Selasa, 08 Desember 2020

Upaya Memajukan Prestasi Belajar Ipa Dengan Tata Cara Pembelajaran Inovasi (Discovery)

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA DENGAN METODE PEMBELAJARAN PENEMUAN ( DISCOVERY ) PADA SISWA KELAS …………………………………. …………………………………………….. TAHUN PELAJARAN 2001/2002 KARYA ILMIAH OLEH ……………………………….. NIP: …………………………… DINAS PENDIDIKAN ………………………………….. ………………………………………… ……………………………………………… HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Setelah membaca dan mencermati karya ilmiah yang merupakan ulasan hasil penelitian yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan ………………………………….. hasil karya dari: Nama               : ………………………. NIP                 : ………………………. Unit Kerja       : ……………………………… Judul               :  Upaya Meningkatkan Prestasi Dan Kualitas Belajar IPA Dengan Metode Pembelajaran Penemuan (Discovery) Pada Siswa Kelas …………………………..Tahun 2001/2002 Menyetujui dan mengesahkan untuk diajukan mendapatkan Penetapan Angka Kredit Kenaikan Pangkat dalam jabatan fungsional guru.      Mengetahui                                                   Ketua PD PGRI II                                             Kepala …………………        …………………….                                       ……………………………                                                   ………………………………                                             …………………………..           NPA:                                                                             NIP: ………………. HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Karya Ilmiah ini diajukan selaku syarat untuk memenuhi penetapan angka kredit kenaikan pangkat dalam jabatan fungsional guru. Karya ilmiah ini tidak dipublikasikan namun sudah disetujui dan disahkan untuk didokumentasikan di perpustakaan …………………………………..             Pada Hari        : ……………………             Tanggal           : ……………………                   Pustakawan                                                              Kepala                                          ………………….                                                    …………………………..              NIP: ……………….                                                NIP: ………………… KATA PENGANTAR             Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menuntaskan tugas penyusunan karya ilmiah dengan judul “Upaya Meningkatkan Prestasi Dan Kualitas Belajar IPA Dengan Metode Pembelajaran Penemuan (Discovery) Pada Siswa Kelas ……………………………….Tahun Pelajaran 2001/2002”, penulisan karya ilmiah ini kami susun untuk digunakan dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan mampu dipakai sebagai perbandingan dalam pembuatan karya ilmiah bagi sahabat sejawat juga anak asuh pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pembinaan karya ilmiah remaja.             Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak menerima dukungan dari aneka macam pihak. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan nrimo dan sedalam-dalamnya kepada: 1.        Yth. Kepala Dinas Pendidikan ……………………………………. 2.        Yth. Ketua PD II PGRI …………………………. 3.        Yth. Rekan-rekan Guru ………………………………. 4.        Semua pihak yang sudah banyak menolong sehingga penulisan ini selesai. Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari tepat untuk itu segala kritik dan rekomendasi yang bersifat membangun dari semua pihak senantiasa penulis kehendaki.                                                                                                                                                                           Penulis ABSTRAK …………………., 2001. Upaya Meningkatkan Prestasi Dan Kualitas Belajar IPA Dengan Metode Pembelajaran Penemuan (discovery) Pada Siswa Kelas …………………………………………….. Tahun Pelajaran 2001/2002 Kata Kunci: pembelajaran ipa, tata cara penemuan ( discovery ) Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya yaitu faktor guru dalam melaksanakan proses mencar ilmu mengajar, sebab guru secara langsung mampu mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta kemampuan siswa. Untuk menangani permasalahan di atas dan guna meraih tujuan pendidikan secara optimal, peran guru sangat penting dan dibutuhkan guru mempunyai cara/versi mengajar yang baik dan bisa memilih versi pembelajaran yang sempurna dan sesuai dengan konsep-desain mata pelajaran yang mau disampaikan. Permasalahan yang ingin dikaji dalam observasi ini yaitu: (a) Bagaimanakah kenaikan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya pembelajaran penemuan (discovery)? (b) Bagaimanakah dampak metode pembelajaran inovasi (discovery) terhadap motivasi belajar siswa? Tujuan dari penelitian tindakan ini yaitu: (a) Ingin mengenali kenaikan prestasi mencar ilmu siswa setelah diterapkannya pembelajaran penemuan (discovery). (b) Ingin mengenali dampak motivasi mencar ilmu siswa sehabis diterapkannya metode pembelajaran penemuan (discovery). Penelitian ini memakai observasi tindakan ( action research ) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap ialah: rancangan, acara dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran observasi ini yaitu siswa kelas ………………………………………. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi aktivitas berguru mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi berguru siswa mengalami kenaikan dari siklus I hingga siklus III yakni, siklus I (68,18%), siklus II (77,27%), siklus III (86,36%). Kesimpulan dari observasi ini yakni sistem penemuan (discovery) mampu kuat faktual kepada motivasi berguru Siswa ……………………………., serta metode pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran IPA. DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul .................................................................................................          i        Lembar Pengesahan ................................................................................................ ii Kata Pengantar ....................................................................................................... iii Abstrak ................................................................................................................... iv Daftar Isi ................................................................................................................. v BAB ..... I       PENDAHULUAN A.      Latar Belakang  Masalah ........................................................... 1 B.       Perumusan Masalah.................................................................... 3 C.       Tujuan Penelitian ....................................................................... 3 D.      Manfaat Penelitian .................................................................... 4 E.       Definisi Operasional Variabel ............................................         4 F.        Batasan Masalah ....................................................................... 5 BAB      II       TINJAUAN PUSTAKA A. Hakekat IPA  ............................................................................ 6 B. Proses Belajar Mengajar IPA  .................................................   