Berikut ini kami bagikan file Penelitian Tindakan Kelas IPA judul Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa, mudah-mudahan mampu digunakan sebagai perhiasan acuan. Seperti apa bentuk dan judul PTK IPA Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa? cek selengkapnya dibawah ini : Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa STRATEGI BELAJAR MENGAJAR DENGAN MENERAPKAN METODE EKSPERIMEN UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS ………………………… ………………………………………………… TAHUN 2003/2004 KARYA ILMIAH OLEH ………………………………….. NIP: ……………………………. DINAS PENDIDIKAN ……………………………… …………………………………………………………………………. HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Setelah membaca dan mencermati karya ilmiah yang merupakan ulasan hasil observasi yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan ……………………………… hasil karya dari: Nama : ……………………. NIP : ………………………. Unit Kerja : ………………………………………….. Judul : Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Kelas ……………………………………….. Tahun 2003/2004 Menyetujui dan mengesahkan untuk diajukan menerima Penetapan Angka Kredit Kenaikan Pangkat dalam jabatan fungsional guru. Mengetahui Ketua PD PGRI II Kepala …………………. ………………………………. …………………………………… ……………………………… ……………………… NPA: NIP: ………….. HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Karya Ilmiah ini diajukan selaku syarat untuk menyanggupi penetapan angka kredit kenaikan pangkat dalam jabatan fungsional guru. Karya ilmiah ini tidak dipublikasikan tetapi sudah disetujui dan disahkan untuk didokumentasikan di perpustakaan ……………………………………. Pada Hari : …………………… Tanggal : …………………… Pustakawan Kepala …………………………. ……………………… ………………………………….. ………………………….. ……………………….. …………………………. NIP: …………………. KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis mampu menuntaskan tugas penyusunan karya ilmiah dengan judul “Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Metode eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Kelas …………………………………………… Tahun 2003/2004”, penulisan karya ilmiah ini kami susun untuk digunakan dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan dapat digunakan sebagai perbandingan dalam pengerjaan karya ilmiah bagi sobat sejawat juga anak bimbing pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pembinaan karya ilmiah dewasa. Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak mendapat tunjangan dari berbagai pihak. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan ikhlas dan sedalam-dalamnya terhadap: 1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan ………………………………. 2. Yth. Ketua PD II PGRI ………………………………….. 3. Yth. Rekan-rekan Guru ………………………………………….. 4. Semua pihak yang telah banyak menolong sehingga penulisan ini final. Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari tepat untuk itu segala kritik dan nasehat yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis inginkan. Penulis ABSTRAK ………………………………, 2003. Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Metode eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa …………………………………………………. Tahun 2003/2004 Kata kunci: ilmu wawasan alam, tata cara eksperimen Penggunaan tata cara eksperimen dibutuhkan dapat mengembangkan kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar sehingga dalam proses berguru mengajar itu kegiatan berguru mengajar tidak terjadi kejenuhn, dengan demikian siswa akan terlibat secara fisik, emosional dan intelektual yang pada gilirannya diharapkan desain pergeseran benda yang diajarkan oleh guru mampu diketahui oleh siswa Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah: (a) Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar IPA dengan diterapkannya sistem eksperimen? (b) Bagaimanakah pengaruh tata cara demostrasi terhadap motivasi belajar siswa? Sedangkan tujuan dari observasi ini yakni: (a) Ingin mengetahui kenaikan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya sistem eksperimen. (b) Ingin mengetahui pengaruh motivasi berguru siswa setelah diterapkan metode eksperimen. Penelitian ini memakai penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yakni: desain, acara dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini yaitu siswa Kelasi …………………………………………... Data yang diperoleh berbentukhasil tes formatif, lembar observasi aktivitas mencar ilmu mengajar. Dari hasil analisis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami kenaikan dari siklus I sampai siklus III adalah, siklus I (65,22%), siklus II (78,26%), siklus III (86,95%). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pembelajaran dengan metode eksperimen mampu kuat positif kepada prestasi dan motivasi belajar Siswa SDN Kepuh I Kec. Boyolangu Kab.Tulungagung, serta model pembelajaran ini mampu digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul i Halaman Pengesahan ii Kata Pengantar iv Abstrak v Daftar Isi vi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 B. Rumusan Masalah 3 C. Tujuan Penelitian 3 D. Manfaat Penelitian 3 E. Batasan Masalah 4 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Definisi Pembelajaran 5 B. Hakekat IPA 6 C. Proses Belajar Mengajar IPA 7 D. Prestasi Belajar IPA 8 E. Metode Eksperimen 9 F. Motivasi Belajar 12 G. Gaya Belajar 16 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat, Waktu, dan Subyek Penelitian 19 B. Rancangan Penelitian 19 C. Instrumen Penelitian 20 D. Metode Pengumpulan Data 24 E. Teknik Analisis Data 25 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis Item Butir Soal 27 B. Analisi Data Penelitian Persiklus 29 C. Pembahasan 37 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 39 B. Saran 39 DAFTAR PUSTAKA 41 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya acara mencar ilmu mengajar adalah sebuah proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru sebagai salah satu bagian dalam proses berguru menganjar ialah pemegang peran yang sungguh penting. Guru bukan hanya sekedar penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan selaku sentral pembelajaran. Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses mencar ilmu mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilakukan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebeh efektif juga mempesona sehingga materi pelajaran yang disampaikan akan menciptakan siswa merasa bahagia dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut. Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional adalah memajukan mutu manusia Indonesia, insan seutuhnya yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bersusah payah, handal, bertanggung jawab, mampu berdiri diatas kaki sendiri, pandai dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga mesti bisa menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta kepada tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan bisa mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Depdikbud (1999). Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak aspek diantaranya yaitu faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, sebab guru secara eksklusif mampu mensugesti, membina dan mengembangkan kecerdasan serta kemampuan siswa. Untuk mengatasi problem di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara optimal, tugas guru sangat penting dan diharapkan guru mempunyai cara/model mengajar yang bagus dan mampu memilih versi pembelajaran yang sempurna dan sesuai dengan rancangan-rancangan mata pelajaran yang akan disampaikan. Tujuan pendidikan nasional mirip yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 2 tahuan 1989 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyebarkan insan Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keahlian, sehat jasmani dan rohani kepribadian yang mantap dan berdikari serta bertanggung jawab kemasyarakatan bangsa (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998: 3). Tujuan pendidikan nasional ini sangat luas dan bersifat lazim sehingga perlu dijabarkan dalam Tujuan Institusional yang diadaptasi dengan jenis dan tingkatan sekolah yang kemudian dijabarkan lagi menjadi tujuan kurikuler yang ialah tujuan kurikulum sekolah yang diperinci menurut bidang studi/mata pelajaran atau golongan mata pelajaran (Purwanto, 1988 :2). Tujuan instruksional dijabarkan menjadi Tujuan Pembelajaran Umum dan lalu dijabarkan lagi menjadi Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK). Dalam meraih Tujuan Pembelajaran Khusus pada mata pelajaran IPA di SD, utamanya di ………………………………… masih banyak mengalami kesusahan. Hal ini terlihat dari masih rendahnya nilai mata pelajaran IPA ketimbang nilai beberapa mata pelajaran yang lain, mata pelajaran IPA peringkat nilainya menempati urutan paling bawah dari enam mata pelajaran yang diebtanaskan, bertitik tolak dari hal tersebut di atas perlu pedoman-aliran dan langkah-langkah-langkah-langkah yang harus dilalukan semoga siswa dalam mempelajari konsep-konsep IPA tidak mengalami kesulitan, sehingga tujuan pembelajaran khusus yang dibuat oleh guru mata pelajaran IPA dapat tercapai dengan baik dan kesannya dapat memuaskan semua pihak. Oleh karena itu penggunaan metode pembelajaran dirasa sungguh penting untuk membantu siswa dalam mengetahui desain-konsep IPA. Metode pembelajaran jenisnya bermacam-macam yang masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan, maka penyeleksian tata cara yang tepat dengan topik atau pokok bahasan yang hendak diajarkan harus sungguh-sungguhdipikirkan oleh guru yang hendak menyampaikan materi pelajaran. Sedangkan penggunaan tata cara eksperimen diharapkan mampu mengembangkan acara siswa dalam proses mencar ilmu mengajar sehingga dalam proses berguru mengajar itu aktivitasnya tidak cuma didominasi oleh guru, dengan demikian siswa akan terlibat secara fisik, emosional dan intelektual yang pada gilirannya diharapkan konsep pergeseran benda yang diajarkan oleh guru dapat dipahami oleh siswa. Berdasarkan uraian dari latar belakang tersebut di atas maka dalam penelitian in menentukan judul “Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Kelas …………………………………. Tahun Pelajaran 2003/2004”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka mampu dirumuskan suatu problem selaku berikut: 1. Bagaimanakah kenaikan prestasi mencar ilmu IPA dengan diterapkannya sistem eksperimen? 2. Bagaimanakah dampak metode demostrasi kepada motivasi berguru siswa? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan problem di atas, observasi ini bermaksud untuk: 1. Ingin mengenali kenaikan prestasi mencar ilmu siswa setelah diterapkannya metode eksperimen. 2. Ingin mengenali imbas motivasi mencar ilmu siswa sesudah diterapkan sistem eksperimen. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat: 1. Bagi siswa untuk meningkatkan pengertian desain IPA dengan metode eksperimen. 2. Bagi guru dapat memperlihatkan pemanis pengayaan cara mengajar dengan pinjaman metode demonstrasi sehingga tujuan pembelajaran mampu tercapi dengan baik. 3. Bagi forum dapat dijadikan selaku bahan masukan informasi perihal salah satu alternative cara pembelajaran IPA pada siswa dengan pemanfaatan metode pengajaran dalam meraih tujuan intruksional. E. Batasan Masalah 1. Konsep IPA yang dipakai dalam penelitian ini adalah pada pokok bahasan ……………….. 2. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah sistem eksperimen. 3. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa Kelas …………………………………… BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Pembelajaran Pembelajaran yaitu proses, cara, menyebabkan orang atau makhluk hidup mencar ilmu. Sedangkan berguru yakni berupaya memperoleh kepandaian atau ilmu, berganti tingka laris atau jawaban yang disebabkan oleh pengalaman. (KBBI, 1996: 14). Sependapat dengan pernyataan tersebut Sutomo (1993: 68) mengemukakan bahwa pembelajaran ialah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dijalankan sehingga memungkinkan dia mencar ilmu untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sedangkan berguru yaitu suatu peoses yang menimbulkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, namun perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah, meningkat daya pikir, perilaku dan lain-lain. (Soetomo, 1993: 120). Pasal 1 Undang-undang No. 20 tahun 2000 perihal pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran yakni proses interaksi penerima ajar dengan pendidik dan sumber mencar ilmu pada suatu lingkungan belajar. Kaprikornus pembelajaran yaitu proses yang disengaja yang menjadikan siswa belajar pada suatu lingkungan berguru untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu. B. Hakikat IPA IPA didefiniksan sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara alam. Perkembangan IPA tidak hanya ditandai dengan adanya fakta, namun juga oleh adanya tata cara ilmiah dan perilaku ilmiah. Metode ilmiah dan observasi ilmiah menekankan pada hakikat IPA. Secara rinci hakikat IPA berdasarkan Bridgman (dalam Lestari, 2002: 7) yakni selaku berikut: 1. Kualitas; intinya konsep-konsep IPA senantiasa mampu dinyatakan dalam bentuk angka-angka. 