Istilah F. Batasan Masalah BAB  II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Prestrasi Belajar B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar C. Hakikat IPA atau Sains D. Proses Belajar Mengajar Biologi E. Prestasi Belajar Biologi F. Gaya Belajar G. Sisi Sosial Proses Belajar H. Pengajaran Berbasis Proyek/Tugas BAB  III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian B. Rancangan Penelitian C. Instrumen Penelitian D. Metode Pengumpulan Data E. Teknik Analisis Data BAB  IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis Item Butir Soal B. Analisis Data Penelitian Persiklus C. Pembahasan BAB  V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan B. Saran-anjuran DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemajuan sebuah bangsa hanya dapat diraih lewat penataan pendidikan yang baik. Upaya kenaikan kualitas pendidikan itu  diharapkan dapat menaikan harkat dan martabat bangsa Indonesia. Untuk mencapai itu, pendidikan mesti adaptif kepada perubahan zaman. Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia  tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan gres terus dikerjakan oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, kenaikan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar, erta pengembangan paradigma gres dengan metodologi pengajaran. Mengajar bukan semata duduk perkara menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan gosip ke dalam benak siswa. Belajar membutuhkan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil mencar ilmu yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil berguru yang langgeng hanyalah kegiatan pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis proyek/peran. Apa yang menyebabkan berguru aktif? Agar mencar ilmu menjadi aktif siswa harus melakukan banyak sekali peran. Mereka mesti memakai otak, mengkaji gagasan, memecahkan problem, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif  harus sigap, mengasyikkan, bergairahdan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud) Untuk mampu mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, melihat, bertanya tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu “mengerjakannya”, ialah menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menawarkan misalnya, menjajal mempraktekkan keahlian, dan melakukan peran yang menuntut wawasan yang telah atau harus mereka peroleh. Salah satu sistem untuk membangkitkan apa yang siswa pelajari dalam satu semester proses belajar mengajar adalah metode pembelajaran bagaimana menyebabkan berguru tidak terlupakan. Metode ini yaitu untuk membantu siswa dalam mengenang materi pelajaran yang sudah diterima selama ini. Selain itu tata cara ini dipraktekkan pada final semester proses berguru mengajar dengan  tujuan untuk menolong siswa semoga siap mengahadapi ujian semester atau cobaan selesai. Dengan menyadari tanda-tanda-gejala atau realita tersebut diatas, maka dalam penelitian ini penulis penulis mengambil judul “Strategi Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Proyek/Tugas Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Biologi Pada Siswa Kelas ………………………………………….. B. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahnnya sebagi berikut: 1. Seberapa tinggi peningkatan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas pada siswa Kelas ……………………………….? 2. Bagaimanakah dampak pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis proyek/peran dalam mengembangkan motivasi berguru sains pada siswa Kelas ……………………………………..? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan persoalan di atas, penelitian ini bermaksud untuk: 1. Ingin mengenali seberapa jauh kenaikan prestasi berguru Sains setelah diterapkannya pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis proyek/tugas pada siswa Kelas ………………………………………….. 2. Ingin mengenali imbas pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis proyek/peran dalam mengembangkan prestasi dan motivasi belajar terhadap bahan pelajaran Sains setelah diterapkan pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis proyek/tugas pada siswa Kelas ……………………………….. D. Kegunaan Penelitian Adapun maksud penulis menyelenggarakan observasi ini diperlukan dapat memiliki kegunaan sebagai: 1. Memberikan informasi wacana model pembelajaran yang cocok dengan proses mencar ilmu-mengajar Sains. 2. Meningkatkan pestasi prestasi dan motivasi pada pelajaran Sains 3. Mengembangkan model pembelajaran yang tepat dengan bidang studi Sains. E. Penjelasan Istilah Agar tidak terjadi salah persepsi kepada judul observasi ini, maka perlu didefinisikan hal-hal selaku berikut: 1. Metode kooperatif yaitu: Suatu pengajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja dalam golongan-kalangan untuk memutuskan tujuan bareng 2. Motivasi belajar adalah: Merupakan daya aktivis psikis dari dalam diri seseorang untuk mampu melaksanakan aktivitas berguru dan memperbesar keterampilan, pengalaman. Motivasi mendorong dan mengarah minat mencar ilmu untuk tercapai sebuah tujuan. 3. Prestasi mencar ilmu ialah: Hasil berguru yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, sehabis siswa mengikuti pelajaran ……….. F. Batasan Masalah Karena keterbatasan waktu, maka diharapkan pembatasan dilema yang meliputi: 1. Penelitian ini cuma dikenakan pada siswa kelas ……………………………….tahun pelajaran 2003/2004. 2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September semester ganjil tahun palajaran 2003/2004. 