Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Desember 2020

Makalah Peranan Pendidikan Dalam Pengembangan Penduduk

Makalah Peranan Pendidikan Dalam Pengembangan
Masyarakat dalam Konsep CSR

BAB I
PENDAHULUAN
Makalah Peranan Pendidikan Dalam Pengembangan Masyarakat

Angin segar yang tengah berhembus bagi peningkatan kualitas kehidupan penduduk Indonesia, ditandai dengan keseriusan pemerintah memutuskan 20 persen dari APBN untuk dana pendidikan pada tahun 2009. Meskipun demikian, untuk mengejar ketertinggalan dunia pendidikan, perlu dilaksanakan program terobosan, mendukung peningkatan tugas pendidikan dalam pengembangan masyarakat dengan melibatkan secara pribadi pihak swasta sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial.

Salahsatu acara kasatmata gerakan kepedulian pihak swasta (perusahaan) kepada masyarakat adalah Corporate Social Responsibility (CSR). Kepedulian sejumlah perusahaan untuk meningkatkan dunia pendidikan melalui acara CSR sungguh memiliki arti bagi dunia pendidikan. CSR kian menguat terutama sehabis dinyatakan dengan tegas dalam UU PT No.40 Tahun 2007 yang belum lama ini disahkan dewan perwakilan rakyat. Disebutkan bahwa PT yang melaksanakan usaha di bidang dan/atau bersangkutan dengan sumber daya alam wajib melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan (Pasal 74 ayat 1). Elkington (1998) menyatakan bahwa perusahaan yang baik tidak cuma memburu laba ekonomi (profit) melainkan pula mempunyai kepedulian kepada kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan masyarakat (people). Oleh sebab itu, implementasi CSR dalam membantu memecahkan dilema pendidikan perlu dilakukan untuk mendukung peran pendidikan dalam pengembangan masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Peranan Pendidikan Dalam Pengembangan Masyarakat

A. Peranan Pendidikan Dalam Pengembangan Masyarakat
Pembangunan ialah proses yang berkelanjutan yang mencakup seluruh faktor kehidupan penduduk , tergolong aspek sosial, ekonomi, politik dan kultural, dengan tujuan utama memajukan kesejahteraan warga bangsa secara keseluruhan. Dalam proses pembangunan, peranan pendidikan amatlah strategis. John C. Bock dalam Philip et al. (1982) mengidentifikasi peran pendidikan yakni untuk: a) Memasyarakatkan ideologi dan nilai-nilai sosio-kultural bangsa; b) Mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, dan mendorong pergantian sosial dan c) Meratakan peluang dan pendapatan. Peran yang pertama merupakan fungsi politik pendidikan dan dua peran yang yang lain ialah fungsi ekonomi.

Berkaitan dengan peranan pendidikan dalam pembangunan nasional muncul dua paradigma yang menjadi kiblat bagi pengambil kebijakan dalam pengembangan kebijakan pendidikan: paradigma fungsional dan paradigma sosialis. Paradigma fungsional melihat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan dikarenakan penduduk tidak memiliki wawasan, kesanggupan dan perilaku terbaru dalam jumlah yang cukup. Menurut pengalaman penduduk di Barat, lembaga pendidikan formal tata cara persekolahan ialah forum utama menyebarkan pengetahuan, melatih kemampuan dan keterampilan, dan menanamkan sikap modern para individu yang diharapkan dalam proses pembangunan. Bukti-bukti memberikan adanya kaitan yang dekat antara pendidikan formal seseorang dan partisipasinya dalam pembangunan. Perkembangan lebih lanjut timbul, tesis human investmen, yang menyatakan bahwa investasi dalam diri manusia lebih menguntungkan, memiliki economic rate of return yang lebih tinggi ketimbang investasi dalam bidang fisik (Zamroni 2009).

Paradigma sosialis melihat peranan pendidikan dalam pembangunan ialah: a) Mengembangkan kompetensi individu; b) Kompetensi yang lebih tinggi diperlukan untuk mengembangkan produktivitas; dan c) Secara lazim, mengembangkan kemampuan warga penduduk sehingga memajukan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Oleh sebab itu, berdasarkan paradigma sosialis ini, pendidikan harus diperluas secara besar-besaran dan menyeluruh, kalau sebuah bangsa menginginkan kemajuan.

Paradigma fungsional dan paradigma sosialis sudah melahirkan efek besar dalam dunia pendidikan paling tidak dalam dua hal. Pertama, telah melahirkan paradigma pendidikan yang bersifat analis-mekanistis dengan mendasarkan pada dogma reduksionisme dan mekanistik. Reduksionisme menyaksikan pendidikan selaku barang yang dapat dipecah-pecah dan dipisah-pisah satu dengan yang lain. Mekanistik melihat bahwa belahan-belahan atau bagian-bagian tersebut memiliki keterkaitan linier fungsional, satu bagian menentukan bab yang lain secara eksklusif. Akibatnya, pendidikan sudah direduksi sedemikian rupa ke dalam bagian-belahan kecil yang satu dengan lainnya menjadi terpisah tiada korelasi, mirip, kurikulum, kredit SKS, pokok bahasan, program pengayaan, seragam, pekerjaan rumah dan latihan-latihan. Suatu sistem evaluasi telah dikembangkan untuk menyesuaikan dengan penggalan-bagian tersebut: nilai, indeks prestasi, ranking, rata-rata nilai, kepatuhan dan ijazah.

Kedua, para pengambil kebijakan pemerintah menjadikan pendidikan selaku engine of growth, pencetus dan loko pembangunan. Sebagai pelopor pembangunan, pendidikan mesti mampu menghasilkan invention dan innovation, yang ialah inti kekuatan pembangunan. Pendidikan mesti diorganisir secara terpusat dalam sebuah lembaga pendidikan formal, bersifat terpisah dan berada di atas dunia lainnya, terutama dunia ekonomi sehingga gampang diarahkan untuk kepentingan pembangunan nasional. Lewat jalur tunggal ini lembaga pendidikan diharapkan mampu menciptakan berbagai tenaga kerja yang diharapkan oleh dunia kerja. Agar efisien dan efektif, proses pendidikan mesti disusun dalam struktur yang rigid, manajemen bersifat sentralistis, kurikulum penuh dengan wawasan dan teori (text bookish).

Namun demikian, pengalaman selama ini memberikan bahwa pendidikan nasional sistem persekolahan tidak dapat berperan selaku pencetus dan loko pembangunan, bahkan Gass dalam Zamroni (2009) melalui tulisannya berjudul Education versus Qualifications menyatakan pendidikan sudah menjadi penghambat pembangunan ekonomi dan teknologi, dengan munculnya banyak sekali kesenjangan: kultural, sosial dan terutama kesenjangan vokasional dalam bentuk melimpahnya pengangguran terdidik.

Berbagai problem pendidikan yang muncul tersebut di atas bersumber pada kelemahan pendidikan nasional sistem persekolahan yang sungguh fundamental, sehingga tidak mungkin disempurnakan hanya lewat pembaharuan yang bersifat tambal sulam (Erratic). Pembaharuan pendidikan nasional metode persekolahan yang fundamental dan menyeluruh harus dimulai dari mencari penjelasan gres atas paradigma tugas pendidikan dalam pembangunan. Pembaharuan pendidikan nasional persekolahan mesti didasarkan atas paradigma peranan pendidikan dalam pembangunan nasional yang sempurna, sesuai dengan realitas penduduk dan kultur bangsa sendiri. Oleh sebab itu, akil balig cukup akal ini sudah timbul paradigma baru peranan pendidikan dalam pengembangan masyarakat, yakni: Pendidikan Sistemik-Organik.

B. Paradigma Peranan Pendidikan Dalam Pengembangan Masyarakat
Paradigma peranan pendidikan dalam pembangunan tidak bersifat linier dan unidimensional, tetapi peranan pendidikan dalam pembangunan sangat kompleks dan bersifat interaksional dengan kekuatan-kekuatan pembangunan yang lain. Dalam konstelasi semacam ini, pendidikan tidak dapat lagi disebut sebagai engine of growth, karena kesanggupan dan keberhasilan forum pendidikan formal sangat terkait dan banyak ditentukan oleh kekuatan-kekuatan lainnya, khususnya kekuatan ekonomi lazimnya dan dunia kerja pada utamanya. Hal ini membawa konsekuensi bahwa forum pendidikan sendiri tidak mampu meramalkan jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan oleh dunia kerja, karena kebutuhan tenaga kerja baik jumlah dan kualifikasi yang diperlukan berubah dengan segera sejalan kecepatan pergantian ekonomi dan masyarakat.