7                            C. Metode Pembelajaran Penemuan (Discovery) .......................... 8 D. Motivasi Belajar ...................................................................... 11 E. . Prestasi Belajar IPA ................................................................ 15 G. Hubungan Motivasi dan Prestasi Belajar Terhadap ..... Metode pembelajaran Penemuan (discovery) ......................... 16 BAB     III      METODOLOGI PENELITIAN A.      Tempat, Waktu, dan Subyek Penelitian .................................. 19 B.       Rancangan Penelitian  ............................................................. 19 C.       Instrumen Penelitian ............................................................... 21 D.      Metode Pengumpulan Data  ................................................... 25 E.       Teknik Analisis Data ............................................................... 25 BAB     IV      HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.      Analisi Item Butir Soal  .......................................................... 28 B.       Analisis Data Penelitian Persiklus  .......................................... 30 C.       Pembahasan .......................................................................       39 BAB     V      PENUTUP A.      Kesimpulan ............................................................................. 41 B.       Saran ....................................................................................... 41 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 43 BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Masalah System pendidikan di Indonesia ternyata sudah mengalami banyak pergantian. Perubahan-pergeseran itu terjadi sebab sudah dilaksanakan banyak sekali usaha pembaharuan dalam pendidikan. Akibat efek itu pendidikan makin mengalami kemajuan. Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, maka akil balig cukup akal ini pendidikan di sekolah-sekolah telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Perkemangan itu terjadi alasannya terdorong adanya pembaharuan tersebut, sehingga di dalam pengajaranpun guru senantiasa ingin mendapatkan sistem dan peralatan gres yang dapat memperlihatkan semangat belajar bagi murid-murid. Bahkan secara keseluruhan mampu dikatakan bahawa pembaharuan dalam system pendidikan yang mencakup seluruh bagian yang ada. Pembangunan di bidang pendidikan barulah ada artinya jika dalam pendidiakn dapat dimanfaatkan sesuai dengan keperluan penduduk dan bangsa Indonesia yang sedang membangun. Pada hakekatnya kegiatan berguru mengajar yakni suatu proses interaksi atau korelasi timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru sebagai salah satu unsur dalam proses mencar ilmu menganjar ialah pemegang tugas yang sungguh penting. Guru bukan hanya sekedar penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan sebagai sentral pembelajaran.  Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses mencar ilmu mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses mencar ilmu mengajar itu dilaksanakan. Karena itu guru mesti dapat menciptakan sebuah pengajaran menjadi lebeh efektif juga menarik sehingga materi pelajaran yang disampaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari materi pelajaran tersebut. Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu memajukan kualitas manusia Indonesia, insan seutuhnya yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bersusah payah, handal, bertanggung jawab, mampu berdiri diatas kaki sendiri, pintar dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu merealisasikan insan-manusia pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Depdikbud (1999). Berhasilnya tujuan pembelajaran diputuskan oleh banyak faktor diantaranya yaitu aspek guru dalam melakukan proses berguru mengajar, alasannya guru secara pribadi dapat mensugesti, membina dan mengembangkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk menangani masalah di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, tugas guru sungguh penting dan dibutuhkan guru memiliki cara/versi mengajar yang baik dan bisa memilih model pembelajaran yang sempurna dan sesuai dengan desain-rancangan mata pelajaran yang mau disampaikan. Untuk itu diharapkan suatu upaya dalam rangka mengembangkan mutu pendidikan dan pengajaran salah satunya yaitu dengan memilih strategi atau cara dalam memberikan bahan pelajaran semoga diperoleh peningkatan prestasi berguru siswa khususnya pelajaran IPA. Misalnya dengan membimbing siswa untuk tolong-menolong terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mampu membantu siswa meningkat sesuai dengan taraf intelektualnya akan lebih menguatkan pengertian siswa kepada desain-desain yang diajarkan. Pemahaman ini membutuhkan minat dan motivasi. Tanpa adanya minat menerangkan bahwa siswa tidak mempunyai motivasi untuk berguru. Untuk itu, guru harus memberikan suntikan dalam bentuk motivasi sehingga dengan pinjaman itu anak didik mampu keluar dari kesulitan berguru. Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, kegagalan dalam berguru rata-rata dihadapi oleh sejumlah siswa yang tidak memiliki dorongan mencar ilmu. Untuk itu diharapkan suatu acara yang dilaksanakan oleh guru dengan upaya membangkitkan motivasi belajar siswa, contohnya dengan membimbing siswa untuk terlibat eksklusif dalam kegiatan yang melibatkan siswa serta guru yang berperan sebagai pembimbing untuk memperoleh rancangan IPA. Motivasi tidak hanya menjadikan siswa terlibat dalam kegiatan akademik, motivasi juga penting dalam memilih seberapa jauh siswa akan berguru dari suatu aktivitas pembelajaran atau seberapa jauh menyerap gosip yang dihidangkan kepada mereka. Siswa yang termotivasi untuk mencar ilmu sesuatu akan memakai proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari bahan itu, sehingga siswa itu akan meyerap dan mengendapan materi itu dengan lebih baik. Tugas penting guru ialah menyiapkan bagaimana guru mendukung motivasi siswa (Nur, 2001: 3). Untuk itu selaku seorang guru disamping menguasai materi, juga diharapkan mampu memutuskan dan melakukan penyuguhan bahan yang tepat kesanggupan dan kesiapan anak, sehingga menciptakan penguasaan bahan yang maksimal bagi siswa. Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis mencoba menerapkan salah satu sistem pembelajaran, yakni tata cara pembelajaran penemuan ( discovery ) untuk mengungkapkan apakah dengan versi penemuan ( discovery ) mampu mengembangkan motivasi mencar ilmu dan prestasi berguru IPA. Penulis menentukan metode pembelajaran ini mengkondisikan siswa untuk terbiasa mendapatkan, mencari, mendikusikan sesuatu yang berhubungan dengan pengajaran. (Siadari, 2001: 4). Dalam sistem pembelajaran penemuan (discovery ) siswa lebih aktif dalam memecahkan untuk memperoleh sedang guru berperan selaku pembimbing atau memperlihatkan petunjuk cara memecahkan persoalan itu. Dari latar belakang di atas maka penulis dalam observasi ini mengambil judul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar IPA dengan Metode Pembelajaran Penemuan ( Discovery ) Pada Siswa Kelas ………………………………………. Tahun Pelajaran 2001/2002”. B.   