3. Materi yang disampaikan yaitu pokok bahasan………………….. BAB  II  KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Prestrasi Belajar 1. Pengertian Belajar Pengertian mencar ilmu sudah banyak dikemukakan dalam kepustakaan. Yang dimaksud mencar ilmu yakni tindakan murid dalam bidang material, formal serta fungsional pada umumnya dan bidang intelektual pada terutama. Kaprikornus berguru ialah hal yang pokok. Belajar merupakan suatu pergeseran pada perilaku dan tingkah laku yang lebih baik, namun kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk. Untuk dapat disebut mencar ilmu, maka perubahan mesti ialah tamat dari pada periode yang cukup panjang. Berapa usang waktu itu berjalan susah diputuskan dengan pasti, namun pergantian itu hendaklah ialah selesai dari sebuah kurun yang mungkin berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan atau beberapa tahun. Belajar merupakan suatu proses yang tideak mampu dilihat dengan faktual proses itu terjadi dalam diri seserorang yang sedang mengalami mencar ilmu. Makara yang dimaksud dengan berguru bukan tingkah laris yang nampak, tetapi prosesnya terjadi secara internal di dalam diri individu dalam mengusahakan mendapatkan relasi-korelasi baru. 2. Pengertian Prestasi Belajar Sebelum dijelaskan pengertian mengenai prestasi belajar, apalagi dahulu akan dikemukakan ihwal pengertian prestasi. Prestasi yakni hasil yang sudah dicapai. Dengan demikian bahwa prestasi merupakan hasil yang telah dicapai oleh seseorang sehabis melakukan sesuatu pekerjaan/kegiatan tertentu. Kaprikornus prestasi adalah hasil yang telah diraih oleh sebab itu semua individu dengan adanya belajar risikonya dapat diraih. Setiap individu belajar mengharapkan hasil yang yang sebaik-baiknya. Oleh alasannya itu setiap individu mesti mencar ilmu dengan sebaik mungkin supaya prestasinya berhasil dengan baik. Sedang pemahaman prestasi juga ada yang menyampaikan prestasi yakni kemampuan. Kemampuan di sini memiliki arti yan dimampui individu dalam melaksanakan sesuatu. 3. Pedoman Cara Belajar Untuk menemukan prestasi/hasil belajar yang bagus mesti dijalankan dengan baik dan fatwa cara yang tapat. Setiap orang memiliki cara atau pedoman sendiri-sendiri dalam mencar ilmu. Pedoman/cara yang satu cocok digunakan oleh seorang siswa, namun mungkin kurang sesuai untuk anak/siswa lainnya. Hal ini disebabkan alasannya adalah mempunyai perbedaan individu dalam hal kemampuan, kecepatan dan kepekaan dalam mendapatkan materi pelajaran. Oleh sebab itu tidaklah ada suatu isyarat yang niscaya yang mesti dilaksanakan oleh seorang siswa dalam melakukan acara berguru. Tetapi aspek yang paling menentukan keberhasilan mencar ilmu yakni para siswa itu sendiri. Untuk mampu meraih hasil belajar yang sebaik-baiknya harus mempunyai kebiasaan belajar yang bagus. B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar 1.  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar Adapun faktor-faktor itu, dapat dibedakan menjadi dua golongan ialah: a. Faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang kita sebut faktor individu. Yang termasuk ke dalam aspek individu antara lain faktor kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi. b. Faktor yang ada pada luar individu yang kita sebut dengan faktor sosial Sedangkan yang faktor sosial antara lain aspek keluarga, keadaan rumah tangga, guru, dan cara dalam mengajarnya, lingkungan dan kesempatan yang ada atau tersedia dan motivasi sosial. Berdasarkan faktor yang menghipnotis aktivitas berguru di atas memperlihatkan bahwa belajar itu merupaka proses yang cukup kompleks. Artinya pelaksanaan dan akhirnya sungguh ditentukan oleh aspek-aspek di atas. Bagi siswa yang berada dalam aspek yang mendukung acara mencar ilmu akan mampu dilalui dengan tanpa hambatan dn pada gilirannya akan memperoleh prestasi atau hasil belajar yang bagus. Sebaliknya bagi siswa yang berada dalam kondisi belajar yang tidak menguntungkan, dalam arti tidak ditunjang atau disokong oleh faktor-aspek diatas, maka aktivitas atau proses belajarnya akan terhambat atau menemui kesulitan. C. Hakikat IPA atau Sains IPA atau sains didefiniksan selaku suatu kumpulan wawasan yang tersusun secara alam. Perkembangan IPA tidak hanya ditandai dengan adanya fakta, namun juga oleh adanya tata cara ilmiah dan perilaku ilmiah. Metode ilmiah dan pengamatan ilmiah menekankan pada hakikat IPA atau Sains. Secara rinci hakikat IPA atau Sains menurut Bridgman (dalam Lestari, 2002: 7) adalah selaku berikut: 1. Kualitas; intinya konsep-rancangan IPA atau Sains senantiasa mampu dinyatakan dalam bentuk angka-angka. 2. Observasi dan Eksperimen; merupakan salah satu cara untuk dapat mengetahui konsep-desain IPA atau Sains secara tepat dan dapat diuji kebenarannya. 3. Ramalan (prediksi); ialah salah satu asumsi penting dalam IPA atau Sains bahwa misteri alam raya ini mampu dipahami dan memiliki keteraturan. Dengan perkiraan tersebut lewat pengukuran yang teliti maka berbagai kejadian alam yang hendak terjadi mampu diprediksikan secara tepat. 4. Progresif dan komunikatif; artinya IPA atau Sains itu selalu meningkat ke arah yang lebih tepat dan inovasi-penemuan yang ada merupakan kelanjutan dari inovasi sebelumnya. Proses; tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dilaksanakan dengan memakai tata cara ilmiah dalam rangkan menemukan sebuah kebernaran. 5. Universalitas; kebenaran yang ditemukan senantiasa berlaku secara umum. Dari penjelasan di atas, mampu disimpulkan bahwa hakikat IPA atau Sains ialah bagian dari IPA, dimana konsep-konsepnya diperoleh melalui suatu proses dengan menggunakan  metode ilmiah dan diawali dengan perilaku ilmiah kemudian diperoleh hasil (produk). D. Proses Belajar Mengajar Biologi Proses dalam pengertian disini ialah interaksi semua unsur atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama yang lain saling bekerjasama (inter independent) dalam ikatan untuk mencapai tujuan (Usman, 200: 5). Belajar diartikan sebagai proses pergeseran tingka laris pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang sesudah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik faktor pengetahuannya, keterampilannya, maupun faktor sikapnya. Misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak memahami menjadi mengetahui. (dalam Usman, 2000: 5). Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggungjawab adab yang cukup berat. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan suatu perjuangan mengorganisasi lingkungan dalam relevansinya dengan anak asuh dan materi pengajaran yang menimbulkan proses mencar ilmu. Proses berguru mengajar ialah suatu inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegangn tugas utama. Proses berguru mengajar ialah sebuah proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar korelasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk meraih tujuan tertentu. Interaksi atau relasi timbal balik antara guru dan siswa itu ialah syarat utama bagi berlangsungnya proses berguru mengajar (Usman, 2000: 4). Sedangkan menurut buku Pedoman Guru Pendidikan Agama Islam, proses belajar mengajar dapat mengandung dua pengertian, ialah rentetan kegiatan penyusunan rencana oleh guru, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi acara tindak lanjut (dalam Suryabrata, 1997: 18). Dari kedua usulan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa proses mencar ilmu mengajar Biologi mencakup kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan acara sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berjalan dalam suasana edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yakni pengajaran Biologi. E. Prestasi Belajar Biologi Belajar mampu menenteng sebuah pergeseran pada individu yang mencar ilmu. Perubahan ini ialah pengalaman tingkah laris dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar ialah pengalaman yang dituju pada hasil yang akan diraih siswa dalam proses berguru di sekolah. Menurut Poerwodarminto (1991: 768), prestasi berguru yaitu hasil yang diraih (dilaksanakan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan kecermatan kerja serta usaha yang membutuhkan anggapan. Berdasarkan uraian diatas dapat dibilang bahwa prestasi berguru yang diraih oleh siswa dengan melibatkan seluruh peluangyang dimilikinya setelah siswa itu melaksanakan kegiatan berguru. Pencapaian hasil belajar tersebut mampu dimengerti dengan megadakan penilaian tes hasil berguru. Penilaian diadakan untuk mengetahui sejauh mana siswa sudah sukses mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru mampu mengenali sejauh mana kesuksesan guru dalam proses berguru mengajar di sekolah. Sejalan dengan prestasi mencar ilmu, maka dapt diartikan bahwa prestasi belajar Biologi yakni nilai yang dipreoleh siswa sehabis melibatkan secara pribadi/aktif seluruh peluangyang dimilikinya baik aspek kognitif (wawasan), afektif (perilaku) dan psikomotor (keahlian) dalam proses berguru mengajar materi Biologi. F. Gaya Belajar Kalangan pendidik sudah menyadari bahwa akseptor ajar mempunyai bermacam cara belajar. Sebagian siswa bisa belajar dengan sangat bagus hanya dengan menyaksikan orang lain melakukannya. Biasanya, mereka ini menyukai penyuguhan gosip yang runtut. Mereka lebih senang menuliskan apa yang dibilang guru. Selama pelajaran, mereka umumnya membisu dan jarang terusik oleh kebisingan. Perserta didik visual ini berlainan dengan penerima ajar auditori, yang umumnya tidak sungkan-sungkan untuk memperhatikan apa yang dilaksanakan oleh guru, dan membuat catatan. Mereka menggurulkan kesanggupan untuk mendengar dan mengingat. Selama pelajaran, mereka mungkin banyak bicara dan mudah teralihkan perhatiannya oleh suara atau kebisingan. Peserta asuh kinestetik belajar terutama dengan terlibat eksklusif dalam kegiatan. Mereka condong impulsive, semau gue, dan kurang sabaran. Selama pelajaran, mereka mungkin saja gusar jika tidak bisa leluasa bergerak dan melaksanakan sesuatu. Cara mereka belajar boleh jadi tampak sembarang pilih dan tida karuan. Tentu saja, hanya ada sedikit siswa yang mutlak memiliki satu jenis cara mencar ilmu. Grinder (1991) menyatakan bahwa dari setiap 30 siswa, 22 diantaranya rata-rata dapat berguru dengan efektif selama gurunya mengahadirkan kegaitan mencar ilmu yang berkombinasi antara visual, auditori dan kinestik. Namun, 8 siswa siswanya sedemikan menggemari salah satu bentuk pengajaran dibanding dua yang lain. Sehingga mereka mesti berusaha keras untuk mengetahui pelajaran jika tidak ada ketelitian dalam menyuguhkan pelajaran sesuai dengan ara yang mereka sukai. Guna menyanggupi kebutuhan ini, pengajaran mesti bersifat mulitsensori dan sarat dengan kombinasi. Kalangan pendidikan juga mencermati adanya pergeseran cara belajar siswa. Selama lima belas tahun terakhir, Schroeder dan koleganya (1993) telah menerapkan indikator tipe Myer-Briggs (MBTI) kepada mahasiswa gres. MBTI ialah salah satu instrument yang paling banyak digunakan dalam dunia pendidikan dan untuk mengerti fungsi perbedaan individu dalam proses belajar. Hasilnya memperlihatkan sekitar 60 persen dari mahasiswa yang masuk mempunyai orientasi mudah daripada teoritis kepada pembelajaran, dan persentase itu bertambah setiap tahunnya. Mahasiswa lebih suka terlibat dalam pengalaman pribadi dan positif daripada mempelajari konsep-konsep dasar apalagi dahulu dan gres kemudian menerapkannya. Penelitain MBTI lainnya, jelas Schroeder, memperlihatkan bahwa siswa sekolah menengah lebih suka kegiatan belajar yang sungguh-sungguh aktif dari pada acara yang reflektif absurd, dengan rasio lima banding satu. Dari semua ini, beliau menyimpulkan bahwa cara mencar ilmu dan mengajar aktif sangat cocok dengan siswa periode kini. Agar bisa efektif, guru mesti memakai yang berikut ini: diskusi dan proyek kalangan kecil, presentasi dan debat, dalam kelas, latihan lewat pengalaman, pengalaman lapangan, simulasi, dan studi perkara. Secara khusus Schroeder menekankan bahwa siswa kurun sekarang “bisa menyesuaikan diri dengan baik kepada kegiatan kalangan dan mencar ilmu bareng .” Temuan-sahabat ini dapat dianggap tidak mengagetkan jikalau kita mempertimbangkan secepatnya laju kehidupan terbaru. Dimasa sekarang siswa dibesarkan dalam dunia yang segala sesuatunya berjalan dengan segera dan banyak opsi yang tersedia. Suara-suara terdengar begitu menghentak merdu, dan warna-warna terlihat begitu semarak dan menawan. Obyek, baik yang aktual maupun yang maya, bergerak cepat. Peluang untuk mengganti segala sesuatu dari satu keadaan ke kondisi lain terbuka sungguh luas. G. Sisi Sosial Proses Belajar Karena siswa kala sekarang menghadapi dunia di mana terdapat wawasan yang luas, pergantian pesat, dan ketidakpastian, mereka mampu mengalami kekhawatiran dan bersikap defensif. Abraham Maslow mengajarkan kepada kita bahwa manusia mempunyai dua kumpulan kekuatan atau kebutuhan yang satu berusaha untuk berkembang dan yang lain condong terhadap keselamatan. Orang yang dihadapkan pada kedua kebutuhan ini akan memiliki keselamatan daripada perkembangan. Kebutuhan akan rasa kondusif mesti dipenuhi sebelum bisa sepenuhnya keperluan untuk meraih sesuatu mengambil resiko, dan menggali hal-hal gres. Pertumbuhan berlangsung dengan langkah-langkah kecul, menurut Maslow, dan “tiap langkah maju cuma dimungkin akan jikalau ada rasa kondusif, yang mana ini merupakan langkah ke depan dari situasi rumah yang kondusif menuju wilayah yang belum dikenali” (Maslow, 1968). Salah satu cara utama untuk