Paradigma tugas pendidikan dalam pembangunan yang bersifat kompleks dan interaktif, melahirkan paradigma pendidikan Sistemik-Organik dengan mendasarkan pada iktikad ekspansionisme dan teleologi. Ekspansionisme merupakan akidah yang menekankan bahwa segala obyek, insiden dan pengalaman ialah bab-bab yang tidak terpisahkan dari sebuah keseluruhan yang utuh. Suatu bab cuma akan mempunyai makna kalau dilihat dan dikaitkan dengan keutuhan totalitas, alasannya keutuhan bukan sekedar kumpulan dari bab-bagian. Keutuhan satu dengan yang lain berinteraksi dalam tata cara terbuka, alasannya adalah tanggapan suatu masalah muncul dalam suatu peluang berikutnya.

Paradigma pendidikan Sistemik-Organik menekankan bahwa proses pendidikan formal sistem persekolahan harus memiliki ciri-ciri selaku berikut: 1) Pendidikan lebih menekankan pada proses pembelajaran (learning) dari pada mengajar (teaching), 2) Pendidikan diorganisir dalam sebuah struktur yang fleksibel; 3) Pendidikan memperlakukan akseptor didik selaku individu yang memiliki karakteristik khusus dan mandiri dan 4) Pendidikan merupakan proses yang berkelanjutan dan selalu berinteraksi dengan lingkungan.

Paradigma pendidikan Sistemik-Organik menuntut pendidikan bersifat double tracks. Artinya, pendidikan sebagai sebuah proses tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dan dinamika masyarakatnya. Dunia pendidikan senantiasa mengkaitkan proses pendidikan dengan masyarakatnya pada umumnya, dan dunia kerja pada utamanya. Keterkaitan ini memiliki arti bahwa prestasi akseptor latih tidak cuma diputuskan oleh apa yang mereka kerjakan di lingkungan sekolah, melainkan prestasi perserta latih juga diputuskan oleh apa yang mereka kerjakan di dunia kerja dan di masyarakat kebanyakan. Dengan kata lain, pendidikan yang bersifat double tracks menekankan bahwa untuk berbagi pengetahuan biasa dan spesifik mesti lewat kombinasi yang strukturnya terpadu antara daerah kerja, pembinaan dan pendidikan formal sistem persekolahan. Dengan double tracks ini tata cara pendidikan akan bisa menciptakan lulusan yang memiliki kemampuan dan fleksibilitas yang tinggi untuk menyesuaikan dengan tuntutan pembangunan yang senantiasa berganti dengan cepat.

BAB III
PENUTUP
Makalah Peranan Pendidikan Dalam Pengembangan Masyarakat

Meskipun kedudukan pendidikan cukup strategis dalam pengembangan penduduk , tetapi bangsa kita belum cukup optimis mengandalkan posisi tersebut alasannya pada kenyatannya kondisi dan hasil pendidikan di Indonesia belum mencukupi untuk berkompetisi dengan bangsa lain. Untuk mengejar ketertinggalan dunia pendidikan, perlu melibatkan secara langsung pihak swasta sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial. Salah satu acara kasatmata gerakan kepedulian pihak swasta (perusahaan) kepada masyarakat yakni CSR bagi dunia pendidikan. Pendidikan nasional sistem persekolahan ketika ini ternyata tidak mampu berperan sebagai pelopor dan loko pembangunan bahkan justru telah menjadi penghambat pembangunan ekonomi dan teknologi, dengan hadirnya aneka macam kesenjangan: kultural, sosial dan khususnya kesenjangan vokasional dalam bentuk melimpahnya pengangguran terdidik. Paradigma peranan pendidikan dalam pembangunan tidak bersifat linier dan unidimensional, namun peranan pendidikan dalam pembangunan sungguh kompleks dan bersifat interaksional dengan kekuatan-kekuatan pembangunan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA
  • Elkington J. 1998. Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business, Gabriola Island, BC: New Society Publishers.
  • Irianta Y. 2004. Community Relations. Konsep dan Aplikasinya. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
  • John CB. 1982. Education and Development: A Conflict Meaning in Philip G. Altbach, Robert F. Arnove, Gail P. Kelly, eds. Comparative Education. New York: Mac Millan.
  • Suara Karya Online. 2009. Dinamika Pertamina Program Goes to Campus. IPB
  • Suharto E. 2007. Pekerjaan Sosial di Dunia Industri: Memperkuat Tanggungjawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility). Bandung: Refika Aditama.

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Sabtu, 28 November 2020

Makalah Hipothesis

BAB I
PENDAHULUAN
Makalah Hipothesis
Oleh: Tarmidzi

Penelitian hipothesis mampu dirumuskan sebagai penerapan pendekatan ilmiah pada pengkajian suatu persoalan. Tujuannya untuk menemukan tanggapan kepada persoalan yang memiliki arti lewat prosedur-mekanisme yang ilmiah. Untuk mampu melakukan observasi yang baik, penelitian perlu memiliki pengetahuan wacana berbagai macam bagian observasi. Diantara bagian-unsur yang menjadi dasar penelitian ialah hipothesis.

Tanpa hipothesis, maka proses observasi bisa tidak terarah. Dengan kata lain hipothesis ialah pedoman yang akan menawarkan arah bagi peneliti. Disamping itu hipothesis juga menawarkan kerangka untuk menafsirkan hasil-hasil penelitan dan untuk menyatakan kesimpulan-kesimpulannya. Dengan demikian, hipothesis sungguh besar kegunaanya dalam penelitian ilmiah. Hipothesis memungkinkan kita menghubungkan teori dengan pengamat dan seharusnya pengamat dengan teori.

Makalah singkat ini ditulis untuk mengenali apa bergotong-royong hipothesis itu, pentingnya hipothesis, jenis-jenis hipothesis dan pengujian hipothesis. Kami percaya makalah ini sangat jauh dari tepat, karena itu kritik dan nasehat sangat dibutuhkan untuk menyempurnakan makalah ini di era yang mau tiba.

BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Hipothesis

A. Pengertian hipothesis
Hipothesis dalam observasi penting artinya, alasannya adalah dengan adanya hipothesis, ini dapat dijadikan selaku landasan penelitian lapangan. Dalam obrolan sehari-hari, hipothesis sering disebut selaku “praduga sementara” atau persepsi yang belum sempurna. Pengertian tidak sempurna disini memberikan pada belum terbuktinya hipothesis tersebut secara empiris atau substansi kebenarannya, yang dikandungnya belum terbukti secara faktual. Dari kenyataan dapat difahami, hipothesis adalah suatu usulan yang mungkin benar dan mungkin salah, alasannya itu perlu diuji secara empiris, semoga diketahui benar atau salahnya.

