Rabu, 16 Desember 2020

Upaya Memajukan Prestasi Berguru Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kolaborasi

Berikut ini kami bagikan file Penelitian Tindakan Kelas Agama tentang  Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kolaborasi. Seperti apa bentuk dan isi file tersebut,  berikut ini Penelitian Tindakan Kelas Agama perihal  Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kolaborasi  Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kolaborasi  Judul : UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR  PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN  MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN KOLABORASI   PADA SISWA KELAS VI Sekolah Dasar Negeri 4 TAMPO KECAMATAN CLURING KABUPATEN BANYUWANGI    TAHUN PELAJARAN 2008/2009  KARYA TULIS ILMIAH OLEH KIBTIYAH, S.Ag.,M.Pd. NIP: 131 378 641 PEMERINTAHAN KABUPATEN BANYUWANGI DINAS PENDIDIKAN 2008  KATA PENGANTAR Puji syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan karya ilmiah ini mampu diselesaikan pada waktunya. Karya ilmiah yang berjudul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pengajaran kerja sama  Pada Siswa Kelas … ini, disusun untuk menyanggupi kriteria kenaikan golongan profesi guru dari IV/a ke IV/b. Dalam penyusunan dan penyelesaian karya ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih yang tak terhingga terhadap: 1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten … 2. Yth. Ketua PGRI Kabupaten … 3. Yth. Rekan-rekan Guru … 4. Semua pihak yang telah banyak menolong sehingga penulisan ini tamat Peneliti menyadari bahwa hasil observasi ini masih jauh dari sempurna. Oleh alasannya itu kritik dan nasehat yang bersifat membangun sungguh peneliti kehendaki demi kesempurnaan penelitian ini dan demi penelitian yang mau datang. …, Mei 2005 Peneliti ABSTRAK ……………..,2006. “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pengajaran kerja sama  pada siswa-siswi kelas …………………………….tahun……………” Kata Kunci : PAI , Model Pengajaran Kolaborasi  Dalam proses pembelajaran yang menyangkut materi, metode, media alat peraga dan sebagainya mesti juga mengalami pergantian kearah pembaharuan ( inovasi). Dengan adanya penemuan tersebut diatas dituntut seorang guru untuk lebih inovatif dan kreatif, terutama dalam menentukan versi dan sistem yang sempurna akan sungguh memilih kesuksesan siswa terutama pembentukan kecakapan hidup ( life skill) siswa yang berpijak pada lingkungan sekitar.                                                                                                                                                                                                                                                                            Penelitian ini menurut persoalan (a) Bagaimanakah peningkatan  prestasi belajar PAI  dengan diterapkannya versi pengajaran kerja sama pada siswa kelas………………… tahun pelajaran……………..( b) Bagaimanakah efek Model pengajaran kerja sama terhadap motivasi belajar PAI  pada siswa kelas…………………. Tahun pelajaran…………. Sedangkan tujuan dari penelitian ini yakni (a) ingin mengenali peningkatan prestasi berguru PAI  setelah diterapkannya  model pengajaran kerja sama (b) Ingin mengenali pengaruh motivasi mencar ilmu PAI  sehabis diterapkan model pengajaran kolaborasi. Penelitian ini memakai penelitian tindakan (action research)  sebanyak tiga putaran. Setiap putaran berisikan empat tahap  yaitu : rancanan, acara dan observasi, refleksi dan refisi. Sasaran observasi ini adalah siswa kelas  ………………………………………. Tahun pelajaran…………………….. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi acara mencar ilmu mengajar. Dari hasil analis ditemukan bahwa prestasi mencar ilmu siswa mengalami kenaikan dari siklus I hingga siklus III yakni, siklus I (73,17%), siklus II (82,93%), siklus III (95,12%) Simpulan dari  penelitian ini yaitu sistem pembelajaran kooperatif mampu kuat konkret terhadap prestasi dan motivasi berguru siswa………………………………………………… serta model pembelajarasn  ini mampu digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran PAI   DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul Lembar Pengesahan Kata Pengantar Abstrak Daftar Isi Daftar Lampiran BAB  I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Kegunaan Penelitian E. Definisi Operasional Variabel F. Batasan Masalah BAB  II KAJIAN PUSTAKA A. Definisi Pembelajaran B. Gaya Belajar C. Sisi Sosial Proses Belajar D. Motivasi Belajar E. Meningkatkan Motivasi Belajar PAI  Pada  Siswa BAB  III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat, Waktu, dan Subyek Penelitian B. Rancangan Penelitian C. Alat Pengumpul Data D. Analisis Data BAB  IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hubungan Pembelajaran Model Kolaborasi   Dengan  Ketuntasan Belajar B. Pembahasan BAB  V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN Lampiran                                                                                                     Halaman Lampiran 1 Nilai Formatif Pada Siklus I Lampiran 1 Nilai Formatif Pada Siklus II Lampiran 1 Nilai Formatif Pada Siklus III BAB  I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam aktivitas mencar ilmu mengajar yang berjalan telah terjadi interaksi yang bermaksud. Guru dan anak didiklah yang menggerakannya. Interaksi yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan membuat lingkungan yang bernilai edukatif demi kepentingan anak didik dalam belajar. Guru ingin menunjukkan layanan yang terbaik bagi anak latih, dengan menawarkan lingkungan yang menyenangkan dan menumbuhkan hasrat. Guru berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang pintar dan bijaksana, sehingga tercipta kekerabatan dua arah yang serasi antara guru dengan anak latih. Ketika aktivitas belajar itu berproses, guru harus dengan tulus dalam bersikap dan berbuat, serta mau mengetahui anak didiknya dengan segala konsekuensinya. Semua hambatan yang terjadi dan dapat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar, baik yang berpangkal dari sikap anak latih maupun yang bersumber dari luar anak didik, mesti guru hilangkan, dan bukan membiarkannya. Karena keberhasilan mencar ilmu mengajar lebih banyak diputuskan oleh guru dalam mengurus kelas. Dalam mengajar, guru mesti cerdik memakai pendekatan secara bakir dan bijaksana, bukan sembarangan yang mampu merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak latih akan memilih sikap dan tindakan. Setiap guru tidak selalu mempunyai persepsi yang sama dalam menganggap anak latih. Hal ini akan menghipnotis pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran. Guru yang menatap anak bimbing selaku eksklusif yang berbeda dengan anak ajar yang lain akan berbeda dengan guru yang menatap anak latih sebagai makhluk yang serupa dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka ialah penting meluruskan persepsi yang keliru dalam menilai anak bimbing. Sebaiknya guru menatap anak ajar sebagai individu dengan segala perbedaannya, sehingga gampang melakukan pendekatan dalam pengajaran. Kualitas pembelajaran ditentukan oleh interaksi unsur-komponen dalam sistemnya. Yaitu tujuan, materi ajar (bahan), anak didik, sarana, media, sistem, partisipasi penduduk , performance sekolah, dan evaluasi pembelajaran (Moh, Shochib, 1998). Performance sekolah, dan evaluasi pembelajaran (Moh, Shochib, 1998). Optimalisasi unsur ini, menentukan kualitas (proses dan produk) pembelajaran. Upaya yang mampu dijalankan oleh pendidik adalah melakukan analisis wacana karakteristik setiap unsur dan mensinkronisasikan sehingga didapatkan konsistensi dan keserasian di antaranya untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Karena pembelajaran mulai dari perencana, pelaksanaan dan evaluasinya senantiasa merujuk pada tujuan yang diperlukan untuk dikuasai atau dimiliki oleh anak asuh baik instructional effect (sesuai dengan tujuan yang dirancang) maupun nurturrant effect (imbas pengiring) (Moch. Shochib: 1999). Realisasi pencapaian tujuan tersebut, terdapat acara interaksi belajar mengajar utamanya yang terjadi di kelas. Dengan demikian, kegiatannya adalah bagaimana terjadi korelasi antara guru/materi latih yang didesain dan dengan anak didik. Interaksi ini merupakan proses komunikasi penyampaian pesan pembelajaran. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Arief S Sadiman yang menyatakan proses belajar mengajar pada hakekatnya ialah proses interaksi adalah proses penyampaian pesan melalui akses media/teknik/ tata cara ke peserta pesan. (Arief S, Sadiman, dkk, 1996:13). Sejalan dengan inovasi pembelajaran akhir-final ini tergolong di SD, yaitu: Kolaborasi. Interaksi berguru mengajarnya menuntut anak didik untuk aktif, kreatif dan bahagia yang melibatkan secara optimal mental dan fisik mereka. Tingkat keaktifan, kreatifitas, dan kesenangan mereka dalam belajar merupakan rentangan kontinum dari yang terendah hingga yang paling tinggi. Tetapi idealnya pada kontinum yang tertinggi baik pelibatan aspek mental maupun fisik anak didik. Oleh karena itu, interaksi belajar mengajar dengan paradigma Kolaborasi menuntut anak: (1) Berbuat (2) Terlibat dalam kegiatan (3) Mengamati secara visual (4) Mencerap gosip secara lisan Dengan demikian, interaksi belajar mengajar idealnya bisa membelajarkan anak latih berdasarkan duduk perkara based learning, authentic instruction, inquiry based learning, project based learning, service learning, and cooperative learning. Pola interaksi yang bisa mengemas hal tersebut dapat mengganti paradigma pembelajaran aktif menjadi paradigma pembelajaran reflektif. Dengan interaksi pembelajaran reflektif dapat membuat anak latih untuk menjadikan hasil berguru sebagai tumpuan refleksi kritis wacana efek ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap penduduk ; mengasah kepedulian sosial, mengasah hati nurani, dan bertanggungjawab kepada karirnya kelak. Kemampuan ini dimiliki anak didik, alasannya dengan pola interaksi pembelajaran tersebut, mampu membuat anak asuh aktif dalam berfikir (mind-on), aktif dalam berbuat (hand-on), mengembangkan kemampuan mengajukan pertanyaan, mengembangkan kesanggupan berkomunikasi, dan membudayakan untuk memecahkan permasalahan baik secara personal maupun sosial. Agar hasil ini mampu optimal, guru dituntut untuk mengubah peran dan fungsinya menjadi fasilitator, perantara, mitra berguru anak bimbing, dan evaluator. Ini mempunyai arti, guru harus membuat interaksi pembelajaran yang demokratis dan dialogis antara guru dengan anak asuh, dan anak asuh dengan anak didik (Moh. Shochib: 1999; dan Paul Suparno dkk: 2001). Dengan interaksi pembelajaran yang mengemas nilai-nilai tersebut dapat membuat pembelajaran lingking (link and math atau life skill) dan delinking (pemutusan lingkungan negatif), diversifikasi kurikulum, pembelajaran kontekstual, kurikulum berbasis kompetensi, dan otonomi pendidikan pada tingkat sekolah taman kanak-kanak dengan administrasi berbasis sekolah, dan bertujuan untuk mengupayakan fondasi dan menyebarkan anak untuk memiliki kesanggupan yang utuh yang disebut: Pendidikan Anak Seutuhnya (PAS). Pada dasarnya dalam kehidupan sebuah bangsa, faktor pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting untuk menjamin pertumbuhan dan kelangsungan hidup bangsa tersebut. Secara langsung maupun tidak eksklusif pendidikan yaitu suatu usaha sadar dalam menyiapkan kemajuan dan perkembangan anak lewat acara, panduan, pengajaran dan pembinaan bagi kehidupan dimasa yang akan datang. Tentunya hal ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, anggota penduduk dan orang bau tanah. Untuk mencapai kesuksesan ini perlu bantuan dan partisipasi aktif yang bersifat terus menerus dari semua pihak. Guru mengemban peran yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional ialah memajukan kualitas manusia Indonesia, insan seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bersusah payah, handal, bertanggung jawab, berdikari, pintar dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga mesti bisa menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta kepada tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Depdikbud (1999). Berhasilnya tujuan pembelajaran diputuskan oleh banyak aspek diantaranya yakni aspek guru dalam melakukan proses berguru mengajar, sebab guru secara eksklusif dapat menghipnotis, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keahlian siswa. Untuk menanggulangi permasalahan di atas dan guna meraih tujuan pendidikan secara optimal, peran guru sangat penting dan diperlukan guru mampu menyampaikan semua mata pelajaran yang tercantum dalam proses pembelajaran secara tepat dan sesuai dengan konsep-rancangan mata pelajaran yang hendak disampaikan. Dengan menyadari kenyataan tersebut di atas, maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pengajaran kerja sama  Pada Siswa … Tahun Pelajaran … B. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang di atas maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut: 1. Bagaimanakah kenaikan prestasi berguru Pendidikan Agama Islam dengan diterapkannya versi pengajaran kerja sama  pada siswa kelas …. Tahun pelajaran …? 2. Bagaimanakah pengaruh model pengajaran kerja sama  terhadap motivasi belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa kelas …. Tahun pelajaran …? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan di atas, observasi ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui peningkatan prestasi mencar ilmu Pendidikan Agama Islam sesudah diterapkannya versi pengajaran kerja sama  pada siswa kelas … tahun pelajaran … 2. Mengetahui dampak motivasi berguru Pendidikan Agama Islam sehabis dipraktekkan versi pengajaran kolaborasi  pada siswa kelas … tahun pelajaran … 3. Menyempurnakan pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam memajukan prestasi berguru pada siswa kelas … tahun pelajaran  D. Kegunaan Penelitian Adapun maksud penulis menyelenggarakan penelitian ini diperlukan dapat memiliki kegunaan selaku : 1. Menambah wawasan dan wawasan penulis ihwal peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam mengembangkan pengertian siswa mencar ilmu Pendidikan Agama Islam. 2. Sumbangan pemikiran bagi guru Pendidikan Agama Islam dalam mengajar dan mengembangkan pemahaman siswa mencar ilmu Pendidikan Agama Islam. 3. Sebagai materi pertimbangan dalam menentukan sistem pembelajaran yang dapat menunjukkan faedah bagi siswa. 4. Sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa utamanya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. 5. Menerapkan metode yang tepat sesuai dengan bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam. E. Definisi Operasional Variabel Agar tidak terjadi salah pandangan kepada judul penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal selaku berikut: 1. Model pengajaran kolaborasi  adalah: Suatu model pembelajaran dengan menumbuhkan para siswa untuk melakukan pekerjaan sama dalam kelompk-kelompok kecil untuk mencapai tujuan yang serupa. 