menerima rasa kondusif ialah menjalin hubungan dengan orang lain dan menjadi bab dari kalangan. Perasaan saling mempunyai ini memungkinkan siswa untuk menghadapi tantangan. Ketika mereka mencar ilmu bersama teman, bukannya sendirian, mereka menerima derma emosional dan intelektual yang memungkinkan mereka melampaui ambang wawasan dan ketermapilan mereka yang kini. Jerome Bruner membicarakan segi sosial proses berguru dama buku klasiknya, Toward a Theory of Instruction. Dia menerangkan ihwal “keperluan mendalam insan untuk menanggapi orang lain dan untuk bekerjasama dengan mereka guna mencapai tujuan,” yang mana hal ini dia sebut resiprositas (korelasi timbal balik). Bruner beropini bahwa resiprositas ialah sumber motivasi yang bisa dimanfaatkan oleh guru sebagai berikut, “Di mana diperlukan tindakan bareng , dan di mana resiprositas dibutuhkan bagi kalangan untuk meraih suatu tujuan, disitulah terdapat proses yang menjinjing individu ke dalam pembelajaran membimbingnya untuk menerima kesanggupan yang dibutuhkan dalam pembentukan kalangan” (Bruner, 1966). Konsep-konsepnya Maslow dan Bruner mengurusi perkembangan tata cara mencar ilmu kolaboratif yang sedemikian popular dalam lingkup pendidikan kurun sekarang. Menempatkan siswa dalam kelompok dan memberi mereka tugas yang menuntut untuk bergantung satu sama lain dalam mengerjakannya merupakan cara yang cantik untuk mempergunakan kebutuhan sosial siswa. Mereka menjadi cenderung lebih telibat dalam kegiatan mencar ilmu karena mereka mengerjakannya bersama sobat-sahabat. Begitu terlibat, mereka juga pribadi mempunyai keperluan untuk membahas apa yang mereka alami bareng sahabat, yang mengarah terhadap kekerabatan-kekerabatan lebih lanjut. Kegiatan berguru bersama mampu membantu memacu mencar ilmu aktif. Kegiatan mencar ilmu dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi mencar ilmu aktif dengan cara khusus. Apa yang didiskusikan siswa dengan sobat-temannya dan apa yang diajarkan siswa kepada sobat-temannya memungkinkan mereka untuk mendapatkan pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Metode belajar bersama yang terbaik, semisal pelajaran menyusun gambar (jigsaw), memenuhi persyaratan ini. Pemberian peran yang berlawanan kepada siswa akan mendorong mereka untuk tidak hanya mencar ilmu bareng , tetapi juga mengajarkan satu sama lain. H. Pengajaran Berbasis Proyek/Tugas Pengajaran berbasis proyek/peran terencana (Project-Based Learning) membutuhkan sebuah pendekatan pengajaran komprehensif di mana lingkungan belajar siswa disain agar siswa mampu melaksanakan penyelidikan terhadap persoalan-masalah autentik tergolong pendalaman bahan dari sebuah topik mata pelajaran, dan melakukan tugas bermana yang lain. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk melakukan pekerjaan secara mampu berdiri diatas kaki sendiri dalam mengkostruksikannya dalam produk aktual (Buck Institue for Eduction, 2001). Siswa diberikan peran/proyek yang kompleks, sukar, lengkap, tetapi kongkret/autentik dan lalu diberikan derma secekupnya agar mereka mampu menuntaskan tugas mereka (bukan diajar bertahap unsur-komponen suatu peran kompleks yang padu sebuah diperlukan akan terwujud menjadi suatu kemampuan untuk menuntaskan peran kompleks tersebut). Prinsip ini dipakai untuk menunjang pemberian tugas kompleks di kelas mirip proyek, simulasi, penyelidikan masyarakat, menulis untuk disajikan kepada forum pendengar yang sebetulnya, dan peran-peran autentik yang lain. Istilah situated learning (Prawat, 1992) dipakai untuk menggambarkan pembelajaran yang terjadi di dalam kehidupan konkret, peran-peran outentik/asli yang bahu-membahu. Tidak memandang apakah sebuah tugas harus dikerjaklan sebagai pekerjaan kelas atau selaku pekerjaan rumah, empat prinsip berikut ini akan membantu siswa dalam perjalana mereka menjadi pembelajar mandiri yang efektif. 1. Membuat peran memiliki arti, terperinci, dan menantang Salah satu tantangan paling sulit yang dihadapi guru pada dikala mereka menggunakan pekerjaan kelas atau pekerjaan rumah ialah mempertahankan siswa tetap terlibat. Pada ketika bekerja sendiri, sungguh mudah bagi sisa untuk kehilangan minat dan melalukan tindakan yang tidak berhubungan , terutama bila peran-peran itu berkala . Kebanyakan guru setuju bahwa peran pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah mandiri yang dapat mempertahankan keterlibatan siswa memiliki tujuan yang terperinci. Siswa perlu mengenali dengan tepat apa yang mereka mesti lakukan, mengapa mereka menjalankan pekerjaan itu, dan apa yang dibutuhkanuntuk menyelsaikan pekerjaan itu. Siswa-siswa itu tetap berada dalam tugas selama pekerjaan kelas dan menyelesaikan pekerjaan rumah jika mereka menyikapi tugas-tugas tersebut secar mempunyai arti. Linda Anderson (1985) membuktikan bahwa guru jarang menaruh perhatian pada tujuan pekerjaan kelas atau taktik-seni manajemen belajar yang telibat. Sebaliknya, guru menekankan pada arahan-aba-aba procedural. Sebagai acuan guru dapat menghabiskan waktu banyak menerangkan kepad siswa di mana menulis nama di kertas atau bagaimana menyusun balasan-jawabannya. Sementar petunjuk-isyarat perihal “apa yang dilaksanakan” adalah penting guru tidak menambahkan penjelasan tentang “mengapa” sesuatu harus dijalankan dan proses-proses pembelajaran yang terlibat. Sebelum memperlihatkan suatu peran, guru hendaknya memikirkan cirri penting itu secara seksama dan lalu menyempatkan waktu cukupuntuk menerangkan cirri penting itu terhadap siswa. 2. Menganekaragamkan Tugas-peran Sama dengan kehidupan kebanyakan, keragaman menambah pesona tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah.siswa kemungkinan besar ttap terlibata dan melaksanakan pekerjaan mereka jikalau tugas-peran lebih bervariasi dan menawan daripada rutindan monoton. Guru yang efektif mengganti panjang dan cara tugas yang diberikan di samping hakikat tugas beljar dan seni manajemen-taktik kognitif yang telibat. Membaca di dalam hati, laporan proyek-proyek khusus, dan bahan-bahan multimedia menawarkn aneka macam macam cara untuk menyelesaikan pekerjaan mampu berdiri diatas kaki sendiri. Pilihan kemungkinan tidak terbatas dan tidak aka alasan bagi guru untuk membuat jenis peran yang serupa dari hari ke hari. 3. Menaruh Perhatian pada Tingkat Kesulitan Menetapkan tingkat kesulitan yang sesuai atas tugas-tugas yang diberikan kepada siswa merupakan sebuah materi baku penting untuk keterlibatan berkesinambungan yang diperlukan untuk penyelesaian tugas-tugas tersebut. Apabila siswa diperlukan untuk melakukan pekerjaan secara berdikari, peran tesebut sehrusnya memiliki tingkat kesusahan yang menjamin kemungkinan sukses tinggi. Siswa tidak akan tertantang saat tugas-tugas yang diberikan guru terlalu mudah. Mereka merespon peran-tugas seperti selaku pekerjaan yang tidak menantang. Pada umumnya tugas yang baik perlu mempunyai tingkat kesulitan cukup sehingga kebanyakan siswa memandangnya selaku sesuatu yang menantang, tetapi cukup mudah sehingga pada umumnya siswa akan memperoleh pemecahannya dan melaksanakan tugas tersebut atas perjuangan sendiri. 