Manusia memperhatikan dunia sekitarnya dan melihat terjadinya peristiwa-peritiwa mirip matahari terbit dan terbenamnya, manusia lahir, hidup dan meninggalnya, benda jatuh, hujan turun, orang tua mengasuh anakanya, ada orang kaya dan miskin, penyakit menyerang insan, dan sebagainya. Ia dapat menjadikan insiden atau tanda-tanda itu selaku masalah, dan beliau mengajukan pertanyaan “apa karena matahari terbit? Apa alasannya insan sakit? Apa alasannya adalah ada yang kaya dan yang miskin? Dan sebagainya”. Ia menjajal membentuk teori yang mampu menerangkan insiden dan gejala-tanda-tanda itu. Bagaimanakah diketahuinya kebenaran teori itu? Dari teori itu mampu diturunkannya sejumlah hipothesis. Dengan pertanda kebenaran atau ketidak benarannya. Hipothesis itu secara empiris, dapat pula diterima atau ditolaknya.
Roger D. Wimmer, dan mitra-kawannya menyampaikan:
“mass media research are use a variety of approaches to answer question. Some research is informal and seeks solve relatively simple problems: some is based on theory and requires formally worded question. All researches, how ever, must start with some tentative generalization regarding a relationship between two or more variables. Theese generalization may take two forms: research question and statical hyipotheses. The two are indentical except for the aspect of prediction-hypotheses (hipothesis) predict an experimental outcome, research question not.[1]
Kita lihat adanya orang miskin, apa sebabnya? Pada diri kita muncul sebuah prasangka, misalnya bahwa kemiskinan disebabkan oleh “kurangnya motivasi untuk mengumpulkan harta” pernyataan kita itu bersifat tentativ atau sementara alasannya adalah belum dibuktikan kebenarannya. Pernyataan itu disebut hipothesis. Tiap pernyataan ihwal sebuah hal yang bersifat sementara yang belum dibuktikan kebenarannya secara empiris disebut hipothesis. Suatu hipothesis jika terbukti benar, menjadi fakta.[2] Banyaknya hipothesis yang mampu kita rumuskan ihwal segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, misalnya:
  • Memanjakan anak, menghemat kesanggupan untuk bangun sendiri.
  • Kenakalan anak lebih banyak didapat di golongan orang miskin dibandingkan dengan orang kaya.
  • Pendidikan memajukan kemakmuran negara.
  • Urbanisasi meminimalkan ketaatan orang kepada etika istiadat.
  • Kenaikan gaji tidak mempengaruhi kegairahan kerja.
  • Sekolah khusus untuk anak berbakat memupuk golongan elit yang tidak sosial, dan sebagainya.
Hipothesis yaitu pernyataan tentativ yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita perhatikan dalam perjuangan untuk memahaminya. hipothesis mampu diturunkan dari teori, akan namun adakalanya sukar diadakan perbedaan yang tegas antara teori dan hipothesis. Ada yang menganggap bahwa dalam kenyataan teori ialah “unelaborate hypothesis”. Dalam taraf permulaanya teori-teori ini sering ialah hipothesis yang perlu dibuktikan kebenarannya.[3]

Namun ada baiknya untuk membedakan teori dan hipothesis. Teori bermaksud untuk mengontrol fakta dan memberikannya makna. Teori ialah alat yang tersusun rapi untuk menerangkan dan meramalkan kejadian-peristiwa. Para sarjana mengembangkan sebuah teori untuk menjelaskan insiden dan tanda-tanda. Trealease memperlihatkan defenisi hipothesis sebagai “sebuah informasi sementara dari sebuah fakta yang mampu diperhatikan”. Sedangkan Goog dan Scates menyatakan bahwa “hipothesis adalah sebuah taksiran atau acuan yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang mampu menunjukan fakta-fakta yang dapat diamati ataupun kondisi yang diperhatikan dan dipakai beberbagai petunjuk untuk penelitian selanjutnya”.[4] Hipothesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hubungan antara dua atau lebih variable.[5]

B. Jenis-Jenis hipothesis
Menurut Prof. S. Nasution hipothesis mampu dibedakan menurut tingkat abstraksinya, dan berdasarkan bentuknya, sebagai berikut:[6]

1. Hipotesis yang menyatakan adanya kesamaan-kesamaan dalam dunia empiris
Banyak diantara pertanyaan yang bersifat umum itu telah dimengerti dan diakui kebenarannya oleh “orang banyak”. Misalnya “orang Minangkabau banyak merantau, sedangkan orang Jawa sangat terikat terhadap kampung halamannya”, atau “kewiraswastaan lebih berkembang pada orang Sumatera dari pada di golongan orang Jawa”, atau “alasannya adalah jiwa kegotong royongan masih berpengaruh di desa, maka koperasi lebih berkembang di desa daripada di kota”, dan sebagainya.

Namun apa yang diketahui oleh orang banyak belum pasti benar. Harus dibandingkan proporsi orang Minangkabau yang merantau dengan suku-suku lainnya, supaya dapat kita cap orang Minangkabau sebagai perantau. Pengetahuan orang banyak ternayta tidak selalu benar “orang banyak”. Dahulu menyatakan bahwa matahari mengitari bumi, yang ternyata tidak benar berdasarkan penelitian.

Ada diantara promotor thesis yang merasa keberatan kepada hipothesis yang meneliti kebenaran hal-hal yang sudah dikenali siapa saja. Penelitian serupa ini cuma mengumpulkan fakta-fakta dan tidak mentest hipothesis. Namun mengumpulkan fakta-fakta dengan memakai rancangan-rancangan yang dirumuskan dengan cermat, juga merupakan tugas penting dari suatau cabang ilmu pengetahuan, terutama yang masih berada pada taraf permulaan kemajuan seperti halnya ilmu-ilmu sosial.

2. Hipothesis yang berkenaan dengan versi ideal
Dunia realita ini sungguh komplek dan untuk mempelajarinya methode atau tipe wangsit-ide ialah alat yang sangat membantu contohnya tipe intropert dan exstropert sungguh membantu mengetahui manusia dalam hubungannya dengan dunia luar. Demikian pula perilaku diktatorial, demokratis, dan lisence-faire sangat berkhasiat untuk menggambarkan mislanya relasi pendidikan dengan anaknya.

3. hipothesis yang mencari kekerabatan antara sejumlah variable
Hipothesis ini lebih abstrak ketimbang dua jenis sebelumnya. Dissini mesti dianalisis variable-variable yang dianggap turut mensugesti tanda-tanda tertentu dan kemudian diselidiki sampai manakah pergantian dalam variable yang satu membawa pergantian pada variable yang lainnya. Menurut bentuknya mampu kita bendakan hipothesis yang selanjutnya:

a. Hipothesis kerja
Biasanya seorang peneliti menentukan hipothesis yang dianggapnya benar, sedangkan kebenaran hipothesis itu masih mesti dibuktikan. Sementara itu beliau harus bekerja dengan hipothesis itu, dan alasannya adalah itu disebut hipothesis kerja atau hipothesis observasi. Ada kemungkinan hipothesis kerja itu mengalami perubahan sepanjang jalannya penelitian itu.

b. Hipothesis nol
Seorang ilmuan menyangsikan kebenaran setiap pertanyaan sebelum terbukti benar secara empiris. Salah satu cara untuk mencurigai yaitu menganggap bahwa hipothesis itu tidak benar sama sekali, jadi berisi kosong. Oleh alasannya adalah itu disebut hipothesis nol. Kaprikornus jikalau hipothesis itu berbunyi, “orang Minangkabau perantau” maka dengan hipothesis nol dikatakan bahwa “orang Minangkabau bukan perantau”. Bila tidak terbutkti bahwa “orang Minangkabau bukan perantau” maka hipothesis “orang Minagkabau perantau” itu benar.

Hipothesis nol digunakan antara lain alasannya adalah seorang ilmuan harus objektif. Walaupun ia menduga kebenaran hipothesis dia tidak berupaya membuktikannya, agar jangan dituduh memiliki bias dalam usaha membenarkannya. Untuk menjauhkan bias dia justru memperhankan kebalikannya.

Ada pula argumentasi, bahwa tampaknya lebih gampang menunjukan bahwa sesuatu tidak benar dari pada membuktikan kebenarannya. Suatu hal hanya mungkin “benar” atau “tidak benar”. Bila tidak mampu dibuktikan bahwa hal itu “tidak benar” maka dengan sendirinya hal itu “benar”. Hipothesis nol itu lazim digunakan oleh para peneliti ilmu-ilmu sosial.

c. Hipothesis statistik
Hipothesis ini menyatakan hasil observasi tentang populasi “insan atau benda” dalam bentuk kuantitativ. Misalkan kita duga bahwa pendapatan buruh laki-laki “golongan A” disebuah perusahaan lebih banyak dari pada buruh wanita “kelompok B”. pemasukan rata-rata buruh pria, dinyatakan sebagai Xp dan pertimbangan rata-rata buruh wanita dinyatakan Xw. Maka perbedaan antara pendapatan rata-rata dinyatakan sebagai simbolis selaku Xp-Xw. Kita mampu mengajukan hipothesis “H” bahwa pemasukan rata-rata antara buruh pria dan wanita berlawanan sebagai “H:Xp≠Xw”. Bila tidak memakai hipothesis nol (Ho) maka dinyatakan selaku berikut: Ho:Xp-Xw.