2. Motivasi berguru ialah: Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkat laris untuk memenuhi keperluan dan meraih tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. 3. Prestasi mencar ilmu adalah: Hasil berguru yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, sesudah siswa mengikuti pelajaran. F. Batasan Masalah 1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas … tahun pelajaran … 2. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret semester genap tahun pelajaran … 3. Materi yang disampaikan ialah pokok bahasan………….. BAB  II KAJIAN PUSTAKA A. Definisi Pembelajaran Pembelajaran ialah proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sedangkan berguru yakni berupaya memperoleh kepandaian atau ilmu berganti tingkah laris atau jawaban yang disebabkan oleh pengalaman, (KBBI, 1996:14) Sependapat dengan pernyataan tersebut Sutomo (1993:68) mengemukakan bawah mencar ilmu yaitu proses pengelolaan lingkungan seseorang dengan sengaja dikelukan sehingga  memungkinkan beliau mencar ilmu untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laris pula. Sedangkan berguru ialah suatu proses yang menyebabkan pergeseran tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses  kemajuan yang  bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah wawasan, meningkat daya pikir,  perilaku dan lain-lain (Soetomo, 1993:120) Pasal 1 Undang-undang No.20 Tahun 2003 ihwal system pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran yakni proses interaksi akseptor didik dengan pendidik dan sumber mencar ilmu pada suatu lingkungan belajar. Kaprikornus pembelajaran ialah proses  yang disengaja yang menyebabkan siswa mencar ilmu pada suatu lingkungan berguru untuk melaksanakan aktivitas pada situasi tertentu B. Gaya Belajar Kalangan pendidik sudah menyadari bahwa akseptor ajar memiliki bermacam cara mencar ilmu. Sebagian siswa bisa belajar dengan sangat bagus cuma dengan menyaksikan ornag lain melakukannya. Biasanya mereka ini menyukai penyuguhan isu yang runtut. Mereka lebih senang menuliskan apa yang dikatakan guru. Selama pelajaran, mereka biasanya membisu dan jarang terusik oleh kegaduhan. Peserta asuh visual ini berlainan  dengan akseptor didik auditori, yang biasanya tidak sungkan-sungkan untuk mengamati  apa yang dikerjakan oleh guru, dan membuat catatan. Mereka menggunakan kesanggupan untuk mendengar dan mengenang. Selama pelajaran, mereka mungkin banyak bicara dan gampang  teralihkan perhatiannya oleh suara atau  kegaduhan. Peserta ajar kinestetik mencar ilmu khususnya dengan terlibat eksklusif dalam aktivitas. Mereka condong impulsive, semau gue, dan kurang sabaran. Selama pelajaran mereka mungkin saja gusar bila tidak mampu leluasa bergerak dan mengerjakan sesuatu. Cara mereka belajar boleh jadi terlihat sempbarangan dan tidak karuan. Tentu saja cuma ada sedikit siswa yang mutlak mempunyai satu jenis cara mencar ilmu. Grinder  (1991) menyatakan bahwa dari setiap 30 siswa , 22 diantaranya rata-rata dapat belajar dengan efektif selama gurunya menghadirkan kegiatan  mencar ilmu  yang berkombinasi antara visual, auditori dan kinestik. Namun 8 siswa-siswinya sedemikian menggemari salah satu bentuk pengajaran disbanding dua yang lain. Sehingga mereka mesti berusaha keras  untuk mengetahui pelajaran jikalau tiak ada ketelitian dalam menyajikan pelajaran sesuai dengan cara yang mereka sukai. Guna memenuhi keperluan ini, pengajaran harus bersifat mulitsensori dan penuh dengan kombinasi. Kalangan pendidikan juga mencermati adanya pergeseran cara mencar ilmu siswa. Selama  lima mencar ilmu tahun terakhir, Schroeder dan kolegannya (1993) telah menerapkan indicator tipe Myer-Briggs ( MBTI) terhadap mahasiswa baru. MBTI ialah salah satu instrument yang paling banyak dipakai dalam dunia pendidikan dan untuk memenuhi fungsi perbedaan individu dalam proses belajar. Hasilnya menunjukkan sekitar 60 persen dari mahasiswa yang sudah memiliki orientasi mudah dibandingkan dengan teori terhadap pembelajaran dan persentase tu bertambah setiap tahunnya. Mahasiswa lebih suka terlibat dalam pengalaman eksklusif dan konkret daripda  mempelajari rancangan-konsep  dasar apalagi dulu dan baru kemudian menerapkannya. Penelitian MBTI yang lain, terperinci Schroeder, memperlihatkan bahwa siswa sekolah menengah lebih suka kegiatan belajar yang betul-betul aktif dari pada acara yang reflektif abstrakm dengan rasio lima  banding satu. Dari semua ini dia menyimpulkan bahwa cara berguru dan mengajar aktif sangat cocok dengan siswa era kini. Agar bisa efektif guru mesti menggunakan yang berikut ini: diskusi dan proyek kelompok kecil, presentasi dan debat, dalam kelas, latihan  melalui pengalaman, pengalaman lapangan, simulasi dan studi perkara. Secara khusus Schroeder menekankan bahwa siswa periode sekarang “ mampu beradaptasi dengan baik terhadap aktivitas kelompok dan mencar ilmu bareng .” Temuan-temuan ini mampu dianggap tidak mengagetkan kalau kita memikirkan secepatnya laju kehidupan modern. Di era sekarang siswa dibersarkan dalam dunia yang sengaja sesuatunya berjalan dengan segera dan banyak pilihan yang tersedia. Suara-bunyi terdengar begitu menghentak  merdu dan warna-warna tampakbegitu semarak dan mempesona. Objek baik yang positif maupun yang  maya, bergerak cepat. Peluang untuk mengubah segala sesuatu dari satu keadaan  ke kondisi lain terbuka sungguh luas. C. Sisi Sosial Proses Belajar Karena siswa kurun kini menghadapi dunia di mana terdapat pegetahuan yang luas, perubahan pesat, dan ketidakpastian, mereka bisa mengalami kekalutan dan bersikap defensif. Abraham Maslow mengajarkan terhadap kita bahwa  manusia mempunyai dua kumpulan kekuatan atau keperluan yang satu berusaha untuk berkembang dan yang lain cenderung  terhadap keamanan. Orang yang dihadapkan pada kedua keperluan ini akan mempunyai keamanan daripada perkembangan. Kebutuhan akan rasa aman mesti dipenuhi sebelum mampu spenuhnya keperluan untuk mencapai sesuatu mengambil resiko dan menggali hal-hal baru. Pertumbuhan berjalan dengan tindakan kecil, menurut Maslow dan “ tiap langkah mjau hanya dimungkinkan akan jikalau ada rasa aman, yang mana ini merupakan langkah ke depan dari suasana rumah yang kondusif menuju kawasan yang belum dimengerti” (Maslow, 1968) Salah satu cara utama untuk menerima rasa aman yakni menjalin korelasi dengan orang lain dan menjadi bagian dari kelompok. Perasaan saling memiliki ini memungkinkan siswa untuk menghadapi tantangan. Ketika mereka mencar ilmu bersama sahabat, bukannya sendirian, mereka menerima bantuan emosional dan intelektual yang memungkinkan mereka menerima  derma emosional dan intelektual yang memungkinkan mereka melampaui ambang  wawasan dan kemampuan mereka yang sekarang. Jerome Bruinner membahas segi social proses mencar ilmu dalam buku klasiknya Toward a  Theory of Instruction. Dia menerangkan wacana “ keperluan mendalam insan untuk menyikapi orang lain dan untuk berhubungan dengan mereka  guna meraih tujuan,” yang mana hal ini beliau sebut resiprositas  (kekerabatan timbal balik). Bruner berpendapat bahwa resiprositas merupakan sumber motivasi yang mampu dimanfaatkan oleh guru selaku berikut, “Di mana diperlukan langkah-langkah bersama dan dimana resiprositas diharapkan bagi kalangan untuk mencapai suatu tujuan, disitulah terdapat proses yang menjinjing individu ke dalam pembelajaran membimbingnya untuk mendapatkan kesanggupan yang diharapkan dalam