2. Observasi dan Eksperimen; ialah salah satu cara untuk dapat mengerti konsep-desain IPA secara sempurna dan dapat diuji kebenarannya. 3. Ramalan (prediksi); merupakan salah satu perkiraan penting dalam IPA bahwa misteri alam raya ini dapat dipahami dan memiliki keteraturan. Dengan perkiraan tersebut lewat pengukuran yang teliti maka aneka macam insiden alam yang mau terjadi mampu diprediksikan secara tepat. 4. Progresif dan komunikatif; artinya IPA itu selalu berkembang ke arah yang lebih sempurn dan inovasi-penemuan yang ada ialah kelanjutan dari penemuan sebelumnya. Proses; tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dilakukan dengan menggunakan sistem ilmiah dalam rangkan memperoleh sebuah kebernaran. 5. Universalitas; kebenaran yang ditemukan senantiasa berlaku secara umum. Dari klarifikasi di atas, mampu disimpulkan bahwa hakikat IPA, dimana konsep-konsepnya diperoleh melalui sebuah proses dengan menggunakan metode ilmiah dan diawali dengan sikap ilmiah lalu diperoleh hasil (produk). C. Proses Belajar Mengajar IPA Proses dalam pengertian disini ialah interaksi semua bagian atau komponen yang terdapat dalam mencar ilmu mengajar yang satu sama yang lain saling bekerjasama (inter independent) dalam ikatan untuk mencapai tujuan (Usman, 200: 5). Belajar diartikan sebagai proses pergeseran tingka laris pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang sehabis mengalami proses mencar ilmu akan mengalami pergantian tingkah laris, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun faktor sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi mampu, dari tidak memahami menjadi mengetahui. (dalam Usman, 2000: 5). Mengajar ialah sebuah perbuatan yang membutuhkan tanggungjawab budbahasa yang cukup berat. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan sebuah usaha mengorganisasi lingkungan dalam keterkaitannya dengan anak latih dan materi pengajaran yang menimbulkan proses belajar. Proses belajar mengajar ialah sebuah inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru selaku pemegangn peran utama. Proses belajar mengajar ialah sebuah proses yang mengandung serangkaian tindakan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam suasana edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau kekerabatan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses mencar ilmu mengajar (Usman, 2000: 4). Sedangkan menurut buku Pedoman Guru Pendidikan Agama Islam, proses belajar mengajar dapat mengandung dua pengertian, ialah rentetan kegiatan perencanaan oleh guru, pelaksanaan aktivitas sampai evaluasi program tindak lanjut (dalam Suryabrata, 1997: 18). Dari kedua usulan tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar IPA mencakup acara yang dijalankan guru mulai dari penyusunan rencana, pelaksanaan kegiatan hingga penilaian dan acara tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk meraih tujuan tertentu yaitu pengajaran IPA. D. Prestasi Belajar IPA Belajar mampu menjinjing suatu pergeseran pada individu yang belajar. Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laris dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang akan diraih siswa dalam proses berguru di sekolah. Menurut Poerwodarminto (1991: 768), prestasi belajar yakni hasil yang dicapai (dilakukan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi belajar ialah hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta usaha yang membutuhkan anggapan. Berdasarkan uraian diatas mampu dibilang bahwa prestasi berguru yang diraih oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya sehabis siswa itu melaksanakan aktivitas belajar. Pencapaian hasil berguru tersebut mampu dikenali dengan megadakan penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru mampu mengenali sejauh mana keberhasilan guru dalam proses berguru mengajar di sekolah. Sejalan dengan prestasi mencar ilmu, maka dapt diartikan bahwa prestasi mencar ilmu IPA yakni nilai yang dipreoleh siswa sesudah melibatkan secara eksklusif/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik faktor kognitif (pengetahuan), afektif (perilaku) dan psikomotor (kemampuan) dalam proses mencar ilmu mengajar IPA. E. Metode Eksperimen Karena perkembangan teknologi dan ilmu pengertahuan, maka segala sesuatu memerlukan eksperimentasi. Begitu juga dalam cara mengajar guru di kelas dipakai teknik eksperimen. Yang dimaksud ialah salah satu cara mengajar, di mana siswa melaksanakan sebuah percobaan ihwal sesuatu hal, memperhatikan prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil observasi itu disampaikan ke kelas dan dievaulasi oleh guru. Penggunaan teknik ini memiliki tujuan agar siswa mamapu mencari dan menemukan sendiri berbagai balasan atas dilema-masalah yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih dalam cra berpikir yang ilmiah (scientific thinking). Dengan eksperimaen siswa memperoleh bukti keberanaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya. Agar penggunaan teknik eksperimen itu efisien dan efektif, perlu pelaksana mengamati hal-hal sebagai berikut: 1. Dalam eksperimen setiap siswa mesti mengadakan percobaan, maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan mesti cukup bagi tiap siswa. 2. Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang meyakinkan, atau mungkin risikonya tidak membahayakan, maka kondisi alat dan kualitas bahan percobaan yang digunakan mesti baik dan higienis. 3. Kemudian dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsetrasi dalam mengamati proses percobaan, maka perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga mereka mendapatkan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari itu. 4. Siswa dalam eksperimen ialah sedang mencar ilmu dan berlatih, maka perlu diberi petunjuk yang jelas, sebab mereka disamping memeproleh pengetahuan, pengalaman serta kemampuan, juga kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih obyek eksperimen itu. 5. Perlu dimengerti juga bahwa tidak semua masalah bisa dieksperimenkan, mirip duduk perkara yang tentang kejiwaan, beberapa sisi kehidupan sosial dan keyakina manusia. Kemungkinan lain alasannya adalah sungguh terbatasnya sebuah alat, sehingga problem itu tidak mampu diadakan percobaan sebab alatnya belum ada. Bila siswa akan melaksanakan suatu eksperimen perlu memperhatikan prosedur sebagai berikut: 1. Perlu diterangkan terhadap siswa ihwal tujuan eksperimen, mereka mesti mehami problem yang mau dibuktikan melalui eksperimen. 