Berikut ini kami bagikan file Laporan PTK IPA Efektivitas Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Efektivitas Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar IPA EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MODEL PENGAJARAN BERBASIS MASALAH DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS ……………………………… ……………………………………. TAHUN 2003/2004 KARYA ILMIAH OLEH ……………………………. NIP: …………………………….. DINAS PENDIDIKAN KOTA ………………….. …………………………………………………….. LEMBAR PENGESAHAN Laporan penelitian ini sudah disetujui dan disyahkan untuk melengkapi perpustakaan SD/Madrasah Ibtidaiyah dan mampu diajukan sebagai salah satu Karya Ilmiah untuk Penetapan Angka Kredit Jabatas Pengawas pada Golongan IVa ke IVb. Kepala Sekolah ………………………….. ………………………… Penulis ………………………… ……………………………. NIP: ………… NIP: ………………. Mengetahui Mengetahui Pustakawan …………. Kepala Cab. Din. Pendidikan Kecamatan ………… Kecamatan ……….. …………………….. ………………………….. NIP: ………………… Mengetahui Mengetahui Kepala Dinas Pendidikan Ketua PD II PGRI Kota ……….. Kota ……. ……………………………… …………………………….. Pembina Utama Muda NPA: ………………. NIP: …………………. KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis mampu menyelesaikan peran penyusunan karya ilmiah dengan judul “Efektivitas Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Ipa Pada Siswa Kelas …………………………….Tahun 2003/2004”, penulisan karya ilmiah ini kami susun untuk dipakai dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan mampu dipakai sebagai perbandingan dalam pengerjaan karya ilmiah bagi sobat sejawat juga anak bimbing pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pelatihan karya ilmiah remaja. Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak mendapat pemberian dari banyak sekali pihak. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan lapang dada dan sedalam-dalamnya kepada: 1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan Kota ………………. 2. Yth. Ketua PD II PGRI Kota ………………… 3. Yth. Rekan-rekan Guru ………………………………….. 4. Semua pihak yang telah banyak menolong sehingga penulisan ini final. Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari sempurna untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak senantiasa penulis harapkan. Penulis ABSTRAK …………………….., 2003. Efektivitas Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Ipa Pada Siswa Kelas ………………………Tahun 2003/2004 Kata Kunci: pelajaran ipa, kontekstual, basis problem Mengajar bukan semata problem menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan isu ke dalam pikiran siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil berguru yang langgeng. Yang mampu membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan metode pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis problem. Permasalahan yang ingin dikaji dalam observasi ini adalah: (a) Bagaimanakah peningkatan prestasi dan penguasaan bahan pelajaran IPA dengan diterapkannya tata cara pembelajaran kontektual versi pembelajarn berbasis duduk perkara? (b) Bagaimanakah imbas pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis persoalan dalam membantu siswa memajukan pemahaman dan motivasi belajar IPA? Sedangkan tujuan dari penelitian ini yakni: (a) Ingin mengenali bagaimana prestasi, pemahaman dan penguasaan mata pelajaran IPA sehabis diterapkannya pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis dilema. (b) Ingin mengetahui pengaruhnya metode pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis dilema dalam meningkatkan prestasi dan pengertian siswa kepada bahan pelajaran IPA sehabis diterapkan pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis dilema. Penelitian ini menggunakan penelitian langkah-langkah (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran berisikan empat tahap yaitu: rancangan, aktivitas dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini ialah siswa Kelas …………………………………... Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi aktivitas belajar mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami kenaikan dari siklus I sampai siklus III yakni, siklus I (65,00%), siklus II (75,00%), siklus III (90,00%). Kesimpulan dari observasi ini yakni pembelajaran kontekstual berbasis dilema dapat kuat aktual kepada motivasi mencar ilmu Siswa ……………………………..serta versi pembelajaran ini dapat dipakai sebagai salah satu alternatif pembelajaran IPA. DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul i Halaman Pengesahan ii Kata Pengantar iii Abstrak iv Daftar Isi v BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 3 C. Tujuan Penelitian 3 D. Manfaat Penelitian 4 E. Definisi Operasional Variabel 4 F. Batasan Masalah 5 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Prestasi Belajar 6 B. Faktor-aspek yang Mempengaruhi Prestasi Belajar 8 C. Hakikat IPA 9 D. Proses Belajar Mengajar IPA 10 E. Prestasi Belajar IPA 12 F. Gaya Belajar 13 G. Pengajaran Berbasis Masalah 15 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat, Waktu, dan Subyek Penelitian 25 B. Rancangan Penelitian 25 C. Instrumen Penelitian 26 D. Metode Pengumpulan Data 30 E. Teknik Analisis Data 30 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis Item Butir Soal 33 B. Analisi Data Penelitian Persiklus 35 C. Pembahasan 43 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 46 B. Saran 47 DAFTAR PUSTAKA 48 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan Nasional di bidang pengembangan sumberdaya insan Indonesia yang berkualitas lewat pendidikan ialah upaya yang benar-benar dan terus-menerus dijalankan untuk mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya. Sumberdaya yang bermutu akan memilih mutu kehidupan eksklusif, penduduk , dan bangsa dalam rangka mengantisipasi, menangani problem-duduk perkara, dan tantangan-tantangan yang terjadi dalam masyarakat pada sekarang dan abad depan. Pekerjaan merealisasikan maksud di atas bukan hal yang gampang dan sederhana. Tidak pula mampu dicapai dalam waktu singkat. Hal itu memerlukan santunan seluruh komponen bangsa dan perjuangan yang direncanakan secara masak-masak, berkesinambungan, serta berlangsung seumur hidup. Ini mempunyai arti bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang utuh dan bermutu lewat pendidikan diharapkan seperangkat prasarana dan sarana pendukung yang mencukupi. Dalam metode pendidikan, kurikulum ialah unsur esensial dan utama yang perlu mendapat perhatian dari banyak sekali pihak, seperti pemerintah, pengembangan kurikulum, dan para guru selaku ujung tombak pelaksanaan kurikulum dimaksud. Salah satu persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia ialah rendahnya mutu pendidikan, terutama pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dijalankan untuk memajukan kualitas pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai training dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan fasilitas dan prasarana pendidikan lain, dan peningkatan kualitas manajemen sekolah, namun demikian, aneka macam indikator mutu pendidikan belum memperlihatkan peningkatan yang memadai. Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dikerjakan oleh pemerintah lewat Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan bahan asuh, serta pengembangan paradigma gres dengan metodologi pengajaran. Mengajar bukan semata problem menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa. Belajar membutuhkan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil mencar ilmu yang langgeng. Yang mampu membuahkan hasil mencar ilmu yang langgeng hanyalah acara tata cara pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis problem. Apa yang mengakibatkan mencar ilmu aktif? Agar mencar ilmu menjadi aktif siswa mesti melaksanakan aneka macam peran. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan dilema, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif mesti sigap, menggembirakan, antusiasdan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud) Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, menyaksikan, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu “mengerjakannya”, adalah menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, memperlihatkan contohnya, mencoba mempraktekkan kemampuan, dan melakukan tugas yang menuntut wawasan yang telah atau harus mereka dapatkan. Dengan menyadari tanda-tanda-tanda-tanda atau kenyataan tersebut diatas, maka dalam observasi ini penulis penulis mengambil judul “Efektivitas Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Kelas ………………………………… Tahun Pelajaran 2003/2004.” B. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahnnya sebagi berikut: 1. Bagaimanakah peningkatan prestasi dan penguasaan materi pelajaran IPA dengan diterapkannya tata cara pembelajaran kontektual versi pembelajarn berbasis problem pada siswa Kelas ……………………………. Tahun Pelajaran 2003/2004? 2. Bagaimanakah pengaruh pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah dalam membantu siswa meningkatkan pemahaman dan motivasi mencar ilmu IPA pada siswa Kelas ………………………………… Tahun Pelajaran 2003/2004? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan urusan di atas, penelitian ini bertujuan untuk: 1. Ingin mengenali bagaimana prestasi, pemahaman dan penguasaan mata pelajaran IPA sesudah diterapkannya pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis problem pada siswa ………………………………. Tahun Pelajaran 2003/2004. 2. Ingin mengenali pengaruhnya sistem pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis persoalan dalam mengembangkan prestasi dan pengertian siswa kepada materi pelajaran IPA setelah dipraktekkan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis dilema pada siswa Kelas ……………………………………. Tahun Pelajaran 2003/2004. D. Manfaat Penelitian Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan mampu memiliki kegunaan sebagai: 1. Menambah wawasan dan wawasan penulis tentang peranan guru dalam mengembangkan pengertian siswa belajar IPA 2. Sumbangan aliran bagi guru dalam proses berguru-mengajar dan mengembangkan pemahaman siswa belajar IPA di ……………………………… Tahun Pelajaran 2003/2004. 3. Menerapkan sistem yang sempurna sesuai dengan materi pelajaran IPA. E. Definisi Operasional Variabel Agar tidak terjadi salah persepsi kepada judul observasi ini, maka perlu didefinisikan hal-hal selaku berikut: 1. Metode pembelajaran konstesktual berbasis problem: Pengajaran berbasis problem (Problem-Based Learning) yakni sebuah pandekatan pengajaran yang menggunakan persoalan dunia positif sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar wacana cara berpikir kritis dan kemampuan pemecahan dilema, serta untuk menemukan wawasan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran 2. Motivasi belajar yaitu: Merupakan daya penggagas psikis dari dalam diri seseorang untuk mampu melaksanakan kegiatan mencar ilmu dan memperbesar kemampuan, pengalaman. Motivasi mendorong dan mengarah minat mencar ilmu untuk tercapai sebuah tujuan. 3. Prestasi mencar ilmu adalah: Hasil mencar ilmu yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, sehabis siswa mengikuti pelajaran. F. Batasan Masalah Karena kekurangan waktu, maka dibutuhkan pembatasan dilema yang mencakup: 1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa Kelas ……………………………… Tahun Pelajaran 2003/2004. 2. Penelitian ini dikerjakan pada bulan September tahun pelajaran 2003/2004. 3. Materi yang disampaikan yakni pokok bahasan……………… BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Prestrasi Belajar 1. Pengertian Belajar Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan dalam kepustakaan. Yang dimaksud berguru ialah tindakan murid dalam bidang material, formal serta fungsional pada umumnya dan bidang intelektual pada terutama. Kaprikornus mencar ilmu merupakan hal yang pokok. Belajar ialah suatu perubahan pada sikap dan tingkah laris yang lebih baik, namun kemungkinan mengarah pada tingkah laris yang lebih buruk. Untuk dapat disebut belajar, maka pergeseran harus merupakan final dari pada kurun yang cukup panjang. Berapa usang waktu itu berjalan sukar ditentukan dengan niscaya, namun pergantian itu hendaklah merupakan final dari sebuah periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berminggu-ahad, berbulan-bulan atau beberapa tahun. Belajar merupakan suatu proses yang tideak dapat dilihat dengan positif proses itu terjadi dalam diri seserorang yang sedang mengalami berguru. Jadi yang dimaksud dengan belajar bukan tingkah laris yang nampak, namun prosesnya terjadi secara internal di dalam diri individu dalam mengusahakan mendapatkan kekerabatan-korelasi baru. 2. Pengertian Prestasi Belajar Sebelum dijelaskan pengertian mengenai prestasi mencar ilmu, terlebih dulu akan dikemukakan ihwal pengertian prestasi. Prestasi ialah hasil yang telah dicapai. Dengan demikian bahwa prestasi ialah hasil yang telah dicapai oleh seseorang sehabis melakukan sesuatu pekerjaan/acara tertentu. Kaprikornus prestasi yakni hasil yang telah diraih oleh sebab itu semua individu dengan adanya belajar kesudahannya dapat dicapai. Setiap individu mencar ilmu mengharapkan hasil yang yang sebaik-baiknya. Oleh alasannya adalah itu setiap individu harus berguru dengan sebaik-baiknya supaya prestasinya berhasil dengan baik. Sedang pengertian prestasi juga ada yang menyampaikan prestasi yakni kemampuan. Kemampuan di sini mempunyai arti yan dimampui individu dalam melakukan sesuatu. 3. Pedoman Cara Belajar Untuk menemukan prestasi/hasil berguru yang baik harus dilakukan dengan baik dan aliran cara yang tapat. Setiap orang mempunyai cara atau aliran sendiri-sendiri dalam mencar ilmu. Pedoman/cara yang satu cocok digunakan oleh seorang siswa, namun mungkin kurang sesuai untuk anak/siswa yang lain. Hal ini disebabkan alasannya adalah mempunyai perbedaan individu dalam hal kemampuan, kecepatan dan kepekaan dalam mendapatkan materi pelajaran. Oleh karena itu tidaklah ada suatu petunjuk yang niscaya yang mesti dilaksanakan oleh seorang siswa dalam melakukan acara mencar ilmu. Tetapi aspek yang paling memilih kesuksesan mencar ilmu yaitu para siswa itu sendiri. Untuk dapat meraih hasil berguru yang sebaik-baiknya mesti mempunyai kebiasaan berguru yang baik. B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar 1. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar Adapun aspek-aspek itu, dapat dibedakan menjadi dua golongan adalah: a. Faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang kita sebut aspek individu. Yang tergolong ke dalam aspek individu antara lain faktor kematangan atau perkembangan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor langsung. b. Faktor yang ada pada luar individu yang kita sebut dengan aspek sosial Sedangkan yang faktor sosial antara lain faktor keluarga, keadaan rumah tangga, guru, dan cara dalam mengajarnya, lingkungan dan potensi yang ada atau tersedia dan motivasi sosial. Berdasarkan aspek yang mensugesti acara mencar ilmu di atas memberikan bahwa berguru itu merupaka proses yang cukup kompleks. Artinya pelaksanaan dan akhirnya sangat ditentukan oleh aspek-aspek di atas. Bagi siswa yang berada dalam faktor yang mendukung acara mencar ilmu akan dapat dilalui dengan tanpa hambatan dn pada gilirannya akan memperoleh prestasi atau hasil belajar yang baik. Sebaliknya bagi siswa yang berada dalam kondisi mencar ilmu yang tidak menguntungkan, dalam arti tidak ditunjang atau disokong oleh aspek-aspek diatas, maka kegiatan atau proses belajarnya akan terhambat atau menemui kesulitan. C. Hakikat IPA IPA didefiniksan selaku suatu kumpulan wawasan yang tersusun secara alam. Perkembangan IPA tidak cuma ditandai dengan adanya fakta, tetapi juga oleh adanya tata cara ilmiah dan sikap ilmiah. Metode ilmiah dan observasi ilmiah menekankan pada hakikat IPA. Secara rinci hakikat IPA berdasarkan Bridgman (dalam Lestari, 2002: 7) yakni sebagai berikut: 1. Kualitas; intinya konsep-konsep IPA senantiasa mampu dinyatakan dalam bentuk angka-angka. 2. Observasi dan Eksperimen; ialah salah satu cara untuk dapat mengetahui rancangan-rancangan IPA secara tepat dan mampu diuji kebenarannya. 3. Ramalan (prediksi); ialah salah satu perkiraan penting dalam IPA bahwa misteri alam raya ini mampu dipahami dan memiliki keteraturan. Dengan asumsi tersebut melalui pengukuran yang teliti maka banyak sekali peristiwa alam yang mau terjadi dapat diprediksikan secara tepat. 4. Progresif dan komunikatif; artinya IPA itu selalu meningkat ke arah yang lebih sempurna dan inovasi-inovasi yang ada ialah kelanjutan dari inovasi sebelumnya. Proses; tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dikerjakan dengan memakai tata cara ilmiah dalam rangkan memperoleh sebuah kebernaran. 5. Universalitas; kebenaran yang didapatkan senantiasa berlaku secara umum. Dari penjelasan di atas, mampu disimpulkan bahwa hakikat IPA ialah bagian dari IPA, dimana desain-konsepnya diperoleh melalui sebuah proses dengan menggunakan tata cara ilmiah dan diawali dengan perilaku ilmiah lalu diperoleh hasil (produk). D. Proses Belajar Mengajar IPA Proses dalam pemahaman disini ialah interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama lainnya saling bekerjasama (inter independent) dalam ikatan untuk meraih tujuan (Usman, 2000: 5). Belajar diartikan selaku proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang setelah mengalami proses belajar akan mengalami pergeseran tingkah laris, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengetahui menjadi mengerti. (dalam Usman, 2000: 5). Mengajar merupakan sebuah perbuatan yang membutuhkan tanggungjawab budpekerti yang cukup berat. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam acara suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam keterkaitannya dengan anak bimbing dan materi pengajaran yang menimbulkan proses belajar. Proses mencar ilmu mengajar ialah suatu inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru selaku pemegangn tugas utama. Proses mencar ilmu mengajar merupakan sebuah proses yang mengandung serangkaian tindakan guru dan siswa atas dasar relasi timbal balik yang berlangsung dalam suasana edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar (Usman, 2000: 4). Sedangkan berdasarkan buku Pedoman Guru Pendidikan Agama Islam, proses mencar ilmu mengajar dapat mengandung dua pemahaman, yaitu rentetan acara penyusunan rencana oleh guru, pelaksanaan kegiatan hingga penilaian acara tindak lanjut (dalam Suryabrata, 1997: 18). Dari kedua usulan tersebut dapat disimpulkan bahwa proses berguru mengajar IPA mencakup aktivitas yang dikerjakan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan acara hingga evaluasi dan program tindak lanjut yang berjalan dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran IPA. E. Prestasi Belajar IPA Belajar dapat menenteng suatu pergeseran pada individu yang belajar. Perubahan ini ialah pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang hendak dicapai siswa dalam proses berguru di sekolah. Menurut Poerwodarminto (1991: 768), prestasi belajar adalah hasil yang diraih (dilakukan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi berguru merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan kecermatan kerja serta perjuangan yang membutuhkan asumsi. Berdasarkan uraian diatas mampu dikatakan bahwa prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh kesempatanyang dimilikinya setelah siswa itu melakukan acara berguru. Pencapaian hasil mencar ilmu tersebut dapat dikenali dengan megadakan penilaian tes hasil berguru. Penilaian diadakan untuk mengenali sejauh mana siswa sudah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat mengenali sejauh mana kesuksesan guru dalam proses mencar ilmu mengajar di sekolah. Sejalan dengan prestasi belajar, maka dapt diartikan bahwa prestasi mencar ilmu IPA ialah nilai yang dipreoleh siswa sehabis melibatkan secara eksklusif/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perilaku) dan psikomotor (keahlian) dalam proses berguru mengajar IPA. F. Gaya Belajar Kalangan pendidik telah menyadari bahwa penerima latih mempunyai bermacam cara mencar ilmu. Sebagian siswa bisa mencar ilmu dengan sangat bagus cuma dengan melihat orang lain melakukannya. Biasanya, mereka ini menggemari penyajian gosip yang runtut. Mereka lebih suka menuliskan apa yang dikatakan guru. Selama pelajaran, mereka biasanya membisu dan jarang terusik oleh kegaduhan. Perserta ajar visual ini berlainan dengan akseptor ajar auditori, yang biasanya tidak sungkan-sungkan untuk mengamati apa yang dilaksanakan oleh guru, dan menciptakan catatan. Mereka menggurulkan kemampuan untuk mendengar dan mengenang. Selama pelajaran, mereka mungkin banyak bicara dan gampang teralihkan perhatiannya oleh bunyi atau kebisingan. Peserta ajar kinestetik berguru khususnya dengan terlibat pribadi dalam acara. Mereka cenderung impulsive, semau gue, dan kurang sabaran. Selama pelajaran, mereka mungkin saja gusar jika tidak bisa leluasa bergerak dan menjalankan sesuatu. Cara mereka belajar boleh jadi terlihat asal-asalan dan tida karuan. Tentu saja, cuma ada sedikit siswa yang mutlak mempunyai satu jenis cara mencar ilmu. Grinder (1991) menyatakan bahwa dari setiap 30 siswa, 22 diantaranya rata-rata mampu berguru dengan efektif selama gurunya mengahadirkan kegaitan belajar yang berkombinasi antara visual, auditori dan kinestik. Namun, 8 siswa siswanya sedemikan menyukai salah satu bentuk pengajaran dibanding dua lainnya. Sehingga mereka mesti berupaya keras untuk mengerti pelajaran jikalau tidak ada kecermatan dalam menyajikan pelajaran sesuai dengan ara yang mereka sukai. Guna menyanggupi keperluan ini, pengajaran harus bersifat mulitsensori dan sarat dengan kombinasi. Kalangan pendidikan juga mencermati adanya pergantian cara belajar siswa. Selama lima belas tahun terakhir, Schroeder dan koleganya (1993) sudah menerapkan indikator tipe Myer-Briggs (MBTI) kepada mahasiswa gres. MBTI merupakan salah satu instrument yang paling banyak digunakan dalam dunia pendidikan dan untuk mengerti fungsi perbedaan individu dalam proses mencar ilmu. Hasilnya menunjukkan sekitar 60 persen dari mahasiswa yang masuk mempunyai orientasi simpel ketimbang teoritis kepada pembelajaran, dan persentase itu bertambah setiap tahunnya. Mahasiswa lebih suka terlibat dalam pengalaman pribadi dan kasatmata ketimbang mempelajari rancangan-desain dasar apalagi dulu dan baru kemudian menerapkannya. Penelitain MBTI lainnya, terang Schroeder, memberikan bahwa siswa sekolah menengah lebih suka kegiatan belajar yang betul-betul aktif dari pada acara yang reflektif absurd, dengan rasio lima banding satu. Dari semua ini, ia menyimpulkan bahwa cara berguru dan mengajar aktif sangat sesuai dengan siswa periode sekarang. Agar bisa efektif, guru mesti memakai yang berikut ini: diskusi dan proyek golongan kecil, presentasi dan debat, dalam kelas, latihan melalui pengalaman, pengalaman lapangan, simulasi, dan studi kasus. Secara khusus Schroeder menekankan bahwa siswa kurun sekarang “bisa beradaptasi dengan baik kepada aktivitas kelompok dan berguru bersama.” Temuan-sahabat ini dapat dianggap tidak mengagetkan kalau kita mempertimbangkan segera laju kehidupan terbaru. Dimasa kini siswa dibesarkan dalam dunia yang segala sesuatunya berjalan dengan segera dan banyak pilihan yang tersedia. Suara-suara terdengar begitu menghentak merdu, dan warna-warna tampakbegitu meriah dan mempesona. Obyek, baik yang kasatmata maupun yang maya, bergerak cepat. Peluang untuk mengganti segala sesuatu dari satu keadaan ke keadaan lain terbuka sungguh luas. G. Pengajaran Berbasis Masalah Pengajaran berbasis persoalan (Problem-Based Learning) adalah suatu pandekatan pengajaran yang menggunakan problem dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar ihwal cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh wawasan dan rancangan yang esensial dari bahan pelajaran. Pengajaran problem digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi dilema, termasuk di dalamnya berguru bagaimana belajar. Menurut Ibrahim dan Nur (2000: 2)), “Pengajaran berbasis duduk perkara diketahui dengan nama lain mirip Project-Based Teacihg (Pembelajaran Proyek), Experienced-Based Education (Pendidikan menurut pengalaman), Authentic Learning (Pembelajaran Autentik), dan Achoered Instruction (Pembelajaran berakar pada kehidupan konkret)”. Peran guru dalam pengajaran berbasis problem yaitu menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Pengajaran berbasis persoalan tidak dapat dilaksanakan tanpa guru membuatkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Secara garis besar pengajaran berbasis problem terdiri dari menyuguhkan terhadap siswa suasana duduk perkara yang autentik dan berarti yang mampu memperlihatkan kemudahan terhadap mereka untuk melakukan penyelidikan dan ikuiri. 1. Ciri-cirinya Berbagai pengembangan pengajaran berbasis duduk perkara sudah menjajal memperlihatkan cirri-ciri pengajaran berbasis duduk perkara sebagai berikut. a. Pengajuan pertanyaa atau persoalan. Pengajaran berbasis masalah bukan cuma mengorganisasikan prinsip-prinsip atau keahlian akademik tertentu, pembelajaran menurut problem mengorganisasikan pengajaran di sekeliling pertanyaan dan duduk perkara yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara eksklusif mempunyai arti untuk siswa. Mereka mengajukan situasi kehidipan konkret yang autentik, menyingkir dari balasan sederhana, dan memungkinkan adanya aneka macam macam solusi itu. b. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Meskipun pengajaran berbasis persoalan mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, Matematika, Ilmu Sosial), dilema yang akan diselidiki sudah diseleksi yang betul-betul konkret semoga dalam pemecahannya siswa meninjau dilema itu dari banyak mata pelajaran. c. Penyelidikan autentik. Pengajaran berbasis persoalan mengharuskan siswa melakukan pengusutan autentik untuk mencari pemecahan persoalan konkret. Mereka harus menganalisasi dan mendefinisikan persoalan, mengembankan hipotesis dan menciptakan ramalan, menghimpun dan menganalisis berita, melaksanakan eksperimen (jika diperlukan), menciptakan iferensi, dan merumuskan kesimpulan. Sudah barang tentu, sistem penyelidikan yang digunakan bergantung pada duduk perkara yang sesdang dipelajari. d. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya. Pengajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menciptakan produk tertentu dalam bentuk karya faktual atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian duduk perkara yang mereka dapatkan. Produk itu mampu berbentuktranskrip debat, laporan, versi fisik, video atau program computer (Ibrahim & Nur, 2000:5-7). Pengajaran berbasis problem dicirikan oleh siswa bekerja sama satu sama lain (paling kerap secara berpasangan atau dalam kelompok kecil). Bekerja sama memperlihatkan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-peran kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan obrolan dan untuk membuatkan kemampuan sosial dan kemampuan berpikir. 