Bila kita mengajukan hipothesis (H) bahwa pendapat buruh pria lebih banyak daripada pendapatan buruh wanita kita sapat melambangkan sebagai berikut: HXp>Xw, dan hipothesis nolnya selaku Ho:Xp≤Xw. Lambang ≤ berati “sama dengan atau kurang dari”. Hipotesis statistic juga dipakai untuk menyatakan adanya relasi antara variable atau lebih dari dua variable. Misalnya mampu diselidiki tingkat kekerabatan antara jumlah kendaaran dan jumlah kendaraan kemudian lintas. Bila ternyata bahwa jumlah kecelakaan meningkat dengan bertambahnya jumlah kenderaan, maka dikatakan bahwa kekerabatan (r) atau keterkaitannya konkret. Jumlah kenderaan mampu pula dicari keterkaitannya dengan misalnya ketentraman hidup. Bila ternayta kenyamanan hidup berkurang dengan meningkatnya jumlah kenderaan, maka dibilang bahwa korelasinya negatif. Tingkat kekerabatan dinyatakan dengan suatu angka atau koefisien. Koefisien hubungan berkisar antara –1. 00 hingga –1.00. relasi antara dua variabel dilambangkan sebagai H0:rxy =0 artinya hipothesis menyatakan tidak ada korelasi antara variable x dan y. setiap korelasi yang berlawanan dengan nol jadi H: rxy ≠0 menawarkan adanya kekerabatan yang dapat dijumlah besarnya yang dapat bersifat negatif atau positif.

Suatu hipothesis dapat terdiri atas lebih dari dua variabel yang mampu dicari ragam relasi atau kovariasinya. Hipothesis dengan satu atau dua variabel disebut hipothesis yang sederhana, sedangkan yang mempunyai lebih dari dua variabel disebut hipothesis yang komplek. Menurut Muhammad Nazar, hipothesis yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Hipothesis mesti menyatakan kekerabatan.
b. Hipothesis harus sesuai dengan fakta.

C. hipothesis Pengujian
Hipothesis yang baik harus menyanggupi dua kriteria. Pertama, hipothesis mesti menggambarkan relasi antar variable-variabel.[7] Suatu hipothesis yang diuji bermakna kesimpulan dan asumsi mampu ditarik dari hipothesis tersebut, sehingga dapat dijalankan observasi empiris yang hendak mendukung atau tidak mendukung hipothesis tersebut. Agar dapat diuji, hipothesis mesti menghubung variabel-variabel yang mampu diukur. Apabila tidak terdapat alat atau cara untuk mengukur variabel-variabel, tidak mungkin dapat menghimpun data yang diterima untuk menguji validitas hipothesis tersebut.

Menguji hipothesis membutuhkan pengujian dalam banyak sekali tata cara penelitan, utamanya dalam tekhnik pengumpulan dan pengelolaan data. Tekhnik mana yang serasi untuk digunakan, tergantung terhadap sifat persoalan yang dipecahkan. Untuk menguji sebuah hipothesis, penelitian:
  • Menarik kesimpulan tentang konsekuensi-konsikeunsi yang hendak dapat diamati apabila hipothesis tersebut benar.
  • Memilih methode-methode observasi yang hendak memungkinkan observasi, eksperimentasi, atau mekanisme lainnya yang dibutuhkan untuk menunjukkan apakah akibat-akibat tersebut terjadi atau tidak dan.
  • Menerapkan methode ini serta menghimpun data yang dapat menganalisis untuk menunjukkan data hipothesis teresbut disokong oleh data atau tidak.[8]
Sebuah teladan mungkin mampu membantu menggambarkan dengan lebih baik proses pengujian secara empiris. Andaikata, seorang peneliti terpikatmenguji hipothesis yang mengatakan bahwa ujian atau dorongan menimbulkan kian tingginya motivasi murid. Jika hipothesis ini benar, logislah jikalau kita menduga komentar guru yang bersifat mendorong (kebanggaan) yang ditulis pada kertas balasan murid, akan disertai oleh kenaikan prestasi murid. Secara tersirat hal ini memperlihatkan adanya asumsi bahwa peningkatan motivasi itu tampak pada hasil test yang lebih baik.

langkah awal: implikasi ini mampu dinyatakan sebagai berikut: “komentar guru yang ditulis pada kertas tanggapan murid menyebabkan peningkatan hasil test murid. Hubungan antara kedua variabel, komentar guru dan prestasi murid, inilah yang mesti diuji. Hipothesis seperti ini mampu diuji dengan eksprimen. langkah ke-dua: penelitian mampu secara acak menentukan jumlah kelas untuk digunakan dalam penyelidikan itu. Di dalam setiap kelas, secara acak siswa dibagi menjadi dua kalangan. Bagi mereka yang masuk ke dalam kalangan A, guru menuliskan komentar yang bersifat mendorong perihal hasil test mereka. (komentar ini hanya berupa kata dorongan terhadap siswa mirip “bagus sekali” “pertahankan nilai baik ini” atau “kamu semakin baik”). Komentar-komentar ini hendaknya tidak ada relevansinya dengan isi satu koreksi kesalahan-kesalahan siswa tertentu. Kalau tidak, maka peningkatan prestasi itu mampu dihubungkan pada nilai pendidikan nilai komentar semacam itu dan bukan pada motivasi yang meningkat). Siswa-siswa yang dimasukkan ke dalam kelompok B tidak menerima komentar sama sekali pada kertas tanggapan test mereka.

Guru memperlihatkan sebuah test objektiv yang meliputi beberapa unit materi. Test tersebut diberi skor dan perlakuan eksperimental dilaksanakan seperti yang dijelaskan diatas. Kemudian guru tersebut memperlihatkan test ke-dua yang meliputi unit-unit yang derajat kesulitannya sama dengan unit sebelumnya, serta yang diajarkan sehabis test pertama dan perlakuan eksperimental diberikan. Perubahan skor dari test pertama ke test ke dua bagi setiap siswa serta nilai rata-rata bagi kelompok diperhatikan. Setelah itu lewat analisis data.

bila lalu dimengerti bahwa selaku sebuah kalangan, siswa-siswi yang mendapatkan komentar (golongan A) secara signifikan mencapai nilai komplemen lebih tinggi dari pada golongan yang tidak menerima komentar (elompok B), maka hasil tersebut mendukung hipotesis bahwa komentar guru pada kertas balasan siswa mengakibatkan kenaikan prestasi siswa di dalam tes.

Suatu hipotesis mampu terdiri atas lebih dari dua variabel yang dapat dicari ragam kekerabatan atau kovariasinya. Hipotesis dengan satu atau dengan dua variabel disebut hipotesis yang sederhana, sedangkan yang memiliki lebih dari dari dua variabel disebut hipotesis yang kompleks. Menurut Muhammad Nazar, hipotesis yang bagus memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  • Hipotesis mesti menyatakan relasi.
  • Hopotesis harus sesuai dengan fakta.
  • Hipotesis mesti bewrhubungan dengan ilmu, serta sesuai dan berkembang dengan ilmu pengetahuan.
  • Hipiotesis harus dapat diuji
  • Hipotesis mesti sederhana.
  • Hipotesis harus bisa menunjukan fakta.
Untuk merumuskan hipotesis yang baik, ada beberapa hipotesis yang bagus, yang dikemukakan Sanafiah antara lain :
  • Bisa diterima nalar sehat.
  • Mempunyai daya penjelasan atau eksplanasi yang rasional.
  • menyatakan kekerabatan anatar variabel.
  • harus dapat diuji benar salahnya.
  • konsisten dengan teori yang telah ada.
  • kalimatnya sederhana dan ringkas
  • kalimatnya berbentuk pernyataan.
Dalam setiap hipotesis yang cantik senantiasa mempunyai korelasi yang komplek dengan wilayah wawasan yang terbangun secara rasional dalam sebuah observasi dan yang hendak diuji. Dengan adanya standarisasi hipotesis di atas, dapat dijadikan sebuah teladan merumuskan hipotesis yang baik, benar tidaknya hipotesis akan diketahui setelah penelitii mendapatkan hasil penelitian. Sedangkan perumusan hipothesis dapat diperoleh dari tiga sumber. Penggunaan ketiga sumber ini akan berkaitan dengan jenis atau sifat observasi.