pembentukan golongan” (Bruner, 1966) Konsep-konsepnya Maslow dan Bruner mengurusi kemajuan sistem belajar kolaborasi yang sedemikian popular dalam lingkup pendidikan kala kini. Menempatkan siswa dalam kalangan dan memberi mereka tugas yang menuntut untuk bergantung satu sama lain dalam mengerjakannya merupakan cara yang elok untuk memanfaatkan kebutuhan social siswa. Mereka menjadi cenderung lebih terlibat dalam aktivitas belajar alasannya adalah mereka mengerjakannya bareng sobat-sahabat. Begitu terlibat, mereka juga langsung  mempunyai kebeutuhan  untuk membahas apa yang mereka alami bareng sahabat yang mengarah terhadap korelasi-relasi lebih lanjut. Kegiatan mencar ilmu bersama dapat mambantu memacu berguru aktif. Kegiatan mencar ilmu dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi mencar ilmu aktif dengan cara khusus. Apa yang didiskusikan siswa dengan sahabat-temannya dan apa yang diajarkan siswa kepada sobat-temannya memungkinkan mereka untuk mendapatkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran. Metode mencar ilmu bareng yang terbaik, semisal pelajaran menyusun gambar (jigsaw), menyanggupi standar ini . santunan tugas yang berlainan terhadap siswa akan mendorong mereka untuk tidak hanya berguru bersama namun juga mengajarkan satu sama lain. D. Motivasi Belajar 1. Konsep motivasi  Pengajaran tradisional menitik beratkan pada mtode imposisi, adalah pengajaran dengan cara menuangkan hal-hal yang dianggap penting oleh guru bagi murid (Hamalik, Oemar: 2001:157).  Cara ini tidak mempertimbangkan apakah materi pelajaran yang diberikan itu sesuai atau tidak dengan kemampuan, kebutuhan, minat dan tingkat kesanggupan, serta pemahaman murid. Tidak pula diamati apakah materi-bahan yang diberikan itu didasarkan atas motif-motif dan tujuan yang ada pada murid. Sejak adanya inovasi-penemuan baru dalam bidang psikologi perihal kepribadian dan tingkah laris manusia serta pertumbuhan dalam bidang ilmu pendidikan makan persepsi tersebut kemudian berubah. Faktor siswa bimbing justru menjadi unsure yang memilih sukses atau tidaknya pengajaran berdasaran “ pusat minat” anak makan, busana, permaian/melakukan pekerjaan . Kemudian menyusul  tokoh pendidikan yang lain sepert Dr John Dewey, yang terkenal dengan “ pengajaran proyeknya” yang menurut pada masalah yang menarik perhatian siswa, system perkolahan yang lain. Sehingga semenjak itu pula para andal beropini , bahwa tingkah laku insan didorong oleh motif-motif tertentu dan perbuatan belajar akan sukses jika didasarkan pada motivasi yan ada pada murid. Murid mampu dipaksa untuk mengikuti semua perbuatan, tetapi Ia tidak mampu dipaksa untuk menghayati perbuatan itu sebagaimana mestinya. Seekor kuda mampu digiring ke sungai tetapi tidak dapat dipaksa untuk minum. Demikian pula juga halnya dengan murid, guru dapat memaksanya untuk belajar dalam arti bergotong-royong. Inilah yang  menjadi peran yang paling berat yakni bagaimana caranyua berupaya agar murid mau mencar ilmu dan mempunyai harapan untuk berguru secara kontinyu. 2. Pengertian Motivasi Motif yakni daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melaksanakan sesuatu atau keadaan seseorang atau organisme yang menimbulkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laris atau perbuatan. Sedangkan motivasi adalah sesuatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laris untuk memenuhi keperluan dan mencapai tujuan atau kondisi dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman 2000:28) Sedangkan berdasarkan Djamarah (2002:114)  motivasi ialah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk kegiatan positif untuk mencapai tujuan tertentu . dalam proses mencar ilmu, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak memiliki motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan acara belajar. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001:3) bahwa siswa yang termotivasi dalam belajar sesuatu akan memakai proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan bahan itu dengan lebih baik. Makara motivasi aalah sebuah keadaan yang mendorong seseorang untujk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu 3. Macam-macam motivasi Menurut Intrinsik a. Motivasi Intrinsik Jenis motivasi ini muncul selaku balasan dari dalam individu apakah alasannya adanya usul, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya beliau mau melaksanakan sesuatu atau mencar ilmu (Usman, 2000:29) Sedangkan berdasarkan Djamar (2002:115), motivasi instrinsik yakni motif-motif yang menjadi aktf atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar alasannya adalah dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melaksanakan sesuatu. Menurut winata (dalam Erriniati, 1994L105) ada beberapa taktik dalam mengajar untuk membangun motivasi intrinsic. Strategi tersebut yaitu  sebagai berikut: 1) Mengaitkan tujuan berguru  dengan tujuan siswa  2) Memberikan kebebasan dalam memperluas materi pelajaran sebatas yang pokok. 3) Memberikan banyak waktu extra bagi siswa untuk melaksanakan peran dan memanfaatkan sumber belajar di sekolah. 4) Sesekali menunjukkan penghargaan pada siswa atas pekerjaannya 5) Meminta siswa untuk menerangkan hasil pekerjaannya Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi intrinsic yaitu motivasi yang muncul dari dalam diri individu yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Seseorang yang mempunyai motivasi intrinsic dalam dirinya maka secara sadar akan melakukan sesuatu aktivitas yang tidak membutuhkan motivasi dari luar dirinya. b. Motivasi ekstrinsik Jenis motivasi ini timbul sebagai balasan  pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya seruan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan yang demikian kesannya beliau mau  melakukan sesuatu atau berguru. Misalnya seseorang mau belajar alasannya beliau disuruh oleh orang tuanya supaya mendapat peringkat pertama di kelasnya (Usman, 2000:29) Sedangkan berdasarkan Djamarah (2002:117), motivasi ekstrinsik ialah kebalikan dari motivasi intrinsic. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi  alasannya  adanya perangsang dari luar. Beberapa cara menghidupkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi instrinsik antara lain: 1) Kompetisi (kompetisi) guru berupaya membuat persaingan diantra siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah diraih sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain. 2) Pace Making (Membuat tujuan sementara atau akrab). Pada permulaan acara belajar mengajar, guru hendaknya terlebih dulu menyampaikan kepada siswa TIK yang akan dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut. 3) Tujuan yang terperinci : motif mendorong individu untuk meraih tujuan. Makin jelas tujuan makin besar nilai tujuan bagi individu yang  bersangkutan dan semakin besar pula motivasi dalam melakukan sesuatu perbuatan. 4) Kesempurnaan untuk sukses: kesuksesan dapat menyebabkan rasa puas, kesenangan dan dogma kepada diri sendiri, sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. Dengan demikian guru hendaknya banyak memberikan potensi kepada anak untuk menjangkau sukses dengan usaha mampu berdiri diatas kaki sendiri tentu saja dengan bimbingan guru. 5) Minat yang besar : motif akan timbul jikalau individu memiliki minat yang besar. 