2. Tujuan Pembelajaran dan Hasil Belajar Pengajaran berbasis persoalan dirancang untuk menolong guru memperlihatkan isu sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pengajaran berbasis persoalan dikembangkan utamanya untuk menolong siswa berbagi kesanggupan berpikir, pemecahan duduk perkara, dan kemampuan intelektual, berguru ihwal banyak sekali peran orang remaja lewat pelibatan mereka dalam pengalaman positif atau simulasi, dan menimbulkan pembelajar yang otonom dan berdikari. Uraian rinci terhdap ketiga tujuan itu diterangkan lebih jauh oleh Ibrahim dan Nur (2000:7-12) berikut ini. a. Keteramplan Berpikir dan Keterampilan Pemecahan Masalah Berbagai macam inspirasi sudah dipakai untuk menggambarkan cara seseorang berpikir. Tetapi, apakah sebenarnya yang terlibat dalam proses berpikir? Apakah keahlian berpikir itu dan utamanya apakah keterampilan berpikir itu? - Berpikir ialah proses yang melibatkan operasi mental mirip induksi, deduksi, klasifikasi, dan pikiran sehat. - Berpikir ialah proses secara simbolik menyatakan (melalui bahasa) objek nyata dan insiden-peristiwa dan penggunaan pernyataan simbolik itu untuk menemuan prinsip-prinsip esensial perihal objek dan peristiwa itu untuk memperoleh prinsip-prinsip esensial wacana objek dan kejadian itu. Pernyataan simbolik (abstrak) mirip itu umumnya berlawanan dengan operasi mental yang didasarkan pada tingkat faktual dari fakta dan masalah khusus. - Berpikir yaitu kesanggupan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasar pada inferensi atau usulanyang seksama. Tentang berpikir tingkat tinggi, Resnick (1987) memperlihatkan klarifikasi sebagai berikut: - Berpikir tingkat tinggi yaitu nonalgoritmik, adalah alur tindakan yang tidak sepenuhnya dapat diterapan sebelumnya. - Berpikir tingkat tinggi cenderung kompleks. Keseluruhan alurnya tidak mampu diamati dari satu sudut pandang. - Berpikir tingkat tinggi seringkali menghasilkan banyak solusi, masing-masing dengan keuntungan dan kerugian. - Berpikir tingkat tinggi melibatkan pertimbangan dan interpretasi. - Berpikir tingkat tinggi melibatkan ketidakpastian. Segala sesuatu yang berhubungan dengan peran tidak selamanya dimengerti. - Berpikir tingkat tinggi melibatkan banyak penerapan banya standar, yang adakala berlawanan satu sama lain. - Berpikir tingkat tinggi melibatkan banyak pengaturan diri ihwal proses berpikir. Kita tidak mengakui selaku berpikir tingkat tinggi pada seseorang bila ada orang lain membantunya pada setiap tahap. - Berpikir tingkat tinggi melibatkan penelusuran makna, memperoleh struktur pada keadaan yang tampaknya tidak teratur. - Berpikir tingkat tinggi adalah perjuangan. Ada pengerahan kerja mental besar-besaran dikala melaksanakan banyak sekali jenis penjelasan terperinci dan pendapatyang diperlukan. Perlu dicatat bahwa Resnick memakai kata-kata dan perumpamaan seperti pertimbangan, pengaturan diri, pencarian makna, dan ketidakpastian. Hal ini memiliki arti bahwa proses berpikir dan keahlian yang perlu diaktifkan sangatlah kompleks. Resnick juga menekankan pentingnya konteks atau keterkaitan pada saat berpikir tentan berpikir. Meskipun proses memiliki beberapa kesamaan antarsituasi, proses itu juga bervarisai bergantung pada apa yang dipikirkan seseorang. Sebagai acuan, proses yang kita pakai untuk menimbang-nimbang matematika berlawanan dengan proses yang kita pakai untuk memikirkan puisi. Proses berpikir yang digunakan untuk mempertimbangkan wangsit absurd berbeda dengan yang dipakai untuk memikirkan situasi kehidupan faktual. Karena hakikat kekomplekan dan konteks dari keahlian berpikir tingkat tinggi, maka kemampuan itu tidak dapat diajarkan menggunakan pendekatan yang dirancang untuk mengajarkan pandangan baru dan keahlian yang lebih kasatmata. Keterampilan proses dan berpikir tingkat tinggi bagaimanapun juga terperinci mampu diajarkan, dan pada umumnya program dan kurikulum dikembangkan untuk tujuan ini sungguh mendasarkan diri pada pendekatan yang serupa dengan pengajaran berbasis dilema. a. Pemodelan Peran Orang Dewasa Resnick juga memberikan rasional perihal bagaimana pengajaran berbasis problem menolong siswa untuk berkinerja dalam suasana kehidupan positif dan belajar perihal pentingnya peran orang akil balig cukup akal. Dalam banyak hal pengajaran berbasis duduk perkara bersesuaian dengan aktivitas mental di luar sekolah sebagaimana yang diperankan oleh orang remaja. 1. Pengajaran berbasis dilema mempunyai unsur-unsur mencar ilmu magang. Hal tersebut mendorong pengamatan dan obrolan dengan orang lain, sehingga secara bertahap siswa dapat memahami tugas penting dari aktivitas mental dan belajar yang terjadi di luar sekolah. 2. Pengajaran berbasis problem melibatkan siswa dalam pengusutan opsi sendiri, yang memungkinkan siswa menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia kasatmata dan membangun pemahamannya ihwal fenomena tersebut. b. Pembelajaran yang Otonom dan Mandiri Pengajaran berbasis dilema berusaha membantu siswa menjadi pembelajar yang berdikari dan otonom. Bimbingan guru yang berulang-ulang mendorong dan mengarahkan siswa untuk bertanya, mencari penyelesaian terhadap masalah faktual oleh mereka sendiri. Dengan begitu, siswa berguru menyelesaikan tugas-peran mereka secara mampu berdiri diatas kaki sendiri dalam hidupnya. 3. Tahapan Pengajaran Berbasis Masalah Pengajaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu suasana duduk perkara dan diakhiri dengan penghidangan dan analisis hasil kerja siswa. Tabel 2.1. Tahapan Pengajaran Berbasis Masalah Tahapan Tingkah Laku Guru Tahap 1 Orientasi siswa kepada masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang diharapkan, memotivasi siswa semoga terlibat pada acara pemecahan masalah yang dipilihnya Tahap 2 Mengorganisasi siswa untuk belajar Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan peran mencar ilmu yang berhubugnan dengan problem tersebut Tahap 3 Membimbing pengusutan perorangan dan kelompok Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informsi yang cocok, melakukan eksperimen, untuk menerima penyelasan dan pemecahan masalahnya. Tahap 4 Mengembangkan dan menyuguhkan hasil karya Guru membantu siwa merekncanakan dan mempersiapkan karyayang sesuai mirip laporan, video, dan model serta membantu mereka berbagai peran dengan temannya. Tahap 5 Menganalisa dan memeriksa proses pemecahan maslah Guru membantu siswa melakukan refleksi atau penilaian terhadap pengusutan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. 4. Lingkungan Belajar dan Sistem Manajemen Tidak mirip lingkungan belajar yang terencana secara ketat yang diperlukan dalam pembelajaran eksklusif atau penggunaan yang hati-hati kalangan kecil dalam pembelajaran kooperatif, lingkungan mencar ilmu dan system administrasi dalam pengajaran berbasis persoalan dicirikan oleh sifatnya yang terbuka, ada proses demokrasi, dan peranan siswa yang aktif. Meskipun guru dan siswa melakukan tahapan pembelajaran yang terstruktur dan dapat diprediksi dalam pengajaran berbasis masalah, norma di sekeliling pelajaran adalah norma inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat. Lingkungan mencar ilmu menekankan peranan sentral siswa, bukan guru yang ditekankan. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini ialah penelitian langkah-langkah (action research), karena observasi dikerjakan untuk memecahkan duduk perkara pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk observasi deskriptif, karena menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran dipraktekkan dan bagaimana hasil yang diharapkan dapat diraih. Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti, 1997: 8) menggolongkan observasi langkah-langkah menjadi empat macam adalah, (a) guru sebagai peneliti; (b) observasi langkah-langkah kolaboratif; (c) simultan terintegratif; (d) administrasi social eksperimental. Dalam penelitian langkah-langkah ini memakai bentuk guru selaku peneliti, penanggung jawab sarat penelitian ini adalah guru. Tujuan utama dari penelitian tindakan ini yakni untuk memajukan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara sarat terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun, kedatangan peneliti sebagai guru di kelas selaku pengajar tetap dan dikerjakan seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu jika diteliti. Dengan cara ini diperlukan ditemukan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diharapkan. A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat observasi ialah tempat yang dipakai dalam melaksanakan penelitian untuk menemukan data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di ………….. Tahun Pelajaran 2003/2004. 2. Waktu Penelitian Waktu penelitian ialah waktu berlangsungnya penelitian atau dikala observasi ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September semester ganjil tahun pelajaran 2003/2004. 3. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas ………………………… Tahun Pelajaran 2003/2004. Pada pokok bahasan……………….. B. Rancangan Penelitian Penelitian ini memakai Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK yaitu sebuah bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari langkah-langkah mereka dalam melakukan tugas, memperdalam pengertian kepada tindakan-langkah-langkah yang dikerjakan itu, serta memperbaiki keadaan dimana praktek pembelajaran tersebut dijalankan (dalam Mukhlis, 2000: 3). Sedangkah berdasarkan Mukhlis (2000: 5) PTK yakni sebuah bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dijalankan. Adapun tujuan utama dari PTK ialah untuk memperbaiki/meningkatkan pratek pembelajaran secara berkelanjutan, sedangkan tujuan penyertaannya ialah menumbuhkan budaya meneliti di kelompok guru (Mukhlis, 2000: 5). Sesuai dengan jenis observasi yang dipilih, yakni penelitian langkah-langkah, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), ialah berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang selanjutnya. Setiap siklus meliputi rencana (rencana), action (langkah-langkah), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, langkah-langkah, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi masalah. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 3.1 Alur PTK Penjelasan alur di atas ialah: 1. Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan observasi peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan menciptakan rencana langkah-langkah, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran. 2. Kegiatan dan observasi, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti selaku upaya membangun pemahaman desain siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya sistem pembelajaran versi kontekstual berbasis duduk perkara. 3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan memikirkan hasil atau efek dari langkah-langkah yang dijalankan menurut lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. 4. Rancangan/planning yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat menciptakan desain yang direvisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. Observasi dibagi dalam tiga putaran, yakni putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang serupa (alur aktivitas yang serupa) dan membicarakan satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di final masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki tata cara pengajaran yang telah dilaksanakan. C. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam observasi ini berisikan: 1. Silabus Yaitu seperangkat planning dan pengaturan tentang aktivitas pembelajaran pengelolahan kelas, serta evaluasi hasil berguru. 2. Rencana Pelajaran (RP) Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang dipakai sebagai aliran guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil mencar ilmu, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar. 3. Lembar Kegiatan Siswa Lembar kegaian ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil kegiatan berguru mengajar. 4. Tes formatif Tes ini disusun menurut tujuan pembelajaran yang mau diraih, dipakai untuk mengukur kesanggupan pemahaman konsep IPA pada pokok bahasan ……………... Tes formatif ini diberikan setiap tamat putaran. Bentuk soal yang diberikan yakni pilihan guru (objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46 soal yang telah diujicoba, kemudian penulis menyelenggarakan analisis butir soal tes yang telah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal. Analisis ini dipakai untuk memilih soal yang baik dan menyanggupi syarat dipakai untuk mengambil data. Langkah-langkah analisi butir soal ialah sebagai berikut: a. Validitas Tes Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk mengenali tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga mampu diputuskan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tingkat kevalidan ini mampu dijumlah dengan hubungan Product Moment: (Suharsimi Arikunto, 2001: 72) Dengan: rxy : Koefisien korelasi product moment N : Jumlah peserta tes ΣY : Jumlah skor total ΣX : Jumlah skor butir soal ΣX2 : Jumlah kuadrat skor butir soal ΣXY : Jumlah hasil kali skor butir soal b. Reliabilitas Reliabilitas butir soal dalam penelitian ini memakai rumus belah dua selaku berikut: (Suharsimi Arikunto, 20001: 93) Dengan: r11 : Koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan r1/21/2 : Korelasi antara skor-skor setiap cuilan tes Kriteria reliabilitas tes kalau harga r11 dari perhitungan lebih besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliabel. c. Taraf Kesukaran Bilangan yang memperlihatkan sukar dan mudahnya sebuah soal ialah indeks kesukaran. Rumus yang dipakai untuk memilih taraf kesukaran adalah: (Suharsimi Arikunto, 2001: 208) Dengan: P : Indeks kesukaran B : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar Js : Jumlah seluruh siswa penerima tes Kriteria untuk memilih indeks kesukaran sola yakni selaku berikut: - Soal dengan P = 0,000 hingga 0,300 ialah susah - Soal dengan P = 0,301 sampai 0,700 ialah sedang - Soal dengan P = 0,701 hingga 1,000 yaitu mudah d. Daya Pembeda Daya pembeda soal yaitu kesanggupan sebuah soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang memberikan besarnya daya pembeda desebut indeks diskriminasi. Rumus yang dipakai untuk menghitung indeks diskriminasi yaitu selaku berikut: (Suharsimi Arikunto, 2001: 211) Dimana: D : Indeks diskriminasi BA : Banyak akseptor kalangan atas yang menjawab dengan benar BB : Banyak peserta kalangan bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah akseptor golongan atas JB : Jumlah peserta kalangan bawah Proporsi akseptor kalangan atas yang menjawab benar. Proporsi akseptor golongan bawah yang menjawab benar Kriteria yang digunakan untuk menentukan daya pembeda butir soal sebagai berikut: - Soal dengan D = 0,000 hingga 0,200 ialah jelek - Soal dengan D = 0,201 hingga 0,400 yaitu cukup - Soal dengan D = 0,401 sampai 0,700 adalah baik - Soal dengan D = 0,701 sampai 1,000 yakni sangat bagus D. Metode Pengumpulan Data Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini diperoleh melalui pengamatan pengolahan sistem pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis problem, dan tes formatif. E. Teknik Analisis Data Untuk mengenali keefektivan suatu sistem dalam acara pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini memakai teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu sistem penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi mencar ilmu yang dicapai siswa juga untuk mendapatkan tanggapansiswa kepada acara pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase kesuksesan siswa sesudah proses berguru mengajar setiap putarannya dilaksanakan dengan cara memberikan evaluasi berbentuksoal tes tertulis pada setiap selesai putaran. Analisis ini dijumlah dengan memakai statistik sederhana adalah: 1. Untuk menganggap ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang berikutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif mampu dirumuskan: Dengan : = Nilai rata-rata Σ X = Jumlah semua nilai siswa Σ N = Jumlah siswa 2. Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan berguru adalah secara individual dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yakni seorang siswa telah tuntas berguru jika sudah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas mencar ilmu jika di kelas tersebut terdapat 85% yang sudah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk mengkalkulasikan persentase ketuntasan berguru dipakai rumus selaku berikut: BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data observasi yang diperoleh berbentukhasil uji coba item butir soal, data pengamatan berupa observasi pengelolaan tata cara pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah dan observasi kegiatan siswa dan guru pada akhir pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap siklus. Data hasil uji coba item butir soal dipakai untuk mendapatkan tes yang sungguh-sungguhmewakili apa yang dikehendaki. Data ini berikutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. Data lembar pengamatan diambil dari dua pengamatan ialah data pengamatan pengelolaan tata cara pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis masalah yang digunakan untuk mengenali efek penerapan sistem pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis duduk perkara dalam mengembangkan prestasi mencar ilmu siswa dan data observasi kegiatan siswa dan guru. Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi berguru siswa sehabis dipraktekkan tata cara pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis masalah. A. Analisis Item Butir Soal Sebelum melaksanakan pengambilan data lewat instrument penelitian berbentuktes dan mendapatkan tes yang baik, maka data tes tersebut diuji dan dianalisis. Uji coba dijalankan pada siswa di luar target observasi. Analisis tes yang dikerjakan meliputi: 1. Validitas Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengenali kelayakan tes sehingga mampu digunakan selaku instrument dalam penelitian ini. Dari perkiraan 46 soal diperoleh 16 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari validitas soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Valid Soal Tidak Valid 3, 4, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 30,36, 37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45 1, 2, 8, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 31, 32, 33, 34, 35, 40, 46 2. Reliabilitas Soal-soal yang telah menyanggupi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil perkiraan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 654. Harga ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 20) dengan r (95%) = 0,444. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan sudah menyanggupi syarat reliabilitas. 3. Taraf Kesukaran (P) Taraf kesukaran dipakai untuk mengetahui tingkat kesukaran soal. Hasil analisis memberikan dari 46 soal yang diuji terdapat: - 20 soal gampang - 16 soal sedang - 10 soal sukar 4. Daya Pembeda Analisis daya pembeda dilaksanakan untuk mengenali kesanggupan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkriteria buruk sebanyak 16 soal, berkriteria cukup 20 soal, berkriteria baik 10 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang dipakai sudah memenuhi syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. B. Analisis Data Penelitian Persiklus 1. Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti merencanakan perangkat pembelajaran yang terdiri dari planning pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan acara belajar mengajar untuk siklus I dilakukan pada tanggal 4 September 2003 di Kelas ……….. dengan jumlah 20 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses berguru mengajar mengacu pada planning pelajaran yang sudah disediakan. Pengamatan (observasi) dikerjakan serentak dengan pelaksaaan belajar mengajar Pada tamat proses mencar ilmu mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengenali tingkat keberhasilan siswa dalam proses berguru mengajar yang sudah dikerjakan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I yaitu sebagai berikut: Table 4.2. Nilai Tes Formatif Pada Siklus I No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 40 √ 11 50 √ 2 70 √ 12 70 √ 3 80 √ 13 60 √ 4 50 √ 14 80 √ 5 70 √ 15 40 √ 6 80 √ 16 80 √ 7 70 √ 17 60 √ 8 60 √ 18 70 √ 9 80 √ 19 80 √ 10 80 √ 20 80 √ Jumlah 680 7 3 Jumlah 670 6 4 Jumlah Skor 1350 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2000 % Skor Tercapai 67,50 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 13 Jumlah siswa yang belum tuntas : 7 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I No Uraian Hasil Siklus I 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan mencar ilmu 67,50 13 65,00 Dari tabel di atas dapat diterangkan bahwa dengan menerapkan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah diperoleh nilai rata-rata prestasi mencar ilmu siswa adalah 67,50 dan ketuntasan berguru mencapai 65,00% atau ada 13 siswa dari 20 siswa sudah tuntas berguru. Hasil tersebut memberikan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas berguru, sebab siswa yang menemukan nilai ≥ 65 hanya sebesar 65,00% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang diinginkan ialah sebesar 85%. Hal ini disebabkan alasannya adalah siswa masih aneh dengan diterapkannya pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis dilema. 2. Siklus II a. Tahap penyusunan rencana Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan aktivitas belajar mengajar untuk siklus II dilakukan pada tanggal 11 September 2003 di Kelas ……….. dengan jumlah 20 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses mencar ilmu mengajar mengacu pada planning pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalah atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersama-sama dengan pelaksanaan berguru mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kesuksesan siswa dalam proses berguru mengajar yang telah dilakukan. Instrument yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II yakni sebagai berikut. Table 4.4. Nilai Tes Formatif Pada Siklus II No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 70 √ 11 70 √ 2 80 √ 12 60 √ 3 90 √ 13 80 √ 4 50 √ 14 80 √ 5 70 √ 15 70 √ 6 80 √ 16 70 √ 7 70 √ 17 60 √ 8 60 √ 18 80 √ 9 70 √ 19 80 √ 10 80 √ 20 60 √ Jumlah 720 8 2 Jumlah 710 7 3 Jumlah Skor 1430 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2000 % Skor Tercapai 71,50 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 15 Jumlah siswa yang belum tuntas : 5 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.5. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II No Uraian Hasil Siklus II 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas mencar ilmu Persentase ketuntasan mencar ilmu 71,50 15 75,00 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi mencar ilmu siswa adalah 71,50 dan ketuntasan mencar ilmu meraih 75,00% atau ada 15 siswa dari 20 siswa telah tuntas mencar ilmu. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal sudah mengalami kenaikan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini alasannya siswa telah mulai akrab dan menemuan keasyikan dengan metode pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis masalah. Disamping itu kemampuan guru dalam mengorganisir proses berguru mengajar dalam metode ini juga kian meningkat sehingga proses belalar-mengajar kian efektif. 3. Siklus III a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang berisikan planning pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap kegiatan dan observasi Pelaksanaan acara berguru mengajar untuk siklus III dijalankan pada tanggal 18 September 2003 di Kelas ……… dengan jumlah 20 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses berguru mengajar mengacu pada planning pelajaran dengan mengamati revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (pengamatan) dikerjakan bersama-sama dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada final proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengenali tingkat keberhasilan siswa dalam proses berguru mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III yaitu selaku berikut: Table 4.6. Nilai Tes Formatif Pada Siklus III No. Urut Nilai Keterangan No. Urut Nilai Keterangan T TT T TT 1 70 √ 11 80 √ 2 80 √ 12 90 √ 3 80 √ 13 80 √ 4 70 √ 14 70 √ 5 70 √ 15 80 √ 6 90 √ 16 60 √ 7 80 √ 17 80 √ 8 60 √ 18 90 √ 9 80 √ 19 80 √ 10 90 √ 20 70 √ Jumlah 770 9 1 Jumlah 780 9 1 Jumlah Skor 1550 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2000 % Skor Tercapai 77,50 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 18 Jumlah siswa yang belum tuntas : 2 Klasikal : Tuntas Tabel 4.7. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III No Uraian Hasil Siklus III 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan berguru 77,50 18 90,00 Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 77,50 dan dari 20 siswa yang sudah tuntas sebanyak 18 siswa dan 2 siswa belum meraih ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan berguru yang telah tercapai sebesar 90,00% (tergolong kategori tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya kenaikan kesanggupan siswa mempelajari materi pelajaran yang telah diterapkan selama ini. Disamping itu dengan adanya metode pembelajaran ini siswa mampu bertanya dengan sesama temanya, dan ternyata dari proses bertanya antar siswa ini, siswa lebih mudah menerima klarifikasi dari temannya yang lebih paham tengtang materi pelejaran tersebut. Juga dari hasil pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis duduk perkara ini murid jadi lebih gampang untuk melakukan pekerjaan sama dengan sesama temanya. c. Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang sudah terealisasi dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses mencar ilmu mengajar dengan penerapan tata cara pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis problem. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan selaku berikut: 1) Selama proses berguru mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum tepat, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. 2) Berdasarkan data hasil observasi dimengerti bahwa siswa aktif selama proses berguru berjalan. 3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya telah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. 4) Hasil berguru siswsa pada siklus III meraih ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru sudah menerapkan tata cara pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah dengan baik dan dilihat dari acara siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses mencar ilmu mengajar sudah berlangsung dengan baik. Maka tidak dibutuhkan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah selanjutnya yaitu memaksimalkan dan mempertahankan apa yang sudah ada dengan tujuan supaya pada pelaksanaan proses mencar ilmu mengajar selanjutnya penerapan metode pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis problem mampu meningkatkan proses mencar ilmu mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. C. Pembahasan 1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Melalui hasil peneilitian ini memberikan bahwa pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis persoalan memiliki pengaruh aktual dalam memajukan daya ingat siswa. Hal ini dapat dilihat dari makin mantapnya pengertian dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah disampaikan guru selama ini (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II, dan III) ialah masing-masing 65,00%, 75,00%, dan 90,00%. Pada siklus III ketuntasan mencar ilmu siswa secara klasikal telah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh acara siswa dalam proses pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis masalah dalam setiap siklus mengalami kenaikan. Hal ini memiliki dampak aktual terhadap proses mengenang kembali bahan pelajaran yang telah diterima selama ini, yakni mampu ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh acara siswa dalam proses pembelajaran IPA dengan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis problem yang paling dominan ialah bekerja dengan memakai alat/media, menyimak /memperhatikan klarifikasi guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Kaprikornus mampu dibilang bahwa aktivitas isiwa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk acara guru selama pembelajaran telah melakukan langkah-langkah tata cara pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalahdengan baik. Hal ini tampakdari kegiatan guru yang timbul di antaranya kegiatan membimbing dan memperhatikan siswa dalam mengerjakan kegiatan, menjelaskan/melatih memakai alat, memberi umpan balik/penilaian/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil aktivitas pembelajaran yang sudah dikerjakan selama tiga siklus, dan menurut seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan selaku berikut: 1. Pembelajaran dengan pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis persoalan mempunyai efek nyata dalam memajukan prestasi mencar ilmu siswa yang ditandai dengan kenaikan ketuntasan berguru siswa dalam setiap siklus, yakni siklus I (65,00%), siklus II (75,00%), siklus III (90,00%). 