D. Pengujian Hipotesis Untuk Penelitian Kuantitatif
Suatu hipotesis harus diuji berdasarkan data empiris, ialah berdasarkan apa yang mampu diamati dan dapat diukur. Untuk itu peneliti mesti mencari situasi atau lapangan empiris yang memberi data yang dibutuhkan. Tidak selalu mudah memperoleh sampel yang dapat dan rela memberi data. Untuk meneliti kemakmuran buruh sebuah perusahaan, mesti diperoleh izin lebih dahulu dari pemilik atau pemimpinnya. Selain itu tidak selalu ada kesedian orang untuk menunjukkan berita yang benar dan jujur. Ada lagi kesusahan-kesulitan lain yang harus terselesaikan untuk memperoleh lapangan empiris guna mentes hipotesis kita.

Secara biasa hipotesis mampu diuji dengan dua cara, yaitu dengan cara mencocokkan dengan fakta atau dengan mempelajari konsistensi logika. Dalam menguji hipotesis dengan memncocokkan dengan fakta maka diperlikan percobaan-percobaan untuk mendapatkan data, yang kemudian dinilai apakah cocok dengan fakta atau tidak. Cara ini dipakai dengan menggunakan desain percobaan. Jika hipotesis diuji dengan konsistensi logis, maka si peneliti memilih sebuah rancangan dimana nalar mampu dipakai, untuk mendapatkan atau menolak hipotesis. Cara ini digunakan dalam menguji hipotesis pada penelitian yang memakai tata cara non-experimental mirip metode deskriptif, metode sejarah dan sebaginya.[9]

Seperti dibilang sebelumnya sebuah hipotesis harus dapat di tes secara empiris. Kalau dikatakan bahwa cacat jiwa disebabkan oleh “setan, jin atau roh jahat” maka tidak dapat kita dapatkan data empiris tentang “setan, jin atau roh jahat” dengan alat-alat yang ada pada kita sekarang. Andaikata kita telah menghimpun data, bagaimanakah kita simpulkan apakah hipotesis yang kita kemukakan itu benar atau salah? Ada bahayanya seorang pemilih cenderung membenarkan hipotesisnya, alasannya adalah ia dipengaruhi oleh bias atau praduga. Dengan menggunakan data kualitatif yang diolah berdasarkan ketentuan-ketentuan statistik dapat ditiadakan bias itu sedapat mungkin. Tentu saja seorang penyelidik mesti jujur, jangan memanipulasi data, dan haru menjungjung tinggi penelitian selaku usaha untuk mencari kebenaran sampel. Misalnya kita ingin mengetahui tinggi rata-rata badan mahasiswa Sumatera Utara. Sebenarnya kita harus mengukur tinggi semua mahasiswa, jadi seluruh populasi. Akan namun oleh sebab perjuangan itu terlampau banyak menyantap waktu, ongkos dan tenaga, selain dari itu tidak perlu melakukan demikian, kita hanya mengambil sebhagiannya saja sebagai sampel, misalnya 100 orang, yang kita anggap mewakili seluruh populasi. Bila kita ambil 100 orang lainnya, besar keinginan bahwa tinggi rata-ratanya hampir sama dengan sampel yang sama.

Untuk mengetahui sampai manakah sebuah hipotesis mampu diterima atau harus ditolak maka secara statistik mampu dijumlah tingkat segnifikansinya. Biasanya tingkat singnifikansi diputuskan sebanyak 0, 10, 0.05 dan 0.1. jikalau peneliti lebih dahulu memilih tingkat signifikansi atau tingkat dogma 0.05 untuk menolak sebuah hipotesis, maka ada kemungkinan 5 % bahwa ia menciptakan kesalahan dalam keputusan menolaknya. Bila dia memilih tingkat signifikansi 0.10, maka kemungkinan mengambil keputusan yang salah yaitu 10 % dan seterusnya.

Contohnya: misalkan kita ajukan hipothesis bahwa antara variabel X dan Y terdapat korelasi (r) positif, jadi rXY > 0 atau dilambangkan sebagai H: rXY > 0. Maka hipothesis nol dilambangkan sebagai Ho: rXY ≤ 0, artinya hubungan antara X dan Y sama dengan 0 atau kurang dari 0. Bila tingkat signifikansi yang diharapkan 0,01, maka ditulis  = 0,01 (atau 01).

Jadi tingkat signifikansi atau tingkat kepercayaan gunanya untuk memberi pegangan kepada kita mengambil mengambil keputusan dan menafsirkannya secara obyektif. Kita tidak dapat lagi memanipulasi data itu. Bagaimana kita merumuskan hipothesis nol yang kita uji menurut data, bergantung sepenuhnya pada cara kita merumuskan hipothesis kerja kita. Untuk menguji hipothesis cara menentukan sampel sungguh penting semoga sampel itu betul-beul mewakili keseluruhan populasi. Apabila peneliti telah mengumpulkan dan mengolah data, bahan pengujian hipothesis pasti akan sampai terhadap sebuah kesimpulan mendapatkan atau menolak hipothesis tersebut. Di dalam menerima atau menolak hipothesis maka hipothesisi alternatif (Ha) diubah menjadi hipothesis nol.

Untuk kebutuhan ini dicontohkan penerapannya pada sebuah populasi berdistribusi wajar yang digambarkan dengan grafik berikut:[10] Dengan asumsi bahwa populasi tergambar dalam kurva normal, maka jikalau kita menentukan taraf keyakinan 95 % dengan pengetesan 2 ekor, maka terdapat dua daerah kritik yaitu di ekor kanan dan kiri kurva, masing-masing 2½ %. Penjelasan mengenai maslah ini lebih lanjut akan diberikan pada langkah menawan kesimpulan.

Lihatlah footnotenya di sini

DAFTAR PUSTAKA
  • Arikunto, Suharsini, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Cet. IX. Yogyakarta : Rineka Cipta, 1993.
  • --------------------------, Manajemen Penelitian, Jakarta : Rineka Cipta, 2005.
  • Faisal, Sanafiah, format-format Penelitian Sosial, Cet. III. Jakarta : Grafindo Persada, 1995.
  • Furchan, Arif, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005.
  • Good dan Scates, Methods of Reaserch Educational, Psychological, Sosiological. London Appleton – Century – Crofts, 1954.
  • Hadi, Sutrisno, Metodologi Reasearch, Yogyakarta : Andi Offset, 1989.
  • Kartono, Kartini, Pengantar Metodologi Riset Sosial, Bandung : Alumni, 1982.
  • Nasution, S, Metode Reasearch, Cet. II. Jakarta : Bumi Aksara, 1996.
  • Nazir, Muhammad, Metode Penelitian. Jakarta : Galia Indonesia, 1988.
  • Roger, Wimmer, Mass Media Reasearch : An Introduction. California : Wads Worth Publishing Company, 1999.
  • Singarimbun, Masri, et. All, Metode Penelitian Survei, Jakarta : LP3ES, 1982

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Kamis, 26 November 2020

Makalah Pertemuan Duniapendidikan Islam Se-Dunia

Perkembangan Pemikiran Islam telah sampailah kepada kurun evolusi, dimana pendidikan selaku ajang pergumulan intelual, hal tersebut mengambarkan bahwa dunia Islam sudah memperlihatkan keprihatinannya, khususnya pada persolan pendidikan. Konferensi Dunia dalam menganalis Pendidikan Islam Se-Dunia merupakan pembahasan singkat di makalah ini.