4. Memonitor Kemajuan Siswa Akhirnya, ialah hal penting bagi guru untuk memonitor tugas-tugas pekerjaan kelas dan pekerjaan rumah. Monitoring hendaknya meliputi pengecekan untuk mengenali apakah siswa memahami peran mereka dan proses-proses kognitif yang telibat. Monitoring ini juga termasuk pengecekan pekerjaan siswa dan mengembalikan peran dengan umpan balik. Pad dikala beberfapa siswa diberikan pekerjaan kelas, maka guru dapat melakukan pekerjaan dengan siswa lain.a dianjurkan semoga guru meluangkan waktu 5 atau 10 menit untuk berkeliling di antara siswa yang bekerja untuk memastikan apakah mereka mengerti tugas tersebut sebelum menanggulangi siswa-siswa lain. Apabila siswa bekerja dalam golongan-kelompok, maka guru hendaknya berada dalam kelompok-kalangan tersebut secara bergantian dan berkeliling di antara siswa yang melakukan pekerjaan secara mampu berdiri diatas kaki sendiri. Meskipun mengoreksi peran menghabiskan waktu, hendaknya guru mengoreksi pekerjaan yang dibentuk siswa dan mengembalikan kepda mereka dengan umpan balik. BAB  III METODE PENELITIAN A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat observasi adalah daerah yang digunakan dalam melakukan observasi untuk mendapatkan data yang dikehendaki. Penelitian ini bertempat di ……………………………………………… 2. Waktu Penelitian Waktu observasi yaitu waktu berlangsungnya observasi atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilakukan pada bulan September semester gasal 2004/2005. 3. Subyek Penelitian Subyek observasi yaitu siswa-siswi ………………………………………………. pada pokok bahasan rangka insan, fungsi, dan pemeliharaannya. B. Rancangan Penelitian Penelitian ini ialah penelitian langkah-langkah (action research), karena observasi dijalankan untuk memecahkan dilema pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, karena menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang dikehendaki mampu diraih. Dalam penelitian ini peneliti tidak berafiliasi dengan siapapun, kehadiran peneliti selaku guru di kelas selaku pengajar tetap dan dijalankan mirip biasa, sehingga siswa tidak tahu jikalau diteliti. Dengan cara ini dibutuhkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam  melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman kepada tindakan-tindakan yang dijalankan itu, serta memperbaiki keadaan dimana praktek pembelajaran tersebut dijalankan (dalam Mukhlis,      2003: 3). Sedangkah berdasarkan Mukhlis (2003: 5) PTK ialah suatu bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki keadaan pembelajaran yang dilaksanakan. Adapun tujuan utama dari PTK ialah untuk memperbaiki/memajukan pratek pembelajaran secara berkelanjutan, sedangkan tujuan penyertaannya ialah menumbuhkan budaya meneliti di golongan guru (Mukhlis, 2003: 5). Sesuai dengan jenis observasi yang dipilih, ialah observasi tindakan, maka observasi ini menggunakan model observasi tindakan dari Kemmis dan Taggart  (dalam Sugiarti, 1997: 6), adalah berupa spiral dari sklus yang satu ke siklus yang selanjutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (langkah-langkah), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang telah direvisi, langkah-langkah, observasi, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dikerjakan langkah-langkah pendahuluan yang berupa identifikasi problem. Siklus spiral dari tahap-tahap observasi tindakan kelas mampu dilihat pada gambar berikut. Penjelasan alur di atas ialah: 1. Rancangan/planning awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan problem, tujuan dan menciptakan rencana tindakan, tergolong di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran. 2. Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dijalankan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman desain siswa serta memperhatikan hasil atau efek dari diterapkannya sistem pembelajaran  versi kooperatif peran/proyek 3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan memikirkan hasil atau efek dari tindakan yang dikerjakan menurut lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. 4. Rancangan/planning yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat desain yang direvisi untuk dijalankan pada siklus selanjutnya. Observasi dibagi dalam tiga putaran, yakni putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang serupa (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di final masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang sudah dijalankan. C. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam observasi ini berisikan: 1. Silabus Yaitu seperangkat planning dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas, serta evaluasi hasil berguru. 2. Rencana Pelajaran (RP) Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang dipakai selaku anutan guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil mencar ilmu, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan mencar ilmu mengajar. 3. Lembar Kegiatan Siswa Lembar kegaian ini yang dipergunakan siswa untuk menolong proses pengumpulan data hasil eksperimen. 