Rumusan Masalah          Berdasarkan latar belakang di atas, maka mampu dirumuskan suatu persoalan sebagai berikut: Bagaimanakah peningkatan prestasi mencar ilmu siwa dengan diterapkannya pembelajaran inovasi (discovery)? Bagaimanakah pengaruh tata cara pembelajaran penemuan (discovery) kepada motivasi mencar ilmu siswa? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan masalah di atas, observasi ini bertujuan untuk: Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa sesudah diterapkannya pembelajaran penemuan ( discovery ). Ingin mengetahui efek motivasi belajar siswa sehabis diterapkan pembelajaran inovasi (discovery ). D. Manfaat Penelitian Penulis menghendaki dengan hasil penelitian ini mampu: Memberikan informasi wacana metode pembelajaran yang sesuai dengan bahan IPA. Meningkatkan motivasi pada pelajaran IPA Mengembangkan tata cara pembelajaran yang tepat dengan bidang studi IPA. E. Definisi Operasional Variabel Agar tidak terjadi salah pandangan terhadap judul penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal selaku berikut: Metode pembelajaran inovasi ( discover y) ialah: Suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental lewat tukar pendapat, dengan diskusi, pelatihan, membaca sendiri dan menjajal sendiri. Agar anak dapat berguru sendiri Motivasi belajar adalah: Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laris untuk memenuhi keperluan dan meraih tujuan, atau kondisi dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Prestasi belajar ialah: Hasil berguru yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, sesudah siswa mengikuti pelajaran. F.   Batasan Masalah Karena keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah meliputi: Penelitian inihanya dikenakan pada siswa kelas ………………………………… tahun pelajaran 2001/2002. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September semester ganjil tahun pelajaran 2001/2002. Materi yang disampaikan yakni pokok bahasan………………… BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat IPA IPA didefiniksan selaku suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara alam. Perkembangan IPA tidak cuma ditandai dengan adanya fakta, namun juga oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Metode ilmiah dan pengamatan ilmiah menekankan pada hakikat IPA. Secara rinci hakikat IPA berdasarkan Bridgman (dalam Lestari, 2002: 7) ialah selaku berikut: Kualitas; intinya rancangan-konsep IPA senantiasa mampu dinyatakan dalam bentuk angka-angka. Observasi dan Eksperimen; merupakan salah satu cara untuk mampu mengerti konsep-rancangan IPA secara sempurna dan mampu diuji kebenarannya. Ramalan (prediksi); merupakan salah satu asumsi penting dalam IPA bahwa misteri alam raya ini mampu diketahui dan memiliki keteraturan. Dengan perkiraan tersebut lewat pengukuran yang teliti maka berbagai peristiwa alam yang mau terjadi mampu diprediksikan secara tepat. Progresif dan komunikatif; artinya IPA itu senantiasa berkembang ke arah yang lebih sempurna dan penemuan-penemuan yang ada merupakan kelanjutan dari inovasi sebelumnya. Proses; tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dikerjakan dengan memakai metode ilmiah dalam rangkan memperoleh suatu kebernaran. Universalitas; kebenaran yang didapatkan selalu berlaku secara biasa . Dari klarifikasi di atas, dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA ialah bab dari IPA, dimana rancangan-konsepnya diperoleh melalui suatu proses dengan memakai  sistem ilmiah dan diawali dengan perilaku ilmiah lalu diperoleh hasil (produk). B.  Proses Belajar Mengajar IPA Proses dalam pengertian disini merupakan interaksi semua bagian atau komponen yang terdapat dalam berguru mengajar yang satu sama yang lain saling bekerjasama ( inter independent ) dalam ikatan untuk mencapai tujuan (Usman, 2000: 5). Belajar diartikan sebagai proses pergeseran tingka laris pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang sehabis mengalami proses belajar akan mengalami pergantian tingkah laris, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengetahui. (dalam Usman, 2000: 5). Mengajar ialah sebuah perbuatan yang membutuhkan tanggungjawab moral yang cukup berat. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam acara sebuah perjuangan mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak ajar dan bahan pengajaran yang menjadikan proses belajar. Proses berguru mengajar ialah sebuah inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegangn tugas utama. Proses belajar mengajar merupakan sebuah proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar relasi timbal balik yang berjalan dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau korelasi timbal balik antara guru dan siswa itu ialah syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar (Usman, 2000: 4). Sedangkan menurut buku Pedoman Guru Pendidikan Agama Islam, proses berguru mengajar dapat mengandung dua pengertian, yaitu rentetan aktivitas penyusunan rencana oleh guru, pelaksanaan aktivitas sampai penilaian acara tindak lanjut (dalam Suryabrata, 1997: 18). Dari kedua usulan tersebut mampu ditarik kesimpulan bahwa proses belajar mengajar IPA mencakup aktivitas yang dilaksanakan guru mulai dari penyusunan rencana, pelaksanaan aktivitas hingga evaluasi dan program tindak lanjut yang berjalan dalam suasana edukatif untuk meraih tujuan tertentu yakni pengajaran IPA. C.  Metode pembelajaran Penemuan ( Discovery ) Teknik inovasi yakni terjemahan dari discovery . Menurut Sund discovery yakni proses mental dimana siswa memampu mengasimilasikan sesuatu rancangan atau prinsip. Yang dimaksudkan dengan proses mental tersebut antara lain yaitu: memperhatikan, mencerna, memahami, menggolong-golongkan, menciptakan dugaan, menjelaskan, mengukur membuat kesimpulan dan sebainya. Suaut konsep misalnya: segi tiga, pans, demokrasi dan sebagainya, sedang yang dimaksud dengan prisnsip antara lain adalah: logam apabila dipanaskan akan mengemabang. Dalam teknik ini siswa dibiarkan mendapatkan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan arahan. Dr. J. Richard dan asistennya menjajal self-learning siswa (mencar ilmu sndiri) itu, sehingga suasana belajar mengajar berpindah dari situsi teacher learning menjadi situasi student dominated learning . Dengan memakai discovery learning , yakni sebuah cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar usulan, dengan diskusi, pelatihan, membaca sendiri dan menjajal sendiri. Agar anak dapat mencar ilmu sendiri. Penggunaan teknik discovery ini guru berusaha memajukan acara siswa dalam proses belajar mengajar. Maka teknik ini memiliki keuntungan sebagai berikut: -           Teknik ini bisa membantu siswa untuk menyebarkan, memperbanyak kesiapan, serta penguasaan keahlian dalam proses kognitif/pengenalan siswa. -           Siswa mendapatkan pengetahuan yang bersifat sungguh langsung