Perkembangan pendidikan Islam secara histories bergulir setahap demi-demi setahap yang diantaranya: (a).Perenial-essensial salafi (b).Perenial-essensial mazhabi (c).Tipologi moderenis (d).Perenial-essensialis kontektual-falsafi (e).Rekonstruksi social.[1] Konferensi pertama yang diadakan di Arab Saudi adalah di kota Mekkah mulai dari tanggal 31 Maret sampai 08 April 1977, yang di panitia oleh Universitas King Abdul Aziz, dimana para pertemuan ini sebagai ajang kawasan berkumpulnya kaum intelektual untuk membahas pendidikan Islam kedepan[2]

Tujuan pendidikan Islam sebagai proses dalam mewujudkan "insan yang bagus dan benar" dan berbakti kepada Allah Swt dalam pengertian yang bahwasanya yakni suatu khittah yang wajib dilakukan oleh manusia. Dan pada konferensi ini berupaya merumuskan desain pendidikan Islam perihal ilmu pengetahuan sebagai penjembatan antara pengetahuan teoritis, empiris atau ilmu terapan yang berfungsi selaku penetralisir. Esensi pendidikan Islam yang mempunyai desain secara umum terang mendukung system pendidikan yang masih bersifat sendiri, unik dan khusus dan kesemuanya bersumber pada rancangan pendidikan yang berisikan:

Wahyu illahi yang mengandung anutan Allah Swt, yang menertibkan tata cara kehidupan social Intelek manusia dan perangkatnya yang tetap berada dalam korelasi timbal balik dengan alam semesta selaku daerah kebebasan manusia tetapi tetap pada koridor ketentuan Allah Swt.

Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan tetap berkonsepkan, bagaimana mencapai target menumbuhkan kepribadian insan yang menyeluruh serta sebanding lewat terapi jiwa, intelek, diri insan yang rasional, perasaan dan inderawi.[3]

Pengelempokan pengetahuan dihasilkan menjadi dua macam yang antara lain yakni: pertama, pengetahuan kekal yang didalamnya mempunyai kurikulum dan silabus yakni al-Qur'an, studi syari'ah, sejarah kebudayaan selaku dasar pembentukan jiwa muslim dan beretika, lumbung beserta desain-kensepnyadan pengetahuan, kedua yang diperoleh adalah ihwal sastra, seni dan keterampilan, ilmu-ilmu social, ilmu-ilmu terapan sebagai wujud pengembangan pedoman kritik sastra Islam yang berorientasi kepada asas-asas Islam pada kaedah penilaian fatwa Islam.

Pendidikan dan Masyarakat: Pendidikan non-formal
Pada konferensi ini mengangkat wacana program media massa, arsitektur, penyusunan rencana kota/situasi islami selaku pengembangan pendidikan Islam yang berbasis komukasi dan kontruksi. Rekomendasi ini sanagt membuat lebih mudah dalam memperlihatkan teladan dan perbandingan dengan pendidikan yang ada diluar Islam.

Pendidikan guru dan penerimaan guru juga diangkat dalam konferensi ini, alasannya adalah seorang guru Muslim perlu dilatih benar-benar biar ilham-inspirasi desain mereka diilhami oleh yang sejati dan cara beretika mereka sesuai dengan mahkluk social yang berazaskan kosep Islam. Pendidikan wanita juga diposisikan pada tataran emansipasi yang artinya tidak ada dikotomi pendidikan pria dan wanita. Pendidikan kaum disturkrisasikan melalui forum pendidikan di Mesjid-mesjid dan melaksankan acara-kegiatan yang berbau keislaman.[4]

Footnote
-------------------------
[1] Muhaimin,Arah gres Pengembangan Pendidikan Islam(Bnadung:Nuansa Cendikia, 2003),h.48
[2] Thaha Jabir al-Ulwani,al Azmatu al Fikriyatu al-Mu'asaratu.terj.Zarkasyi Chumaidy(Bandung:Sinar Baru Elgesindo, 1995),h.47
[3] Ibid,h.57
[4] Ali Ashraf,Horison Baru Pendidikan Islam. terj.Sori Sormin Siregar.cet.1(Jakarta:Pustaka Firdaus, 1989),h.105-114

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Rabu, 25 November 2020

Makalah Pertumbuhan Pemikiran Pendidikan Islamkhalifah Andalusia

BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Perkembangan Pemikiran Pendidikan Islam khalifah Andalusia

Perjalanan sejarah Islam tentu tidak akan luput kenangan tetang Daulah Umayyah, hal tersebut digambarkan dalam lekukan sejarah wacana pertumbuhan pendidikan Islam yang mengirimkan dunia Islam pada inklusifisme fatwa dikala merasionalisasikan al-Qur'an, kondisi ini kian membuka pandangan ummat untuk terus menerjemahkan manuskrif-manuskrif peninggalan helenik, Abdurrahman Ad-Dakhil(711-75 M)(selaku periode pertama yang pusat di kota Damaskus dan berikutnya pada periode kedua Daulay Amawiyah(755-1013 M) dan selanjutnya pada kala ketiga dimana ketika itu Andalusia telah terpecah-pecah menjadi Negara-negara kecil dan ini menyebabkan berkurangnya perkembangan ilmu pengetahuan, dimana ia menerapkan pendidikan yang berbasiskan di Mesjid sampai pada terebentuknya pendidikan tinggi di Cordova, pada awalnya pendidikan meningkat cuma pada system membaca, menulis dan menghapal dan kesemuanya itu mangkaji wacana pendidikan keagamaan, mirip ilmu bahasa Arab, sastra, hadist, fiqh dan yang lainnya, selanjutnya berkembangkan dan berintegralitisasi kepada ilmu-ilmu alat. Perkembangan pendidikan tinggi ini menjadikan perhatian penduduk Erofa untuk menuntut ilmu-ilmu sebagai keperluan peradaban.[1]

Perkembangan ilmu wawasan dalam dunia Islam dilambangkan dengan Dinasty Umayyah menawarkan bahwa dunia Islam telah menancapkan cakarnya menuju pergantian yang berkonsentrasi pada penyebaran agama Islam, para tokoh pemikir-pemikir Islam waktu itu seperti, Abdullah ibn Yasin, Abu Am'r Yuduf ibn al-Barr Abu al-Walid, ibn Hazm, Hussain Ibn al Ghassani, Ibn Ashim dan mereka ini ialah para muhaddisin.[2] Prestasi tersebut sebab atas seiringnya visi dan visi pemerintah dengan para ilmuan sehingga pertumbuhan ilmu wawasan bergulir dan menumbuhkan ilmu yang lain yang diantaranya adalah :

Pengetahuan ihwal agama yakni pengkajian wacana hadis, fiqh[3], ilmu kalam, tasawuf Sastra adalah selaku salah bagian untuk mempermudah dalam menerjemahkan manuskrif-manuskrif yang didapatkan dalam era eksvansi Filsafat dan sains merupakan kajian perihal tranformasi helenik terhadap pemurnian filsafat kedalam fisafat Islam ialah ajaran-fatwa Aristoteles dan tokoh-tokoh filosof lainnya dan juga yang terkenal saat itu adalah kemahiran para penyair dalam megubah kata-kata. Arsitektur yakni pengembangan konstruksi infra-struktur dalam mendirikan Mesjid-mesjid dan bangunan yang lain.[4]

Diantara ilmu pengetahuan tersebut masih ada keilmuan yang meningkat ketika itu tergolong ilmu tumbuh-tanaman dan pengobatan yang dikembangkan melalui observasi yang fantastis oleh para ilmuan Islam mirip Sabi'in al Ghafiqi, Abu Ja'far, dan yang berbagi ilmu kedokteran diwakili oleh Ahmad ibnMuhammad, yang materi obat-obatannya menggunakan berkembang-flora.[5]

Sistem pengembangan pendidikan yang dipraktekkan pemerintah dikala itu tidak mampu dipisahkan atas koordinasi dengan para ilmuan yang berasal dari Erofa Timur dan mereka sengaja didatangkan ke Spanyol untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang masih masih berbahasa Parsi dan berbahasa Pahlavi juga bahasa-bahasa lainnya, juga para ilmuan yang sengaja melakukan observasi diluar Andalusia selaku bentuk pengamatan dan eksfriment dan semuanya itu didukung oleh pemerintah dan kesungguhan para ilmuan juga kestabilan keamanan waktu itu menjadi suatu jaminan bagi ilmuah, sehingga mereka lebih leluasa dalam membuatkan dan mengajarkan ilmu-ilmu tersebut, dimana Islam sudah menjembatani dan menghidupkan stagnasi ilmu-ilmu Yunani Purba [6]