2. Kepada siswa perlu diterangkan pula wacana: - Alat-alat serta bahan-bahan yang mau dipakai dalma percobaan. - Agar tidak mengalami kegagalan siswa perlu mengetahui variable-variabel yang mesti diatur dengan ketat. - Urutan yang mau ditempuh sewaktu eksperimen berlangsung. - Seluruh proses atau hal-hal yang penting saja yang akan dicatat. - Perlu menetapkan bentuk catatan atau laporan berupa uraian, perhitungan, grafik dan sebagainya. 3. Selama eksperimen berlangsung, guru mesti memantau pekerjaan siswa. Bila perlu memberi anjuran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen. 4. Setelah eksperimen selesai guru mesti mengumpulkan hasil penelitian siswa, mendiskusikan ke kelas, dan mengavaluasi dengan tes atau sekedar Tanya jawab. Teknik eksperimen terkadang digunkan karena mempunyai kelebihan adalah: 1. Dengan eksperimen siswa berlatih menggunanakan tata cara ilmiah dalam menghadapi segala duduk perkara, sehingga tidak mudah percayha apdda sesuatu yang belum pasti kebenarannya, dan tidak gampang percaya pula kata orang, sebelum ia membuktikan kebenarannya. 2. Mereka lebih aktif berpikir dan berbuat, hal mana itu sangat diinginkan oleh kegiatan mengajar mencar ilmu yang modern, di mana siswa lebih banyak aktif mencar ilmu sendiri dengan panduan guru. 3. Siswa dalam melaksanakan proses sendiri kebenaran sesuatu teori, sehigga akan mengganti sikap mereka yang tahayul, yakni kejadian-kejadian yang tidak masuk logika. F. Motivasi Belajar 1. Pengertian Motivasi Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melaksanakan sesuatu, atau keadaan seserang atau organisme yang menimbulkan kesiapan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laris atau tindakan. Sedangkan motivasi yakni suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laris untuk menyanggupi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau kondisi dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam meraih tujuan tertentu (Usman, 2000: 28). Sedangkan menurut Djamarah (2002: 114) motivasi yakni suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas konkret untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses mencar ilmu, motivasi sangat diperlukan karena seseorang yang tidak memiliki motivasi dalam mencar ilmu tidak akan mungkin melaksanakan kegiatan berguru. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang termotivasi dalam berguru sesuatu akan memakai proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari bahan itu, sehingga siswa itu akan meyerap dan mengendapkan mateti itu dengan lebih baik. Jadi motivasi yakni suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam meraih tujuan tertentu. 3. Macam-macam Motivasi Menurut jenisnya motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Motivasi Intrinsik Jenis motivasi ini muncul selaku akibat dari dalam individu, apakah alasannya adalah adanya usul, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan yang demikian risikonya ia mau melakukan sesuatu atau belajar (Usman, 2000: 29). Sedangkan menurut Djamarah (2002: 115), motivasi instrinsik yakni motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak butuhdirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melaksanakan sesuatu. Menurut Winata (dalam Erriniati, 1994: 105) ada beberapa strategi dalam mengajar untuk membangun motivasi intrinsik. Strategi tersebut adalah sebagai berikut: 1) Mengaitkan tujuan mencar ilmu dengan tujuan siswa. 2) Memberikan keleluasaan dalam memperluas bahan pelajaran sebatas yang pokok. 3) Memberikan banyak waktu extra bagi siswa untuk mengerjakan peran dan memanfaatkan sumber mencar ilmu di sekolah. 4) Sesekali memperlihatkan penghargaan pada siswa atas pekerjaannya. 5) Meminta siswa untuk menerangkan hasil pekerjaannya. Dari uraian diatas mampu ditarik kesimpulan bahwa motivasi instrinsik yakni motivasi yang muncul dari dalam individu yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Seseorang yang mempunyai motivasi intrinsik dalam dirinya maka secara sadar akan melaksanakan suatu aktivitas yang tidak membutuhkan motivasi dari luar dirinya. b. Motivasi Ekstrinsik Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat imbas dari luar individu, apakah alasannya adalah adanya undangan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya beliau mau melaksanakan sesuatu atau mencar ilmu. Misalnya seseorang mau mencar ilmu alasannya adalah dia disuruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat pertama dikelasnya (Usman, 2000: 29). Sedangkan menurut Djamarah (2002: 117), motivasi ekstrinsik yakni kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi alasannya adanya perangsang dari luar. Beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi instrinsik antata lain: 1) Kompetisi (kompetisi): guru berupaya menciptakan persaingan diantara siswanya untuk mengembangkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang sudah dicapai sebelumnya dan menanggulangi prestasi orang lain. 2) Pace Making (membuat tujuan sementara atu dekat): Pada awal kegiatan mencar ilmu mengajar guru, hendaknya apalagi dulu memberikan kepada siswa TIK yang hendak dicapai sehingga dengan demikian siswa berupaya untuk meraih TIK tersebut. 3) Tujaun yang terang: Motif mendorong individu untuk meraih tujuan. Makin terperinci tujuan, makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan kian besar pula motivasi dalam melakuakan sesuatu perbuatan. 4) Kesempurnaan untuk berhasil: Kesuksesan dapat mengakibatkan rasa puas, kesenangan dan kepercayaan kepada diri sendiri, sedangkan kegagalan akan menjinjing imbas yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya banyak memberikan potensi kepada anak untuk menjangkau berhasil dengan usaha mampu berdiri diatas kaki sendiri, tentu saja dengan bimbingan guru. 5) Minat yang besar: Motif akan timbul jikalau individu mempunyai minat yang besar. 