2. Penerapan pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis duduk perkara mempunyai pengaruh faktual, yakni mampu memajukan motivasi berguru siswa untuk mempelajari bahan pelajaran yang diterima selama ini, dimana hal tersebut ditunjukan dengan rata-rata perilaku siswa yang menyatakan bahwa siswa kesengsem dan terpikatdengan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis problem sehingga mereka menjadi termotivasi untuk berguru. 3. Pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis persoalan memiliki pengaruh positif terhadap pemahaman bahan pelajaran yang diajaran, dimana dengan metode ini siswa dipaksa untuk memecahkan masalah yang beruhubungan dengan materi palajaran yang diajarkan. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses mencar ilmu mengajar IPA lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang maksimal bagi siswa, maka disampaikan rekomendasi sebagai berikut: 1. Untuk melaksanakan tata cara pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis dilema memerlukan antisipasi yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau menentukan topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pembelajaran kontekstual versi pengajaran berbasis duduk perkara dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan banyak sekali tata cara pengajaran yang tepat, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemuan pengetahuan gres, menemukan desain dan kemampuan, sehingga siswa berhasil atau bisa memecahkan dilema-persoalan yang dihadapinya. 3. Perlu adanya observasi yang lebih lanjut, sebab hasil observasi ini cuma dijalankan di ………………………………………… Tahun Pelajaran 2003/2004. 4. Untuk observasi yang sama hendaknya dikerjakan perbaikan-perbaikan semoga diperoleh hasil yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon. Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta. Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta Combs. Arthur. W. 1984. The Profesional Education of Teachers. Allin and Bacon, Inc. Boston. Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta. Hadi, Sutrisno. 1982. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi UGM. Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineksa Cipta. Melvin, L. Siberman. 2000. Active Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia dan Nuansa. Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka. Surakhmad, Winarno. 1990. Metode Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars. Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Dapatkan file secara lengkap berupa pengaturan, gambar, tabel dan lain-lain dalam format microsoft word (.doc) pada link dibawah ini !! Dowwload PTK Format Microsoft Word (.doc) Efektivitas Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Sumber https://somadrug1.blogspot.com
pop
Home
Posts filed under PTK IPA
Tampilkan postingan dengan label PTK IPA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTK IPA. Tampilkan semua postingan
Rabu, 09 Desember 2020
Penerapan Metode Demonstrasi Untuk Memajukan Prestasi Mencar Ilmu Ipa
Berikut ini kami bagikan f ile Laporan Penelitian Tindakan Kelas IPA Penerapan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Penerapan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA STRATEGI BELAJAR MENGAJAR DENGAN MENERAPKAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS ………………………… …………………………………………………. TAHUN 2003/2004 KARYA ILMIAH OLEH …………………………….. NIP: ………………………… DINAS PENDIDIKAN …………………………………… ………………………………………………………. HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Setelah membaca dan mencermati karya ilmiah yang ialah ulasan hasil penelitian yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan ……………………………………. hasil karya dari: Nama : …………………….. NIP : …………………………… Unit Kerja : …………………………………………… Judul : Penerapan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Kelas ……………………………..Tahun 2003/2004 Menyetujui dan mengesahkan untuk diajukan mendapatkan Penetapan Angka Kredit Kenaikan Pangkat dalam jabatan fungsional guru. Mengetahui Ketua PD PGRI II Kepala …………………. Kabupaten …………….. Kec………………………………. …………………………….. ………………………….. NPA: NIP: ……………. HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Karya Ilmiah ini diajukan sebagai syarat untuk menyanggupi penetapan angka kredit peningkatan pangkat dalam jabatan fungsional guru. Karya ilmiah ini tidak dipublikasikan tetapi telah disetujui dan disahkan untuk didokumentasikan di perpustakaan …………………………………….. Pada Hari : …………………… Tanggal : …………………… Pustakawan Kepala ……………… ………………….. …………………………………… ……………………………………. ……………………… ………………………………………. NIP: ……………. KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan peran penyusunan karya ilmiah dengan judul “Penerapan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Kelas ………………………………… Tahun 2003/2004”, penulisan karya ilmiah ini kami susun untuk digunakan dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan dapat dipakai selaku perbandingan dalam pembuatan karya ilmiah bagi sahabat sejawat juga anak didik pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pembinaan karya ilmiah dewasa. Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak menerima perlindungan dari aneka macam pihak. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan tulus dan sedalam-dalamnya terhadap: 1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan ………………….. 2. Yth. Ketua PD II PGRI ………………………. 3. Yth. Rekan-rekan Guru ……………………………………… 4. Semua pihak yang telah banyak menolong sehingga penulisan ini selesai. Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari sempurna untuk itu segala kritik dan usulan yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis inginkan. Penulis ABSTRAK ………….., 2003. Penerapan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Kelas ……………………………………. Tahun 2003/2004 Kata kunci: ilmu wawasan alam, metode demonstrasi Penggunaan sistem demonstrasi dibutuhkan dapat meningkatkan kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar sehingga dalam proses belajar mengajar itu kegiatan berguru mengajar tidak terjadi kejenuhn, dengan demikian siswa akan terlibat secara fisik, emosional dan intelektual yang pada gilirannya dibutuhkan desain pergeseran benda yang diajarkan oleh guru dapat dimengerti oleh siswa Permasalahan yang ingin dikaji dalam observasi ini yaitu: (a) Bagaimanakah peningkatan prestasi berguru IPA dengan diterapkannya tata cara demonstrasi? (b) Bagaimanakah dampak tata cara demostrasi terhadap motivasi mencar ilmu siswa? Sedangkan tujuan dari penelitian ini yakni: (a) Ingin mengetahui kenaikan prestasi belajar siswa sesudah diterapkannya tata cara demonstrasi. (b) Ingin mengetahui imbas motivasi berguru siswa sehabis diterapkan sistem demonstrasi. Penelitian ini memakai observasi tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran berisikan empat tahap ialah: rancangan, aktivitas dan observasi, refleksi, dan refisi. Sasaran observasi ini yaitu siswa Kelasi ………………………………. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi aktivitas mencar ilmu mengajar. Dari hasil analisis didapatkan bahwa prestasi mencar ilmu siswa mengalami kenaikan dari siklus I sampai siklus III yaitu, siklus I (66,67%), siklus II (76,19%), siklus III (90,48%). Kesimpulan dari observasi ini yakni pembelajaran dengan sistem demonstrasi dapat besar lengan berkuasa faktual terhadap prestasi dan motivasi mencar ilmu Siswa …………………………………………….. serta versi pembelajaran ini dapat digunakan selaku salah satu alternatif pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul i Halaman Pengesahan ii Kata Pengantar iv Abstrak v Daftar Isi vi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 B. Rumusan Masalah 3 C. Tujuan Penelitian 3 D. Manfaat Penelitian 3 E. Batasan Masalah 4 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Definisi Pembelajaran 5 B. Hakekat IPA 6 C. Proses Belajar Mengajar IPA 7 D. Prestasi Belajar IPA 8 E. Metode demonstrasi 9 F. Motivasi Belajar 12 G. Gaya Belajar 16 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat, Waktu, dan Subyek Penelitian 19 B. Rancangan Penelitian 19 C. Instrumen Penelitian 20 D. Metode Pengumpulan Data 24 E. Teknik Analisis Data 25 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis Item Butir Soal 27 B. Analisi Data Penelitian Persiklus 29 C. Pembahasan 37 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 39 B. Saran 39 DAFTAR PUSTAKA 41 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya acara mencar ilmu mengajar yaitu sebuah proses interaksi atau relasi timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru selaku salah satu komponen dalam proses berguru menganjar ialah pemegang tugas yang sungguh penting. Guru bukan hanya sekedar penyampai bahan saja, tetapi lebih dari itu guru mampu dibilang sebagai sentral pembelajaran. Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilakukan. Karena itu guru harus dapat menciptakan sebuah pengajaran menjadi lebeh efektif juga menarik sehingga materi pelajaran yang disampaikan akan membuat siswa merasa bahagia dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut. Guru mengemban peran yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas insan Indonesia, insan seutuhnya yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bersusah payah, tangguh, bertanggung jawab, mampu berdiri diatas kaki sendiri, pandai dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga mesti mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta kepada tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan insan-manusia pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Depdikbud (1999). Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya yaitu aspek guru dalam melaksanakan proses berguru mengajar, alasannya adalah guru secara langsung mampu menghipnotis, membina dan meningkatkan kecerdasan serta kemampuan siswa. Untuk menanggulangi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sungguh penting dan dibutuhkan guru memiliki cara/versi mengajar yang bagus dan mampu memilih versi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan rancangan-desain mata pelajaran yang akan disampaikan. Tujuan pendidikan nasional seperti yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 2 tahuan 1989 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan berbagi insan Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, mempunyai pengetahuan dan kemampuan, sehat jasmani dan rohani kepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab kemasyarakatan bangsa (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998: 3). Tujuan pendidikan nasional ini sungguh luas dan bersifat biasa sehingga perlu dijabarkan dalam Tujuan Institusional yang diadaptasi dengan jenis dan tingkatan sekolah yang lalu dijabarkan lagi menjadi tujuan kurikuler yang merupakan tujuan kurikulum sekolah yang diperinci menurut bidang studi/mata pelajaran atau golongan mata pelajaran (Purwanto, 1988 :2). Tujuan instruksional dijabarkan menjadi Tujuan Pembelajaran Umum dan lalu dijabarkan lagi menjadi Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK). Dalam mencapai Tujuan Pembelajaran Khusus pada mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar, khususnya di ………….. masih banyak mengalami kesulitan. Hal ini tampakdari masih rendahnya nilai mata pelajaran IPA daripada nilai beberapa mata pelajaran lainnya, mata pelajaran IPA peringkat nilainya menempati urutan paling bawah dari enam mata pelajaran yang diebtanaskan, bertitik tolak dari hal tersebut di atas perlu anutan-aliran dan langkah-langkah-tindakan yang harus dilalukan agar siswa dalam mempelajari desain-desain IPA tidak mengalami kesulitan, sehingga tujuan pembelajaran khusus yang dibuat oleh guru mata pelajaran IPA dapat tercapai dengan baik dan akhirnya mampu membuat puas semua pihak. Oleh alasannya adalah itu penggunaan metode pembelajaran dirasa sangat penting untuk membantu siswa dalam mengerti konsep-desain IPA. Metode pembelajaran jenisnya beragam yang masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, maka penyeleksian tata cara yang sesuai dengan topik atau pokok bahasan yang mau diajarkan harus sungguh-sungguhdipikirkan oleh guru yang mau menyampaikan materi pelajaran. Sedangkan penggunaan metode demonstrasi dibutuhkan dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar sehingga dalam proses mencar ilmu mengajar itu aktivitasnya tidak cuma didominasi oleh guru, dengan demikian siswa akan terlibat secara fisik, emosional dan intelektual yang pada gilirannya diperlukan rancangan pergeseran benda yang diajarkan oleh guru dapat diketahui oleh siswa. Berdasarkan uraian dari latar belakang tersebut di atas maka dalam observasi in menentukan judul “Penerapan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Kelas….. .”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan sebuah persoalan selaku berikut: 1. Bagaimanakah kenaikan prestasi belajar IPA dengan diterapkannya sistem demonstrasi? 2. Bagaimanakah efek metode demostrasi terhadap motivasi berguru siswa? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk: 1. Ingin mengetahui kenaikan prestasi mencar ilmu siswa sesudah diterapkannya tata cara demonstrasi. 2. Ingin mengetahui imbas motivasi mencar ilmu siswa setelah diterapkan metode demonstrasi. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diperlukan bermanfaat: 1. Bagi siswa untuk memajukan pemahaman konsep IPA dengan metode demonstrasi. 2. Bagi guru mampu memperlihatkan aksesori pengayaan cara mengajar dengan pertolongan sistem demonstrasi sehingga tujuan pembelajaran mampu tercapi dengan baik. 3. Bagi lembaga mampu dijadikan selaku bahan masukan gosip tentang salah satu alternative cara pembelajaran IPA pada siswa dengan pemanfaatan sistem pengajaran dalam meraih tujuan intruksional. E. Batasan Masalah 1. Konsep IPA yang digunakan dalam observasi ini yaitu pada pokok bahasan …………… 2. Metode yang dipakai dalam penelitian ini ialah sistem demonstrasi. 3. Penelitian ini dilakukan pada siswa Kelas ………………………………………………………………………….. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Pembelajaran Pembelajaran yakni proses, cara, menyebabkan orang atau makhluk hidup berguru. Sedangkan mencar ilmu ialah berusaha menemukan kepandaian atau ilmu, berganti tingka laris atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. (KBBI, 1996: 14). Sependapat dengan pernyataan tersebut Sutomo (1993: 68) mengemukakan bahwa pembelajaran ialah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan ia berguru untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sedangkan mencar ilmu ialah suatu peoses yang mengakibatkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses kemajuan yang bersifat fisik, tetapi pergantian dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah, meningkat daya pikir, sikap dan lain-lain. (Soetomo, 1993: 120). Pasal 1 Undang-undang No. 20 tahun 2000 wacana pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran yakni proses interaksi peserta latih dengan pendidik dan sumber berguru pada sebuah lingkungan belajar. Makara pembelajaran adalah proses yang disengaja yang mengakibatkan siswa belajar pada sebuah lingkungan mencar ilmu untuk melaksanakan aktivitas pada situasi tertentu. B. Hakikat IPA IPA didefiniksan selaku suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara alam. Perkembangan IPA tidak hanya ditandai dengan adanya fakta, namun juga oleh adanya sistem ilmiah dan sikap ilmiah. Metode ilmiah dan observasi ilmiah menekankan pada hakikat IPA. Secara rinci hakikat IPA berdasarkan Bridgman (dalam Lestari, 2002: 7) yaitu sebagai berikut: 1. Kualitas; pada dasarnya desain-konsep IPA senantiasa dapat dinyatakan dalam bentuk angka-angka. 2. Observasi dan Eksperimen; ialah salah satu cara untuk dapat mengerti konsep-rancangan IPA secara tepat dan mampu diuji kebenarannya. 3. Ramalan (prediksi); ialah salah satu asumsi penting dalam IPA bahwa misteri alam raya ini mampu diketahui dan mempunyai keteraturan. Dengan asumsi tersebut melalui pengukuran yang teliti maka berbagai peristiwa alam yang mau terjadi mampu diprediksikan secara sempurna. 4. Progresif dan komunikatif; artinya IPA itu selalu meningkat ke arah yang lebih sempurn dan penemuan-penemuan yang ada ialah kelanjutan dari inovasi sebelumnya. Proses; tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dilakukan dengan memakai tata cara ilmiah dalam rangkan menemukan suatu kebernaran. 5. Universalitas; kebenaran yang didapatkan selalu berlaku secara lazim. Dari penjelasan di atas, mampu disimpulkan bahwa hakikat IPA, dimana desain-konsepnya diperoleh melalui suatu proses dengan menggunakan tata cara ilmiah dan diawali dengan sikap ilmiah lalu diperoleh hasil (produk). C. Proses Belajar Mengajar IPA Proses dalam pengertian disini ialah interaksi semua bagian atau unsur yang terdapat dalam mencar ilmu mengajar yang satu sama yang lain saling bekerjasama (inter independent) dalam ikatan untuk meraih tujuan (Usman, 200: 5). Belajar diartikan selaku proses pergantian tingka laris pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang setelah mengalami proses berguru akan mengalami perubahan tingkah laris, baik faktor pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengetahui menjadi memahami. (dalam Usman, 2000: 5). Mengajar merupakan sebuah perbuatan yang memerlukan tanggungjawab adab yang cukup berat. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan sebuah usaha mengorganisasi lingkungan dalam keterkaitannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang mengakibatkan proses berguru. Proses mencar ilmu mengajar ialah suatu inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegangn tugas utama. Proses berguru mengajar ialah suatu proses yang mengandung serangkaian tindakan guru dan siswa atas dasar kekerabatan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar (Usman, 2000: 4). Sedangkan berdasarkan buku Pedoman Guru Pendidikan Agama Islam, proses mencar ilmu mengajar mampu mengandung dua pengertian, adalah rentetan kegiatan perencanaan oleh guru, pelaksanaan acara sampai penilaian acara tindak lanjut (dalam Suryabrata, 1997: 18). Dari kedua usulan tersebut mampu ditarik kesimpulan bahwa proses mencar ilmu mengajar IPA meliputi acara yang dikerjakan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan aktivitas sampai penilaian dan acara tindak lanjut yang berjalan dalam suasana edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yakni pengajaran IPA. D. Prestasi Belajar IPA Belajar dapat menenteng sebuah perubahan pada individu yang berguru. Perubahan ini ialah pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam berguru merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang akan dicapai siswa dalam proses berguru di sekolah. Menurut Poerwodarminto (1991: 768), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai (dikerjakan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi berguru merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta usaha yang membutuhkan pikiran. Berdasarkan uraian diatas dapat dibilang bahwa prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh peluangyang dimilikinya sehabis siswa itu melaksanakan aktivitas belajar. Pencapaian hasil belajar tersebut mampu dimengerti dengan megadakan penilaian tes hasil mencar ilmu. Penilaian diadakan untuk mengenali sejauh mana siswa sudah sukses mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat mengenali sejauh mana keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah. Sejalan dengan prestasi belajar, maka dapt diartikan bahwa prestasi mencar ilmu IPA yaitu nilai yang dipreoleh siswa sehabis melibatkan secara pribadi/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik faktor kognitif (wawasan), afektif (perilaku) dan psikomotor (kemampuan) dalam proses berguru mengajar IPA. E. Metode Demonstrasi Yang dimaksud metode demonstrasi yaitu salah satu cara mengajar, di mana guru melakukan sebuah percobaan wacana sesuatu hal, memperhatikan prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaulasi oleh guru. Dalam metode pembelajaran ini, siswa tidak melaksanakan percobaan, hanya melihat saja apa yang dilaksanakan oleh guru. Jadi demonstrasi yaitu cara mengajar di mana seorang pelatih/atau tim guru menawarkan, menunjukkan sesuatu proses misalnya merebus air hingga mendidih 100 C, sehingga seluruh siswa dalam kelas mampu melihat, mengamati, mendengar mungkin meraba-raba dan mencicipi proses yang dipertunjukkan oleh guru tersebut. Dengan demonstrasi, proses penerimaan siswa kepada pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa mampu memperhatikan dan memberikan pada apa yang diperlihatkan guru selama pelajaran berlangsung. Adapun penggunan teknik demonstrasi memiliki tujuan semoga siswa bisa mengerti tentang cara menertibkan atau menyusun sesuatu contohnya penggunaan kompor untuk mendidihkan air, cara menciptakan sesuatu contohnya menciptakan kertas, dengan demonstrasi siswa dapat mengamati bagian-bagian dari sesuatu benda ata alat mirip bagian badan manusia, atau bab dari mesin jahit. Juga siswa dapat menyaksikan kerjanya sesuatu alat atau mesin mirip penggunaan gunting dan jalannya mesin jahit. Bila siswa melaksanakan sendiri demonstasi tersebut, maka ia dapat mengetahui juga cara menggunakan sesuatu alat itu mirip menggunakan gunting untuk memangkas kain. Dengan demikian siswa akan memahami cara-cara penggunaan seautu alat atau perkakas, atau suatu mesin, sehingga mereka dapat menentukan dan memperbandingkan cara yang terbaik, juga mereka akan mengenali kebenaran dari sesuatu teori di dalam praktek. Misalnya cara mengolah masakan roti yang terbaik. Bila melaksanakan teknik demonstrasi agar mampu berjalan efektif, maka perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Guru harus mampu menyusun rumusan tujuan instruksional, semoga mampu memberi motivasi yang besar lengan berkuasa pada siswa untuk belajar. 2. Pertimbangkanlah baik-baik apakah opsi teknik anda bisa menjamin tercapainya tujuan yang telah anda rumuskan. 3. Amatilah apakah jumlah siswa memberi peluang untuk suatu demonstrasi yang berhasil. Bila tidak anda harus mengambil kebijaksaaan lain. 4. Apakah anda telah meneliti alat-alat, atau sudah mencoba apalagi dulu, semoga demonstasi itu berhasil. 5. Harus telah memilih garis besar langkah-langkah yang hendak dijalankan. 6. Apakah tersedia waktu yang cukup, sehingga anda dapat memberi keterangan jika perlu, dan siswa bisa bertanya. 7. Selama demonstrasi berjalan guru harus memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan dengan baik dan tertanya. 8. Anda perlu mengadakan evaluasi apakah demonstrasi yang anda lakukan itu berhasil, dan jikalau perlu demonstrasi bisa diulang. Penggunaan teknik demonstasi sungguh menunjang proses interaksi mengajar belajar di kelas. Keuntungan yang diperoleh yakni, dengan demonstrasi perhatian siswa lebih mampu terpusatkan pada pelajaran yang sedang diberikan, kesalahan-kesalahan yang terjadi jika pelajaran itu dijadwalkan dapat diatasi lewat pengamatan dan teladan kongkrit. Sehingga kesan yang diterima siswa lebih mendalam dan tinggal lebih usang pada jiwanya. Akibatnya berikutnya memberikan motivasi yang kuat untuk siswa biar lebih giat berguru. Makara dengan demonstasi itu siswa dapat partisipasi aktif, dan memperoleh pengalaman eksklusif, serta mampu membuatkan kecakapannya meskipun demikian kita masih menyaksikan juga kekurangan teknik ini ialah: Bila alatnya telalu kecil, atau penempatan yang kurang sempurna, menimbulkan demonstrasi itu tidak dapat dilihat dengan terang oleh seluruh siswa. Dalam hal ini dituntut pula guru mesti bisa menjelaskan proses belangsungnya demonstrasi, dengan bahasa dan suara yang dapat ditangkap oleh siswa. Juga jikalau waktu tidak tersedia dengan cukup, maka demonstrasi akan berlangsung terputus-putus, atau tidak dilakukan terburu-buru, sehingga kesannya memuaskan. Dalam demonstasi kalau siswa tidak diikutsertakan, maka proses demonstrasi akan kurang dipahami oleh siswa, sehingga kurang berhasil adanya demonstrasi itu. Maka adakala dalam pemakaian teknik mengajar itu anda perlu menyertai dengan teknik yang lain, atau menkombinasikan dengan lain, sehingga mampu menanggulangi teknik inti yang sedang dimanfaatkan itu. F. Motivasi Belajar 1. Pengertian Motivasi Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melaksanakan sesuatu, atau kondisi seserang atau organisme yang menjadikan kesiapan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laris atau tindakan. Sedangkan motivasi adalah sebuah proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laris untuk menyanggupi keperluan dan mencapai tujuan, atau kondisi dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman, 2000: 28). Sedangkan menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengganti energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas kasatmata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses berguru, motivasi sangat dibutuhkan alasannya seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melaksanakan acara mencar ilmu. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang termotivasi dalam mencar ilmu sesuatu akan memakai proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari bahan itu, sehingga siswa itu akan meyerap dan mengendapkan mateti itu dengan lebih baik. Kaprikornus motivasi yakni sebuah keadaan yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. 3. Macam-macam Motivasi Menurut jenisnya motivasi dibedakan menjadi dua, yakni: a. Motivasi Intrinsik Jenis motivasi ini muncul sebagai akhir dari dalam individu, apakah alasannya adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan yang demikian akibatnya dia mau melakukan sesuatu atau berguru (Usman, 2000: 29). Sedangkan berdasarkan Djamarah (2002: 115), motivasi instrinsik yakni motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, alasannya dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melaksanakan sesuatu. Menurut Winata (dalam Erriniati, 1994: 105) ada beberapa strategi dalam mengajar untuk membangun motivasi intrinsik. Strategi tersebut ialah sebagai berikut: 1) Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa. 2) Memberikan keleluasaan dalam memperluas materi pelajaran sebatas yang pokok. 3) Memberikan banyak waktu extra bagi siswa untuk mengerjakan peran dan mempergunakan sumber berguru di sekolah. 4) Sesekali menawarkan penghargaan pada siswa atas pekerjaannya. 