Footnote
-----------------------
[1]Musyrifah Sunanto,Sejarah Islam Klasik:Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam(Jakarta:Prenada Media, 2003),h.128
[2]Ahmad Amin,Dzuhr al-Islam:Juz III,(Cairo:Maktabah, al-Nadhah al-Mishriyyah, 1953),h.48
[3]Ibid, ulama fiqh,populer waktu itu ialah Imam Malik(abd Makil ibn Habib al-Sullami) yang mengembangkan ilmu fiqh dari warisan gurunya., dan ia banyak mendidik murid-muridnya sampai menjadi tokoh penyebar faham Malikiyah, seperti: Yahya Ibn Yahya al-laits, Isa Ibn Dinar fiqh yang ketika ini masih tetap dianut oleh ummat Islam modrent
[4]Sunanto,Sejarah Islam,h.130
[5]Philif K.Hitti,History of The Arab(London:Macmillan, 1970),h.557
[6]Amin,Dzuhr al-Islam295

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Makalah Pemikiran Pendidikan Islamkonferensi Pertama Pendidikan Islam

Konferensi Dunia pertama yang membahas tentang pendidikan Islam yang pesertanya adalah kelompok muslim pada Maret-April 1977. Penyelenggaranya yakni Universitas King Abdul Aziz di Jeddah (Makkah). Pada pertemuan ini tergolong berhasil, dimana pada konferensi tersebut membahas semua persoalan pendidikan, baik dalam bentuk pendidikan formal ataupun yang non-formal dan kategorinya di segala cabang ilmu pengetahuan.

Dan konflikasi pendidikan dalam penerapannya dilapangan sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas pendidikan Islam, khususnya ketika penerapannya telah berbentuk dwi-fungsi. Bentuk dwi-fungsi ini terlaksana saat dalam mengkaji azas-azas Islam, ialah sebagian golongan berpendapat bahwa sekulerasi sungguh urgen dalam menumbuh kembangkan anutan pendidikan Islam, tetapi dikalangan yang foundamentalis masih konsisten berpikiran, bahwa pendidikan Islam adalah tetap berbentuk keagamaan seutuhnya.

Persoalan ini berkutat pada pembahasan antara pendidikan masyarakat, kajian ini mengangkat persoalan pendidikan perempuan serta mengajukan tujuan dan target pendidikan selaku acuan ideal dalam semua cabang pendidikan Islam yang pada risikonya, pertemuan mengkrucutkan kajian pada masalah pengetahuan, adalah pengetahuan dibagi menjadi dua macam yakni :
  • Pengetahuan yang diterima selaku wahyu (perennial Knomledge)
  • Pengetahuan yang diperoleh (aquired Knomledge)
1. Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan sebagai proses pembelajaran dan meraih kemajuan kepribadian insan secara global baik jasmani dan rohani merupakan eksistensi dan subtansi dari pendidikan Islam, dan perwujudannya tergambar pada aktualisasi dari ketaatan (syari'ah) terhadap Allah Swt dan inilah tujuan tamat dari pendidikan Islam sepenuhnya.

2. Pengelompokan Pengetahuan dan metode
Sebagai titik ukur dari sasaran pendidikan tersebut, maka pendidikan Islam dikelompokkan menjadi dua klasifikasi yaitu :

-Pengetahuan Abadi ialah segala wawasan yang berasal dari wahyu
-Pengetahuan yang diperoleh yakni : ilmu-ilmu social, alam, dan ilmu-ilmu terapan yang lain.

3. Kurikulum dan Silabus Pengetahuan Abadi
Kurikulumnya berisikan buku-buku agama yang kesemuanya berdasarkan dari al-Qur'an dan sunnah Rasul, yang dibuat untuk memperkenalkan kepada kaum selaku jawaban bagi musuh Islam yang beropini mereng kepada Islam. Kurikulum ini direalisasikan dalam bidang ilmu fiqh, studi syariah selaku aplikasi sehari-hari, sejarah kebudayaan Islam dan ilmu-ilmu sastra Arab( sebagai bahsa Al-qur'an)

4. Kurikulum dan Silabus: Pengetahuan yang Diperoleh
Pada konferensi ini diajukan biar menyebarkan pemikiran kritik dalam bentuk sastra, seni keterampilan, ilmu-ilmu social, sebagai bentuk observasi dan komparasi sastra ajaib kepada fatwa poemikiran sastra Islam. Dan konferensi ini menginginkan supaya peran-tugas berikut dirumuskan menjadi:
  • Pembuatan indeks bibligrafi untuk-untuk sosial
  • Studi-stusi perbandingan dan
  • Persiapan ensiklopedia yang mudah dikerjakan
5. Pendidikan dan Masyarakat:Pendidikan non-formal
Media komunikasi sebagai salah-satu bentuk pendidikan non-formal diajukan supaya lebih ditingkatkan untuk menunjang perkembangan pendidikan Islam. Pendidikan bentuk komunikasi ini dibuat dalam program ilmiah yang dibimbing oleh semangat keislaman

6. Pendidikan Pendidikan Non-formal Bagi Kaum Muda
Mensturkrisasi lembaga pendidikan di Mesjid-mesjid dan melaksankan acara-acara yang berbau keislaman.[1]

--------------------------
[1]Di kutip dari buku karangan Dr.Ali Ashraf,Horison Baru Pendidikan Islam.terj.Sori Sormin Siregar.cet.1(Jakarta:Pustaka Firdaus, 1989),h.105-114

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Selasa, 24 November 2020

Makalah Kemajuan Ajaran Pendidikan Islamabbasiyah

Peralihan kekuasaan dari Dinasty Umayyah ke Dinasty Abbasiyah adalah sebuah peralihan yang signikan, dimana pemerintahan Umayyah yang identik dengan nepotismenya berganti kearah monarki (Abbasiyah). Perubahan ini pastinya menuju keraha yang lebih baik, yaitu dalam perguliran sejarah Islam, pada Dinasty Abbasiyahlah peradaban Islam tampaksangat fantastis ialah masa keemasan (golden age)[1], tepatnya pada masa al- Rasyid dan al-Makmun.[2]

Keberhasilan itu tidak terlepas dari para pemikir-pemikir Islam yang ada di forum pendidikan dan forum pemerintahan. Perkembangan ilmu wawasan yang sungguh pesar saat itu disebabkan terjadinya pergesekan budaya Timur dan Barat. Dimasa pemerintahan al-Makmun, pemikir-pemikir Islam sudah membuktikannya dengan melahirkan beberapa keilmuan, tergolong ilmu Matematika, Kedokteran, Astronomi dan Filsafat sebagai gudang insprasi.[3]

198-813 H awal dan selesai pemerintahan al-Makmun, telah membukakan mata Barat bahwa Islam ketika itu yakni sebuah peradaban yang sangat dipertimbangkan dalam dunia Internasional, ia mendatangkan para ilmuan baik dari Timur ataupun Barat untuk berkarya di Bagdhad. Hasilnya perkembangan keilmuan bergulir dengan derasnya, Baitul Hikmah sebagai lembaga pendidikan Islam berperan selaku Institusi pendidikan dan membidani kelahiran ilmu-ilmu agama dan dunia.[4]

Pesatnya perkembangan pendidikan dimasa al-Makmun yang diprakarsai oleh pemikir-pemikir Islam dan non-Islam bukan cuma membidani kelahiran teori-teori gres dalam keilmuan, disamping pendidikan non-formal yang meningkat ,[5] pendidikan formal juga digagas, bukti pemikir-pemikir turut menginstruksikan kepada pemerintah biar mendirikan infra-struktur selaku lembaga institusi pendidikan, biar peserta didik dan peserta bimbing dapat mengajar dan mengkaji ilmu-ilmu pada daerah-pempat yang berdasarkan mereka lebih terfokus.[6] Alhasil pertumbuhan pendidikan Islam saat itu mendirikan bangunan-bangunan dan mensistimatiskan starata pendidikan yakni dengan beberapa tingkatan sebagai berikut :
  • Tingkat sekolah rendah,
  • namanya kuttab berfungsi sebagai tempat berguru belum dewasa baik didalam rumah,
  • istana,
  • di toko-toko,
  • pinggiran pasar.
Lembaga ini mempunyai cirri-ciri ialah :
Materi pelajarannya masih bersifat pendidikan agama mirip membaca al-Qur'an, sistem berwudhu, puasa dll. Tingkat sekolah menengah yakni bertempat di Mesjid dan majelis sastra dan ilmu pengetahuan, dan tingkat menengah ini sebagai lanjutan dari pendidikan yang kuttab. Pada tingkat ini pelajaran yangdisampaikan sudah berbentuk kesusastraan yang bukan cuma membaca namun telah mengetahui arti dari bahasa Arab (al-Qur'an) yaitu seperti ilu balaghah, tafsir, nahu dll. Tingkat pergurun tinggi, seperti Baitul Hikmah di Bagdhad dan Darul 'Ilmi di Mesir(Kairo), dan Mesjid-mesjid