6) Mengadakan penilaian atau tes. Pada biasanya semua siswa mau berguru dengan tujuan memperoleh nilai yang bagus. Hal ini terbukti dalam realita bahwa banyak siswa yang tidak mencar ilmu bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, jikalau guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan, barulah siswa ulet mencar ilmu dengan menghafal supaya dia menerima nilai yang baik. Makara, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang besar lengan berkuasa bagi siswa. Dari uraian di atas dimengerti bahwa motivsi ekstrinsik yakni motivasi yang muncul dari luar individu yang berfungsinya karena adanya perangsang dari laur, misalnya adanya kompetisi, untuk meraih nilai yang tinggi, dan lain sebagainya. G. Gaya Belajar Kalangan pendidik telah menyadari bahwa penerima bimbing mempunyai bermacam cara belajar. Sebagian siswa mampu berguru dengan sangat baik hanya dengan menyaksikan orang lain melakukannya. Biasanya, mereka ini menyukai penyajian gosip yang runtut. Mereka lebih senang menuliskan apa yang dibilang guru. Selama pelajaran, mereka lazimnya membisu dan jarang terusik oleh kebisingan. Perserta didik visual ini berlainan dengan akseptor latih auditori, yang biasanya tidak sungkan-sungkan untuk memperhatikan apa yang dilaksanakan oleh guru, dan membuat catatan. Mereka menggurulkan kemampuan untuk mendengar dan mengenang. Selama pelajaran, mereka mungkin banyak bicara dan mudah teralihkan perhatiannya oleh suara atau kegaduhan. Peserta ajar kinestetik belajar utamanya dengan terlibat eksklusif dalam aktivitas. Mereka condong impulsive, semau gue, dan kurang sabaran. Selama pelajaran, mereka mungkin saja bingung jikalau tidak mampu leluasa bergerak dan menjalankan sesuatu. Cara mereka belajar boleh jadi terlihat asal-asalan dan tida karuan. Tentu saja, cuma ada sedikit siswa yang mutlak memiliki satu jenis cara belajar. Grinder (1991) menyatakan bahwa dari setiap 30 siswa, 22 diantaranya rata-rata dapat belajar dengan efektif selama gurunya mengahadirkan kegaitan belajar yang berkombinasi antara visual, auditori dan kinestik. Namun, 8 siswa siswanya sedemikan menggemari salah satu bentuk pengajaran dibanding dua yang lain. Sehingga mereka mesti berusaha keras untuk memahami pelajaran bila tidak ada ketelitian dalam menghidangkan pelajaran sesuai dengan ara yang mereka senangi. Guna memenuhi kebutuhan ini, pengajaran mesti bersifat mulitsensori dan penuh dengan variasi. BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian langkah-langkah (action research), karena observasi dilaksanakan untuk memecahkan dilema pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga tergolong observasi deskriptif, alasannya adalah menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diharapkan dapat dicapai. Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti, 1997: 8) mengelompokkan observasi tindakan menjadi empat macam yaitu, (a) guru selaku penelitia; (b) penelitian tindakan kolaboratif; (c) simultan terintegratif; (d) administrasi social eksperimental. Dalam penelitian langkah-langkah ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, penanggung jawab sarat observasi ini ialah guru. Tujuan utama dari observasi tindakan ini yakni untuk mengembangkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara penuh terlibat dalam observasi mulai dari penyusunan rencana, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti tidak berafiliasi dengan siapapun, kehadiran peneliti selaku guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dikerjakan seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu bila diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan. A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat observasi yakni kawasan yang dipakai dalam melakukan observasi untuk menemukan data yang dikehendaki. Penelitian ini bertempat di………………………………………….. Tahun Pelajaran 2003/2004. 2. Waktu Penelitian Waktu observasi ialah waktu berlangsungnya observasi atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober semester ganjil tahun pelajaran 2003/2004. 3. Subyek Penelitian Subyek observasi adalah siswa-siswi Kelas……………………………………. Tahun Pelajaran 2003/2004 pada pokok bahasan …….. B. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK yaitu sebuah bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku langkah-langkah yang dijalankan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari langkah-langkah mereka dalam melakukan peran, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilaksanakan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dijalankan (dalam Mukhlis, 2000: 3). Sedangkah berdasarkan Mukhlis (2000: 5) PTK yaitu sebuah bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Adapun tujuan utama dari PTK ialah untuk memperbaiki/mengembangkan pratek pembelajaran secara berkesinambungan, sedangkan tujuan penyertaannya yaitu menumbuhkan budaya meneliti di golongan guru (Mukhlis, 2000: 5). Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, adalah penelitian tindakan, maka observasi ini memakai model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), yaitu berupa spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi rencana (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya ialah perncanaan yang telah direvisi, tindakan, observasi, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dikerjakan tindakan pendahuluan yang berupa kenali problem. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian langkah-langkah kelas dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 3.1 Alur PTK Penjelasan alur di atas yaitu: 1. Rancangan/planning permulaan, sebelum menyelenggarakan observasi peneliti menyusun rumusan dilema, tujuan dan membuat planning langkah-langkah, tergolong di dalamnya instrumen observasi dan perangkat pembelajaran. 2. Kegiatan dan observasi, meliputi langkah-langkah yang dilakukan oleh peneliti selaku upaya membangun pemahaman rancangan siswa serta memperhatikan hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran model eksperimen . 3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. 4. Rancangan/rencana yang direvisi, menurut hasil refleksi dari pengamat membuat desain yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus selanjutnya. Observasi dibagi dalam tiga putaran, adalah putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang serupa (alur aktivitas yang serupa) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di tamat masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki metode pengajaran yang telah dijalankan. C. Instrumen Penelitian Instrumen yang dipakai dalam observasi ini berisikan: 1. Silabus Yaitu seperangkat planning dan pengaturan ihwal acara pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar. 2. Rencana Pelajaran (RP) Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan selaku pemikiran guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil mencar ilmu, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan mencar ilmu mengajar. 3. Lembar Kegiatan Siswa Lembar acara ini yang dipergunakan siswa untuk menolong proses pengumpulan data hasil eksperimen. 4. Tes formatif Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan diraih, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman rancangan IPA pada pokok bahasan ………. Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran. Bentuk soal yang diberikan ialah opsi guru (objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46 soal yang telah diujicoba, kemudian penulis mengadakan analisis butir soal tes yang sudah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal. Analisis ini digunakan untuk memilih soal yang bagus dan menyanggupi syarat dipakai untuk mengambil data. Langkah-langkah analisi butir soal yaitu sebagai berikut: a. Validitas Tes Validitas butir soal atau validitas item dipakai untuk mengenali tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga mampu diputuskan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tingkat kevalidan ini mampu dijumlah dengan hubungan Product Moment: (Suharsimi Arikunto, 2001: 72) Dengan: rxy : Koefisien relasi product moment N : Jumlah akseptor tes ΣY : Jumlah skor total ΣX : Jumlah skor butir soal ΣX2 : Jumlah kuadrat skor butir soal ΣXY : Jumlah hasil kali skor butir soal b. Reliabilitas Reliabilitas butir soal dalam observasi ini memakai rumus belah dua sebagai berikut: (Suharsimi Arikunto, 20001: 93) Dengan: r11 : Koefisien reliabilitas yang telah diadaptasi r1/21/2 : Korelasi antara skor-skor setiap belahan tes Kriteria reliabilitas tes jikalau harga r11 dari perhitungan lebih besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliabel. c. Taraf Kesukaran Bilangan yang memberikan sukar dan mudahnya sebuah soal ialah indeks kesukaran. Rumus yang dipakai untuk menentukan taraf kesukaran yaitu: (Suharsimi Arikunto, 2001: 208) Dengan: P : Indeks kesukaran B : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar Js : Jumlah seluruh siswa penerima tes Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran soal yaitu selaku berikut: - Soal dengan P = 0,000 sampai 0,300 yakni sukar - Soal dengan P = 0,301 hingga 0,700 ialah sedang - Soal dengan P = 0,701 hingga 1,000 ialah gampang d. Daya Pembeda Daya pembeda soal yaitu kemampuan sebuah soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menawarkan besarnya daya pembeda desebut indeks diskriminasi. Rumus yang dipakai untuk menghitung indeks diskriminasi ialah selaku berikut: (Suharsimi Arikunto, 2001: 211) Dimana: D : Indeks diskriminasi BA : Banyak penerima kalangan atas yang menjawab dengan benar BB : Banyak peserta golongan bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah peserta kelompok atas JB : Jumlah penerima kalangan bawah Proporsi akseptor kalangan atas yang menjawab benar. Proporsi penerima golongan bawah yang menjawab benar Kriteria yang dipakai untuk memilih daya pembeda butir soal sebagai berikut: - Soal dengan D = 0,000 sampai 0,200 yakni jelek - Soal dengan D = 0,201 sampai 0,400 yakni cukup - Soal dengan D = 0,401 sampai 0,700 ialah baik - Soal dengan D = 0,701 hingga 1,000 adalah sangat bagus D. Metode Pengumpulan Data Data-data yang diharapkan dalam observasi ini diperoleh melalui observasi pembuatan mencar ilmu dengan metode eksperimen, pengamatan aktivitas siswa dan guru, dan tes formatif. E. Teknik Analisis Data Untuk mengenali keefektivan sebuah tata cara dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan evaluasi data. Pada observasi ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu sistem penelitian yang bersifat menggambarkan realita atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang diraih siswa juga untuk menemukan tanggapansiswa terhadap kegiatan pembelajaran serta acara siswa selama proses pembelajaran. Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase kesuksesan siswa sesudah proses mencar ilmu mengajar setiap putarannya dilaksanakan dengan cara memberikan evaluasi berbentuksoal tes tertulis pada setiap tamat putaran. Analisis ini dijumlah dengan memakai statistic sederhana adalah: 1. Untuk menganggap ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang berikutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif mampu dirumuskan: Dengan : = Nilai rata-rata Σ X = Jumlah semua nilai siswa Σ N = Jumlah siswa 2. Untuk ketuntasan belajar Ada dua klasifikasi ketuntasan belajar ialah secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan isyarat pelaksanaan mencar ilmu mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa sudah tuntas belajar kalau telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan mencar ilmu dipakai rumus sebagai berikut: BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal, data pengamatan berupa pengamatan pengelolaan belajar dengan tata cara eksperimen dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada final pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap siklus. Data hasil uji coba item butir soal dipakai untuk mendapatkan tes yang benar-benarmewakili apa yang diinginkan. Data ini selanjutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. Data tes formatif untuk mengenali kenaikan prestasi mencar ilmu siswa sesudah diterapkan belajar dengan metode eksperimen. A. Analisis Item Butir Soal Sebelum melaksanakan pengambilan data lewat instrumen observasi berupa tes dan menerima tes yang bagus, maka data tes tersebut diuji dan dianalisis. Uji coba dikerjakan pada siswa di luar sasaran observasi. Analisis tes yang dilaksanakan mencakup: 1. Validitas Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes sehingga mampu dipakai sebagai instrument dalam observasi ini. Dari perkiraan 46 soal diperoleh 16 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Valid Soal Tidak Valid 2, 3, 4, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 36, 37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45 1, 5, 6, 8, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 32, 33, 34, 35, 40, 46 2. Reliabilitas Soal-soal yang telah menyanggupi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil perkiraan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 596. Harga ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 23) dengan r (95%) = 0,413. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan sudah menyanggupi syarat reliabilitas. 3. Taraf Kesukaran (P) Taraf kesukaran digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran soal. Hasil analisis menawarkan dari 46 soal yang diuji terdapat: - 21 soal gampang - 15 soal sedang - 10 soal susah 4. Daya Pembeda Analisis daya pembeda dijalankan untuk mengetahui kemampuan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkriteria jelek sebanyak 16 soal, berkriteria cukup 22 soal, berkriteria baik 8 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang dipakai sudah memenuhi syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. B. Analisis Data Penelitian Persiklus 1. Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, Lomba Kompetensi Siswa 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan aktivitas berguru mengajar untuk siklus I dikerjakan pada tanggal 2 Oktober 2003 di Kelas ……. dengan jumlah siswa 23 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses berguru mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang sudah dipersiapkan. Pengamatan (pengamatan) dilakukan bersama-sama dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada tamat proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengenali tingkat kesuksesan siswa dalam proses belajar mengajar yang sudah dikerjakan. Adapun data hasil observasi pada siklus I adalah sebagai berikut: Table 4.2. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus I No. Urut Skor Keterangan No. Urut Skor Keterangan T TT T TT 1 80 √ 13 30 √ 2 50 √ 14 70 √ 3 80 √ 15 80 √ 4 60 √ 16 70 √ 5 40 √ 17 70 √ 6 80 √ 18 70 √ 7 70 √ 19 80 √ 8 60 √ 20 60 √ 9 70 √ 21 80 √ 10 80 √ 22 100 √ 11 60 √ 23 50 √ 12 80 √ Jumlah 760 8 3 Jumlah 810 7 5 Jumlah Skor 1570 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2300 Rata-Rata Skor Tercapai 68,26 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 15 Jumlah siswa yang belum tuntas : 8 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Pada Siklus I No Uraian Hasil Siklus I 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan belajar 68,26 15 65,22 Dari tabel di atas mampu diterangkan bahwa dengan menerapkan sistem eksperimen diperoleh nilai rata-rata prestasi berguru siswa yakni 70,29 dan ketuntasan mencar ilmu meraih 70,59% atau ada 24 siswa dari 23 siswa sudah tuntas mencar ilmu. Hasil tersebut menawarkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas mencar ilmu, sebab siswa yang mendapatkan nilai ≥ 65 hanya sebesar 70,59% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang diinginkan adalah sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa gres dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan tata cara eksperimen. 2. Siklus II a. Tahap penyusunan rencana Pada tahap inipeneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, LKS, 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap aktivitas dan pelaksanaan Pelaksanaan acara mencar ilmu mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 2003 di Kelas V dengan jumlah siswa 23 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses mencar ilmu mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan mengamati revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilakukan bersama-sama dengan pelaksanaan berguru mengajar. Pada tamat proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengenali tingkat keberhasilan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar yang sudah dikerjakan. Instrumen yang dipakai adalah tes formatif II. Adapun data hasil observasi pada siklus II adalah sebagai berikut. Table 4.4. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus II No. Urut Skor Keterangan No. Urut Skor Keterangan T TT T TT 1 80 √ 13 70 √ 2 70 √ 14 60 √ 3 90 √ 15 90 √ 4 60 √ 16 90 √ 5 70 √ 17 80 √ 6 60 √ 18 80 √ 7 70 √ 19 80 √ 8 80 √ 20 60 √ 9 80 √ 21 80 √ 10 70 √ 22 70 √ 11 80 √ 23 90 √ 12 60 √ Jumlah 850 9 2 Jumlah 870 9 3 Jumlah Skor 1720 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2300 Rata-Rata Skor Tercapai 74,78 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 18 Jumlah siswa yang belum tuntas : 5 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.5. Rekapitulasi Hasil Tes Pada Siklus II No Uraian Hasil Siklus II 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas berguru Persentase ketuntasan mencar ilmu 74,78 18 78,26 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi mencar ilmu siswa ialah 74,78 dan ketuntasan belajar mencapai 78,26% atau ada 18 siswa dari 23 siswa telah tuntas berguru. Hasil ini menawarkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan mencar ilmu secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini sebab setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada konferensi berikutnya siswa lebih termotivasi untuk mencar ilmu. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan dinginkan guru dengan menerapkan metode eksperimen. 3. Siklus III a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti merencanakan perangkat pembelajaran yang berisikan rencana pelajaran 3, LKS 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap aktivitas dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan berguru mengajar untuk siklus III dilakukan pada tanggal 16 Oktober 2003 di Kelas……… dengan jumlah siswa 23 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses mencar ilmu mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (pengamatan) dilaksanakan berbarengan dengan pelaksanaan berguru mengajar. Pada tamat proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengenali tingkat keberhasilan siswa dalam proses berguru mengajar yang sudah dijalankan. Instrumen yang digunakan yakni tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III ialah sebagai berikut. Table 4.6. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus III No. Urut Skor Keterangan No. Urut Skor Keterangan T TT T TT 1 80 √ 13 70 √ 2 90 √ 14 80 √ 3 90 √ 15 100 √ 4 60 √ 16 90 √ 5 90 √ 17 90 √ 6 90 √ 18 80 √ 7 90 √ 19 90 √ 8 80 √ 20 60 √ 9 60 √ 21 100 √ 10 80 √ 22 80 √ 11 80 √ 23 80 √ 12 90 √ Jumlah 920 10 1 Jumlah 980 10 2 Jumlah Skor 1900 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2300 Rata-Rata Skor Tercapai 82,60 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 20 Jumlah siswa yang belum tuntas : 3 Klasikal : Tuntas Tabel 4.7. Rekapitulasi Hasil Tes Pada Siklus III No Uraian Hasil Siklus III 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan belajar 82,60 20 86,95 Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 82,60 dan dari 23 siswa yang sudah tuntas sebanyak 20 siswa dan 3 siswa belum meraih ketuntasan berguru. Maka secara klasikal ketuntasan mencar ilmu yang telah tercapai sebesar 86,95% (tergolong klasifikasi tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami kenaikan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaeruhi oleh adanya kenaikan kesanggupan guru dalam menerapkan berguru dengan metode eksperimen sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam mengetahui bahan yang sudah diberikan. c. Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang sudah terealisasi dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan Penerapan sistem eksperimen. Dari data-data yang sudah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Selama proses berguru mengajar guru sudah melakukan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. 2) Berdasarkan data hasil observasi diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berjalan. 3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya telah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. 4) Hasil berguru siswsa pada siklus III meraih ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan belajar dengan sistem eksperimen dengan baik dan dilihat dari acara siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses mencar ilmu mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak dibutuhkan revisi terlampau banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah selanjutnya adalah mengoptimalkan dan menjaga apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan sistem eksperimen dapat meningkatkan proses mencar ilmu mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. C. Pembahasan 1. Ketuntasan Hasil mencar ilmu Siswa Melalui hasil peneilitian ini memberikan bahwa tata cara eksperimen memiliki dampak faktual dalam mengembangkan prestasi belajar siswa. Hal ini mampu dilihat dari semakin mantapnya pengertian siswa kepada bahan yang disampaikan guru (ketuntasan belajar berkembangdari sklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 65,22%, 78,26%, dan 86,95%. Pada siklus III ketuntasan berguru siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh acara siswa dalam proses pembelajaran dalam setiap siklus mengalami kenaikan. Hal ini memiliki dampak positif kepada prestasi berguru siswa yaitu mampu ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami kenaikan. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh acara siswa dalam proses pembelajaran IPA pada pokok bahasan ……….. dengan tata cara eksperimen yang paling lebih banyak didominasi yakni mendengarkan/ memperhatikan klarifikasi guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Kaprikornus mampu dikatakan bahwa acara isiwa mampu dikategorikan aktif. Sedangkan untuk acara guru selama pembelajaran sudah melakukan tindakan belajar dengan sistem eksperimen dengan baik. Hal ini terlihat dari kegiatan guru yang timbul di antaranya kegiatan membimbing dan mengamati siswa dalam melaksanakan kegiatan Lomba Kompetensi Siswa/mendapatkan konsep, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil acara pembelajaran yang telah dilaksanakan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dikerjakan dapat ditarik kesimpulan selaku berikut: 1. Pembelajaran dengan tata cara eksperimen memiliki imbas nyata dalam meningkatkan prestasi berguru siswa yang ditandai dengan kenaikan ketuntasan mencar ilmu siswa dalam setiap siklus, ialah siklus I (65,22%), siklus II (78,26%), siklus III (86,95%). 2. Penerapan sistem eksperimen mempunyai efek faktual, yaitu mampu mengembangkan motivasi mencar ilmu siswa yang ditunjukan dengan rata-rata tanggapan siswa hasil wawancara yang menyatakan bahwa siswa terpesona dan berminat dengn metode eksperimen sehingga mereka menjadi termotivasi untuk berguru. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya biar proses mencar ilmu mengajar IPA lebih efektif dan lebih memperlihatkan hasil yang optimal bagi siswa, makan disampaikan usulan selaku berikut: 1. Untuk melaksanakan berguru dengan sistem eksperimen memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru mesti mempu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa dipraktekkan dengan sistem eksperimen dalam proses mencar ilmu mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan prestasi berguru siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan banyak sekali sistem, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya mampu mendapatkan pengetahuan baru, menemukan desain dan keahlian, sehingga siswa sukses atau mampu memecahkan problem-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya observasi yang lebih lanjut, alasannya hasil observasi ini cuma dikerjakan di………………………………….. Tahun Pelajaran 2003/2004. 4. Untuk observasi yang serupa hendaknya dijalankan perbaikan-perbaikan supaya diperoleh hasil yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon. Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta. Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta Combs. Arthur. W. 1984. The Profesional Education of Teachers. Allin and Bacon, Inc. Boston. Dahar, R.W. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar, Jakarta. Balai Pustaka. Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta. Hadi, Sutrisno. 1981. Metodogi Research. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Yoyakarta. Hadi, Sutrisno. 1982. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi UGM. Hamalik, Oemar. 1994. Metode Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti. Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP Malang. Kemmis, S. dan Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Victoria Dearcin University Press. Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineksa Cipta. Mursell, James ( - ). Succesfull Teaching (terjemahan). Bandung: Jemmars. Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Purwanto, N. 1988. Prinsip-prinsip dan Teknis Evaluasi Pengajaran. Bandung. Remaja Rosda Karya. Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Saliwangi, B. 1988. Pengantar Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang. Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka. Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Wetherington. H.C. and W.H. Walt. Burton. 1986. Teknik-teknik Belajar dan Mengajar. (terjemahan) Bandung: Jemmars. Dapatkan file secara lengkap berupa pengaturan, gambar, tabel dan lain-lain dalam format microsoft word (.doc) pada link dibawah ini !! Dowwload PTK Format Microsoft Word (.doc) Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Sumber https://somadrug1.blogspot.com
pop
Home
PTK IPA
Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Tata Cara Eksperimen Untuk
Meningkatkan Prestasi Mencar Ilmu Ipa Pada Siswa
Selasa, 08 Desember 2020
Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Tata Cara Eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Mencar Ilmu Ipa Pada Siswa
Diterbitkan Desember 08, 2020
Artikel Terkait
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
EmoticonEmoticon