4. Tes formatif Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang mau dicapai, dipakai untuk mengukur kemampuan pengertian desain Biologi pada pokok bahasan ……………... Tes formatif ini diberikan setiap final putaran. Bentuk soal yang diberikan yakni opsi guru (objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46 soal yang telah diujicoba, lalu penulis menyelenggarakan analisis butir soal tes yang sudah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal. Analisis ini digunakan untuk memilih soal yang bagus dan menyanggupi syarat digunakan untuk mengambil data. Langkah-langkah analisi butir soal ialah selaku berikut: a. Validitas Tes Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga mampu diputuskan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tingkat kevalidan ini dapat dihitung dengan korelasi Product Moment:   (Suharsimi Arikunto, 2001: 72) Dengan: rxy : koefisien kekerabatan product moment N : jumlah penerima tes ΣY : jumlah skor total ΣX : jumlah skor butir soal ΣX2 : jumlah kuadrat skor butir soal ΣXY : jumlah hasil kali skor butir soal b. Reliabilitas Relaiabilitas butir soal dalam penelitian ini memakai rumus belah dua selaku berikut:   (Suharsimi Arikunto, 20001: 93) Dengan: r11 : koefisien reliabilitas yang telah disesuaikan r1/21/2 : kekerabatan antara skor-skor setiap bagian tes Kriteria reliabilitas tes kalau harga r11 dariperhitung lebih besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliable. c. Taraf Kesukaran Bilangan yang menawarkan sukar dan gampangnya sebuah soal yaitu indeks kesukaran. Rumus yang digunakan untuk menentukan taraf kesukaran adalah:   (Suharsimi Arikunto, 2001: 208) Dengan: P : Indeks kesukaran B : banyak siswa yang menjawab soal dengan benar Js : Jumlah seluruh siswa peserta tes        Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran sola ialah selaku berikut: - Soal dengan P = 0,000 sampai 0,300 adalah sukar - Soal dengan P = 0,301 sampai 0,700 ialah sedang - Soal dengan P = 0,701 sampai 1,000 yakni gampang d. Daya Pembeda Daya pembeda soal yaitu kemampuan sebuah soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang memberikan besarnya daya pembeda desebut indeks diskriminasi. Rumus yang digunakan untuk menjumlah indeks diskriminasi adalah sebagai berikut:   (Suharsimi Arikunto, 2001: 211) Dimana: D : Indeks diskriminasi BA : Banyak penerima kelompok atas yang menjawab dengan benar BB : Banyak akseptor kelompok bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah akseptor golongan atas JB : Jumlah penerima golongan bawah    proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar.    proporsi akseptor kalangan bawah yang menjawab benar Kriteria yang digunakan untuk menentukan daya pembeda butir soal selaku berikut: - Soal dengan D = 0,000 hingga 0,200 ialah buruk - Soal dengan D = 0,201 hingga 0,400 adalah cukup - Soal dengan D = 0,401 sampai 0,700 yaitu baik - Soal dengan D = 0,701 sampai 1,000 yaitu sangat bagus D. Metode Pengumpulan Data Data-data yang diharapkan dalam observasi ini diperoleh melalui pengamatan pembuatan berguru aktif, observasi acara siswa dan guru, dan tes formatif. E. Teknik Analisis Data Untuk mengetahui keefektivan suatu sistem dalam acara pembelajaran perlu diadakan evaluasi data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu sebuah sistem observasi yang bersifat menggambarkan realita atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengenali prestasi berguru yang diraih siswa juga untuk memperoleh respon siswa kepada acara pembelajaran serta acara siswa selama proses pembelajaran. Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase kesuksesan siswa sehabis proses berguru mengajar setiap putarannya dijalankan dengan cara menunjukkan penilaian berupa soal tes tertulis pada setiap final putaran. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistic sederhana adalah: 1. Untuk menganggap ulangan atau tes formatif Peneliti melaksanakan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang berikutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan: Dengan :    = Nilai rata-rata    Î£ X = Jumlah semua nilai siswa    Î£ N = Jumlah siswa 2. Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunju pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yakni seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas mencar ilmu kalau di kelas tersebut terdapat 85% yang telah meraih daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk mengkalkulasikan persentase ketuntasan mencar ilmu dipakai rumus selaku berikut: BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data observasi yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal, data observasi berupa observasi pengelolaan mencar ilmu aktif dan pengamatan acara siswa dan guru pada tamat pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap siklus. Data hasil uji coba item butir soal dipakai untuk mendapatkan tes yang betul-betul mewakili apa yang diharapkan. Data ini berikutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. Data lembar observasi diambil dari dua observasi ialah data pengamatan pengelolaan belajar aktif yang dipakai untuk mengetahui pengaruh penerapan versi belajar aktif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dan data observasi aktivitas siswa dan guru. Data tes formatif untuk mengenali kenaikan prestasi mencar ilmu siswa sesudah dipraktekkan berguru aktif. A. Analisis Item Butir Soal Sebelum melaksanakan pengambilan data melalui instrument observasi berupa tes dan mendapatkan tes yang bagus, maka data tes tersebut diuji dan dianalisis. Uji coba dilakukan pada siswa di luar sasaran observasi. Analisis tes yang dilaksanakan mencakup: 1. Validitas Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes sehingga mampu dipakai selaku instrument dalam observasi ini. Dari perkiraan 46 soal diperoleh 15 soal tidak valid dan 31 soal valid. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Tidak Valid Soal Valid 5, 6, 8, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 31, 32, 33, 34, 35, 40 1, 2, 3, 4, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 25, 27, 28, 29, 30,36, 37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45, 2. Reliabilitas Soal-soal yang telah menyanggupi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 854. Harga ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 28) dengan r (95%) = 0,374. Dengan demikian soal-soal tes yang dipakai sudah menyanggupi syarat reliabilitas. 3. Taraf Kesukaran (P) Taraf kesukaran dipakai untuk mengenali tingkat kesukaran soal. Hasil analisis menawarkan dari 45 soal yang diuji terdapat: - 21 soal gampang - 14 soal sedang - 10 soal sukar 4. Daya Pembeda Analisis daya pembeda dilakukan untuk mengetahui kesanggupan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkteriteria buruk sebanyak 15 soal, berkriteria cukup 21 soal, berkriteria baik 9 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. B. Analisis Data Penelitian Persiklus 1. Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan aktivitas mencar ilmu mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 5 September 2004 di Kelas ………. dengan jumlah siswa 28 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses berguru mengajar mengacu pada planning pelajaran yang sudah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dijalankan serentak dengan pelaksaaan berguru mengajar. Pada selesai proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang sudah dikerjakan. Adapun data hasil observasi pada siklus I yaitu selaku berikut: Table 4.2. Nilai Tes I No. Absen Nilai Keterampilan No. Absen Nilai Keterangan T TT T TT 1 60 √ 15 70 √ 2 70 √ 16 80 √ 3 70 √ 17 60 √ 4 70 √ 18 70 √ 5 80 √ 19 80 √ 6 70 √ 20 60 √ 7 80 √ 21 70 √ 8 70 √ 22 60 √ 9 60 √ 23 80 √ 10 60 √ 24 60 √ 11 60 √ 25 60 √ 12 70 √ 26 80 √ 13 70 √ 27 70 √ 14 80 √ 28 60 √ Jumlah 970 10 4 Jumlah 960 8 6 Jumlah Skor 1930 Jumlah Skor Mask. Ideal 2800 % Skor Tercapai 68,93 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 18 Jumlah siswa yang belum tuntas : 10 Klasikal : Belum tuntas                  Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I No Uraian Hasil Siklus I 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas berguru Persentase ketuntasan berguru 68,93 18,00 64,28  Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan model berguru aktif diperoleh nilai rata-rata prestasi berguru siswa yaitu 68,93 dan ketuntasan berguru mencapai 64,28% atau ada 18 siswa  dari 28 siswa telah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas berguru, karena siswa yang mendapatkan nilai ≥ 65 hanya sebesar 64,28% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan alasannya adalah siswa masih merasa baru dan belum memahami apa yang dimaksudkan dan dipakai guru dengan menerapkan versi mencar ilmu aktif. 2. Siklus II a. Tahap penyusunan rencana Pada tahap inipeneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang berisikan planning pelajaran 2, Lomba Kompetensi Siswa, 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dijalankan pada tanggal 12 September 2004 di Kelas IV dengan jumlah siswa 28 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses berguru mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga keslah atau kelemahan pada siklus I tidak terulanga lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dikerjakan serempak dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang sudah dijalankan. Instrument yang digunakan yaitu tes formatif II. Adapun data hasil observasi pada siklus II adalah selaku berikut: Table 4.4. Nilai Tes II No. Absen Nilai Keterampilan No. Absen Nilai Keterangan T TT T TT 1 60 √ 15 70 √ 2 70 √ 16 60 √ 3 90 √ 17 90 √ 4 80 √ 18 80 √ 5 60 √ 19 90 √ 6 80 √ 20 60 √ 7 70 √ 21 80 √ 8 80 √ 22 70 √ 9 80 √ 23 80 √ 10 70 √ 24 60 √ 11 60 √ 25 70 √ 12 80 √ 26 60 √ 13 80 √ 27 70 √ 14 70 √ 28 70 √ Jumlah 1030 11 3 Jumlah 1010 10 4 Jumlah Skor 2030 Jumlah Skor Mask. Ideal 2800 % Skor Tercapai 72,86 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 21 Jumlah siswa yang belum tuntas : 7 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.5. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II No Uraian Hasil Siklus II 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan berguru 72,86 21,00 75,00 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa ialah 72,86 dan ketuntasan mencar ilmu meraih 75,00% atau ada 21 siswa dari 28 siswa telah tuntas belajar. Hasil ini memberikan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajr siswa ini sebab sesudah guru memberitahukan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk berguru. Selain itu siswa juga telah mulai mengetahui apa yang dimaksudkan dan dinginkan guru dengan menerapkan model belajar aktif. 3. Siklus III a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang berisikan planning pelajaran 3, LKS 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga disediakan lembar observasi pengelolaan cara mencar ilmu aktif versi penajaran terarah dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa. b. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan acara berguru mengajar untuk siklus III dijalankan pada tanggal 19 September 2004 di Kelas ………….. dengan jumlah siswa 28 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses berguru mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan mengamati revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kelemahan pada siklus II tidak terulang laig pada siklus III. Pengamatan (pengamatan) dikerjakan serentak dengan pelaksanaan berguru mengajar. Pada selesai proses mencar ilmu mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kesuksesan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar yang telah dilaksanakan. Instrumen yang digunakan ialah tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III yakni sebagai berikut: Table 4.6. Nilai Tes III No. Absen Nilai Keterampilan No. Absen Nilai Keterangan T TT T TT 1 80 √ 15 90 √ 2 80 √ 16 80 √ 3 90 √ 17 90 √ 4 90 √ 18 80 √ 5 90 √ 19 90 √ 6 60 √ 20 90 √ 7 90 √ 21 80 √ 8 80 √ 22 90 √ 9 90 √ 23 90 √ 10 60 √ 24 60 √ 11 90 √ 25 90 √ 12 90 √ 26 90 √ 13 90 √ 27 90 √ 14 60 √ 28 80 √ Jumlah 1140 11 3 Jumlah 1190 13 1 Jumlah Skor 2330 Jumlah Skor Mask. Ideal 2800 % Skor Tercapai 83,21 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 24 Jumlah siswa yang belum tuntas : 4 Klasikal : Tuntas Tabel 4.7. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III No Uraian Hasil Siklus III 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan berguru 83,21 24,00 85,71 Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 83,21 dan dari 28 siswa yang sudah tuntas sebanyak 24 siswa dan 4 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan mencar ilmu yang sudah tercapai sebesar 85,1% (tergolong kategori tuntas).  Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya kenaikan hasil berguru pada siklus III ini dipengaeruhi oleh adanya peningkatan kesanggupan guru dalam menerapkan belajar aktif sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih gampang dalam mengerti materi yang telah diberikan. c. Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang sudah terealisasi dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses mencar ilmu mengajar dengan penerapan berguru aktif. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan selaku berikut: 1. Selama proses belajar mengajar guru telah melakukan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum tepat, namun persentase pelaksanaannya untuk masing-masing faktor cukup besar. 2. Berdasarkan data hasil pengamatan dimengerti bahwa siswa aktif selama proses mencar ilmu berlangsung. 3. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya telah mengalami perbaikan dan kenaikan sehingga menjadi lebih baik. 4. Hasil belajar siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru sudah menerapkan belajar aktif dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil mencar ilmu siswa pelaksanaan proses belajar mengajar telah berjalan dengan baik. Maka tidak diharapkan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah selanjutnya yakni memaksimalkan dan mempertahankan apa yang sudah ada dengan tujuan semoga pada pelaksanaan proses berguru mengajar selanjutnya penerapan mencar ilmu aktif dapat mengembangkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran mampu tercapai. C. Pembahasan 1. Ketuntasan Hasil berguru Siswa Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa cara belajar aktif model tugas/proyek mempunyai imbas kasatmata dalam memajukan prestasi mencar ilmu siswa. Hal ini dapat dilihat dari kian mantapnya pemahaman siswa terhadap bahan yang disampaikan guru (ketuntasan mencar ilmu meningkat dari sklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 64,28%, 75,00%, dan 85,71%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal sudah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh acara siswa dalam proses berguru aktif dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini memiliki dampak konkret kepada prestasi mencar ilmu siswa yaitu mampu ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami kenaikan. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Biologi pada pokok bahasan rangka manusia, fungsi, dan pemeliharaannya dengan versi belajar aktif yang paling dominan yaitu bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/mengamati klarifikasi guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Makara mampu dibilang bahwa aktivitas isiwa mampu dikategorikan aktif. Sedangkan untuk acara guru selama pembelajaran sudah melakukan langkah-langkah belajar aktif dengan baik. Hal ini tampakdari acara guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan memperhatikan siswa dalam menjalankan kegiatan Lomba Kompetensi Siswa/menemukan konsep, menerangkan/melatih menggunakan alat, memberi umpan balik/penilaian/Tanya jawab dimana prosentase untuk acara di atas cukup besar.  BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan  Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dikerjakan selama tiga siklus dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang sudah dilaksanakan mampu disimpulan sebagai berikut : 1. Pembelajaran dengan tugas/proyek mempunyai dampak nyata dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan mencar ilmu siswa dalam setiap siklus, yakni siklus I (71,11%), siklus II (80,00%) siklus III (88,64%). 2. Penerapan berguru dengan Tugas/proyek mempunyai efek positif, yaitu mampu memajukan motivasi belajar siswa yang ditunjukkan dengan rata-rata tanggapan siswa yang menyatakan bahwa siswa kepincut dan berminat dengan versi pembelajaran dengan menggunakan Tugas/proyek sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar. B. Saran Dari hasil observasi yang diperoleh dari uraian sebelumnya supaya proses mencar ilmu mengajar ilmu wawasan alam lebih efektif dan lebih menunjukkan hasil yang maksimal bagi siswa, makan disampaikan saran selaku berikut : 1. Untuk melakukan versi peran/proyek membutuhkan persiapan yang cukup matang, sehingga harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bias dipraktekkan dengan versi tugas/proyek dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka mengembangkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dalam aktivitas penemuan, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya mampu mendapatkan wawasan gres, menemukan konsep dan kemampuan, sehingga siswa sukses atau mampu memecahkan dilema-persoalan yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil observasi ini cuma dikerjakan ……. Tahun pelajaran 2003/2004 4. Untuk observasi yang sama hendaknya dijalankan perbaikan-perbaikan biar diperoleh hasil yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung. Sinar Baru Algesindo. Arikunto, Suharsimi, 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta. Arikunto, Suharsimi, 2001. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Arikunta, Suharsimi 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta; Rineksa Cipta. Azhar. Lalu Muhammad. 1993. Proses Belajar Mengajar Pendidikan. Jakarta : Usaha Nasional. Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineksa Cipta. Djamarah. Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineksa Cipta. Hadi, Sutrisno. 1982. Metodologi Research. Jilid I. Yogyakarta: YP. Fak Psikologi UGM. Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineksa Cipta. Masriyah. 1999. Analisis Butir Tes Surabaya ; Universitas Press. Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nur, Moh. 2001. Pemotivasian Siswa untuk Belajar. Surabaya. University Press. Universitas Negeri Surabaya. Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara Sardiman, AM. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka. Suryosubroto, B. 1997. Proses Belajar mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineksa Cipta. Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, suatu Pendekatan Baru. Bandung Remaja Rosdakarya. Usman. Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Dapatkan file secara lengkap berupa pengaturan, gambar, tabel dan lain-lain dalam format microsoft word (.doc) pada link dibawah ini !! Dowwload PTK Format Microsoft Word (.doc) Strategi Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Proyek/Tugas Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Biologi Pada Siswa
Sumber https://somadrug1.blogspot.com


EmoticonEmoticon