Pada tingkat ini terdiri dari dua jurusan :
Jurusan ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab (ilmu Naqliyah) seperti :tafsir, hadist, fiqh, nahu, mantiq, falaq, tarikh dll. Jurusan ilmu-ilmu aqliyah, seperti : mantiq, ilmu-ilmu alam (kimia, musik ilmu-ilmu alam, kedokteran, musik, estetika, tumbu-tanaman, ilmu hewan).[7]

-----------------------------
[1]Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah,cet.4.(Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1995).h.52
[2]Hasan Bakti,Dirasah Islamiyah(Medan:Media Persada, 1995),h.11
[3]Yatim,Sejarah Peradaban Islam,h.53
[4]K.Ali, Sejarah:Tarikh Pramodrent,ed.1.cet.4.(Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2003)..h,385
[5]Zuhairi dkk,Sejarah Pendidikan Islam(Jakata:Bumi Aksara, 2004),h.100
[6]Mahmud Yunus,Sejarah Pendidikan Islam.(Jakarta:Hidakarya Agung, 1981,h.48
[7]Lembaga pendidikan Islam yang bersifat non-formal ini terus-menrus mengalami pertumbuhan dan kesudahannya muncul sekolah(Madrasah) pada abad ke-Khalifahan Abbasiyah, berdirinya forum pendidikan itu dipengaruhi oleh lembaga pendidikan yang non-formal seperti sistem halaqah yakni system pendidikan yang didalamnya terjadi diskusi keilmuan dan perdebatan yang ramai dan sering mengusik orang yang sedang beribadah di Mesjid dan atas keadaan tersebut forum pendidikan yang sifanya halaqah dipindahkan dan dibuatlah suatu daerah yang disebut dengan Mad rasah dan sebab semakin berkembangnya pendidikan Islam maka sangatlah perlu mendirikan daerah yang dikhsuskan untuk daerah proses pendidikan yang formal.

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com

Makalah Pendidikan Islam Masa Turki Usmani

Makalah Pendidikan Islam Masa Turki Usmani
 Oleh: Kadir Pandapotan Siregar 

BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan Islam Masa Turki Usmani ialah gugusan sejarah ajaran tentang pendidikan islam utamanya. abad turki usmani pendidikan berlangsung dengan pesat melalui perkembangan jaman dikala itu. bagaimana tidak tanduk pendidikan islam pada Masa Turki Usmani..?


BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Pendidikan Islam Masa Turki Usmani

A. Fase Pertama
Pemerintahan Usman yang begitu gemilang sebagai titisan ayahnya Ertogul(1289 M) adalah lambing kebangkitan Dinasty yang lebih diketahui dengan Turkey Usmani, kekuatan militer dinasty ini mengantarkan mereka pada fase kemajuan baik dalam bidang pertahanan dan keselamatan begitu juga faktor keilmuan. Selain dalam bidang kemiliteran, dinasty Turkey Usmani yang mayoritasnya bermacam-macam Islam, terdapat kemajuan pendidikan agama ialah kajian keagamaan di bidang ilmu fiqh, ilmu kalam, tafsir, hadist, namun perekembangan tidak begitu mencolok, disebabkan pemerintah lebih condong membangunan bidang kemiliteran.

Tahun 699 H(1300 M) pemerintah mulai melaksanakan penyebaran daerah yang ketika itu pucuk pemerintahan dipinpim oleh Padish al-Usman hingga pada Murad I, pemerintah disibukkan dengan acara militer, penaklukan-penaklukan isi dicita-citakan untuk mempertahan sekaligus memperluas kedaulatan Turkey usmani.


B. Fase Kedua
Fase perkembangan anutan pendidikan Islam dimulai dari kekalahan-kekalahan dalam pertempuran yang dikala pertempuran dengan bangsa-bangsa Eropa, hal tersebut memotovasi sultan-sultan Usmaniyah untuk lebih melihat dan mempelajari pertumbuhan yang diluar dinasty Tukey Usmani, yakni dengan jalan membina relasi diplomatis dengan Negara-negara Erofa yaitu khususnya Francis yang kemudian melahirkan inspirasi mendirikan sekolah militer dalam tersebut terwujud pada tahun 1734 M yakni pemerintah Turkey Usmani mendirikan sekolah tehnik militer, keputusan ini seiring dengan acara pemerintah yang mengutamakan keamanan dan pertahanan Negara.

Ilmu wawasan sebagai metamerposa terwujudnya keinginan dalam mendirikan Negara yang aman kepada gangguan dari dalam ataupun dari luar Negara. Namun pada kenyataannya bahwa kemajuan pada era Turkey Usmani terang tampakdalam bidang infra-strukturnya, Mesjid, sekolah, rumah sakit, gedung-gedung, maka, jembatan, terusan air, villa, dan pemandian lazim menggambarkan bahwa peradaban dinasty ini sudah sampai pada fase meningkat .

C. Fase Ketiga
Kemajuan yang sungguh terasa disela-sela penaklukan ini dapat dinikmati dalam dua bidang walupun tidak sesignifikan mungkin, diantaranya ialah :
  • Bidang keagamaan yakni : ilmu fiqh, ilmu kalam, tafsir, hadist.
  • Bidang pendidikan yaitu : pendidikan yang berkembang dikala itu sudah sampailah kedesa-desa, dan kurikulum yang dihidangkan adalah kurikulum berbasis sufistik ialah dengan penanaman niliai-nilia menuju akhirat.
  • Bidang Militer ialah : :mendirikan sekolah tehnik militer, hal ini selaku pendukung acara miiterisasi dalam rangka perluasan wilayah.
Dari perjalanan Daulah Turkey Usmani yang cenderung memprioritaskan militerisasinya dapat dibanggakan, dimana semangat patriotisme mengangkat martabat Islam sebagai daulah yang mempunyai kekuatan dalam berperang dan penaklukan-penaklukan kawasan juga menawarkan ruang untuk penyebaran agama Islam di Erofa barat.

DAFTAR PUSTAKA
  • Ahmad Syalabi,Sejarah dan Kebudayaan Islam:Imferium Turkey Usmani(Jakarta:Kalam Mulia, 1988)
  • Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam(Jakarta:Raja Grafindo, 1997
Footnote
------------------------
[1] Yatim,Sejarah Peradaban,h.137
[2]Ahmad Syalabi,Sejarah dan Kebudayaan Islam:Imferium Turkey Usmani(Jakarta:Kalam Mulia, 1988),h.7
[3]Harun Nasution,Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan(Jakarta:Bulan Bintang, 1996),h.15

[4]Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam(Jakarta:Raja Grafindo, 1997),h.129

[5]lihat Badri Yatim,h.137.pemerintah Turkey Usmani sebagai penganut faham Asy'ariyah tidak menawarkan peluang bagi faham-faham lainnya untuk mengembang ajarannya karena kegalauan faham tersebut mengusik proses militerisasi dalam Negara, sehingga saat pemikir-pemikir tidak bias untuk berijtihad dalam mengambil hokum-hukum yang berkaitan saat itu dan ini berakibat melemahnya perkembangan hokum fiqh muamalah dan secara sewenang-wenang ijtihad ditiakan, dan para ulama hanya diperbolehkan menulis buku dalam bentuk syarah dan hasyiyah terhadap karya-karya klasik

[6] lihat,Harun Nasution,h.sebahagian dari Daulah Turkey Usmani ialah daerah Erofa yang ibukotanya Konstantinopel dan kota tersebuat termasuk pusat peradaban Barat dan penaklukan ketika itu hingga ke kota Wina( Sultan Sulaiman agung 1520-1968 M)selanjutnya kekuatan militer Daulah Turkey Usmani dikalahkan daulah Usmaniyah di benteng Wina pada tahun 1983

Sumber http://makalahmajannaii.blogspot.com