6) Mengadakan penilaian atau tes. Pada biasanya semua siswa mau berguru dengan tujuan memperoleh nilai yang bagus. Hal ini terbukti dalam realita bawha banyak siswa yang tidak mencar ilmu bila tidak ada ulangan. Akan tetapi kalau guru menyampaikan bahwa lusa akan diadakan ulangan verbal, barulah siswa ulet berguru dengan menghafal semoga beliau mendapat nilai yang bagus, jadi angka atau nilai itu ialah motivasi yang besar lengan berkuasa bagi siswa. Dari uraian di atas diketahui bahwa motivasi ekstrinsik ialah motivasi yang timbul dari luar individu yang fungsinya sebab adanya perangsang dari luar, misalnya adanya persaingan, untuk mencapai nilai yang tinggi, dan lain sebagainya. E. Meningkatkan Motivasi Belajar  PAI  Pada   Siswa  Telah disepakati oleh pendidikan bahwa guru ialah kunci dalam proses belajar mengajar. Bila hal ini dilihat dari sisi nilai  lebih yang dimiliki oleh guru daripada siswanya.nilai lebih ini dimiliki oleh guru terutama dalam ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh guru bidang studi pengajarannya. Walau demikian nilai lebih itu tidak akan dapat diandalkan oleh guru, apabila dia tidak memiliki teknik-teknik  yang sempurna untuk mentransfer kepada siswa. Disamping itu acara mengajar ialah sebuah kegiatan yang sungguh kompleks , karena itu sukar bagi guru PAI  bagaimana caranya mengajar dengan baik biar dapat memajukan motivasi siswa  dalam mencar ilmu PAI  Untuk mewujudkan cita-cita tersebut kana ada beberapa prinsip umum yang mesti dipegang oleh guru PAI  dalam menjalankan tugasnya. Menurut Prof DR. S. Nasution, prinsip-prinsip lazim yang mesti dipegang  oleh guru PAI  dalam melakukan tugasnya yaitu selaku berikut: 1. Guru yang baik mengerti dan menghormati siswa  2. Guru yang bagus mesti menghormati bahan pelajaran yang diberikannya 3. Guru hendaknya menyesuaikan bahan pelajaran yang diberikan dengan kemampuannya siswa. 4. Guru hendaknya menyesuaikan sistem mengajar dengan pelajarannya 5. Guru yang bagus mengaktifkan siswa dalam mencar ilmu 6. Guru  yang baik memperlihatkan pemahaman, bukan cuma dengan kata-kata belaka. Hal ini untuk menyingkir dari verbalisme pada murid. 7. Guru menghubungkan pelajaran pada kehidupan siswa 8. Guru terikat  dengan texs book 9. Guru yang bagus tidak hanya mengajar dalam arti menyampaikan wawasan melainkan senantiasa membentuk kepribadian siswanya. Sehubungan dengan upaya mengembangkan motivasi mencar ilmu siswa ada dua prinsip yang mesti diperhatikan oleh guru sebagaimana yang dikemukakan oleh Thomas F. Seton sebagai berikut: 1. Menyelidiki dengan jelas dan tegas apa ynag diperlukan dari pelajaran untuk dipelajari dan mengapa ia dibutuhkan mempelajarinya. 2. Menciptakan kesadaran yang tinggi pada pelajaran akan pentingnya memililki skill dan wawasan yang akan diberikan oleh program pendidikan itu. Dari prinsip-prinsip biasa di atas, menunjukkan bahwa peranan guru PAI  dalam mengajar PAI  dapat dibilang sungguh dominant, begitu juga dalam memajukan motivasi berguru siswa tampaknya guru yang mengenali akan kesanggupan siswa-siswanya baik secara individu maupun secara golongan, guru mengetahui problem-dilema berguru dan mengajar, guru pula yang mengetahui kesusahan-kesulitan siswa kepada pelajaran PAI  dan bagaimana cara memecahkannya. F. Model Pembelajaran Kolaborasi Pembelajaran kolaborasi (Colaboration Learning) merupakan versi pembelajaran yang menerapkan paradigma baru dalam teori-teori berguru (Yufiarti 2003). Pendekatan ini dapat digambarkan selaku suatu moel pembelajaran dengan menumbuhkan para siswa untuk bekerja sama dalam golongan-kalangan  kecil untu mencapai tujuan yang sama. Pendekatan  kolaborasi bertujuan semoga siswa mampu membangun pengetahuannya melalui obrolan, saling membagi info sesame siswa dan guru sehingga siswa dapat mengembangkan kesanggupan mental pada tingkat tinggi. Model ini digunakan pada setiap mata pelajaran terutama yang mungkin berkembang sharing of information  di antara siswa  Belajar kolaborasi digambarkan selaku sebuah model pengajaran  yang mana para siswa bekerja sama dalam golongan –golongan kecil untuk mencapai tujuan yang serupa. Hal yang perlu diperhatikan dalam acara mencar ilmu kolaboratif, para siswa melakukan pekerjaan sama menyelesaikan dilema yang serupa, dan bukan secara perorangan menuntaskan bab-bab yang terpisah dari duduk perkara tersebut. Dengan demikian, selama berkolaborasi para siswa melakukan pekerjaan sama membangun pengertian dan desain yang serupa menuntaskan setiap bab dari duduk perkara atau peran tersebut. Pendekatan kolaboratif dipandang selaku proses membangun dan menjaga konsepsi yang sama tentang sebuah dilema. Dari sudut pandang ini, model belajar kolaboratif menjadi efisien alasannya adalah para anggota kelompok berguru dituntut untuk berfikir secara interaktif. Para hebat berpendapat bahwa  berfikir secara interaktif. Para jago berpendapaat bahwa berfikir bukanlah sekedar memanipulasi objek-objek mental, melainkan juga interaksi dengan orang lain  dan dengan lingkungan. Dalam kelas yang menerapkan model kolaboratif, guru membagi otoritas dengan siswa dalam berbagai cara khusus guru  mendorong siswa untuk menggunakan  pengetahuan mereka, menghormati rekan kerjanya dan memfokuskan diri pada pengertian tingkat tinggi. Peran guru  dalam versi pembelajaran kolaboratif yaitu sebagai perantara. Guru menghubungkan info baru terhadap pengalaman siswa dengan proses berguru di bidang lain, menolong siswa memilih apa yang mesti dilaksanakan jikalau siswa mengalami kesulitan dan menolong mereka mencar ilmu wacana bagaimana caranya berguru. Lebih dari itu, guru selaku mediator  menyesuaikan tingkat info siswa dan mendorong supaya siswa memaksimalkan kemampuannya untuk bertanggung jawab atas  proses berguru mengajar selanjutnya. Sebagai perantara guru menjalani tiga peran, ialah berfungsi sebagai fasilitator, model dan instruktur. Sebagai fasilitator guru menciptakan lingkungan dan kreativitas yang kaya guna menolong siswa membangun pengetahuannya. Dalam rangka melakukan tugas ini, ada tiga hal pula yang mesti dilakukan. Pertama, mengontrol lingkungan fisik, termasuk pengaturan tata letak perabot dalam ruangan serta  persediaan aneka macam sumber daya dan peralatan yang dapat membantu proses belajar mengajar siswa. Kedua, menyediakan lingkungan social yang mendukung proses berguru siswa, mirip mengelompokkan siswa secara heterogen dan mengajak siswa menyebarkan struktur social yang mendorong hadirnya perilaku yang cocok untuk berkolaborasi antar siswa , ketiga, guru memperlihatkan tugas memancing munculnya interaksi antarsiswa dengan lingkungan fisik maupun social di sekitarnya. Dalam  hal ini, guru harus mampu memotivasi anak. Peran selaku versi mampu diwujudkan dengan cara membagi asumsi tentang sebuah hal (thinking aloud)  atau memperlihatkan pada siswa ihwal bagaimana melaksanakan sesuatu secara sedikit demi sedikit (demonstrasi) . Di samping itu memberikan pada siswa bagaimana cara berpikir ketika lewat situasi golongan yang sulit dan lewat duduk perkara komunikasi yaitu sama pentingnya dengan mencontohkan bagaimana cara  membuat perencanaan, memonitor penyelesaian tugas dan mengukur apa yang telah dipelajari. Peran guru sebagai instruktur memiliki prinsip utama yakni menyediakan dukungan seperlunya pada ketika siswa membutuhkan sehingga siswa   tetap memagang tanggung jawab atas proses berguru  mereka sendiri. Hal ini dijalankan dengan menunjukkan petunjuk dam umpan balik, mengarahkan kembali perjuangan siswa serta menolong mereka menggunakan strategi tertentu. Salah satu ciri penting dari kelas yang menerapkan versi pembelajaran kolaboratif yakni siswa