individual sehingga dapat kokoh/mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut. -           Dapat menghidupkan kegairahan mencar ilmu mengajar para siswa. -           Teknik ini mampu menawarkan potensi kepada siswa untuk meningkat dan maju sesuai dengankemampuannya masing-masing. -           Mampu mengarahkan cara siswa berguru, sehingga lebih mempunyai motivasi yang berpengaruh untuk berguru lebih ulet. -           Membantu siswa untuk memperkuat dan memperbesar kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri. Strategi itu berpusat pada siswa tidak pada guru. Guru cuma sebagai sahabat mencar ilmu saja, membantu kalau diharapkan. Walalupun demikian baiknya teknik ini toh masih ada pula kekurangan yang perlu diperhatikan yaitu: -           Pada siswa mesti ada kesiapan dan kematangan mental untuk cara berguru ini. Siswa mesti berani dan berkeinginan untuk mengenali keadaan sekitarnya dengan baik. -           Bila kelas terlalu besar penggunaan teknikini akan kurang sukses. -           Bagi guru dan siswa yang sudah lazimdengan perencaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sungguh kecewa jikalau diganti dengan teknik penemuan. -           Dengan teknik ini ada yang beropini bahwa proses mental ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu mementingkan proses pengertiansaja, kurang mengamati pertumbuhan/pembentukan perilaku dan keahlian bagi siswa. -           Teknik ini mungkin tidak memperlihatkan kesempatan untuk berpikir secara kreatif. D.        Motivasi Belajar 1.   Pengertian Motivasi Motif yaitu daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau kondisi seserang atau organisme yang menyebabkan kesiapan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan motivasi ialah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laris untuk menyanggupi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau kondisi dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam meraih tujuan tertentu (Usman, 2000: 28). Sedangkan menurut Djamarah (2002: 114) motivasi yaitu sebuah pendorong yang mengganti energi dalam diri seseorang kedalam bentuk acara faktual untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak memiliki motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melaksanakan acara mencar ilmu. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang termotivasi dalam belajar sesuatu akan memakai proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari bahan itu, sehingga siswa itu akan meyerap dan mengendapkan mateti itu dengan lebih baik. Kaprikornus motivasi yakni sebuah kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Macam-macam Motivasi Menurut jenisnya motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu: a.    Motivasi Intrinsik Jenis motivasi ini timbul selaku balasan dari dalam individu, apakah alasannya adalah adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan yang demikian alhasil ia mau melaksanakan sesuatu atau belajar (Usman, 2000: 29).  Sedangkan menurut Djamarah (2002: 115), motivasi instrinsik yakni motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak butuhdirangsang dari luar, alasannya dalam setiap diri individu telah ada dorongan untuk melaksanakan sesuatu. Menurut Winata (dalam Erriniati, 1994: 105) ada beberapa taktik dalam mengajar untuk membangun motivasi intrinsik. Strategi tersebut yakni selaku berikut: 1)       Mengaitkan tujuan mencar ilmu dengan tujuan siswa. 2)       Memberikan keleluasaan dalam memperluas bahan pelajaran sebatas yang pokok. 3)       Memberikan banyak waktu ekstra bagi siswa untuk melakukan tugas dan memanfaatkan sumber belajar di sekolah. 4)       Sesekali menawarkan penghargaan pada siswa atas pekerjaannya. 5)       Meminta siswa untuk menjelaskan hasil pekerjaannya. Dari uraian diatas mampu disimpulkan bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam individu yang berfungsinya tidak butuhdirangsang dari luar. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya maka secara sadar akan melaksanakan sebuah kegiatan yang tidak membutuhkan motivasi dari luar dirinya. b.   Motivasi Ekstrinsik             Jenis motivasi ini timbul selaku akibat efek dari luar individu, apakah alasannya adanya permintaan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan yang demikian kesudahannya dia mau melaksanakan sesuatu atau belajar. Misalnya seseorang mau berguru karena ia disuruh oleh orang tuanya semoga mendapat peringkat pertama dikelasnya (Usman, 2000: 29).             Sedangkan menurut Djamarah (2002: 117), motivasi ekstrinsik yaitu kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik yaitu motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar.             Beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi instrinsik antata lain: 1)       Kompetisi (persaingan): guru berusaha membuat kompetisi diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah diraih sebelumnya dan menanggulangi prestasi orang lain. 2)       Pace Making (membuat tujuan sementara atu dekat): Pada permulaan kegiatan belajar mengajar guru, hendaknya apalagi dahulu memberikan kepada siswa TIK yang hendak diraih sehingga dengan demikian siswa berupaya untuk meraih TIK tersebut. 3)       Tujaun yang terang: Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Makin terang tujuan, makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan kian besar pula motivasi dalam melakuakan sesuatu perbuatan. 4)       Kesempurnaan untuk berhasil: Kesuksesan mampu menyebabkan rasa puas, kesenangan dan iman kepada diri sendiri, sedangkan kegagalan akan menenteng imbas yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya banyak menunjukkan peluang terhadap anak untuk meraih sukses dengan usaha mampu berdiri diatas kaki sendiri, pastinya dengan bimbingan guru. 5)       Minat yang besar: Motif akan timbul bila individu mempunyai minat yang besar. 6)       Mengadakan penilaian atau tes. Pada biasanya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam realita bahwa banyak siswa yang tidak berguru jika tidak ada ulangan. Akan namun, jikalau guru menyampaikan bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan, barulah siswa giat mencar ilmu dengan menghafal biar dia menerima nilai yang bagus. Kaprikornus, angka atau nilai itu ialah motivasi yang besar lengan berkuasa bagi siswa. Dari uraian di atas dimengerti bahwa motivsi ekstrinsik ialah motivasi yang timbul dari luar individu yang berfungsinya alasannya adanya perangsang dari laur, misalnya adanya kompetisi, untuk meraih nilai yang tinggi, dan lain sebagainya. E.   