5) Meminta siswa untuk menjelaskan hasil pekerjaannya. Dari uraian diatas mampu disimpulkan bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam individu yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Seseorang yang mempunyai motivasi intrinsik dalam dirinya maka secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak membutuhkan motivasi dari luar dirinya. b. Motivasi Ekstrinsik Jenis motivasi ini timbul selaku balasan pengaruh dari luar individu, apakah sebab adanya seruan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan yang demikian hasilnya beliau mau melakukan sesuatu atau mencar ilmu. Misalnya seseorang mau mencar ilmu alasannya ia disuruh oleh orang tuanya supaya menerima peringkat pertama dikelasnya (Usman, 2000: 29). Sedangkan menurut Djamarah (2002: 117), motivasi ekstrinsik yaitu kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik yaitu motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Beberapa cara menghidupkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi instrinsik antata lain: 1) Kompetisi (kompetisi): guru berupaya menciptakan kompetisi diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berupaya memperbaiki hasil prestasi yang telah diraih sebelumnya dan menanggulangi prestasi orang lain. 2) Pace Making (membuat tujuan sementara atu akrab): Pada awal aktivitas belajar mengajar guru, hendaknya apalagi dahulu memberikan kepada siswa TIK yang akan dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut. 3) Tujaun yang terperinci: Motif mendorong individu untuk meraih tujuan. Makin terperinci tujuan, kian besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan semakin besar pula motivasi dalam melakuakan sesuatu perbuatan. 4) Kesempurnaan untuk berhasil: Kesuksesan mampu menimbulkan rasa puas, kesenangan dan keyakinan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan menjinjing imbas yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya banyak memperlihatkan potensi terhadap anak untuk menjangkau berhasil dengan perjuangan mampu berdiri diatas kaki sendiri, tentu saja dengan tutorial guru. 5) Minat yang besar: Motif akan timbul kalau individu mempunyai minat yang besar. 6) Mengadakan penilaian atau tes. Pada biasanya semua siswa mau belajar dengan tujuan mendapatkan nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak mencar ilmu bila tidak ada ulangan. Akan namun, kalau guru menyampaikan bahwa lusa akan diadakan ulangan verbal, barulah siswa giat berguru dengan menghafal agar ia menerima nilai yang baik. Kaprikornus, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang berpengaruh bagi siswa. Dari uraian di atas diketahui bahwa motivsi ekstrinsik ialah motivasi yang muncul dari luar individu yang berfungsinya alasannya adanya perangsang dari laur, misalnya adanya kompetisi, untuk mencapai nilai yang tinggi, dan lain sebagainya. G. Gaya Belajar Kalangan pendidik sudah menyadari bahwa peserta ajar memiliki bermacam cara berguru. Sebagian siswa mampu belajar dengan sangat baik cuma dengan melihat orang lain melakukannya. Biasanya, mereka ini menyukai penghidangan informasi yang runtut. Mereka lebih senang menuliskan apa yang dibilang guru. Selama pelajaran, mereka biasanya membisu dan jarang terusik oleh kegaduhan. Perserta bimbing visual ini berbeda dengan peserta ajar auditori, yang umumnya tidak sungkan-sungkan untuk mengamati apa yang dilaksanakan oleh guru, dan menciptakan catatan. Mereka menggurulkan kemampuan untuk mendengar dan mengingat. Selama pelajaran, mereka mungkin banyak bicara dan mudah teralihkan perhatiannya oleh bunyi atau kegaduhan. Peserta didik kinestetik berguru utamanya dengan terlibat langsung dalam aktivitas. Mereka cenderung impulsive, semau gue, dan kurang sabaran. Selama pelajaran, mereka mungkin saja bingung kalau tidak mampu leluasa bergerak dan menjalankan sesuatu. Cara mereka belajar boleh jadi tampak asal pilih dan tida karuan. Tentu saja, hanya ada sedikit siswa yang mutlak memiliki satu jenis cara berguru. Grinder (1991) menyatakan bahwa dari setiap 30 siswa, 22 diantaranya rata-rata mampu mencar ilmu dengan efektif selama gurunya mengahadirkan kegaitan belajar yang berkombinasi antara visual, auditori dan kinestik. Namun, 8 siswa siswanya sedemikan menggemari salah satu bentuk pengajaran dibanding dua lainnya. Sehingga mereka mesti berusaha keras untuk mengerti pelajaran jikalau tidak ada ketelitian dalam menyuguhkan pelajaran sesuai dengan ara yang mereka senangi. Guna menyanggupi kebutuhan ini, pengajaran harus bersifat mulitsensori dan sarat dengan variasi. BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini ialah penelitian langkah-langkah (action research), alasannya adalah observasi dilakukan untuk memecahkan problem pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga tergolong observasi deskriptif, karena menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diharapkan mampu dicapai. Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti, 1997: 8) menggolongkan observasi tindakan menjadi empat macam adalah, (a) guru selaku penelitia; (b) observasi tindakan kolaboratif; (c) simultan terintegratif; (d) manajemen social eksperimental. Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, penanggung jawab sarat observasi ini ialah guru. Tujuan utama dari penelitian langkah-langkah ini ialah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari penyusunan rencana, langkah-langkah, pengamatan, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti tidak berafiliasi dengan siapapun, kehadiran peneliti selaku guru di kelas selaku pengajar tetap dan dijalankan mirip biasa, sehingga siswa tidak tahu bila diteliti. Dengan cara ini diperlukan ditemukan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang dibutuhkan. A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat penelitian ialah kawasan yang digunakan dalam melaksanakan penelitian untuk mendapatkan data yang diharapkan. Penelitian ini bertempat di ………………………………………………. Tahun Pelajaran 2003/2004. 2. Waktu Penelitian Waktu observasi yakni waktu berlangsungnya penelitian atau dikala observasi ini dilangsungkan. Penelitian ini dikerjakan pada bulan Oktober semester ganjil tahun pelajaran 2003/2004. 3. Subyek Penelitian Subyek penelitian ialah siswa-siswi Kelas ………………………………………. Tahun Pelajaran 2003/2004 pada pokok bahasan …………. B. Rancangan Penelitian Penelitian ini memakai Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK yakni sebuah bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku langkah-langkah yang dilaksanakan untuk mengembangkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan peran, memperdalam pemahaman terhadap langkah-langkah-langkah-langkah yang dikerjakan itu, serta memperbaiki keadaan dimana praktek pembelajaran tersebut dilaksanakan (dalam Mukhlis, 2000: 3). Sedangkah berdasarkan Mukhlis (2000: 5) PTK yakni sebuah bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Adapun tujuan utama dari PTK ialah untuk memperbaiki/meningkatkan pratek pembelajaran secara berkesinambungan, sedangkan tujuan penyertaannya yakni menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru (Mukhlis, 2000: 5). Sesuai dengan jenis penelitian yang diseleksi, ialah penelitian tindakan, maka penelitian ini memakai versi observasi tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), adalah berupa spiral dari sklus yang satu ke siklus yang selanjutnya. Setiap siklus meliputi planning (planning), action (langkah-langkah), observation (observasi), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya yaitu perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, observasi, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi problem. Siklus spiral dari tahap-tahap observasi langkah-langkah kelas mampu dilihat pada gambar berikut. Gambar 3.1 Alur PTK Penjelasan alur di atas yaitu: 1. Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan observasi peneliti menyusun rumusan duduk perkara, tujuan dan menciptakan rencana langkah-langkah, tergolong di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran. 2. Kegiatan dan pengamatan, mencakup langkah-langkah yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pengertian desain siswa serta memperhatikan hasil atau pengaruh dari diterapkannya tata cara pembelajaran versi demonstrasi . 3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau imbas dari langkah-langkah yang dilaksanakan menurut lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. 4. Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat desain yang direvisi untuk dikerjakan pada siklus berikutnya. Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang serupa (alur aktivitas yang serupa) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di final masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki metode pengajaran yang telah dijalankan. C. Instrumen Penelitian Instrumen yang dipakai dalam observasi ini terdiri dari: 1. Silabus Yaitu seperangkat planning dan pengaturan ihwal kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas, serta evaluasi hasil berguru. 2. Rencana Pelajaran (RP) Yaitu ialah perangkat pembelajaran yang dipakai selaku aliran guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil berguru, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan berguru mengajar. 3. Lembar Kegiatan Siswa Lembar aktivitas ini yang dipergunakan siswa untuk menolong proses pengumpulan data hasil eksperimen. 4. Tes formatif Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan diraih, dipakai untuk mengukur kesanggupan pengertian desain IPA pada pokok bahasan ………. Tes formatif ini diberikan setiap tamat putaran. Bentuk soal yang diberikan yaitu pilihan guru (objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46 soal yang sudah diujicoba, lalu penulis menyelenggarakan analisis butir soal tes yang sudah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal. Analisis ini digunakan untuk memilih soal yang baik dan memenuhi syarat dipakai untuk mengambil data. Langkah-langkah analisi butir soal yakni selaku berikut: a. Validitas Tes Validitas butir soal atau validitas item dipakai untuk mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga mampu ditentukan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tingkat kevalidan ini dapat dihitung dengan hubungan Product Moment: (Suharsimi Arikunto, 2001: 72) Dengan: rxy : Koefisien relasi product moment N : Jumlah akseptor tes ΣY : Jumlah skor total ΣX : Jumlah skor butir soal ΣX2 : Jumlah kuadrat skor butir soal ΣXY : Jumlah hasil kali skor butir soal b. Reliabilitas Reliabilitas butir soal dalam observasi ini menggunakan rumus belah dua selaku berikut: (Suharsimi Arikunto, 20001: 93) Dengan: r11 : Koefisien reliabilitas yang telah diadaptasi r1/21/2 : Korelasi antara skor-skor setiap serpihan tes Kriteria reliabilitas tes jikalau harga r11 dari perhitungan lebih besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliabel. c. Taraf Kesukaran Bilangan yang menunjukkan sukar dan gampangnya sebuah soal ialah indeks kesukaran. Rumus yang dipakai untuk memilih taraf kesukaran adalah: (Suharsimi Arikunto, 2001: 208) Dengan: P : Indeks kesukaran B : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar Js : Jumlah seluruh siswa peserta tes Kriteria untuk memilih indeks kesukaran soal adalah selaku berikut: - Soal dengan P = 0,000 hingga 0,300 yakni sulit - Soal dengan P = 0,301 sampai 0,700 yaitu sedang - Soal dengan P = 0,701 hingga 1,000 yaitu mudah d. Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda desebut indeks diskriminasi. Rumus yang digunakan untuk menjumlah indeks diskriminasi yakni sebagai berikut: (Suharsimi Arikunto, 2001: 211) Dimana: D : Indeks diskriminasi BA : Banyak penerima kalangan atas yang menjawab dengan benar BB : Banyak penerima golongan bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah penerima kalangan atas JB : Jumlah penerima kalangan bawah Proporsi penerima golongan atas yang menjawab benar. Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar Kriteria yang dipakai untuk memilih daya pembeda butir soal selaku berikut: - Soal dengan D = 0,000 hingga 0,200 ialah jelek - Soal dengan D = 0,201 sampai 0,400 yakni cukup - Soal dengan D = 0,401 hingga 0,700 ialah baik - Soal dengan D = 0,701 hingga 1,000 yaitu sangat baik D. Metode Pengumpulan Data Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan berguru dengan tata cara demonstrasi, observasi aktivitas siswa dan guru, dan tes formatif. E. Teknik Analisis Data Untuk mengenali keefektivan sebuah tata cara dalam aktivitas pembelajaran perlu diadakan evaluasi data. Pada observasi ini memakai teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu tata cara observasi yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengenali prestasi belajar yang diraih siswa juga untuk memperoleh tanggapansiswa terhadap aktivitas pembelajaran serta kegiatan siswa selama proses pembelajaran. Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa sehabis proses mencar ilmu mengajar setiap putarannya dijalankan dengan cara menunjukkan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap selesai putaran. Analisis ini dihitung dengan memakai statistic sederhana adalah: 1. Untuk menganggap ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan: Dengan : = Nilai rata-rata Σ X = Jumlah semua nilai siswa Σ N = Jumlah siswa 2. Untuk ketuntasan mencar ilmu Ada dua kategori ketuntasan mencar ilmu yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan berguru mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa sudah tuntas belajar jikalau sudah meraih skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas berguru jikalau di kelas tersebut terdapat 85% yang sudah meraih daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menjumlah persentase ketuntasan belajar dipakai rumus selaku berikut: BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal, data pengamatan berupa pengamatan pengelolaan berguru dengan tata cara demonstrasi dan observasi acara siswa dan guru pada tamat pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap siklus. Data hasil uji coba item butir soal digunakan untuk menerima tes yang sungguh-sungguhmewakili apa yang diinginkan. Data ini berikutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. Data tes formatif untuk mengenali kenaikan prestasi berguru siswa setelah diterapkan berguru dengan sistem demonstrasi. A. Analisis Item Butir Soal Sebelum melakukan pengambilan data melalui instrumen penelitian berbentuktes dan menerima tes yang baik, maka data tes tersebut diuji dan dianalisis. Uji coba dilaksanakan pada siswa di luar sasaran penelitian. Analisis tes yang dilaksanakan meliputi: 1. Validitas Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengenali kelayakan tes sehingga mampu digunakan sebagai instrument dalam observasi ini. Dari perkiraan 46 soal diperoleh 16 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Valid Soal Tidak Valid 2, 3, 4, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 36, 37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45 1, 5, 6, 8, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 32, 33, 34, 35, 40, 46 2. Reliabilitas Soal-soal yang sudah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 596. Harga ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 21) dengan r (95%) = 0,433. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan sudah memenuhi syarat reliabilitas. 3. Taraf Kesukaran (P) Taraf kesukaran dipakai untuk mengenali tingkat kesukaran soal. Hasil analisis menunjukkan dari 46 soal yang diuji terdapat: - 21 soal mudah - 15 soal sedang - 10 soal sulit 4. Daya Pembeda Analisis daya pembeda dijalankan untuk mengenali kesanggupan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkriteria jelek sebanyak 16 soal, berkriteria cukup 22 soal, berkriteria baik 8 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah menyanggupi syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. B. Analisis Data Penelitian Persiklus 1. Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti merencanakan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan berguru mengajar untuk siklus I dikerjakan pada tanggal 2 Oktober 2003 di Kelas ……… dengan jumlah siswa 21 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses mencar ilmu mengajar mengacu pada planning pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan serentak dengan pelaksaaan mencar ilmu mengajar. Pada selesai proses berguru mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengenali tingkat keberhasilan siswa dalam proses berguru mengajar yang sudah dijalankan. Adapun data hasil observasi pada siklus I yaitu selaku berikut: Table 4.2. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus I No. Urut Skor Keterangan No. Urut Skor Keterangan T TT T TT 1 80 √ 12 30 √ 2 50 √ 13 70 √ 3 80 √ 14 80 √ 4 60 √ 15 70 √ 5 40 √ 16 70 √ 6 80 √ 17 70 √ 7 70 √ 18 80 √ 8 60 √ 19 60 √ 9 70 √ 20 80 √ 10 80 √ 21 100 √ 11 60 √ Jumlah 710 8 2 Jumlah 730 6 5 Jumlah Skor 1440 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2100 Rata-Rata Skor Tercapai 68,57 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 14 Jumlah siswa yang belum tuntas : 7 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Pada Siklus I No Uraian Hasil Siklus I 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan mencar ilmu 68,57 14 66,67 Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan tata cara demonstrasi diperoleh nilai rata-rata prestasi berguru siswa adalah 68,57 dan ketuntasan mencar ilmu meraih 66,67% atau ada 14 siswa dari 21 siswa telah tuntas belajar. Hasil tersebut memberikan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas mencar ilmu, alasannya adalah siswa yang memperoleh nilai ≥ 65 cuma sebesar 66,67% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki adalah sebesar 85%. Hal ini disebabkan sebab siswa masih merasa gres dan belum memahami apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan metode demonstrasi. 2. Siklus II a. Tahap perencanaan Pada tahap inipeneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, Lomba Kompetensi Siswa, 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap aktivitas dan pelaksanaan Pelaksanaan acara mencar ilmu mengajar untuk siklus II dikerjakan pada tanggal 9 Oktober 2003 di Kelas ……… dengan jumlah siswa 21 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak selaku guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada planning pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (pengamatan) dijalankan bersama-sama dengan pelaksanaan berguru mengajar. Pada final proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kesuksesan siswa dalam proses berguru mengajar yang sudah dijalankan. Instrumen yang dipakai yaitu tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II yaitu sebagai berikut. Table 4.4. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus II No. Urut Skor Keterangan No. Urut Skor Keterangan T TT T TT 1 80 √ 12 70 √ 2 70 √ 13 60 √ 3 90 √ 14 90 √ 4 60 √ 15 90 √ 5 50 √ 16 80 √ 6 60 √ 17 80 √ 7 70 √ 18 80 √ 8 80 √ 19 60 √ 9 80 √ 20 80 √ 10 70 √ 21 70 √ 11 80 √ Jumlah 760 8 2 Jumlah 790 8 3 Jumlah Skor 1550 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2100 Rata-Rata Skor Tercapai 73,80 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 16 Jumlah siswa yang belum tuntas : 5 Klasikal : Belum tuntas Tabel 4.5. Rekapitulasi Hasil Tes Pada Siklus II No Uraian Hasil Siklus II 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas berguru Persentase ketuntasan berguru 73,81 16 76,19 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi mencar ilmu siswa ialah 73,81 dan ketuntasan mencar ilmu meraih 76,19% atau ada 16 siswa dari 21 siswa sudah tuntas mencar ilmu. Hasil ini memperlihatkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan mencar ilmu secara klasikal telah mengalami kenaikan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya kenaikan hasil berguru siswa ini alasannya adalah sesudah guru memberitahukan bahwa setiap simpulan pelajaran akan senantiasa diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan dinginkan guru dengan menerapkan tata cara demonstrasi. 3. Siklus III a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti merencanakan perangkat pembelajaran yang terdiri dari planning pelajaran 3, LKS 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap kegiatan dan observasi Pelaksanaan aktivitas belajar mengajar untuk siklus III dijalankan pada tanggal 16 Oktober 2003 di Kelas …….. dengan jumlah siswa 21 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses mencar ilmu mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan mengamati revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (pengamatan) dijalankan berbarengan dengan pelaksanaan berguru mengajar. Pada simpulan proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengenali tingkat kesuksesan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang dipakai adalah tes formatif III. Adapun data hasil observasi pada siklus III ialah sebagai berikut. Table 4.6. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus III No. Urut Skor Keterangan No. Urut Skor Keterangan T TT T TT 1 80 √ 12 70 √ 2 90 √ 13 80 √ 3 90 √ 14 100 √ 4 60 √ 15 90 √ 5 90 √ 16 90 √ 6 90 √ 17 80 √ 7 90 √ 18 90 √ 8 80 √ 19 80 √ 9 60 √ 20 100 √ 10 80 √ 21 80 √ 11 80 √ Jumlah 860 10 - Jumlah 890 9 2 Jumlah Skor 1750 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2100 Rata-Rata Skor Tercapai 83,33 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 19 Jumlah siswa yang belum tuntas : 2 Klasikal : Tuntas Tabel 4.7. Rekapitulasi Hasil Tes Pada Siklus III No Uraian Hasil Siklus III 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas berguru Persentase ketuntasan berguru 83,33 19 90,48 Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 83,33 dan dari 21 siswa yang telah tuntas sebanyak 19 siswa dan 2 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang sudah tercapai sebesar 90,48% (tergolong kategori tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami kenaikan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaeruhi oleh adanya kenaikan kemampuan guru dalam menerapkan mencar ilmu dengan metode demonstrasi sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran mirip ini sehingga siswa lebih mudah dalam mengetahui materi yang sudah diberikan. c. Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang sudah terealisasi dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses mencar ilmu mengajar dengan Penerapan tata cara demonstrasi. Dari data-data yang sudah diperoleh mampu diuraikan sebagai berikut: 1) Selama proses berguru mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa faktor yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. 2) Berdasarkan data hasil observasi dikenali bahwa siswa aktif selama proses berguru berjalan. 3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan kenaikan sehingga menjadi lebih baik. 4) Hasil berguru siswsa pada siklus III meraih ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan belajar dengan sistem demonstrasi dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil berguru siswa pelaksanaan proses mencar ilmu mengajar telah berlangsung dengan baik. Maka tidak dibutuhkan revisi terlampau banyak, namun yang perlu diamati untuk tindakah selanjutnya adalah mengoptimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan sistem demonstrasi dapat mengembangkan proses mencar ilmu mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. C. Pembahasan 1. Ketuntasan Hasil berguru Siswa Melalui hasil peneilitian ini menawarkan bahwa tata cara demonstrasi memiliki dampak positif dalam mengembangkan prestasi belajar siswa. Hal ini mampu dilihat dari semakin mantapnya pengertian siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan berguru berkembangdari sklus I, II, dan III) adalah masing-masing 66,67%, 76,19%, dan 90,48%. Pada siklus III ketuntasan mencar ilmu siswa secara klasikal sudah tercapai. 2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dalam setiap siklus mengalami kenaikan. Hal ini berpengaruh konkret kepada prestasi berguru siswa ialah mampu ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. 3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran IPA pada pokok bahasan ………….. dengan tata cara demonstrasi yang paling secara umum dikuasai yakni menyimak / memperhatikan klarifikasi guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Makara mampu dibilang bahwa aktivitas isiwa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk kegiatan guru selama pembelajaran sudah melakukan langkah-langkah mencar ilmu dengan sistem demonstrasi dengan baik. Hal ini terlihat dari acara guru yang timbul di antaranya kegiatan membimbing dan mengamati siswa dalam melakukan acara Lomba Kompetensi Siswa/memperoleh konsep, menerangkan, memberi umpan balik/penilaian/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dikerjakan selama tiga siklus, dan menurut seluruh pembahasan serta analisis yang telah dijalankan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Pembelajaran dengan tata cara demonstrasi memiliki imbas positif dalam mengembangkan prestasi mencar ilmu siswa yang ditandai dengan kenaikan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yakni siklus I (66,67%), siklus II (76,19%), siklus III (90,48%). 2. Penerapan metode demonstrasi memiliki imbas nyata, yakni mampu memajukan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan rata-rata jawaban siswa hasil wawancara yang menyatakan bahwa siswa kepincut dan kepincutdengn metode demonstrasi sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar. B. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses mencar ilmu mengajar IPA lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, makan disampaikan rekomendasi selaku berikut: 1. Untuk melakukan berguru dengan metode demonstrasi membutuhkan antisipasi yang cukup matang, sehingga guru mesti mempu memilih atau memilih topik yang betul-betul bisa diterapkan dengan tata cara demonstrasi dalam proses berguru mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka mengembangkan prestasi berguru siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan aneka macam sistem, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, menemukan konsep dan kemampuan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-duduk perkara yang dihadapinya. 3. Perlu adanya observasi yang lebih lanjut, karena hasil observasi ini cuma dijalankan di …………………………………. Tahun Pelajaran 2003/2004. 4. Untuk observasi yang serupa hendaknya dilaksanakan perbaikan-perbaikan semoga diperoleh hasil yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon. Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta. Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta Combs. Arthur. W. 1984. The Profesional Education of Teachers. Allin and Bacon, Inc. Boston. Dahar, R.W. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar, Jakarta. Balai Pustaka. Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta. Hadi, Sutrisno. 1981. Metodogi Research. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Yoyakarta. Hadi, Sutrisno. 1982. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi UGM. Hamalik, Oemar. 1994. Metode Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti. Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP Malang. Kemmis, S. dan Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Victoria Dearcin University Press. Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineksa Cipta. Mursell, James ( - ). Succesfull Teaching (terjemahan). Bandung: Jemmars. Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Purwanto, N. 1988. Prinsip-prinsip dan Teknis Evaluasi Pengajaran. Bandung. Remaja Rosda Karya. Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Saliwangi, B. 1988. Pengantar Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang. Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka. Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Wetherington. H.C. and W.H. Walt. Burton. 1986. Teknik-teknik Belajar dan Mengajar. (terjemahan) Bandung: Jemmars. Dapatkan file secara lengkap berupa pengaturan, gambar, tabel dan lain-lain dalam format microsoft word (.doc) pada link dibawah ini !! Dowwload PTK Format Microsoft Word (.doc) Penerapan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Sumber https://somadrug1.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)