tidak dikotak-kotakan menurut kemampuannya, minatnya, ataupun karakteristik dan mengurangi potensi siswa untu mencar ilmu bareng siswa lain. Dengan demikian, semua siswa dapat berguru dari siswa dan tidak ada siswa yang tidak mempunyai potensi untuk memberikan  masukan dan menghargai masukan yang diberikan orang lain. Model kolaboratif dapat digambarkan sebagai berikut. Ketika terjadi kolaboratif, semua siswa aktif. Mereka saling berkomunikasi secara alami. Dalam sebuah kalangan yang terdiri atas 4 hingga 6 anak, di sana guru telah menciptakan desain agar siswa yang satu dengan lainnya bisa berkolaborasi. Dalam golongan yang sudah diputuskan oleh guru, akomodasi yang ada pun diusahakan anak bisa berkolaborasi. Misalnya dalam kelompok yang terdiri atas 4 hingga 6 tersebut seorang guru cuma menyiapkan 2 hingga 3 kotak alat  mewarna yang digunakan secara bergantian. Dengan harapan setiap siswa bisa berkomunikasi satu dengan yang lain. Dengan komunikasi aktif antar siswa akan terjalin korelasi yang baik dan saling menghargai. Alat tersebut bukan milik eksklusif, melainkan telah menjadi milik bareng . Setiap anak tidak merasa memiliki  secara langsung, tetapi bisa digunakan bersama. Paa saat yang serupa mempunyai impian untuk memakainya maka aka terjadi komunikasi yagn alami dengan penggunaan santun bahasa. Dalam kondisi mirip ini seperti guru hanya memperhatikan cara kerja siswa  dan cara berkomunikasi serta menjadi pembanding ketika siswa membutuhkan bantuan. Untuk kerja sama dalam sebuah mata pelajaran, seorang guru menunjukkan peran secara kalangan dengan  tujuan yang serupa. Setiap siswa dalam golongan saling berkolaborasi dengan membagi pengalaman. Dari pengalaman yang dimiliki oleh masing-masing golongan, ditarik kesimpulan secara bersama. Dalam hal in guru berperan sebagai pembimbing dan membagi tugas semoga diskusi golongan bisa berlangsung dengan baik dengan yang dijadwalkan Dalam kelas yang memakai model pembelajaran kolaboratif, suasana yang terjadi adalah pengetahuan yang terbagi antara guru dan siswa. Dengan kata lailn, baik guru maupun siswa dipandang sebagai sumber informas. Situasi ini terperinci berbeda dengan situasi yang umumnya terjadi dalam kelas tradisional. Dalam kelas tradisional guru dipandang  sebagai satu-satunya sumber gosip dan pengetahuan yang mengalir satu arah dari guru ke murid atau semua pembelajaran berpusat pada guru. Untuk meraih tujuan yang efektif, seorang  guru perlu menciptakan berbagai cara mengajar yang cocok dengan mata pelajaran  sehingga mampu berlangsung efektif. BAB  III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini ialah penelitian langkah-langkah (action research), alasannya penelitian dilaksanakan untuk memecahkan duduk perkara pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga tergolong penelitian deskriptif, alasannya adalah menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang dikehendaki mampu diraih. Menurut Sukidin dkk (2002:54) ada 4 macam bentuk observasi tindakan, ialah: (1) observasi tindakan guru selaku peneliti, (2) observasi tindakan kolaboratif, (3) observasi tindakan simultan terintegratif, dan (4) observasi langkah-langkah sosial eksperimental. Keempat bentuk penelitian tindakan di atas, ada persamaan dan perbedaannya. Menurut Oja dan Smulyan sebagaimana dikutip oleh Kasbolah, (2000) (dalam Sukidin, dkk. 2002:55), ciri-ciri dari setiap penelitian tergantung pada: (1) tujuan khususnya atau pada tekanannya, (2) tingkat kolaborasi  antara pelaku peneliti dan peneliti dari luar, (3) proses yang dipakai dalam melaksanakan penelitian, dan (4) relasi antara proyek dengan sekolah. Dalam observasi ini memakai bentuk guru selaku peneliti, dimana guru sangat berperan sekali dalam proses penelitian langkah-langkah kelas. Dalam bentuk ini, tujuan utama penelitian tindakan kelas yakni untuk mengembangkan praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam acara ini, guru terlibat langsung secara sarat dalam proses penyusunan rencana, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Kehadiran pihak lain dalam observasi ini peranannya tidak secara umum dikuasai dan sungguh kecil. Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkelanjutan. Kemmis dan Taggart (1988:14) menyatakan bahwa model observasi langkah-langkah yaitu berbentuk spiral. Tahapan penelitian langkah-langkah pada sebuah siklus meliputi perencanaan atau pelaksanaan observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan tidak boleh bila sesuai dengan keperluan dan dirasa telah cukup. A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat penelitian yaitu daerah yang dipakai dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diharapkan. Penelitian ini bertempat di …. Tahun pelajaran … 2. Waktu Penelitian Waktu penelitian yakni waktu berlangsungnya observasi atau saat observasi ini dilangsungkan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret semester genap …. 3. Subyek Penelitian Subyek observasi yaitu siswa-siswi kelas … tahun pelajaran … pada pokok bahasan dongeng nabi Ibrahim a.s, dan nabi Ismail a.s. B. Rancangan Penelitian Menurut pengertiannya observasi tindakan ialah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat atau sekelompok target, dan akibatnya pribadi dapat dikenakan pada penduduk yang bersangkutan (Arikunto, Suharsimi 2002:82). Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian langkah-langkah yaitu adanya partisipasi dan kerja sama  antara peneliti dengan anggota kalangan sasaran. Penelitian langkah-langkah adalah satu strategi pemecahan duduk perkara yang memanfaatkan tindakan positif dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan dilema. Dalam prosesnya pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain. Sedangkan tujuan penelitian tindakan mesti menyanggupi beberapa prinsip selaku berikut: 1. Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi persyaratan, adalah benar-benar kasatmata dan penting, menarik minatdan mampu ditangani serta dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan. 2. Kegiatan observasi, baik intervensi maupun pengamatan yang dikerjakan dilarang sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama. 3. Jenis intervensi yang dicobakan mesti efektif dan efisien, artinya terpilih dengan tepat target dan tidak menghamburkan waktu, dana dan tenaga. 4. Metodologi yang dipakai harus jelas, rinci, dan terbuka, setiap langkah dari tindakan dirumuskan dengan tegas sehingga orang yang berminat terhadap penelitian dapat memeriksa setiap hipotesis dan pembuktiannya. 5. Kegiatan observasi diharapkan mampu merupakan proses kegiatan yang berkelanjutan (on-going), mengenang bahwa pengembangan dan perbaikan terhadap mutu langkah-langkah memang tidak dapat berhenti tetapi menjadi tantangan sepanjang waktu. (Arikunto, Suharsimi, 2002:82-83). Sesuai dengan jenis observasi yang diseleksi, yakni penelitian langkah-langkah, maka observasi ini menggunakan model penelitian langkah-langkah dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, Suharsimi, 2002:83), yakni berupa spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi rencana (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus I dijalankan tindakan pendahuluan yang berupa kenali problem. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas mampu dilihat pada gambar berikut. Gambar 3.1 Alur PTK Penjelasan alur di atas yakni: 1. Rancangan/planning awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan duduk perkara, tujuan dan menciptakan planning tindakan, tergolong di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran. 2. Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dikerjakan oleh peneliti sebagai upaya membangun pengertian konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya pengajaran kontekstual versi pengajaran berbasis dilema. 3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan memikirkan hasil atau pengaruh dari langkah-langkah yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. 4. Rancangan/planning yang direvisi, menurut hasil refleksi dari pengamat membuat desain yang direvisi untuk dijalankan pada siklus berikutnya. Observasi dibagi dalam tiga siklus,  ialah siklus 1, 2, dan seterusnya, dimana masing siklus dikenai perlakuan yang serupa (alur acara yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di selesai masing putaran. Siklus ini berkelanjutan dan akan dihentikan kalau sesuai dengan keperluan dan dirasa sudah cukup. C. Alat Pengumpul Data Alat kolektordata dalam penelitian ini ialah tes produksi guru yang fungsinya yakni: (1) untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai materi pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu, (2) untuk memilih apakah suatu tujuan telah tercapai, dan (3) untuk menemukan sebuah nilai (Arikunto, Suharsimi, 2002:149). Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengenali ketuntasan belajar siswa secara individual maupun secara klasikal. Di samping itu untuk mengenali letak kesalahan-kesalahan yang dijalankan siswa sehingga mampu dilihat dimana kelemahannya, utamanya pada bagian mana TPK yang belum tercapai. Untuk memperkuat data yang dikumpulkan maka juga dipakai tata cara pengamatan (observasi) yang dilakukan oleh sahabat sejawat untuk mengenali dan merekam aktivitas guru dan siswa dalam proses berguru mengajar. D. Analisis Data Dalam rangka menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga mampu menciptakan sebuah kesimpulan yang mampu dipertanggungjawabkan, maka dipakai analisis data kuantitatif dan pada metode pengamatan digunakan data kualitatif. Cara penghitungan untuk mengenali ketuntasan belajar siswa dalam proses belajar mengajar sebagai berikut. 1. Merekapitulasi hasil tes 2. Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya untuk masing-masing siswa dengan memakai rumus ketuntasan belajar mirip yang terdapat dalam buku petunjuk teknis evaluasi ialah siswa dikatakan tuntas secara individual bila mendapatkan nilai minimal 65, sedangkan secara klasikal dibilang tuntas berguru jikalau jumlah siswa yang tuntas secara individu meraih 85% yang telah meraih daya serap lebih dari sama dengan 65%. 3. Menganalisa hasil pengamatan yang dilaksanakan oleh guru sendiri selama kegiatan belajar mengajar berjalan. BAB  IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hubungan Pembelajaran Model Kolaborasi dengan Ketuntasan Belajar Suatu pokok bahasan atau sub pokok bahasan dianggap tuntas secara klasikal kalau siswa yang menerima nilai 65 lebih dari atau sama dengan 85%,  sedangkan seorang siswa dinyatakan tuntas belajar pada pokok bahasan atau sub pokok bahasan tertentu jikalau mendapat nilai minimal 65. 1. Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari planning pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan model pembelajaran KOLABORASI  , dan lembar observasi acara guru dan siswa. b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan  Pelaksanaan aktivitas mencar ilmu mengajar untuk siklus I dikerjakan pada tanggal 4 Maret 2005 di Kelas VI jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses berguru mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan serentak dengan pelaksanaan berguru mengajar. Pada selesai proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengenali tingkat keberhasilan siswa dalam proses berguru mengajar yang telah dikerjakan. Adapun data hasil observasi pada siklus I yakni sebagai berikut. Tabel 4.1. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I No Uraian Hasil Siklus I 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan mencar ilmu 70,00 15 68,18 Dari  tabel di atas mampu dijelaskan bahwa dengan menerapkan pembelajaran versi Kolaborasi diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa ialah 70,00 dan ketuntasan mencar ilmu meraih 68,18% atau ada 15 siswa dari 22 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut memberikan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas mencar ilmu, alasannya adalah siswa yang mendapatkan nilai  65 cuma sebesar 68,18% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang diinginkan yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan sebab siswa masih merasa baru dan belum mengetahui apa yang dimaksudkan dan dipakai guru dengan menerapkan pembelajaran versi Kolaborasi. c. Refleksi Dalam pelaksanaan aktivitas mencar ilmu mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan selaku berikut: 1) Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam memberikan tujuan pembelajaran 2) Guru kurang optimal dalam pengelolaan waktu 3) Siswa kurang aktif selama pembelajaran berjalan d. Refisi Pelaksanaan acara mencar ilmu mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus selanjutnya. 1) Guru perlu lebih cekatan dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap aktivitas yang mau dilakukan. 2) Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan gosip-gosip yang dirasa perlu dan memberi catatan. 3) Guru mesti lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa mampu lebih bergairah. 2. Siklus II a. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti merencanakan perangkat pembelajaran yang berisikan rencana pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap acara dan pelaksanaan Pelaksanaan aktivitas belajar mengajar untuk siklus II dijalankan pada tanggal 11 Maret 2005 di Kelas VI dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku pengajar. Adapun proses berguru mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kelemahan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (pengamatan) dilaksanakan serentak dengan pelaksanaan berguru mengajar. Pada final proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang sudah dijalankan. Instrumen yang dipakai adalah tes formatif II. Adapun data hasil observasi pada siklus II ialah sebagai berikut.                    Tabel 4.2. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II No Uraian Hasil Siklus II 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan belajar 77,73 17 79,01 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi berguru siswa yaitu 77,73 dan ketuntasan belajar mencapai 79,01% atau ada 17 siswa dari 22 siswa sudah tuntas berguru. Hasil ini menawarkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan mencar ilmu secara klasikal telah mengalami kenaikan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya kenaikan hasil berguru siswa ini alasannya setelah guru memberitahukan bahwa setiap akhir pelajaran akan senantiasa diadakan tes sehingga pada konferensi berikutnya siswa lebih termotivasi untuk mencar ilmu. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan dikehendaki guru dengan menerapkan pembelajaran versi Kolaborasi. c. Refleksi Dalam pelaksanaan aktivitas berguru diperoleh informasi dari hasil observasi sebagai berikut. 