Prestasi Belajar IPA Belajar mampu membawa suatu pergantian pada individu yang berguru. Perubahan ini ialah pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam berguru ialah pengalaman yang dituju pada hasil yang mau diraih siswa dalam proses belajar di sekolah. Menurut Poerwodarminto (1991: 768), prestasi mencar ilmu ialah hasil yang diraih (dikerjakan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi mencar ilmu ialah hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang memerlukan asumsi. Berdasarkan uraian diatas mampu dikatakan bahwa prestasi berguru yang diraih oleh siswa dengan melibatkan seluruh kesempatanyang dimilikinya sehabis siswa itu melakukan aktivitas mencar ilmu. Pencapaian hasil mencar ilmu tersebut mampu diketahui dengan megadakan evaluasi tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah sukses mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru mampu mengenali sejauh mana kesuksesan guru dalam proses mencar ilmu mengajar di sekolah. Sejalan dengan prestasi belajar, maka dapt diartikan bahwa prestasi belajar IPA yakni nilai yang dipreoleh siswa setelah melibatkan secara pribadi/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (kemampuan) dalam proses berguru mengajar IPA. F. Hubungan Motivasi dan Prestasi Belajar Terhadap Metode pembelajaran Penemuan (discovery) Motivasi ialah sebuah kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam meraih tujuan tertetntu. Siswa yang termotivasi untuk mencar ilmu sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu  dengan lebih baik (Nur, 2001: 3). Sedangkan prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan kegiatan berguru. Sedangkan sistem pembelajaran penemuan (discovery) adalah suatu metode pembelajaran yang memperlihatkan peluang dan menuntut siswa terlibat secara aktif di dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan menunjukkan informasi singkat (Siadari, 2001: 7). Pengetahuan yang diperoleh dengan berguru inovasi (discovery) akan bertahan lama, memiliki imbas transfer yang lebih baik dan meningkatkan siswa dan kemampuan berfikir secara bebas. Secara umum belajar inovasi (discovery) ini melatih kemampuan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pemberian orang lain. Selain itu, mencar ilmu inovasi membangkitkan keingintahuan siswa, memberi motivasi untuk melakukan pekerjaan hingga mendapatkan jawaban (Syafi’udin, 2002: 19). Dari uraian tersebut di atas mampu ditarik kesimpulan bahwa dengan adanya motivasi dalam pembelajaran versi penemuan (discovery) tersebut maka hasil-hasil belajar akan menjadi optimal. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan semakin berhasil pula pelajaran itu. Dengan motivasi yang tinggi maka intensitas usaha belajar siswa akan tingi pula. Kaprikornus motivasi akan selalu memilih intesitas usaha belajar siswa. Hasil ini akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian langkah-langkah ( action research ), alasannya adalah penelitian dikerjakan untuk memecahkan duduk perkara pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga tergolong observasi deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana sebuah teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang dikehendaki dapat dicapai. Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti, 1997; 8) mengelompokkan penelitian langkah-langkah menjadi empat macam adalah (a) guru bertindak sebagai peneliti, (b) penelitian langkah-langkah kolaboratif, (c) Simultan terintegratif, dan (d) manajemen social ekperimental. Dalam observasi tindakan ini memakai bentu guru sebagai peneliti, penanggung jawab penuh penelitian langkah-langkah adalah praktisi (guru). Tujuan utama dari observasi langkah-langkah ini yakni meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara sarat terlibat dalam observasi mulai dari perencanaan, langkah-langkah, pengamatan dan refleksi. Dalam observasi ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun, kedatangan peneliti selaku guru di kelas selaku pengajar tetap dan dilaksanakan mirip biasa, sehingga siswa tidak tahu jikalau diteliti. Dengan cara ini dibutuhkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan. Penelitian ini akan dihentikan jika ketuntasan berguru secara kalasikal sudah mencapai 85% atau lebih. Jadi dalam observasi ini, peneliti tidak tergantung pada jumlah siklus yang mesti dilalui. A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1.   Tempat Penelitian Tempat observasi adalah kawasan yang digunakan dalam melaksanakan penelitian untuk mendapatkan data yang dikehendaki. Penelitian ini bertempat di ………………………………………………. tahun pelajaran 2001/2002. 2.   Waktu Penelitian Waktu observasi ialah waktu berlangsungnya penelitian atau ketika penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dikerjakan pada bulan September semester gasal 2001/2002. 3.   Subyek Penelitian Subyek penelitian yaitu siswa-siswi kelas ………………………………..pada pokok bahasan ………… B.   Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK yaitu suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku langkah-langkah yang dikerjakan untuk mengembangkan kemantapan rasional dari langkah-langkah mereka dalam  melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman kepada tindakan-tindakan yang dilaksanakan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dilakukan (dalam Mukhlis,      2000: 3). Sedangkah menurut Mukhlis (2000: 5) PTK ialah sebuah bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilaksanakan. Adapun tujuan utama dari PTK adalah untuk memperbaiki/meningkatkan pratek pembelajaran secara berkelanjutan, sedangkan tujuan penyertaannya adalah menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru (Mukhlis, 2000: 5).             Sesuai dengan jenis penelitian yang diseleksi, ialah penelitian langkah-langkah, maka observasi ini menggunakan versi observasi tindakan dari Kemmis dan Taggart  (dalam Sugiarti, 1997: 6), ialah berupa spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus selanjutnya yakni perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, observasi, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi persoalan. Siklus spiral dari tahap-tahap observasi tindakan kelas mampu dilihat pada gambar berikut. Refleksi Tindakan/ Observasi Refleksi Tindakan/ Observasi Refleksi Tindakan/ Observasi Rencana awal/desain Rencana yang direvisi Rencana yang direvisi Putaran 1 Putaran 2 Putaran 3   Gambar 3.1 Alur PTK Penjelasan alur di atas yakni: Rancangan/planning awal, sebelum mengadakan observasi peneliti menyusun rumusan dilema, tujuan dan membuat rencana tindakan, tergolong di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran. Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dikerjakan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman desain siswa serta memperhatikan hasil atau pengaruh dari diterapkannya sistem pembelajaran  versi discovery . Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan memikirkan hasil atau pengaruh dari langkah-langkah yang dijalankan berdasarkan lembar observasi yang diisi oleh pengamat. Rancangan/planning yang direvisi, menurut hasil refleksi dari pengamat menciptakan desain yang direvisi untuk dilakukan pada siklus selanjutnya.             Observasi dibagi dalam tiga putaran, adalah putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang serupa (alur aktivitas yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di tamat masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan. C. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: 1.   Silabus Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan wacana acara pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil berguru. 2.   Rencana Pelajaran (RP) Yaitu ialah perangkat pembelajaran yang dipakai selaku fatwa guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indicator pencapaian hasil mencar ilmu, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar. 3.   Lembar Kegiatan Siswa Lembar kegaian ini yang dipergunakan siswa untuk menolong proses pengumpulan data hasil eksperimen. 4.   Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar a.        Lembar observasi pembuatan pembelajaran inovasi (discovery), untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. b.        Lembar observasi acara siswa dan guru, untuk mengamati kegiatan siswa dan guru selama proses pembelajaran. 5.   Tes formatif Tes ini disusun menurut tujuan pembelajaran yang hendak diraih. Tes formatif ini diberikan setiap simpulan putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah opsi ganda (objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46 soal yang sudah diujicoba, kemudian penulis menyelenggarakan analisis butir soal tes yang sudah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal. Analisis ini dipakai untuk menentukan soal yang baik dan menyanggupi syarat dipakai untuk mengambil data. Langkah-langkah analisi btir soal yakni selaku berikut: a.        Validitas Tes Validitas butir soal atau validitas item dipakai untuk mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga dapat diputuskan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tingkat kevalidan ini mampu dijumlah dengan kekerabatan Product Moment:       (Suharsimi Arikunto, 2001: 72) Dengan:    r xy         : Koefisien hubungan product moment N         : Jumlah peserta tes ΣY       : Jumlah skor total ΣX       : Jumlah skor butir soal ΣX 2       : Jumlah kuadrat skor butir soal                         ΣXY    : Jumlah hsilkali skor butir soal b.       Reliabilitas Reliabilitas butir soal dalam observasi ini menggunakan rumus belah dua selaku berikut:  ( Suharsimi Arikunto , 20001 : 93) Dengan: r 11               : Koefisien reliabilatas yang telah diubahsuaikan r 1/21/2           : Korelasi antara skor-skor setiap belahan tes Kriteria reliabilitas tes jika harga r 11 dari perkiraan lebih besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliabel. c.        Taraf Kesukaran Bilangan yang menawarkan sulit dan gampangnya suatu soal adalah indeks kesukaran. Rumus yangdigunakan untuk memilih taraf kesukaran yaitu:          (Suharsimi Arikunto, 2001: 208) Dengan: P                   : Indeks kesukaran B                  : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar Js                  : Jumlah seluruh siswa akseptor tes Criteria untuk menentukan indeks kesukaran soal ialah sebagai berikut: -           Soal dengan P = 0,000 hingga 0,300 adalah sukar -           Soal dengan P = 0,301 sampai 0,700 ialah sedang -           Soal dengan P = 0,701 sampai 1,000 adalah mudah d.       Daya Pembeda Daya pembeda soal ialah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang memberikan besarnya daya pembeda desebut indeks diskriminasi. Rumus yang dipakai untuk menghitung indeks diskriminasi ialah selaku berikut:                   (Suharsimi Arikunto, 2001: 211) Dimana: D      : Indeks diskriminasi B A      : Banyak penerima golongan atas yang menjawab dengan benar B B      : Banyak penerima kalangan bawah yang menjawab dengan benar J A      : Jumlah akseptor kelompok atas J B      : Jumlah akseptor golongan bawah           Proporsi peserta kalangan atas yang menjawab benar.           Proporsi penerima kalangan bawah yang menjawab benar Kriteria yang digunakanuntuk memilih daya pembeda butir soal selaku berikut: -           Soal dengan D = 0,000 sampai 0,200 yakni jelek -           Soal dengan D = 0,201 sampai 0,400 yaitu cukup -           Soal dengan D = 0,401 hingga 0,700 yakni baik -           Soal dengan D = 0,701 sampai 1,000 ialah sangat baik. D. Metode Pengumpulan Data Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini diperoleh lewat pengamatan pembuatan pembelajaran inovasi (discovery), observasi acara siswa dan guru, dan tes formatif. E.   Teknik Analisis Data Untuk mengetahui keefektivan suatu sistem dalam acara pembelajaran perlu diadakan evaluasi data. Pada penelitian ini memakai teknik analisis deskriptif kualitatif, ialah suatu tata cara observasi yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi mencar ilmu yang diraih siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiata pembelajaran serta kegiatan siswa selama proses pembelajaran. Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses mencar ilmu mengajar setiap putarannya dikerjakan dengan cara menunjukkan evaluasi berbentuksoal tes tertulis pada setiap selesai putaran. Analisis ini dijumlah dengan menggunakan statistik sederhana ialah: Untuk menilai ulangan atu tes formatif Peneliti melaksanakan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang berikutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif mampu dirumuskan: Dengan            :      = Nilai rata-rata                            Σ X   = Jumlah semua nilai siswa                                        Σ N   = Jumlah siswa 2.   Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan mencar ilmu yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan berguru mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yakni seorang siswa sudah tuntas mencar ilmu bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas mencar ilmu jika di kelas tersebut terdapat 85% yang sudah meraih daya serap lebih dari sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar dipakai rumus sebagai berikut:             BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data penelitian yang diperoleh berbentukhasil uji coba item butir soal, data pengamatan berupa pengamatan pengelolaan pembelajaran penemuan ( discovery ) dan observasi kegiatan siswa dan guru pada final pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap siklus.             Data hasil uji coba item butir soal digunakan untuk mendapatkan tes yang sungguh-sungguhmewakili apa yang diinginka. Data ini selanjutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda.             Data lembar observasi diambil dari dua observasi ialah data observasi penglolaan pembelajaran inovasi ( discovery ) yang digunakan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode pembelajaran penemuan ( discovery ) dalam mengembangkan prestasi             Data tes formatif untuk mengetahui kenaikan prestasi belajar siswa sehabis diterapkan pembelajaran inovasi ( discovery ). A.      Analisis Item Butir Soal Sebelum melaksanakan pengambilan data lewat instrumen observasi berupa tes dan menerima tes yang baik, maka data tes tersebut diuji dan dianalisi. Uji coba dilakukan pada siswa di luar target observasi. Analisis tes yang dijalankan mencakup: Validitas Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes sehingga mampu dipakai selaku instrument dalam observasi ini. Dari perhitungan 46 soal diperoleh 16 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini.    Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Valid Soal Tidak Valid 1, 2, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 36, 37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45 3, 4, 8, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 31, 32, 33, 34, 35, 40, 46 Reliabilitas Soal-soal yang sudah menyanggupi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil perkiraan diperoleh koefisien reliabilitas r 11 sebesar 0, 775. Harga ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 22) dengan r (95%) = 0,423. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan sudah memenuhi syarat reliabilitas. Taraf Kesukaran (P) Taraf kesukaran digunakan untuk mengenali tingkat kesukaran soal. Hasil analisis menunjukkan dari 46 soal yang diuji terdapat: -           20 soal gampang -           16 soal sedang -           10 soal sulit Daya Pembeda Analisis daya pembeda dikerjakan untuk mengetahui kemampuan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkriteria jelek sebanyak 14 soal, berkriteria cukup 20 soal, berkreteria baik 10 soal, dan yang berkriteria tidak baik 2 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang dipakai telah menyanggupi syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. B.   Analisis Data Penelitian Persiklus 1.   Siklus I a.    Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1, dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b.    Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan aktivitas mencar ilmu mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 4 September 2001 di kelas VI dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dijalankan serentak dengan pelaksanaan mencar ilmu mengajar. Pada final proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Adapun data hasil observasi pada siklus I yaitu selaku berikut:          Tabel 4.2. Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 60 √ 12 60 √ 2 70 √ 13 80 √ 3 70 √ 14 70 √ 4 60 √ 15 80 √ 5 80 √ 16 70 √ 6 80 √ 17 90 √ 7 70 √ 18 60 √ 8 70 √ 19 60 √ 9 60 √ 20 70 √ 10 80 √ 21 70 √ 11 50 √ 22 60 √ Jumlah   =SUM(ABOVE) 750 7 4 Jumlah   =SUM(ABOVE) 770 8 3 Jumlah Skor 1520 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2200 Rata-Rata Skor Tercapai 69,09                              Keterangan:     T                                                          : Tuntas TT                                                        : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas                    : 15 Jumlah siswa yang belum tuntas         : 7 Klasikal                                               : Belum tuntas Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus I No Uraian Hasil Siklus I 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan mencar ilmu 69,09 15 68,18 Dari tabel di atas mampu dijelaskan bahwa dengan menerapkan tata cara pembelajaran penemuan ( discovery ) diperoleh nilai rata-rata prestasi berguru siswa yaitu 69,09 dan ketuntasan mencar ilmu meraih 68,18% atau ada 15 siswa  dari 22 siswa telah tuntas belajar. Hasil tersebut memberikan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas mencar ilmu, alasannya adalah siswa yang menemukan nilai ≥ 65 hanya sebesar 68,18% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang diharapkan yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan alasannya siswa masih merasa gres dan belum mengetahui apa yang dimaksudkan dan dipakai guru dengan menerapkan sistem pembelajaran inovasi ( discovery ). 2.   Siklus II a.    Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, LKS 2, soal tes formatif II, dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b.    Tahap aktivitas dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dikerjakan pada tanggal 12 September 2001 di kelas VI dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (pengamatan) dilakukan serempak dengan pelaksanaan mencar ilmu mengajar. Pada simpulan proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengenali tingkat kesuksesan siswa selama proses mencar ilmu mengajar yang sudah dikerjakan. Instrument yang dipakai adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II yakni sebagai berikut.                                     Tabel 4.4. Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 60 √ 12 90 √ 2 80 √ 13 80 √ 3 80 √ 14 80 √ 4 90 √ 15 80 √ 5 90 √ 16 80 √ 6 60 √ 17 60 √ 7 80 √ 18 80 √ 8 70 √ 19 70 √ 9 60 √ 20 60 √ 10 80 √ 21 80 √ 11 90 √ 22 80 √ Jumlah   =SUM(ABOVE) 840 8 3 Jumlah   =SUM(ABOVE) 840 9 2 Jumlah Skor 1680 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2200 Rata-Rata Skor Tercapai 76,36 Keterangan:          T                                                          : Tuntas TT                                                        : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas                    : 17 Jumlah siswa yang belum tuntas         : 5 Klasikal                                               : Belum tuntas  Tabel 4.5. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II No Uraian Hasil Siklus II 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan mencar ilmu 76,36 17 77,27 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi mencar ilmu siswa yakni 76,36 dan ketuntasan berguru mencapai 77,27% atau ada 17 siswa dari 22 siswa sudah tuntas mencar ilmu. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan berguru secara klasikal sudah megalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya kenaikan hasil belajar siswa ini alasannya adalah setelah guru mengumumkan bahwa setiap tamat pelajaran akan senantiasa diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk mencar ilmu. Selain itu siswa juga sudah mulai mengetahui apa yang dimaksudkan dan diharapkan guru dengan menerapkan sistem pembelajaran inovasi ( discovery ). 3.   Siklus III a.    Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, LKS 3, soal tes formatif 3, dan alat-alat pengajaran yang mendukung b.    Tahap acara dan observasi Pelaksanaan aktivitas berguru mengajar untuk siklus III dilakukan pada tanggal 19 September 2001 di kelas VI dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada planning pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (pengamatan) dikerjakan bersama-sama dengan pelaksanaan mencar ilmu mengajar. Pada final proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses mencar ilmu mengajar yang telah dikerjakan. Instrumen yang dipakai ialah tes formatif III. Adapun data hasil peneitian pada siklus III yakni sebagai berikut:                  Tabel 4.6. Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus III No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 90 √ 12 90 √ 2 90 √ 13 90 √ 3 90 √ 14 90 √ 4 80 √ 15 60 √ 5 90 √ 16 90 √ 6 80 √ 17 80 √ 7 90 √ 18 70 √ 8 60 √ 19 70 √ 9 90 √ 20 80 √ 10 90 √ 21 90 √ 11 60 √ 22 80 √ Jumlah   =SUM(ABOVE) 910 9 2 Jumlah   =SUM(ABOVE) 890 10 1 Jumlah Skor 1800 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2200 Rata-Rata Skor Tercapai 81,82 Keterangan:     T                                                          : Tuntas TT                                                        : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas                    : 19 Jumlah siswa yang belum tuntas         : 3 Klasikal                                               : Tuntas                                             Tabel 4.7. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus III No Uraian Hasil Siklus III 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan mencar ilmu 81,82 19 86,36 Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 81,82 dan dari 22 siswa yang telah tuntas sebanyak 19 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan mencar ilmu yang telah tercapai sebesar 86,36% (tergolong klasifikasi tuntas).  Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran inovasi (discovery ) sehingga siswa menjadi lebih sudah biasa dengan pembelajaran mirip ini sehingga siswa lebih mudah dalam mengetahui bahan yang sudah diberikan. Pada siklus III ini ketuntasan secara klasikal sudah tercapai, sehingga penelitian ini hanya hingga pada siklus III. c.    Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang sudah terealisasi dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses mencar ilmu mengajar dengan penerapan pembelajaran penemuan ( discovery ). Dari data-data yang sudah diperoleh dapat duraikan selaku berikut: 1)       Selama proses belajar mengajar guru telah melakukan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. 2)       Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses berguru berlangsung. 3)       Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. 4)       Hasil berguru siswa pada siklus III mencapai ketuntasan. d.    Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan pembelajaran inovasi ( discovery ) dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil berguru siswa pelaksanaan proses berguru mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diharapkan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diamati untuk tindakan selanjutnya yaitu memaksimalkan dan mepertahankan apa yang sudah ada dengan tujuan semoga pada pelaksanaan proses mencar ilmu mengajar selanjutnya penerapan pembelajaran penemuan ( discovery ) dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran mampu tercapai. C. Pembahasan 1.   Ketuntasan Hasil mencar ilmu Siswa Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran inovasi ( discovery ) mempunyai efek konkret dalam mengembangkan prestasi berguru siswa. Hal ini dapat dilihat dari kian mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan berguru meningkat dari sklus I, II, dan II) ialah masing-masing 68,18%, 77,27%, dan 86,36%. Pada siklus III ketuntasan mencar ilmu siswa secara klasikal sudah tercapai. 2.   Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran inovasi ( discovery ) dalam setiap siklus mengalami kenaikan. Hal ini mempunyai pengaruh konkret kepada prestasi berguru siswa ialah dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. 3.   Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran IPA pada pokok bahasan ………… yang paling mayoritas adalah bekerja dengan memakai alat/media, mendengarkan/ mengamati klarifikasi guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Kaprikornus mampu dibilang bahwa acara siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran sudah melakukan langah-langkah pembelajaran inovasi ( discovery ) dengan baik. Hal ini terlihat dari acara guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan memperhatikan siswa dalam mengerjakan acara Lomba Kompetensi Siswa/memperoleh rancangan, menerangkan/melatih menggunakan alat, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan         Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang sudah dilakukan mampu ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1.   Pembelajaran dengan penemuan ( discovery ) mempunyai pengaruh nyata dalam mengembangkan prestasi mencar ilmu siswa yang ditandai dengan kenaikan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, ialah siklus I (68,18%), siklus II (77,27%), siklus III (86,36%). Penerapan metode pembelajaran penemuan ( discovery ) mempunyai pengaruh aktual, yakni mampu mengembangkan motivasi berguru siswa yang ditunjukan dengan hasil wawancara dengan sebagian siswa, rata-rata balasan siswa menyatakan bahwa siswa kepincut dan berminat dengan sistem pembelajaran inovasi ( discover y) sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar. B.   Saran Dari hasil observasi yang diperoleh dari uraian sebelumnya biar proses belajar mengajar IPA lebih efektif dan lebih memperlihatkan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan anjuran selaku berikut: Untuk melaksanakan versi inovasi ( discovery ) memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu memilih atau menentukan topik yang betul-betul mampu dipraktekkan dengan model penemuan ( discovery ) dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. Dalam rangka memajukan prestasi berguru siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan aneka macam metode pembelajaran, walau dalam taraf yang sederhana,  dimana siswa nantinya mampu memperoleh wawasan baru, mendapatkan rancangan dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau bisa memecahkan problem-masalah yang dihadapinya. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakuakan di ………………………………… tahun pelajaran 2001/2002. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan . Jakarta : Bumi Aksara. Berg, Euwe Vd. (1991). Miskonsepsi IPA dan Remidi Salatiga : Universitas Nasrani Satya Wacana. Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar . Bandung : Sinar Baru Algesindo. Joyce, Bruce dan Weil, Marsh. 1972. Models of Teaching Model . Boston : A Liyn dan Bacon. Masriyah. 1999. Analisis Butir Tes . Surabaya : Universitas Press. Mukhlis, Abdul. (Ed). 2000. Penelitian Tindakan Kelas . Makalah Panitia Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah untuk Guru-guru se-Kabupaten Tuban. Nur, Moh. 2001. Pemotivasian Siswa untuk Belajar . Surabaya . University Press. Universitas Negeri Surabaya . Soedjadi, dkk. 2000. Pedoman Penulisan dan Ujian Skripsi . Surabaya ; Unesa Universitas Press. Suryosubroto, B. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah . Jakarta : PT. Rineksa Cipta. Usman, Uzer. 2000. Menjadi Guru Profesional . Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Widoko. 2002. Metode Pembelajaran Konsep . Surabaya : Universitas Negeri Surabaya . Dapatkan file secara lengkap berupa pengaturan, gambar, tabel dan lain-lain dalam format microsoft word (.doc) pada link dibawah ini !! Dowwload PTK Format Microsoft Word (.doc) Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar IPA dengan Metode Pembelajaran Penemuan (Discovery)
Sumber https://somadrug1.blogspot.com


EmoticonEmoticon