1) Memotivasi siswa 2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep 3) Pengelolaan waktu d. Revisi Rancangan Pelaksanaan acara mencar ilmu pada siklus II ini masih terdapat kelemahan-kelemahan. Maka perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus II antara lain: 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat menciptakan siswa lebih termotivasi selama proses mencar ilmu mengajar berjalan. 2) Guru mesti lebih bersahabat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pertimbangan atau mengajukan pertanyaan. 3) Guru mesti lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan desain. 4) Guru mesti mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang dibutuhkan. 5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak acuan soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dilakukan pada setiap kegiatan belajar mengajar. 3. Siklus III a. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap aktivitas dan observasi Pelaksanaan aktivitas mencar ilmu mengajar untuk siklus III dilakukan pada tanggal 18 ….. 2005 di Kelas … dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku pengajar. Adapun proses berguru mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan mengamati revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (pengamatan) dilakukan berbarengan dengan pelaksanaan berguru mengajar. Pada selesai proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kesuksesan siswa dalam proses berguru mengajar yang sudah dilakukan. Instrumen yang dipakai adalah tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III yakni sebagai berikut. Tabel 4.3. Hasil Formatif Siswa Pada Siklus III No Uraian Hasil Siklus III 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan mencar ilmu 82,73 19 86,36 Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 82,73 dan dari 22 siswa telah tuntas sebanyak 19 siswa dan 3 siswa belum meraih ketuntasan berguru. Maka secara klasikal ketuntasan mencar ilmu yang sudah tercapai sebesar 86,36% (tergolong klasifikasi tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami kenaikan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil mencar ilmu pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kesanggupan guru dalam menerapkan pembelajaran versi Kolaborasi sehingga siswa menjadi lebih sudah biasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. c. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang sudah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses berguru mengajar dengan penerapan pembelajaran versi Kolaborasi. Dari data-data yang sudah diperoleh dapat diuraikan selaku berikut: 1) Selama proses belajar mengajar guru telah melakukan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa faktor yang belum tepat, namun persentase pelaksanaannya untuk masing-masing faktor cukup besar. 2) Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses mencar ilmu berlangsung. 3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. 4) Hasil mencar ilmu siswa pada siklus III meraih ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru sudah menerapkan pembelajaran model Kolaborasi dengan baik dan dilihat dari kegiatan siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses mencar ilmu mengajar sudah berlangsung dengan baik. Maka tidak diharapkan revisi terlalu banyak, namun yang perlu diperhatikan untuk langkah-langkah berikutnya ialah mengoptimalkan dan menjaga apa yang sudah ada dengan tujuan semoga pada pelaksanaan proses mencar ilmu mengajar berikutnya penerapan model pengajaran kerja sama  mampu memajukan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. Pembahasan 1. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Melalui hasil observasi ini memberikan bahwa pembelajaran model Kolaborasi mempunyai efek positif dalam memajukan prestasi mencar ilmu siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pengertian siswa terhadap bahan yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari siklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 68,18%, 79,01%, dan 86,36%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal sudah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh acara siswa dalam proses berguru mengajar dengan menerapkan versi pengajaran kolaborasi  dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berpengaruh kasatmata kepada prestasi mencar ilmu siswa ialah dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pad setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. 3. Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh acara siswa dalam proses pembelajaran PAI pada pokok bahasan kisah nabi Ibrahim a.s, dan nabi Ismail a.s dengan model pengajaran kerja sama  yang paling mayoritas adalah, menyimak /mengamati penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi mampu dikatakan bahwa acara siswa mampu dikategorikan aktif. Sedangkan untuk kegiatan guru selama pembelajaran telah melaksanakan tindakan kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan pengajaran konstekstual model pengajaran berbasis masalah dengan baik. Hal ini tampakdari kegiatan guru yang timbul di antaranya acara membimbing dan memperhatikan siswa dalam mendapatkan desain, menjelaskan bahan yang sulit, memberi umpan balik/penilaian/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. BAB  V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dipaparkan selama tiga siklus, hasil seluruh pembahasan serta analisis yang sudah dikerjakan mampu ditarik kesimpulan selaku berikut: 1. Model pengajaran kerja sama  mampu memajukan mutu pembelajaran PAI. 2. Pembelajaran model Kolaborasi mempunyai pengaruh faktual dalam memajukan prestasi berguru siswa yang ditandai dengan kenaikan ketuntasan berguru siswa dalam setiap siklus, yakni siklus I (68,18%), siklus II (79,01%), siklus III (86,36%). 3. Model pengajaran kolaborasi  dapat menimbulkan siswa merasa dirinya menerima perhatian dan kesempatan untuk memberikan pertimbangan , ide, inspirasi dan pertanyaan. 4. Siswa dapat bekerja secara mampu berdiri diatas kaki sendiri maupun golongan, serta mampu mempertanggungjawabkan segala tugas individu maupun kalangan. 5. Penerapan pembelajaran versi Kolaborasi memiliki dampak faktual, yaitu mampu mengembangkan motivasi belajar siswa. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses berguru mengajar PAI lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang maksimal bagi siswa, maka disampaikan anjuran selaku berikut: 1. Untuk melaksanakan versi pengajaran kerja sama  memerlukan antisipasi yang cukup matang, sehingga guru harus bisa memilih atau menentukan topik yang betul-betul mampu dipraktekkan dengan pembelajaran model Kolaborasi dalam proses mencar ilmu mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan prestasi berguru siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan aneka macam sistem pengajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya mampu menemukan wawasan baru, mendapatkan desain dan keahlian, sehingga siswa sukses atau bisa memecahkan dilema-masalah yang dihadapinya. 3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini cuma dilakukan di … tahun pelajaran … 4. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan supaya diperoleh hasil yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Lampiran Dapatkan file secara lengkap berupa pengaturan, gambar, tabel dan lain-lain dalam  format microsoft word  (.doc) pada link dibawah ini !! Dowwload PTK Format Microsoft Word (.doc) Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kolaborasi
Sumber https://somadrug1.blogspot.com


EmoticonEmoticon